Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

eCOURT, Lonceng Kematian Provesi Advokat

ARTIKEL HUKUM
Euforia tengah terjadi di tengah kalangan profesi kepengacaraan kita di Tanah Air. Betapa tidak, kini setelah diluncurkannya aplikasi e-filling, e-billing, e-summons, hingga eCourt untuk tujuan gugat-menggugat dan jawab-menjawab antara penggugat dan pihak tergugat, kalangan profesi advokat merasa telah sangat terbantu oleh terobosan Lembaga Yudikatif kita dalam memanfaatkan kemajuan teknologi guna kemudahan dan efisiensi proses persidangan.
eCourt, membantu pihak penggugat maupun penggugat, cukup mengirim berkas terkait gugat-menggugat dan jawab-menjawab ke dalam portal internet yang disediakan oleh masing-masing lembaga peradilan yang tersebar di Tanah Air, tanpa harus hadir bertatap muka untuk mengirim dan saling bertukar surat jawab-menjawab.
Dengan demikian, dapat dikalkulasi dalam benak para pengacara kita yang selama ini terbiasa menghabiskan banyak waktu menunggu dan membuang-buang waktu di persidangan, akan terjadi efisiensi waktu secara masif dan terstruktur yang mengubah sepenuhnya wajah budaya ruang persidangan kita. Yang patut juga kita beri catatan ialah, eCourt dapat diakses oleh masyarakat umum, bukan menjadi monopoli kalangan pengacara layaknya portal Sistem Administrasi Hukum Umum pada Kementerian Hukum yang hanya dapat diakses oleh kalangan notaris.
Namun, tanpa disadari oleh kalangan advokat kita, eCourt secara bersamaan menjadi titik awal runtuhnya profesi advokat di negeri ini. Betapa tidak, kalangan advokat tidak menyadari, justru in-efisiensi praktik peradilan selama ini menjadi lahan bisnis paling menggiurkan bagi kalangan advokat di Tanah Air.
Sebagai contoh, masyarakat yang awam hukum selama ini sangatlah enggan bersentuhan dengan peradilan, karena dinilai penuh pungutan liar untuk mendaftarkan gugatan, serba misteriusnya prosedural maupun birokratisasi peradilan, hingga tidak ramahnya petugas peradilan maupun panitera, hingga masih asingnya cara mendaftarkan gugatan dan segala prosedural lainnya, ditambah hal yang paling menakutkan segenap kalangan pengusaha kita : waktu yang tidak jelas kapan persidangan akan dimulai, membuang-buang waktu karena harus pulang-pergi menghadiri persidangan yang sangat memakan waktu dan tidak efisien, disamping harus meluangkan waktu seharian menunggu persidangan dibuka ketika pihak lawan tidak hadir tepat waktu atau bahkan tidak hadir sama sekali, atau bahkan salah seorang anggota majelis hakim berhalangan hadir sehingga persidangan harus ditunda dan kembali ditunda, hingga memakan “tahunan”.
Citra serta gambaran yang sangat “suram” serta “kelam” dari praktik persidangan kita di ruang peradilan, menjadi “momok” sekaligus “mimpi buruk” bagi sebagian masyarakat awam hukum kita maupun bagi para kalangan pengusaha, yang akan langsung mengambil jarak ketika mendengar nama gedung pengadilan. Justru karena itu jugalah, lahan bisnis kaum penyedia jasa pengacara untuk mewakili pengguna jasa beracara di persidangan, dinilai sebagai hal yang sepadan untuk disewa jasanya dengan harga “mahal”, mengingat waktu yang terbuang untuk menghadiri persidangan akan sama mahalnya dengan tarif sang pengacara.
Namun ketika Mahkamah Agung RI membuat terobosan serta kebijakan baru guna mendekatkan akses peradilan terhadap masyarakat umum, dengan memperkenalkan eCourt, kini siapa saja dapat menjadi demikian mudah mengakses peradilan, tanpa lagi harus dibayang-bayangi “momok” menakutkan yang demikian “kelam” layaknya persidangan ala “konvensional”.
Tren terbaru paling kontemporer sebagaimana penulis jumpai sendiri, sekarang ini masyarakat awam hukum sekalipun mulai mengajukan gugatannya sendiri tanpa didampingi ataupun diwakili oleh pengacara—dengan kata lain, maju dan bersidang secara swadaya / mandiri tanpa menyewa jasa pengacara mana pun. Bahkan, kalangan masyarakat umum dapat menyewa jasa Konsultan Hukum untuk membuatkan draf gugatan, sanggahan, replik, duplik, memori banding, kasasi, hingga upaya hukum peninjauan kembali maupun surat-menyurat lainnya.
Dengan telah diperkenalkannya manajemen eCourt oleh Mahkamah Agung RI yang tampaknya tidak “separuh hati” menerapkan road map eCourt dengan meniru berbagai eCourt yang ternyata telah mampu berjalan dengan baik di sejumlah negara maju dan berkembang, maka menjadi sebentuk ambigu ketika kalangan pengacara masih mematok tarif ratusan juta rupiah untuk bersidang mewakili pihak penggugat ataupun pihak tergugat, mengingat segala pemborosan waktu beracara telah terpangkas habis berkat manajemerial eCourt yang tidak lagi mensyaratkan tatap muka hadir di persidangan seperti selayaknya sistem peradilan konvensional yang kini sudah menjadi bagian dari “masa lampau”.
Sebagaimana yang selama ini juga telah penulis lakoni sebagai penyedia jasa konsultasi hukum, kerap mendapati klien dari luar Jakarta yang merasa kecewa dengan pengacara yang selama ini disewanya, memutuskan untuk maju sendiri dalam mengajukan upaya hukum, dengan cukup menyewa jasa penulis untuk membuatkan memori banding, kasasi, maupun peninjauan kembali. Jauh lebih efektif dan lebih efisien, karena semua menjadi serba dalam “genggaman tangan” maupun supervisi dan keputusan sang klien secara berdaya sepenuhnya, alih-alih menyerahkan nasib sepenuhnya pada kalangan advokat yang sukar mereka pantau kinerjanya.
Dari berbagai klien tersebutlah, penulis mendapati kalimat-kalimat bernada sinisme terhadap kalangan advokat. Mereka menyatakan, sangatlah tidak masuk akal biaya pengacara demikian mahal, sementara hasilnya tidak jelas, dan ternyata maju bersidang sendiri masih jauh lebih memuaskan, disamping lebih “terkontrol” serta jauh lebih “murah meriah”. Kini, dengan sistem eCourt, masyarakat umum yang awam hukum sekalipun tidak lagi terbendung langkahnya untuk berdaya maju sendiri bersidang, tanpa sekat batas ruang maupun waktu.
eCourt patut diapresiasi oleh publik, mengingat Mahkamah Agung RI dan jajaran peradilan dibawahnya benar-benar “mendekatkan diri” terhadap para pencari keadilan yang menjadi konstituennya, menjadi bukti bahwa Mahkamah Agung RI tidak membiarkan ruang sidang dan akses peradilan menjadi monopoli kalangan advokat sebagaimana semula disinyalir ketika praktik “pakrol bambu” dihapuskan dari ruang persidangan.
Sebagai pembuka lembaran baru wajah praktik peradilan, tepat kiranya kita sambut dengan tangan terbuka, terlepas masih diwarnainya beberapa kekurangan dan kelemahan sistem eCourt yang tentunya akan lebih disempurnakan untuk kedepannya, tidak tertutup kemungkinan seluruh masyarakat kita yang umum maupun yang awam hukum sekalipun, dapat menjadi “advokat” bagi dirinya sendiri, secara mandiri dan secara berdaya, tidak lagi bergantung ataupun mengandalkan jasa kalangan pengacara yang serba misterius dan “tidak jelas kerjanya namun bertarif ratusan juta rupiah”.
Selama ini kalangan advokat di Tanah Air, telah banyak mencetak keuntungan besar dan manisnya “madu” industri hukum berupa monopoli akses ruang persidangan dengan menggeser peran seorang “pakrol bambu”. Namun kini, tiada satu pun kalangan pengacara mana pun yang berhak membatasi pintu gerbang akses masyarakat umum terhadap lembaga peradilan yang kini telah benar-benar terbuka lebar, terutama ketika Mahkamah Agung RI berkomitmen untuk mendekatkan lembaganya kepada masyarakat umum itu sendiri.
Akhir kata, mari kita apresiasi dengan turut mengasuh serta membina dan awasi bersama dengan berpartisipasi secara aktif di dalamnya. eCourt merupakan simbol kemerdekaan bagi masyarakat umum untuk mengakses peradilan, sekaligus menjadi “lonceng kematian” bagi kalangan profesi pengacara di Tanah Air.
Note Penulis : Bila terdapat pihak advokat yang dengan sinisme menilai pemikiran penulis tersebut merupakan cerminan status penulis yang “bukan merupakan seorang advokat”, tampaknya itu adalah tuduhan yang terlampau spekulatif menjurus “pembunuhan karakter”. Faktanya, hingga saat artikel ini disusun dan dipublikasikan, penulis tidak pernah sekalipun mengikuti ujian advokat yang diselenggarakan oleh organisasi advokat manapun di Indonesia—organisasi yang bahkan tidak “becus” mengurusi internal organisasinya sendiri dan tidak “karuan” mengurusi kode etik kalangannya sendiri sehingga saling berebut kekuasaan dan mengklaim sebagai penguasa paling legitimate.
Adalah pilihan penulis pribadi untuk berkecimpung dalam profesi Konsultan Hukum—terlepas dari citra profesi advokat yang sudah demikian merosot wibawanya di mata publik. Sehingga pemikiran dan pernyataan penulis dalam artikel ini, murni bersifat objektif dan netral sifatnya. Bukan suatu “kecemburuan” atau bentuk-bentuk pemikiran picik-sempit semacam yang dituduhkan.
Adalah fakta kedua, sebagian dari total gugatan yang masuk ke lembaga peradilan yang sekalipun diajukan oleh kalangan pengacara, berakhir pada ditolaknya atau tidak diterimanya gugatan oleh pengadilan—bahkan tidak jarang digugat-balik oleh pihak lawan, membuat masyarakat umum tidak lagi perlu merasa gentar untuk maju sendiri mengakses peradilan untuk dan atas nama pribadi—tanpa harus bergantung ataupun mengandalkan jasa seorang advokat yang kadang “berbiaya sama mahalnya dengan apa yang disengketakan itu sendiri”.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan