Menjadi Kuat, Bukanlah Legitimasi untuk Memakan Pihak yang Lemah

ARTIKEL HUKUM
Kita membantai kaum hewan, semata berasumsi bahwa ras manusia si “homo sapiens” adalah makhluk yang lebih cerdas dari mereka, para hewan malang “bodoh” tersebut, sehingga nyawa mereka adalah sah dan legitimate untuk kita renggut dan “makan”. Padahal disaat bersamaan kita juga menyadari dan mengetahui sepenuhnya, tidak ada makhluk bertulang belakang lainnya yang lebih berbahaya ketimbang ras Anda sendiri, bernama manusia.
Jika memang asumsi berpikir demikian layak untuk dikukuhkan sebagai kebenaran absolut, maka mengapa anak-anak yang terlahir dalam kondisi dungu dan terbelakang (IQ dibawah rata-rata), atau yang bahkan mengalami kelumpuhan total pada tubuhnya, tetap dilindungi oleh hukum dan tidak boleh diberlakukan kebijakan genosida terhadap mereka agar genetik “dungu” tidak mereka wariskan pada generasi penerus?
Penulis menyebutnya sebagai “hukum rimba”, dimana yang kuat yang akan menang dan mendominasi pihak yang lebih lemah. “Hukum rimba” adalah hukum bangsa yang belum beradab. Bila memang nyawa dan kehidupan kaum hewan dapat kita renggut sesuka hati kita demi kesenangan ataupun demi kenikmatan lidah dan perut kita semata, atau semata-mata hanya karena kaum hewan lebih bodoh dan lebih lemah dari kita, para “serigala bagi sesamanya” (sindiran yang paling jujur bagi ras manusia), maka penulis akan mengadopsi logika berpikir yang sama untuk dibenturkan kepada paradigma dibalik cara kerja logika itu sendiri.
Mari kita mulai bersama. Persekusi atau “perbuatan main hakim sendiri” (eigenrichting), terjadi ketika pihak yang satu merasa lebih kuat daripada pihak yang menjadi korbannya. Padahal, belum tentu si korban lebih lemah daripada si pelaku kejahatan. Dengan sikap penuh kesabaran dan pengendalian diri, si korban mampu menahan beban rasa sakit yang ia derita dari perilaku si pelanggar. Ia akan bangkit, dan menunjukkan prestasi sehingga tiada lagi yang dapat meremehkan dirinya, alih-alih membalas dendam kekerasan dengan kekerasan. Namun tidaklah banyak contoh kasus terlampau ideal seperti yang penulis sebutkan terakhir.
Anak-anak muda yang suka berkumpul dan “nongkrong” bareng, cenderung membentuk ikatan mental berupa wadah “geng”, yang pada gilirannya memberi mereka kekuatan sosial, hanya saja yang patut disayangkan, tends to corrupt yang menggoda mereka untuk melakukan bullying terhadap anak-anak yang hanya berjalan melintas seorang diri dan tampak “kutu buku”. Namun, dengan menjadi kuat, apakah artinya si kuat berhak untuk menindas pihak yang lebih lemah? Jika demikian halnya, maka apa lagi yang membedakan antara kaum manusia dan dunia satwa di hutan rimba sana? Asalkan perlu kita ketakui, si “kutu buku” bisa jadi kini telah menjelma profesional yang bahkan hidupnya lebih makmur daripada mereka yang dulu merasa paling kuat dan paling hebat. Jangan remehkan ulat, karena ia bisa menjelma dalam metamorfosis menjadi kupu-kupu yang perkasa di angkasa.
Pemodal yang memiliki kekuatan modal, mampu membentuk harga di pasaran, dengan mudahnya menyetir harga maupun pasokan barang di pasar, semudah menjentikkan jari. Pemodal yang kuat, semakin kuat, sementara pemodal yang kecil semakin terkikis dan tersingkirkan. Namun, apakah harus seperti itu yang menjadi kodrat dan nasib “linear” umat manusia? Seolah demikian kaku dan deterministik. Apakah pengusaha kecil dan konsumen, selalu harus menyerah pasrah dan bertekuk-lutut di hadapan pemodal yang kuat?
Memiliki, adalah sebuah beban. Semakin kuat kekuatan yang kita miliki, semakin besar pula tanggung-jawab yang kita miliki. Pernahkah Anda berjalan ke mana-mana dengan memikul beban yang berat? Seperti itu jugalah kehidupan dinosaurus yang serba bertubuh besar—jika tidak dapat disebut sebagai raksasa—pada akhirnya tetap saja tidak eksis di dunia ini karena tak dapat meloloskan diri dari seleksi alam. Tidak selamanya, tidak akan pernah selamanya yang kuat akan keluar sebagai pemenang dan yang lemah akan dikodratkan sekadar menjadi “pecundang” terkalahkan yang berdarah-darah atau menjadi penonton belaka.
Bila Anda pikir umat manusia menjadi tuan atas kaum “ayam”, maka Anda keliru sepenuhnya. Beberapa waktu lalu, para ibu rumah tangga menjerit histeris akibat harga ayam ras potong maupun telur ayam melonjak bahkan menukik ke angka yang fenomenal dan tidak mampu dijangkau oleh banyak kalangan ibu rumah tangga yang pergi ke pasar untuk berbelanja bagi suami dan anak-anak ataupun keluarga mereka di rumah.
Dari contoh sederhana itu saja, maka kini kita dapatlah berkata : Siapa bilang, seekor ayam tidak dapat menentukan nasib seorang manusia? Seekor ayam saja mampu membuat para istri tersebut menjerit dan memekik, sementara sang ayah pusing tujuh keliling memenuhi tuntutan kebutuhan uang belanja istrinya. Si ayam bukan lagi berkotek, namun juga terkekeh. “Apa jadinya lu tanpa gue?” kata si ayam. Ayam tidak butuh manusia, tapi manusia butuh ayam, itulah FAKTANYA, dan kita tidak dapat berkelit.
Kaum pemberi kerja merasa diri mereka demikian kuat, sementara kaum pekerja yang menyebut diri mereka sebagai kaum “proletar”, merasa serba tertindas dan teraniaya, dieksploitasi baik keringat maupun darah mereka. Namun apakah harus selalu seperti itu? Jika saja kita semua mau bersikap kompak, tidak mengobral diri untuk menjadi pekerja “murahan” dan memilih untuk merintis karir pribadi meski bermodalkan keterampilan kecil-kecilan, seperti yang kini terjadi pada tren kaum muda di Thailand, maka pada gilirannya kaum pengusaha yang akan “pusing tujuh keliling” karena tidak banyaknya pasokan tenaga kerja untuk direkrut, sehingga pada gilirannya daya tawar kaum pekerja menjadi lebih kuat secara politis. Anda tidak harus berletih-letih berdemo menuntut ini dan itu, ada seribu jalan menuju Roma—jika saja kalangan buruh itu mau bersikap lebih kreatif, tidak bersikap serba “manja” seperti yang sering mereka tampilkan.
Sebelumnya, para pemilik kios di pusat perbelanjaan terkenal merasa memiliki harta-karun berupa lapak di pusat perbelanjaan yang banyak dikunjungi pengunjung karena ketenaran lokasinya. Kini, setelah era belanja via daring, toko-toko milik mereka berubah menjelma bak “kota mati” yang hanya dikunjungi oleh nyamuk-nyamuk dan lalat yang hilir-mudik sebagai pengunjungnya. Yang kuat, kini tumbang dan tiarap.
Sebelumnya, pemilik pers berupa media cetak, menguasai pangsa pasar dan merajai harian koran maupun berbagai majalah cetak yang menjamur di setiap lapak pedagang koran pinggir jalan, dari Sabang hingga Merauke dengan oplah yang mencapai jutaan eksemplar dalam setiap perputaran naik cetaknya. Kini, di era digital yang mana setiap gadget di tangan kita mampu mengakses jutaan informasi secara real-time tanpa terbatas oleh ruang maupun waktu, kematian berbagai media cetak benar-benar diambang pintu kepunahan. Perilaku membaca kalangan anak muda, telah berubah seiring perkembangan zaman.
Bila dahulu kala, beberapa dasawarsa yang lampau, profesi pengacara mampu meraup penghasilan yang bombastis untuk sekadar mewakili pihak pengguna jasa berperkara di pengadilan, kini di era keterbukaan informasi yang membanjiri dunia maya, akses menuju peradilan pidana maupun perdata bukan lagi monopoli kalangan kaum pengacara. Ketika warga sipil telah mampu secara berdaya mengakses lembaga peradilan mengatas-namakan dirinya sendiri, dan bahkan dengan bermodalkan data-data yang hasil riset hukum yang memadai, dirinya tidak tertutup kemungkinan lebih terampil ketimbang pengacara yang kantornya menjamur di setiap pinggir dan sudut jalan bertarif ratusan juta Rupiah untuk satu perkara. Jika sudah demikian, siapakah yang pada gilirannya akan gigit jari?
Yang semula menjelma dinasti dan berjaya, kini kolaps dan tinggal sejarah, atau tersisa serakan puing-puing untuk dipertahankan secara “kembang-kempis”. Jika Anda berpendapat bahwa kerajaan bisnis tidak akan pernah runtuh dan yang lemah akan selalu kalah, maka ingat-ingatlah kembali apa yang sebelumnya pernah diungkap lewat ulasan penulis tersebut di atas.
Kini, penulis akan mencoba memakai paradigma logika “yang menang yang selalu keluar sebagai pemenang dan sebagai penguasa mutlak”, meski pengertian si bapak teori evolusi, Charles Darwin, tentang “survival of the fittest” tidaklah bermakna sedangkal itu. “Fittest” bermakna adaptif, bukan perihal siapa yang kuat atau siapa yang lebih lemah. Dalam bahasan kesempatan kali ini, penulis tidak akan berfokus mengurai tentang hal demikian yang akan penulis urai dalam kesempatan lainnya.
Kita tahu, rumor tentang adanya makhluk asing berwujud “alien”, dengan julukan “UFO”, “ET”, atau sejenisnya, bukanlah mitos atau isapan jempol, mengingat berbagai penampakan dan liputan telah berhasil menangkap jejak-jejak keberadaan mereka. Tidak diragukan lagi, pengetahuan dan kekuatan teknologi mereka melampaui makhluk bernama umat manusia di muka Bumi ini. Mamun, apakah artinya mereka dengan fakta demikian, memiliki legitimasi untuk membantai dan memakan kita, para anak manusia yang demikian bodoh, primitif, dan terbelakangnya di mata mereka?
Yang hidup dari pedang, akan mati karena pedang. Itulah pesan dari pepatah klasik yang perlu kita camkan dalam benak. Banyak contoh kejadian yang dapat kita jumpai di keseharian, kekuatan menjadi sumber keterpurukan dan kehancuran dirinya sendiri selaku si pemilik kekuatan—bila dirinya tidak mampu mengendalikan diri secara arif dan bijaksana. Seperti itu juga kekuasaan, menjadi pintu masuk terjungkalnya diri si pemilik kekuasaan, terutama sikap arogansi yang menjadi bayangan terdekat kekuasaan. Contoh sederhananya ialah para politisi yang memiliki pangkat serta pengaruh politik, justru membuat mereka terpeleset dan membuatnya mendekam di penjara.
Manusia, dengan kecerdasannya yang luar biasa, bahkan mampu menghancurkan planet ini, semudah menekan tombol yang mengaktifkan hulu ledak bertenaga nuklir yang mampu meluluh-lantakkan planet ini tanpa bersisa tidak kurang dari satu menit lamanya. Begitu mengerikannya kekuatan dibalik kecerdasan sebuah otak yang demikian kecil. Orang sebesar apapun otot yang mereka miliki, tidak berarti apapun di hadapan seseorang dengan kekuatan otak yang memukau dan mampu membuat kita tertegun. Mereka adalah para “jenius”, sekalipun kadang perilakunya cukup eksentrik—sayangnya, penulis bukanlah seseorang yang mendapat kehormatan untuk berdiri dan disangdingkan diantara para jenius itu.
Bila Anda pikir, orang-orang kaya raya yang memiliki kerajaan bisnis dan properti, adalah orang yang beruntung, maka Anda keliru. Mereka menghabiskan waktu dan umur untuk sesuatu yang tidak akan mereka bawa ke alam baka, barang seperak pun. Rasanya tidak ada yang lebih konyol daripada fakta tersebut, sekadar disebutkan untuk melengkapi ulasan, namun itulah bukti seseorang telah dimakan dan dirampas waktunya oleh kejayaan dan ketenaran dirinya sendiri, sehingga sampai-sampai ia tidak punya waktu untuk keluarga atau bahkan untuk dirinya sendiri—sampai pada akhirnya menemukan diri terbaring di liang kubur dan mulai meratapi makna hidupnya selama ini.
Bila Anda masih berpikir bahwa yang kuat akan selalu menang, dan yang lemah akan selalu tertindas dan jatuh dalam keterpurukan, maka Anda perlu mendefinisikan ulang makna kata “menang” dan “kalah” yang ada dalam benak Anda. Mengapa juga segala sesuatu harus ada yang keluar sebagai pemenang dan sebagai yang terkalahkan, seolah hidup ini adalah sebuah pertikaian megah? Bila Anda masih berkeyakinan bahwa kekuasaan adalah sesuatu yang patut diidamkan oleh setiap anak manusia, maka pikirkanlah ulang tujuan hidup Anda. Bila Pengeran Siddharta Gaotama saja melepas tahta, mengapa Anda dan kita ini, justru tergila-gila pada apa yang justru ditanggalkan oleh Beliau?
Bila Anda masih bersikukuh bahwa hidup tidak menyerupai roda yang terus berputar, kadang berada di atas dan kadang berada di bawah, maka cobalah untuk lebih banyak melihat keadaan di sekeliling Anda dengan sedikit lebih peka. Pintu kebenaran ada tepat di depan mata dan telinga Anda sendiri. Bila Anda masih tetap bersikukuh, silahkan mencoba untuk terobsesi kekal hidup abadi. Bahkan dewa kematian pun tidak akan mampu Anda suap, sekalipun dengan menggadaikan kerajaan bisnis milik Anda. Apakah tujuan dan makna hidup kita, harus sedangkal itu?
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

[IKLAN] Butuh & Mencari Souvenir Resepsi Pertunangan / Pernikahan? KLIK GAMBAR Temukan Koleksi

Souvenir Impor untuk Resepsi Pernikahan dari Thailand

(Advertisement) KWANG EARRING, Tampil Memukau dengan Harga Terjangkau [KLIK GAMBAR Lihat Koleksi]

KLIK GAMBAR untuk menemukan koleksi asesoris dengan harga terjangkau namun berkualitas, toko online anting Jakarta