Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

The Art of How to be a Productive Human Being. Seni Cara menjadi Manusia yang Produktif


HERY SHIETRA, The Art of How to be a Productive Human Being. Seni Cara menjadi Manusia yang Produktif

Become a productive human being,
It means being aware that delaying work will not make the job complete by itself,
Especially as if the problem that needs to be dealt with will disappear by itself.
Become a productive human being,
It means to be creative,
While being creative means being willing to train yourself and think intelligently,
Therefore no time is wasted.
And nothing that cannot be done or to be learned and trained.
Become a productive human being,
It means the willingness to learn through work,
Learning process of all time.
That's why,
Those who are productive are always humans who are full of perseverance and tenacity,
As if you never know tired.
Become a productive human being,
It means not working for a living,
Not even living to work,
But to utilize every time resource that we have,
Optimally and precisely,
Just in time,
And precisely what we can do.
Become a productive human being,
It means not waiting for the perfect time or conditions to start work,
But has a heart condition that has been strong and steady to start footsteps.
Productive humans do not depend on external factors outside them,
But always rely on internal factors themselves.
Become a productive human being,
Meaning it does not stop at one achievement,
But always innovating and making a breakthrough.
In that way,
A productive human explores the potential in himself.
Become a productive human being,
It means knowing what he wants to do and produce.
They are not blinded by ignorance of their own strengths and weaknesses,
They are a leader for themselves.
Become a productive human being,
Not meaning that they never rested and paused for a moment.
However,
They know when to lift their body and when to rest in order to maintain fitness and to always be healthy,
Because they know,
That tomorrow is still full of challenges they needs to solve.
Become a productive human being,
Not that it always has enough resources to produce a work or to be able to do something.
However,
They are not stopped by their own limitations or by the limitations of the resources they have.
They are greater than any limitations,
They are unstoppable.
Become a productive human being,
Not that always met success.
However,
They do not stop at failure.
Failure, it means that success is being delayed.
Become a productive human being,
Not meaning that you can not feel tired and hopeless.
However,
They do not stop with fatigue or despair.
Tired and hopeless,
Never prevented them from getting up and starting again.
Become a productive human being,
Not meaning that you already know everything.
However,
They do not stop at ignorance.
Do not know yet, or do not already know,
That does not mean do not know.
That's why,
A productive person always ventured to learn and be diligent in learning new things that have not been mastered by him.
Become a productive human being,
Not that it never makes mistakes or does stupid things.
However,
They do not stop at mistakes,
But always look for solutions and focus on things that are more important to do.
© HERY SHIETRA Copyright.

Menjadi manusia yang produktif,
Artinya menyadari bahwa menunda pekerjaan tidak akan membuat pekerjaan itu selesai secara sendirinya,
Terlebih seolah masalah yang perlu dihadapi akan sirna menguap secara sendirinya.
Menjadi manusia yang produktif,
Artinya bersikap kreatif,
Sementara kreatif artinya kemauan untuk melatih diri serta berpikir secara cerdas,
Karenanya tidak ada waktu yang terbuang percuma,
Serta tiada yang tidak dapat dikerjakan ataupun untuk dipelajari dan dilatih.
Menjadi manusia yang produktif,
Artinya kemauan untuk belajar lewat bekerja,
Proses pembelajaran sepanjang masa.
Karena itulah,
Mereka yang produktif selalu adalah manusia-manusia yang penuh ketekunan dan kegigihan,
Seolah tidak pernah mengenal lelah.
Menjadi manusia yang produktif,
Artinya bukan bekerja untuk hidup,
Bukan juga hidup untuk bekerja,
Namun untuk memanfaatkan setiap sumber daya waktu yang dimiliki,
Secara optimal dan tepat guna,
Tepat pada waktunya,
Serta tepat pada hal yang dapat kita lakukan.
Menjadi manusia yang produktif,
Artinya tidak menunggu waktu ataupun kondisi yang sempurna untuk memulai pekerjaan,
Namun memiliki kondisi hati yang telah kuat dan mantap untuk memulai langkah kaki.
Manusia yang produktif tidak bergantung pada faktor eksternal diluar dirinya,
Namun selalu mengandalkan faktor internal dirinya sendiri.
Menjadi manusia yang produktif,
Artinya tidak berhenti pada satu pencapaian,
Namun selalu berinovasi serta melakukan terobosan.
Dengan cara seperti itulah,
Seorang manusia yang produktif menggali potensi dalam dirinya sendiri.
Menjadi manusia yang produktif,
Artinya mengetahui apa yang ingin ia lakukan dan kerjakan.
Mereka tidak buta oleh ketidaktahuan mengenai kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri,
Mereka adalah seorang pemimpin bagi dirinya sendiri.
Menjadi manusia yang produktif,
Bukan artinya tidak pernah beristirahat dan rehat sejenak.
Namun,
Mereka tahu kapan harus mengangkat tubuhnya dan kapan harus mengistirahatkannya demi menjaga kebugaran serta agar senantiasa sehat,
Karena mereka tahu,
Bahwa hari esok masih dipenuhi berbagai tantangan yang perlu ia pecahkan.
Menjadi manusia yang produktif,
Bukan artinya selalu memiliki sumber daya yang cukup untuk menghasilkan suatu karya atau untuk dapat mengerjakan sesuatu.
Namun,
Mereka tidak terhentikan oleh keterbatasan diri ataupun pada keterbatasan sumber daya yang dimiliki olehnya.
Mereka lebih besar dari keterbatasan yang ada,
Mereka tidak terhentikan.
Menjadi manusia yang produktif,
Bukan artinya selalu menemui keberhasilan.
Namun,
Mereka tidak berhentik pada kegagalan.
Kegagalan, hanyalah keberhasilan yang sedang tertunda.
Menjadi manusia yang produktif,
Bukan artinya tidak dapat merasakan letih serta putus asa.
Namun,
Mereka tidak berhenti pada rasa letih ataupun putus asa.
Letih serta rasa putus asa,
Tidak pernah menghalangi mereka untuk bangkit serta memulainya kembali.
Menjadi manusia yang produktif,
Bukan artinya sudah tahu segala hal.
Namun,
Mereka tidak berhenti pada ketidaktahuan.
Belum tahu,
Bukan artinya tidak tahu.
Karena itulah,
Seseorang yang produktif selalu memberanikan diri untuk belajar dan bersikap tekun mempelajari hal-hal baru yang belum dikuasai olehnya.
Menjadi manusia yang produktif,
Bukan artinya tidak pernah melakukan kesalahan ataupun berbuat kekeliruan.
Namun,
Mereka tidak berhenti pada kesalahan,
Akan tetapi selalu mencari solusi serta berfokus pada hal yang lebih penting untuk dikerjakan.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan