Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Who Cares, It's Not Our Business. Siapa Peduli, Itu Bukan Urusan Kita


HERY SHIETRA, Who Cares, It's Not Our Business. Siapa Peduli, Itu Bukan Urusan Kita


If no one can appreciate all the work we have done,
Then it is enough for us to be able to respect ourselves.
Isn't it really tiring,
Facing people who have too many desires in their lives,
But they do not have the creativity themselves to fulfill all their own desires,
So it only burdens and becomes a burden for others.
If they have a lot of work to do,
They say that it's tiring and they will complain all day long.
But on the contrary,
When they don't have any activities to do because of lack of creativity,
They will say that it's boring and they will complain all day.
What exactly are they want?
Who care,
That is none of our business.
We always have the right to be unwilling to bear the burden that is not mine.
At least it is not we who complain or those who lack self-creativity.
If no one can understand all the conditions and problems we face,
Then it is enough for us to be able to understand ourselves.
Isn't it really frustrating,
Facing people who are too stupid in their own lives or towards others.
They even feel unknowingly hurting and harming others,
They also don't even know that their actions are bad and despicable or can even harm others,
Or, they don't even want to understand that their actions and behavior are harmful to others.
Actually, whether they don't feel or realize,
That they are fools,
So do not feel the need for self-improvement?
Ignorance, stupidity, and careless attitude are sources of unwise behavior.
Who care,
That is none of our business.
At least we are not as stupid as them and their stupid behavior will still produce bad karma for the fool.
Ignorance is not a forgiving reason to hurt, disturb, or even harm others.
If no one can help and uplift our lives,
Then it is enough to focus on lifting and saving our own lives.
Isn't it really unsettling,
Facing people who feel they have no problems with their bad habits or evil deeds when hurting others people or other living things,
Feel proud when they can do bad things and have bad behavior or habits,
Without feeling ashamed doing it,
Without feeling afraid to do it.
As if being an evil human being (a villain) is an achievement to be proud of.
Even still feeling full of confidence,
Feeling guaranteed going to heaven after the bad guy's death.
Nothing is more terrible,
Rather than human-shaped monsters, who are not afraid and are not ashamed to do evil.
Actually what is the purpose of his life?
Who care,
That is none of our business.
We always have the free choice not to be bad people,
And we know very well that we are not bad people.
If there's no one we can trust and give confidence,
Then it is enough for us to believe and can be given trust by and for ourselves.
Isn't it really boring?
Facing people we can’t keep their word, or all the promises they say,
Where more and more they promised and talked,
Then more and more lies and promises that are not kept by them.
As if,
We have so far forgotten all the words and promises they gave us before.
What exactly do they say and promise?
Who care,
That is none of our business.
We always have the awareness that deceivers, liars, and those who don't keep their promises are pitiful people.
At least we are not deceiving or denying what we previously promised.
Be a good and responsible person,
Never easy.
Who has ever said that doing positive things is easy?
That is why,
Never be like water that just flows without any effort,
Because the natural water flows down,
Not moving up.
It doesn't matter to us if many people just flow down,
Because we can move AGAINST FLOW,
It starts with making a determination to be a decision maker for ourselves and our lives.
If there is no one we can rely on,
Then it is enough for us to rely on ourselves, and make ourselves reliable by us.
Who lives from ignorance,
Will die because of his own stupidity or by the stupidity of others.
Who lives in a way that is troublesome for others,
Will die because bothered by others and bothered by himself.
Who lives by the sword,
Will die from the sword.
© HERY SHIETRA Copyright.

Bila tiada yang dapat menghargai segala usaha yang telah kita lakukan,
Maka cukuplah bagi kita untuk mampu menghargai diri kita sendiri.
Bukankah sungguh meletihkan,
Menghadapi orang-orang yang memiliki terlampau banyak keinginan dalam hidupnya,
Namun mereka tidak memiliki kreativitas diri untuk memenuhi segala keinginannya tersebut,
Sehingga hanya membebani dan menjadi beban bagi orang lain.
Bila memiliki banyak pekerjaan untuk mereka kerjakan,
Mereka berkata bahwa itu meletihkan dan mereka akan mengeluh sepanjang hari.
Namun sebaliknya,
Ketika mereka tidak memiliki kegiatan apapun untuk mereka kerjakan karena kurangnya kreativitas diri,
Mereka akan berkata bahwa itu membosankan dan mereka akan mengeluh pula sepanjang hari.
Sebenarnya apa kemauan diri mereka?
Siapa perduli,
Itu bukan urusan kita.
Kita selalu memiliki hak untuk tidak bersedia menanggung beban yang bukan milik kita tersebut.
Setidaknya bukanlah kita yang mengeluh ataupun yang kekurangan kreativitas diri.
Bila tiada yang dapat memahami segala kondisi serta masalah yang kita hadapi,
Maka cukuplah bagi kita untuk mampu memahami diri kita sendiri.
Bukankah sungguh membuat frustasi,
Menghadapi orang-orang yang terlampau bodoh dalam hidupnya sendiri maupun terhadap orang lain.
Mereka bahkan merasa tidak sadar telah menyakiti dan merugikan orang lain,
Mereka juga bahkan tidak mengetahui bahwa perbuatannya adalah buruk serta tercela atau bahkan dapat mencelakai orang lain,
Atau, mereka bahkan tidak mau memahami bahwa perbuatan dan perilakunya merugikan orang lain.
Sebenarnya, apakah mereka tidak merasa atau menyadari,
Bahwa diri mereka adalah bodoh,
Sehingga tidak merasakan kebutuhan untuk perbaikan diri?
Kebodohan serta sikap bodoh adalah sumber perilaku yang tidak bijaksana.
Siapa perduli,
Itu bukan urusan kita.
Setidaknya kita tidak sebodoh mereka dan perilaku bodoh mereka tetap akan membuahkan karma buruk bagi si bodoh.
Kebodohan bukanlah alasan pemaaf untuk menyakiti, mengganggu, atau bahkan merugikan orang lain.
Bila tiada yang dapat menolong dan membantu kehidupan kita,
Maka cukuplah kita berfokus mengangkat dan menyelamatkan hidup serta kehidupan diri kita sendiri.
Bukankah sungguh meresahkan,
Menghadapi orang-orang yang merasa tidak memiliki masalah dengan kebiasaan buruk ataupun perbuatan jahat mereka ketika menyakiti orang lain ataupun makhluk hidup lainnya,
Merasa bangga ketika dapat berbuat jahat dan memiliki perilaku atau kebiasaan buruk,
Tanpa merasa malu melakukannya,
Tanpa merasa takut melakukannya.
Seolah menjadi manusia jahat (penjahat) adalah suatu prestasi yang patut dibanggakan.
Bahkan tetap saja merasa penuh percaya diri,
Merasa terjamin akan masuk surga setelah kematian diri si orang jahat.
Tiada yang lebih mengerikan,
Daripada monster-monster berwujud manusia yang tidak takut dan tidak malu berbuat jahat.
Sebenarnya apa tujuan hidup dirinya?
Siapa perduli,
Itu bukan urusan kita.
Kita selalu memiliki pilihan bebas untuk tidak menjadi orang-orang jahat,
Dan kita mengetahui dengan baik bahwa diri kita bukanlah orang jahat.
Bila tiada seorang pun yang dapat kita percayai dan berikan kepercayaan,
Maka cukuplah bagi kita untuk mempercayai serta dapat diberikan kepercayaan oleh dan bagi diri kita sendiri.
Bukankah sungguh menjemukan,
Menghadapi orang-orang yang tidak dapat dipegang ucapan maupun segala janji-janji yang dikatakan oleh mereka,
Dimana semakin banyak mereka berjanji dan berbicara,
Maka semakin banyak kebohongan serta janji-janji yang tidak ditepati oleh mereka.
Seolah,
Kita sudah sepikun itu melupakan segala ucapan dan janji-janji yang mereka berikan kepada kita sebelum ini.
Sebenarnya apa yang mereka ucapkan dan janjikan?
Siapa perduli,
Itu bukan urusan kita.
Kita selalu memiliki kesadaran bahwa orang-orang penipu, pembohong, maupun yang tidak menepati janjinya adalah orang-orang yang menyedihkan.
Setidaknya bukan kita yang menipu ataupun yang mengingkari apa yang sebelumnya telah kita janjikan.
Menjadi orang baik dan bertanggung jawab,
Tidak pernah mudah.
Siapa juga yang pernah mengatakan bahwa melakukan hal-hal yang positif adalah hal yang mudah?
Itulah sebabnya,
Jangan pernah menjadi seperti air yang mengalir begitu saja tanpa upaya apapun,
Karena air alamiahnya mengalir ke bawah,
Bukan bergerak ke atas.
Tidak menjadi masalah bagi kita bila banyak orang yang justru mengalir ke bawah,
Karena kita dapat bergerak MELAWAN ARUS,
Dimulai dengan membulatkan tekad untuk menjadi pembuat keputusan bagi diri dan hidup kita sendiri.
Bila tiada seorang pun yang dapat kita andalkan,
Maka cukuplah bagi kita untuk mengandalkan diri kita sendiri serta membuat diri kita dapat diandalkan oleh diri kita sendiri.
Yang hidup dari kebodohan,
Akan mati karena kebodohannya sendiri atau oleh kebodohan orang lain.
Yang hidup dari merepotkan orang lain,
Akan mati karena direpotkan oleh orang lain dan direpotkan oleh dirinya sendiri.
Yang hidup dari pedang,
Akan mati karena pedang.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan