Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

A Life that Full of Detour. Semua Ini Bukan Akhir dari Segalanya, Hidup Masih Panjang dan Terus Akan Berlanjut

HERY SHIETRA, A Life that Full of Detour. Semua Ini Bukan Akhir dari Segalanya, Hidup Masih Panjang dan Terus Akan Berlanjut

There are no successful people who have never experienced a downfall.
Therefore,
Fall is not a failure.
Fall is a learning process for ourselves.
We are the best mentors for ourselves.
There are also no people who have succeeded in making great discoveries who have never experienced an error throughout their lives,
Maybe even experienced thousands of errors in experiments conducted by him,
Before then succeeded in finding a great discovery and shocking the world.
That's why,
Mistakes are not the end of everything,
Nor is it a failure.
Mistakes are the first step towards self-improvement and countless new possibilities.
There are also no people who have brilliant achievements who have never felt tired and sick in their career.
An achievement is built from day to day that is full of fatigue and pain.
That's why,
Can and be aware of the feeling of pain and fatigue,
By continuing to struggle without complaining,
Is not a failure.
There is no strong iron that has never been forged.
We will not meet people who are able to build extraordinary works,
Who have never felt hopeless in his life.
Sometimes, rejection after rejection is experienced by them,
Even underestimated and not recognized,
But it never stopped them from continuing to work.
That's why,
Rejection and feelings of hopelessness,
Is not a failure.
Nor will anyone meet people who are considered by many to be maestros or even referred to as geniuses,
Who have never felt the desire to give up on something they are doing.
Become a genius,
This does not mean that they have never thought of giving up on a problem faced by them.
That's why,
Meeting the temptation to give up,
Is not a failure.
Is very human,
Able to feel pain, sadness, fatigue, disappointment, anger, despair, and various falls.
But great people never stop there,
As if life would end in such circumstances.
Great people always look at all that merely as a resting place, a detour, and a crossing place for a short break,
Before then continuing the long journey.
What distinguishes between failed people and great people,
Is a decision that they ultimately make on their own lives,
Not what conditions they are experiencing,
But what is their next response.
Great people always realize,
That they are responsible for their own lives,
So that it will take responsibility and make free choices over their own lives.
People with evil intentions and deeds who treat others in evil ways,
For the personal benefit of the bad guys,
Is not a success,
It is precisely a reflection of a big failure,
Hoarding bad karma that he will inherit himself in the next life.
Bad people are always stupid people,
Stupid, because proudly and happily plants bad karma.
Creative people,
Never use fraudulent methods especially evil ways to live and survive.
Creative people are too big for their way of thinking,
When compared with dwarfs who seemed unable to carry on their lives without sacrificing other living creatures.
The so-called human who failed to become a human,
These are people who fail to educate, supervise, control, and discipline our own behavior.
© HERY SHIETRA Copyright.

Tidak ada orang-orang sukses yang belum pernah mengalami kejatuhan.
Karena itu,
Kejatuhan bukanlah sebuah kegagalan.
Kejatuhan adalah salah satu proses pembelajaran bagi diri kita sendiri.
Kita adalah mentor terbaik bagi diri kita sendiri.
Tidak ada juga orang-orang yang berhasil melakukan penemuan besar yang belum pernah mengalami kesalahan sepanjang hidupnya,
Bahkan mungkin pernah mengalami ribuan kesalahan dalam eksperimen yang dilakukan olehnya,
Sebelum kemudian berhasil menemukan suatu penemuan yang hebat dan menggemparkan dunia.
Karena itulah,
Kesalahan bukanlah akhir dari segalanya,
Juga bukan merupakan sebuah kegagalan.
Kesalahan adalah langkah awal menuju perbaikan diri dan berbagai kemungkinan baru yang tidak terhitung jumlah kemungkinannya.
Tidak ada pula orang-orang yang memiliki prestasi gemilang yang belum pernah merasakan rasa letih dan sakit dalam perjalanan karirnya.
Suatu pencapaian dibangun dari hari demi hari yang penuh rasa letih dan rasa sakit.
Karena itulah,
Dapat dan menyadari adanya perasaan sakit dan letih,
Dengan terus berjuang tanpa mengeluh,
Bukanlah sebuah kegagalan.
Tiada besi yang kuat yang tidak pernah mengalami proses penempaan.
Tidak akan kita jumpai orang-orang yang mampu membangun karya-karya yang luar biasa,
Yang belum pernah merasa putus asa dalam hidupnya.
Terkadang, penolakan demi penolakan dialami oleh mereka,
Bahkan diremehkan dan tidak diakui,
Namun tidak pernah menghentikan mereka untuk terus berkarya.
Karena itulah,
Penolakan serta perasaan putus asa,
Bukanlah sebuah kegagalan.
Tiada pula akan temui orang-orang yang dianggap banyak orang sebagai seorang maestro atau bahkan disebut sebagai jenius,
Yang belum pernah merasakan keinginan untuk menyerah dalam sesuatu yang mereka kerjakan.
Menjadi seorang jenius,
Bukan diartikan tidak pernah terpikirkan untuk menyerah atas sesuatu masalah yang dihadapi olehnya.
Karena itulah,
Menemui adanya godaan dalam diri untuk menyerah,
Bukanlah sebuah kegagalan.
Adalah sangat manusiawi,
Mampu merasakan sakit, derita, letih, kecewa, sedih, amarah, putus asa, hingga berbagai kejatuhan.
Namun orang-orang hebat tidak pernah berhenti sampai di situ saja,
Seolah hidup akan berakhir dengan keadaan demikian.
Orang-orang hebat selalu memandang kesemua itu sekadar sebagai sebuah tempat peristirahatan dan tempat persimpangan untuk beristirahat sejenak,
Sebelum kemudian melanjutkan perjalanan panjangnya.
Apa yang membedakan antara orang-orang gagal dan orang-orang yang hebat,
Adalah keputusan yang mereka ambil pada akhirnya atas kehidupan milik mereka sendiri,
Bukan kondisi apa yang mereka alami,
Namun apa yang menjadi respons mereka untuk selanjutnya.
Orang-orang hebat selalu menyadari,
Bahwa diri mereka bertanggung-jawab atas kehidupannya sendiri,
Sehingga akan mengambil tanggung-jawab serta membuat pilihan bebas atas hidup mereka sendiri.
Orang-orang dengan niat dan perbuatan jahat yang memperlakukan orang lain dengan cara-cara jahat,
Demi keuntungan pribadi orang-orang jahat tersebut,
Bukanlah sebuah keberhasilan,
Justru merupakan cerminan kegagalan besar,
Menimbun karma buruk yang akan ia warisi sendiri di kehidupan selanjutnya.
Orang jahat selalu adalah orang-orang yang bodoh,
Bodoh, karena dengan bangga dan senang hati menanam karma buruk.
Orang-orang kreatif,
Tidak akan pernah menggunakan cara-cara curang terlebih cara-cara jahat untuk bisa hidup dan bertahan hidup.
Orang-orang kreatif terlampau besar cara berpikir mereka,
Bila dibandingkan dengan orang-orang kerdil yang seolah tidak bisa melangsungkan hidupnya tanpa mengorbankan makhluk hidup lainnya.
Yang disebut sebagai manusia yang gagal untuk dapat menjadi seorang manusia,
Ialah orang-orang yang gagal untuk mendidik, mengawasi, mengendalikan, serta mendisiplinkan perilaku diri kita sendiri.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan