Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Antara Pencurian & Penggelapan dalam Jabatan

LEGAL OPINION
Question: Jika ada pegawai yang ketika menerima uang pembayaran dari pembeli, tapi ternyata tak semua uang pembayaran itu diserahkannya ke dalam kas kantor, itu masuknya sebagai pidana pencurian atau penggelapan?
Brief Answer: Tindak pidana “penggelapan dalam jabatan” pada dasarnya merupakan genus yang sama dengan pidana “...”, hanya saja dilakukan oleh orang-orang yang seperti berstatus sebagai karyawan penerima upah. Penggelapan dalam jabatan, ibarat “Kuda Troya” maupun “musuh dalam selimut”, sehingga tentunya jauh lebih sukar mendeteksi terjadinya penggelapan ketimbang tindak pidana ... biasa.
Secara falsafah, pidana penggelapan demikian haruslah lebih ... ancaman hukumannya ketimbang tindak pidana pencurian, oleh sebab dalam tindak pidana penggelapan mengandung unsur ... maupun ,,, yang ternyata ... secara tidak ... , bahkan telah diberi ... / ... , namun ternyata merugikan pihak ... itu sendiri. [Note SHIETRA & PARTNERS: Data selengkapnya hanya diperuntukkan bagi klien pembayar tarif konsultasi tanya-jawab maupun pengguna jasa yang berlangganan layanan database berbayar Konsultan Shietra. Hubungi Kami untuk membeli data lengkap pembahasan ini.]
PEMBAHASAN:
Ilustrasi konkret berikut diharapkan dapat mewakili, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS cerminkan lewat putusan Pengadilan Negeri ... perkara pidana penggelapan dalam jabatan, register Nomor .../Pid.B/20.../PN.... tanggal ... , dimana terdakwa merupakan karyawan PT. ... dengan jabatan sebagai Marketing (sales) sejak ... tahun lamanya.
Pada mulanya Hari pada tanggal ..., terdakwa menerima uang DP penjualan 1 unit kendaraan atas nama Konsumen sebesar Rp. ...000. Akan tetapi ternyata uang tersebut tidak Terdakwa setorkan ke pihak kasir perusahaan, namun digunakan Terdakwa untuk kepentingan pribadi Terdakwa dan Terdakwa mengakui bahwa Terdakwa menjual kendaraan yang dijual perusahaan kepada pihak pembeli dengan cara kredit, dimana setelah Terdakwa menerima uang muka (DP) dari Konsumen selanjutnya Terdakwa tidak menyetorkan uang tersebut ke rekening perusahaan maupun kepihak adminitrasi, namun digunakan untuk keperluan Terdakwa pribadi.
Terdakwa melakukan perbuatan ilegal demikian sebanyak sebanyak ... kali. Adapun total uang hak milik perusahaan yang telah Terdakwa gelapkan menacpai sebesar Rp ...,-. Dimana terhadap tuntutan Jaksa, Majelis Hakim membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa setelah diuraikan tentang fakta-fakta persidangan yang meliputi saksi-saksi, alat bukti surat, keterangan terdakwa yang relevan dan barang bukti, maka sampailah kami kepada pembuktian mengenai unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan yaitu : Primair pasal ... KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP.
1. Unsur ‘Barang Siapa’;
2. Unsur ‘Dilakukan Oleh Orang Yang PenguasaannyaTerhadap Barang Disebabkan Karena Hubungan Kerja’;
“Menimbang, terdakwa yang merupakan karyawan PT. ... , Tbk, ... yang menjabat sebagai ... sudah bekerja selama kurang lebih ... tahun dan gaji perbulannya sebesar Rp. ...000.
“Menimbang, bahwa benar terdakwa sebagai sales telah menerima uang dari konsumen yang seharusnya disetorkan kepada FT. ..., Tbk, ... dimana tempat terdakwa bekerja. Dengan demikian unsur ini telah terbukti secara Sah dan meyakinkan menurut Hukum.
3. Unsur ‘Karena Pencariannya atau Karena Mendapat Upah Untuk Itu’;
4. Unsur ‘Yang Menyuruh Melakukan’;
“Menimbang, bahwa di pesidangan terungkap terdakwa meminta bantuan kepada ... Alias ... selaku PERSON IN CHARGE (PIC) / ACOUNT RECIPIBLE (AR) piutang untuk ... data-data pembayaran seolah-olah data yang ada maupun setelah diprint out terbaca bahwa konsumen-konsumen tersebut sudah ... lalu mobil bisa ....
“Menimbang, bahwa atas kejadian tersebut pihak PT. ..., Tbk ... Cabang ... mengalami kerugian sekitar Rp. ...,-. Dengan demikian unsur ini sudah terbukti secara sah menurut hukum.
5. Unsur ‘Yang dilakukan berulang kali’.
“Menimbang, bahwa dipersidangan terungkap bahwa terdakwa melakukan perbuatannya sebanyak sebanyak sebanyak ... kali yaitu pada pertama pada Hari ... tanggal ... sebesar Rp. ...000,-; kedua Pada tanggal ... sebesar Rp ...,-; ketiga Pada tanggal ... sebesar Rp. ...000,-; keempat Pada tanggal ... Sebesar Rp. ...,-; kelima Pada tanggal ... Sebesar Rp. ...,-; keenam Pada tanggal 16 November 2015 sebesar Rp. ...000,-; Ketujuh Pada tanggal 26 November 2015 sebesar Rp. ...000,;. Kedelapan pada tanggal ...,-. Dengan demikian unsur ini sudah terbukti secara sah menurut hukum.
“Menimbang, bahwa uraian-uraian seperti tersebut diatas maka terhadap terdakwa secara sah dan meyakinkan telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana Menyuruh Melakukan Penggelapan dalam Jabatan Yang Dilakukan Berlanjut sebagaimana diatur dalam Dakwaan Primair pasal ... KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP;
“Menimbang, bahwa dalam persidangan, Majelis Hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggung-jawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka Terdakwa harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya;
“Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa mampu bertanggung jawab, maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana;
“Menimbang, bahwa dalam perkara ini terhadap Terdakwa telah dikenakan penangkapan dan penahanan yang sah, maka masa penangkapan dan penahanan tersebut harus dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
“Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa ditahan dan penahanan terhadap Terdakwa dilandasi alasan yang cukup, maka perlu ditetapkan agar Terdakwa tetap berada dalam tahanan;
“Menimbang, bahwa untuk menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang memberatkan dan yang meringankan Terdakwa:
Hal-Hal yang memberatkan:
- Perbuatan terdakwa merugikan orang lain;
Hal-Hal yang meringankan:
- Terdakwa mengakui terus terang perbuatannya.
- Terdakwa menyesaii perbuatannya.
- Terdakwa belum pemah dihukum.
- Terdakwa sudah ... kerugian PT. ... , Tbk, ... (surat perjanjian ... terlampir).
M E N G A D I L I :
1. Menyatakan Terdakwa ... tersebut diatas, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘... yang dilakukan secara bersama-sama dan berlanjut’;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama ... bulan;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Menetapkan Terdakwa ....” [Note SHIETRA & PARTNERS: Data selengkapnya hanya diperuntukkan bagi klien pembayar tarif konsultasi tanya-jawab maupun pengguna jasa yang berlangganan layanan database berbayar Konsultan Shietra. Hubungi Kami untuk membeli data lengkap pembahasan ini.]
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan