Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Akibat Hukum Pekerja Kontrak yang Mangkir Kerja, Denda Pinalti PKWT disamping No Work No Paid

LEGAL OPINION
Question: Apakah prinsip “no work no paid” juga berlaku dalam konteks Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), alias bagi Pekerja Kontrak?
Brief Answer: Lebih dari itu, seorang pekerja / buruh dengan jenis perikatan kerja kontrak atau “Perjanjian Kerja Waktu Tertentu”, selain tidak dibayar upahnya karena absen atau tidak hadir saat kerja maupun karena melakukan mogok kerja tidak sah, juga harus membayar kompensasi sebesar proporsional antara jumlah hari mangkir kerja disandingkan dengan total masa kerja dalam kontrak kerja kepada pihak pemberi kerja. Karenanya, ikatan hubungan industrial dalam suatu Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, selalu lebih menguntungkan pihak pemberi kerja.
PEMBAHASAN:
Dasar argumentasinya sangatlah sederhana, yang tidak perlu SHIETRA & PARTNERS urai secara panjang-lebar. Ketika salah satu pihak, baik pihak pemberi kerja maupun pihak pekerja / buruh, memutus pejanjian kerja ditengah masa berlakunya Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, maka pihak tersebut diwajibkan oleh hukum maupun oleh praktik peradilan di Pengadilan Hubungan Industrial (preseden) dalam berbagai perkara dengan karakter serupa secara cukup konsisten, maka pihak yang memutus perjanjian kerja secara sepihak tersebut diwajibkan untuk membayar pinalti atau kompensasi ataupun denda (atau istilah lainnya), sebesar proporsional antara total masa kerja dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dikurangi sisa masa kerja yang diputus di tengah berlangsungnya masa kerja, yang kemudian dikalikan dengan besaran upah per hari.
Jika yang memutus ditengah jalannya masa kerja dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu ialah pihak pemberi kerja, semisal dari kontrak kerja selama dua tahun, namun baru berjalan satu tahun telah diputus secara sepihak oleh pihak pengusaha, maka pihak pekerja / buruh berhak atas kompensasi sebesar sisa masa kerja dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, yakni sebesar satu tahun nilai upah dalam kontrak kerja.
Sebaliknya, ketika pihak karyawan / pekerja kontrak yang mengakhiri atau memutuskan masa berlakunya kontrak kerja secara sepihak, agar tidak tercipta “standar ganda”, maka pihak pekerja kontrak bersangkutan yang diwajibkan oleh hukum untuk membayar pinalti atau kompensasi sebesar sisa masa kerja dalam kontrak kerja yang belum dikerjakan atau belum selesai masa berlakunya, kepada pihak pemberi kerja.
Dalam stelsel Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, pihak pemberi kerja tidak dapat mendalilkan bahwa tiada pekerjaan untuk dikerjakan karena sedang tiadanya pemesanan dari pelanggan, sehingga upah harus terus diberikan kepada setiap pekerja kontraknya sesuai nominal upah dan masa berlaku kontrak kerja. Sebaliknya, pihak pekerja kontrak pun tidak dapat dibenarkan untuk mendalilkan “mangkir kerja” maka hanya berlaku konsekuensi sebatas “no work no paid” selama jumlah hari dimana pekerja kontrak bersangkutan mangkir kerja.
Sebagai ilustrasi, sederhananya dapat SHIETRA & PARTNERS cerminkan skenario dengan konstruksi sebagai berikut. Sang pekerja kontrak mendapat tawaran bekerja pada perusahaan lain, namun dirinya saat ini masih terikat kontrak kerja selama sisa masa kerja satu tahun pada sang pemberi kerja. Apakah dapat dibenarkan, sang pekerja kontrak “mengakali” ikatan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu yang masih menyisakan satu tahun masa kerja demikian, dengan semudah mendalilkan “no work no paid”?
Anggap saja selama sisa masa jangka waktu kerja dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu tersebut, sang pekerja kontrak “tidak masuk kerja” alias “mangkir kerja” selama satu tahun penuh, maka menjadi pertanyaan besar bagi kita bersama, bagi kalangan pengusaha maupun bagi kalangan pekerja kontrak itu sendiri, apakah dalil demikian dapat dibenarkan, “mangkir kerja satu tahun”, atau bahkan pemutusan hubungan kerja kontrak yang menyaru sebagai “mangkir kerja satu tahun penuh”, hingga berakhirnya masa kerja dalam kontrak kerja?
Betul bahwa hingga sejauh ini, SHIETRA & PARTNERS belum pernah menemukan satu pun kasus pada praktik di Pengadilan Hubungan Industrial dimana seorang pekerja kontrak yang mangkir kerja dihukum bukan hanya tidak mendapat upah selama mangkir (alias “membolos”) kerja, namun juga disertai penghukuman pembayaran kompensasi sebesar proporional masa kerja dalam kontrak kerja. Namun, bukanlah berarti penghukuman demikian mustahil untuk diajukan dan dikabulkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Hubungan Industrial.
Pada prinsipnya, hakim dalam perkara perdata (dimana Pengadilan Hubungan Industrial hukum acaranya menerapkan pula hukum acara perdata) menerapkan prinsip putusan yang bersifat “non ultra-petitum”, dimana seorang hakim hanya boleh mengabulkan sebatas apa yang diminta dalam surat gugatan pihak penggugat maupun dalam gugatan-balik pihak tergugat (rekonpensi).
Karenanya, tiadanya preseden atas isu hukum dihukumnya seorang pekerja kontrak selain tidak mendapat upah semasa masa “mangkir kerja”, juga dihukum untuk membayar sejumlah kompensasi secara proporsional masa kerja dalam kontrak kerja, SHIETRA & PARTNERS tengarai akibat belum diketahuinya oleh para kalangan pemberi kerja adanya konsekuensi yuridis “dampingan”, dibalik mangkir kerjanya seorang pekerja / buruh kontrak.
Sekarang ini, pilihan ada di tangan kalangan pekerja dan buruh itu sendiri, setelah mengetahui berbagai kelemahan dan kerugian diikat lewat perikatan kerja jenis Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, apakah akan tetap mengikatkan diri di dalamnya ataukah memilih untuk berwiraswasta dan memulai bisnis pribadi, mengingat tren kontemporer saat kini seluruh pemberi kerja di Indonesia tendensinya akan mengikat seluruh pekerjanya dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, sekalipun jenis pekerjaannya bersifat tetap dan bukan musiman—menimbang, sanksi hukum bagi dilanggarnya ketentuan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu terkait jenis pekerjaan, sangatlah minim, sehingga tidak pernah membuat “efek jera” bagi kalangan pelaku usaha yang selama ini menggunakan tenaga buruh ataupun tenaga kerjanya secara tetap untuk pekerjaan-pekerjaan bersifat tetap yang permanen sekalipun.
Ketika lebih banyak penduduk usia produktif negeri ini, yang lebih bertendensi untuk berwiraswasta secara pribadi, maka pada gilirannya daya tawar angkatan kerja kita menjadi meningkat, sehingga dapat mulai membalik keadaan dari semula “menjual murah” menjadi “menjual mahal” atas tenaga dan keterampilan mereka. Selama jumlah “supply and demand” masih terjadi ketimpangan yang berdisparitas lebar, maka selamanya praktik Perjanjian Kerja Waktu Tertentu tidak dapat terbendung—sebuah “kutukan” dari “daya tawar” yang lemah dari pihak angkatan kerja yang membanjiri bursa kerja.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan