Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Sebagai Bagian dari Proses EVOLUSI MANUSIA yang Belum Selesai. EVOLUSI Tidak Pernah Mengenal Kata Usai-Tuntas

ARTIKEL HUKUM
Bila terdapat diantara para pembaca yang berasumsi bahwa “homo sapiens” merupakan “produk final” dari evolusi manusia, maka Anda keliru, keliru besar karena Anda tidak membaca sejarah bagaimana evolusi manusia terus terjadi dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Proses evolusi setiap makhluk hidup masih terus berlangsung, sama seperti terus berputar dan berubahnya lempeng-lempeng tektonik permukaan bumi, berubahnya kontur dan bentang alam, tidak terkecuali evolusi umat manusia.
Tiada suatu “produk akhir” dari sebuah rangkaian proses evolusi. Sama seperti sebuah penemuan baru (novasi / inovasi) yang selalu hadir berbagai terobosan evolusioner yang tidak pernah terpikirkan ataupun terbayangkan oleh para pendahulu kita sebelumnya, meski tampak canggih, namun kesemua ini masih terus berlanjut dan masih berlangsung proses evolusinya, dan kita semua adalah sejatinya bagian dari proses evolusi bersama dengan para nenek-moyang kita, anak-cucu kita, maupun para generasi penerus kita jauh setelah ini, dari yang sebelumnya “tidak mungkin” ternyata kini terbukti “niscaya”.
Tiada yang tidak mungkin dalam sebuah proses evolusi, dimana kemungkinannya ialah tiada batasan. Kita semua, tanpa terkecuali, akan menjadi bagian dari sejarah proses evolusi umat manusia yang kelak akan mengisi buku-buku sejarah generasi penerus kita ketika bentuk tubuh dan fisik cucu-buyut kita telah berubah, sama seperti ketika kita membaca bentuk tubuh manusia purba seperti “homo mojokertensis” maupun “homo erektus” dan lain sebagainya, bisa jadi mereka dan kita adalah wujud manusia paling sempurna dan sudah final, meski senyatanya tidak sama sekali. Sama seperti sebuah kisah fiksi perihal ET / Alien dari luar angkasa dengan kendaraan UFO mereka yang menjuluki manusia Bumi sebagai “the big Ape” alias si “kera besar”. Bisa jadi, bagi kaum makhluk dari luar angkasa tersebut, mansuia di Bumi hanya layak mengisi dan menghuni “kebun binatang marga satwa” di planet asal mereka, menjadi tontonan pengunjung dari balik pagar kawat.
Sebagai contoh sederhana yang dapat kita saksikan sendiri, wujud fisik orang-orang yang hidup para era tahun 1950-an, memiliki bentuk karakteristik wajah dan tubuh yang khas yang membedakan mereka dengan generasi yang baru tumbuh dewasa pada era sekarang ini. Mungkin saja, tidak tertutup kemungkinan, para cucu-buyut kita akan memandang bahwa betapa “jeleknya” tubuh-fisik maupun selera mode busana kita yang hidup pada era sekarang ini. Karenanya, definisi “cantik”, “rupawan”, maupun “tampan” juga selalu mengikuti proses evolusi sehingga terus berubah seiring waktu bersama dengan “hukum perubahan” yang selalu menyertainya. Sekalipun, kemanakah arah bandul suatu evolusi, tiada yang tahu pastinya.
Tiada yang pasti selain ketidak-pastian itu sendiri, demikianlah “hukum perubahan” menjadi salah satu bagian dari “hukum alam”, berdampingan dengan “hukum sebab-akibat” (atau yang lebih populer dan lebih kita kenal dengan julukan sebagai “hukum karma”). Evolusi makhluk hidup, tidak terkecuali evolusi umat manusia, merupakan bagian dari “hukum perubahan” yang sedang berproses. Berubah menuju bentuk apakah? Itulah yang disebut sebagai “tiada yang pasti sebagai ketidak-pastian”. Kita tidak akan pernah tahu, akan seperti apakah manusia berikutnya hasil evolusi manusia.
Bukan hanya perihal fisik manusia yang mengalami evolusi, namun juga perihal selera dari semula kaum wanita menyukai pria dengan fisik terkuat menjelma menyukai pria yang makmur secara ekonomi, disamping evolusi kebiasaan, cara berpikir, kemampuan otak, disorientasi perilaku, anomali sosial, fenomena kemasyarakatan, psikologi perilaku, tendensi maupun kecenderungan pilihan, ilmu pengetahuan, kompleksitas strata sosial yang kian kompleks dan terkotak-kotak (tidak lagi terbagi dalam empat kasta), arsitektural estetik, budaya urban dan rural, cara bersosialisasi semula dari berjalan kaki dan bertatap-muka berubah menjadi via surat pos kemudian berubah menjadi via perangkat genggam bernama “online gadget”, begitupula kemampuan dalam memainkan teknologi yang turut berevolusi, disamping tuntutan hidup yang juga turut berevolusi, tidak terkecuali aturan norma hukum maupun modus-modus kejahatan—karenanya, manusia yang terlahir pada era modern ini, mungkin akan “tidak mampu menjalani hidup” jika dirinya “dilempar kembali” ke zaman batu. Manusia-manusia pada zaman batu sanggup hidup tanpa listrik ataupun internet, namun mampukah Anda?
Saat ulasan ini penulis susun, dunia global sedang digemparkan oleh virus mematikan bernama Corona Virus Disease (COVID-19) yang menular dari manusia ke manusia lainnya. Sejatinya, nenek-moyang kita telah menghadapi tidak tehitung jumlahnya serangan wabah maupun pandemik mematikan serupa sejak lama sebelum ini, dan pandemik demikian bukanlah “kiamat” karena terbukti nenek-moyang kita tetap dapat survive lewat proses “seleksi alam” melalui serangkaian proses evolusi yang tidak pernah berhenti pada satu titik.
Kelak, umat ketika manusia telah berevolusi sedemikian rupa, perihal COVID-19 hanya tinggal menjadi bagian dari catatan sejarah proses evolusi yang pernah dihadapi dan dilalui oleh nenek-moyang mereka, yakni tidak lain tidak bukan manusia yang hidup dalam era sekarang ini, yang dibaca oleh para generasi penerus kita sebagai teks buku pelajaran dibidang sejarah serta arkeologi. Karena proses evolusi tidak pernah mengenal kata “usai”, maka dengan demikian ancaman serupa seperti COVID-19 bukanlah ancaman terakhir kita sebagai umat manusia.
Dahulu kala, kita mengira serangan virus SARS adalah bencana yang dapat membuat kiamat bagi umat manusia serta sebagai ancaman kepunahan bagi kita sebagai manusia. Dunia sempat merasa ketakutan ada wabah pandemik SARS, berlanjut pada MERS, dan kini COVID-19, dimana fakta pengejutkannya ialah bahwa ketiganya adalah virus yang sama hanya saja berbeda strain karena sang virus telah bermutasi karena turut berevolusi—dimana bukan hanya virus yang bermutasi, karena sejatinya evolusi manusia pun adalah sebuah proses mutasi sehingga umat manusia saat kini adalah “produk” hasil bermutasi yang juga masih akan terus bermutasi.
Apakah evolusi manusia selalu merupakan hal yang negatif? Menakutkan, tentu saja. Mematikan, tentu saja. Merusak tatanan yang telah mapan, tentu saja. Namun, satu hal yang pasti, keberadaan COVID-19 dapat mengancam keselamatan jiwa mereka yang terutama bersikap abai atau bahkan sengaja melanggar larangan ataupun perintah pemerintah untuk “menjaga jarak sosial dan fisik” (physical distancing), bahkan sengaja menantang, memasang badan, dan menjadikan pandemik wabah COVID-19 sebagai bahan lelucon dengan tetap melakukan “kumpul-kumpul ngolor-ngidul” tanpa manfaat, berkegiatan usaha tanpa faedah positif bagi program pemerintah untuk segera mengatasi penyebaran wabah, serta tanpa mengenakan masker penutup hidup dan mulut ketika bersosialisasi dengan orang lain.
Berikut inilah rahasia terbesar proses atau cara kerja evolusi, yakni alam bukan sedang menyeleksi mereka yang kuat dan yang lemah, namun menyeleksi yang bersikap “lalai dan abai disamping menyepelekan ancaman”, bukan menyeleksi orang-orang yang “penuh perhatian dan tidak meremehkan”. Karena itulah, yang disebut dengan “survival of the fittest” tidak dapat dimaknai secara harafiah sebagai “yang terkuat, namun adalah mereka yang mampu serta memiliki kemampuan untuk beradabtasi, menyesuaikan diri dengan ancaman yang terjadi, serta peka terhadap kondisi dan situasi dengan menempatkan diri sebagaimana mestinya ia harus bertindak dan berperilaku.
Gagal dan abai untuk menyesuaikan diri, maka dirinya memang patut untuk diseleksi serta tersisih oleh alam kita, ketika otoritas negara kita tidak tegas menindak penduduk dan warganya yang bermental “pembangkang” dan “nakal”. Tidak selamanya “seleksi alam” sebagai bagian dari evolusi manusia, adalah hal yang buruk (sekalipun amat mahal “social cost”-nya), demi memastikan hanya “bibit unggulan” yang akan dapat melangsungkan garis keturunannya. Biarkan saja mereka yang mengabaikan dan meremehkan, yang akan tersisih secara sendirinya, oleh alam, tanpa perlu menggunakan tangan-tangan algojo untuk mengeksekusinya. Meski, masalah serta kendala utamanya, masyarakat yang kerap mengabaikan keselamatan dan kesehatan karena meremehkan ancaman wabah mematikan (jangan katakan dapat dan banyak penderita yang sembuh dari infeksi yang menjangkit) dapat mencelakai orang lain lewat penularan kepada masyarakat lain yang dijumpai olehnya, sehingga memang layak untuk ditembak di tempat oleh otoritas negara pada MASA DARURAT DENGAN ATURAN HUKUM DARURAT ini, tanpa kenal kompromi.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan