Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Fee Balai Lelang Swasta Tidak dapat Dibebankan kepada Debitor ketika Kreditor / Perbankan Melelang Eksekusi Agunan

LEGAL OPINION
Question: Tidak ada kewajiban hukum bagi bank untuk pakai balai lelang swasta untuk lelang eksekusi jaminan tanah milik debitornya, lalu mengapa tiba-tiba bank limpahkan semua tarif balai lelang swasta yang besarannya memakai nominal “persentase” dua hingga tiga persen dari nilai terjual lelang? Yang memakai jasa balai lelang swasta, itu pihak bank, semestinya yang wajib membayar adalah bank itu sendiri yang memilih memakai balai lelang swasta.
Mengapa tidak sekalian saja, bebani sepuluh persen atau tiga puluh persen dari harga lelang tanah sebagai tarif itu balai lelang swasta untuk dilimpahkan ke debitor? Apakah ini modus bank untuk merampok debitornya? Sama seperti tarif pengacara, tidak ada yang suruh bank untuk pakai pengacara jika mau menggugat atau digugat, bisa maju sendiri ke persidagnan atau ke kantor lelang, mengapa tidak sekalian saja menyewa pengacara paling mahal lalu seenaknya limpahkan semua tagihan jasa yang tidak perlu itu kepada pihak debitor.
Brief Answer: Logikanya memang benar, yang bersepakat menggunakan Balai Lelang Swasta ialah semata antara pihak Kreditor dan pihak Balai Lelang Swasta, sehingga tidak dapat merugikan pihak debitor selaku pihak ketiga. Meski debikian, berdasarkan asas “kebebasan berkontrak”, sebenarnya dimungkinkan saja, ketika suatu pihak digugat secara tidak patut dan tanpa dasar, untuk menuntut ganti-rugi yang dikeluarkan oleh pihak Tergugat atas jasa hukum untuk menghadapi gugatan “serampangan” pihak Penggugat yang tidak jarang menyalah-gunakan lembaga peradilan, berdasarkan asas “siapa yang telah merepotkan / membuat repot, maka ia-lah yang patut dimintakan pertanggung-jawaban serta wajib untuk bertanggung-jawab”, dengan dua syarat mutlak secara akumulatif berikut:
1.) Telah terlebih dahulu diperjanjikan bahwa biaya pengacara akan dibebankan kepada pihak lawan (unsur subjektif adanya “kesepakatan” sebagai “syarat sah perjanjian” vide Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata); dan
2.) Perjanjian tersebut menyebutkan secara rinci besaran nominal biaya jasa hukum yang dapat dimintakan pertanggung-jawaban “reimbursement” kepada pihak lain dalam perjanjian dimaksud (unsur objektf adanya “objek maupun syarat-syarat spesifik” (term and condition) sebagai “syarat sah perjanjian” Pasal 1320 KUHPerdata).
Karenanya pula, sekalipun secara hukum memang tiada kewajiban bagi suatu pihak untuk menggunakan jasa advokat ketika melakukan upaya hukum maupun tiada kewajiban bagi suatu perbankan untuk menggunakan jasa “pra-lelang eksekusi” berupa Balai Lelang Swasta ketika hendak mengajukan permohonan lelang eksekusi terhadap agunan ke hadapan Kantor Lelang Negara, namun bukan berarti tidak dapat disepakati sebaliknya, dengan syarat yakni terpenuhi kedua unsur di atas bila ternyata sebelumnya telah disepakati ketentuan demikian.
Untuk itu, secara analogi berdasarkan preseden “best practice” praktik peradilan yang ada, Akta Kredit dapat saja memuat kesepakatan, bahwa biaya yang dikeluarkan oleh pihak perbankan untuk mengajukan lelang eksekusi ke hadapan Kantor Lelang Negara menggunakan jasa “pra-lelang eksekusi” oleh suatu penyedia jasa seperti Balai Lelang Swasta, sekalipun sejatinya tiada kewajiban pihak perbankan untuk menggunakan Balai Lelang Swasta dan dapat langsung secara seketika menghadap sendiri Kantor Lelang Negara untuk mengajukan permohonan Lelang Eksekusi terhadap agunan milik debitor yang wanprestasi, dimana fee Balai Lelang swasta dapat di-reimburst sebagai beban pengeluaran debitornya dengan kedua syarat yang sama, yakni terpenuhinya unsur subjektif maupun unsur objektif “syarat sah perjanjian”, berupa:
1.) Telah disepakati secara tegas mengenai hal itu di perjanjian (Akta Kredit) sebagai kriteria “syarat tangguh” (artinya, klausul pembebanan biaya tarif jasa Balai Lelang Swasta sebagai beban pengeluaran pihak debitor, baru akan aktif ketika debitor cidera janji sehingga agunan perlu dieksekusi oleh sang kreditor); dan
2.) Secara detail dan spesifik menyebutkan perusahaan Balai Lelang Swasta manakah, serta besaran nominal tarif jasa (fee) yang dapat dibebankan kepada pihak debitor.
PEMBAHASAN:
Telah banyak putusan Pengadilan Negeri di Tanah Air yang merujuk yurisprudensi “klasik” yang menyebutkan bahwa biaya tarif jasa Advokat tidak dapat dibebankan kepada pihak lain dalam suatu sengketa, karena memang tiada kewajiban hukum untuk maju bersidang ke hadapan pengadilan menggunakan jasa Advokat, sehingga hal demikian adalah pilihan pribadi dan juga menjadi tanggung-jawab pribadi pihak-pihak bersangkutan yang memilih untuk diwakili oleh seorang Advokat untuk bersidang.
Namun, ilmu hukum terus berkembang, dimana kini telah terdapat sebuah putusan yang cukup unik, karena memungkinkan “reimbursment” biaya jasa hukum, hanya saja dengan suatu syarat tertentu—dimana kaedah hukum dalam putusan berikut dapat dianalogikan untuk diterapkan terkait isu hukum “biaya tarif jasa Balai Lelang Swasta apakah dapat dibebankan kepada pihak Debitor pemilik agunan yang dilelang-eksekusi”, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS cerminkan lewat putusan Pengadilan Negeri Cilacap Nomor 14/Pdt.G/2011/PN.Clp. sengketa perdata register Nomor tanggal 25 Agustus 2011, perkara antara:
- Ir . CHAEDAR HARTOKO, sebagai Penggugat; melawan
- PT. MITRA KARYA USAHA SEJAHTERA, selaku Tergugat.
Dimana terhadap gugat-menggugat demikian, Majelis Hakim membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa Tergugat dalam Konpensi / Penggugat dalam Rekonpensi, telah mengajukan gugatan balik (rekonpensi) terhadap Penggugat dalam Konpensi / Tergugat dalam Rekonpensi dengan mendalilkan gugatannya yang pada pokoknya sebagai berikut:
“Bahwa adanya Gugatan Konpensi dari Tergugat Rekonpensi yang diajukan melalui Pengadilan Negeri Cilacap, dilandasi dengan ketidak-jujuran, menurut hukum menyebabkan pihak Pengggugat Rekonpensi menjadi tercemar nama baiknya, serta untuk mempertahankan haknya menyebabkan Penggugat Rekonpensi yang tidak paham dengan hukum sehingga mengharuskan Penggugat Rekonpensi untuk mempertahankan hak-haknya tersebut menggunakan jasa Advokat.
“Bahwa mempertimbangkan hal tersebut, adalah menjadi patut dan wajar menurut hukum, kepada Tergugat rekonpensi dibebani ganti-kerugian, dengan perincian:
- Ganti kerugian atas tercemarnya nama baik Penggugat Rekonpensi sebesar Rp. 5.000.000.000 (lima miliar Rupiah).
- Ganti kerugian atas penggunaan jasa Advokat sebesar Rp.  369.381.776 (tiga ratus enam puluh sembilan juta tiga ratus delapan puluh satu ribu tujuh ratus tujuh puluh enam Rupiah). [Note SHIETRA & PARTNERS : Berikut inilah yang kerap dipertanyakan oleh masyarakat terkait fee Advokat yang serba “bombastis”, yakni : Mengapa tidak sekalian menggunakan dan menyewa layanan jasa Pengacara yang bertarif miliaran Rupiah tarif jasanya?]
“Menimbang, bahwa terhadap dalil gugatan Penggugat dalam Rekonpensi / Tergugat dalam Konvensi, Majelis Hakim mempertimbangkan sebagai berikut:
“Bahwa dalam perkara a quo tidak ditemukan fakta hukum yang telah menunjukkan adanya pihak-pihak yang dinyatakan telah melakukan perbuatan melanggar hukum dengan kualifikasi telah mencemarkan nama baik maupun telah melakukan penyelundupan hukum lainnya;
“Bahwa adanya kerugian materiil yang timbul akibat pengeluaran untuk membayar jasa advokat / penasehat hukum tidak dapat dibebankan kepada pihak lain dalam suatu penyelesaian perkara di persidangan, kecuali diperjanjikan terlebih dahulu;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas dihubungkan dengan petitum gugatan dalam rekonpensi serta tidak adanya pembuktian oleh Penggugat dalam Rekonpensi / Tergugat dalam Konpensi, Majelis Hakim berpendapat bahwa Penggugat dalam Konpensi / Tergugat dalam Rekonpensi tidak dapat dikatakan telah melakukan perbuatan melawan hukum, dan kalaupun Penggugat dalam Konpensi akan digugat dengan dalil gugatan yang diajukan terhadap Tergugat dalam Konpensi telah melakukan perbuatan melawan hukum, maka Penggugat dalam Konpensi harus terlebih dahulu diproses secara pidana, karena fakta yang terungkap dalam perkara a quo adalah diawali dengan perjanjian antara Penggugat dalam Konpensi dengan Penggugat dalam Rekonpensi dalam pengadaan kayu, oleh karena itu tidak ada perbuatan yang dilakukan Penggugat dalam Konpensi dengan menggugat Penggugat dalam Rekonpensi adalah merupakan perbuatan yang melanggar undang-undang;
M E N G A D I L I :
DALAM KONVENSI:
- Menolak gugatan Penggugat dalam Konpensi / Tergugat dalam Rekonvensi seluruhnya;
DALAM REKONVENSI:
- Menolak gugatan Penggugat dalam Rekonpensi / Tergugat dalam Konvensi seluruhnya.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan