(Advertisement) KWANG EARRING, Tampil Cantik dengan Harga Terjangkau.

(Advertisement) KWANG EARRING, Tampil Cantik dengan Harga Terjangkau.
Jadikan sebagai Hadiah Terindah bagi Buah Hati Terkasih Anda. KLIK gambar untuk menemukan & memesan ratusan koleksi Anting Imitasi Impor KWANG EARRING. hukum-hukum.com menjamin legalitas toko online asesoris KWANG Earring, produk dikirim via kurir dari Jakarta ke alamat pemesan, dari Sabang hingga Merauke. Tampil muda, stylis, energetik dengan harga sangat terjangkau

13 Januari, 2019

Selamat, karena Anda Telah Kalah, Itu Kabar Bagus

ARTIKEL HUKUM
Judul dalam artikel ini tidaklah keliru, dan mata Anda tidak keliru membacanya. Mengapa pelaku kejahatan dapat lolos dari hukuman, dan korban justru kian teraniaya tanpa perlindungan hukum memadai—seolah, keadilan sangatlah jauh, tidak terjangkau, dan seakan hukum dan keadilan hanya eksis untuk melayani segelintir pihak tertentu. Mengapa, dan karena apa? Apa yang salah, dan apakah yang patut kita persalahkan?
Mengapa juga praktik hukum di negeri ini, demikian jauh dari kata “ideal”? Selentingan pendapat secara sinis sekaligus apatis menyebutkan, “kehilangan kambing, menggugat ataupun melapor kepada pihak berwajib, justru akan kehilangan sapi”. Yang benar menjadi salah, yang bersalah kemudian dibenarkan. Serba terbolak-balik. Hukum yang semestinya imperatif, menjelma negosiatif-koruptif. Korban dihukum, dan pelaku kejahatan dibebaskan.
Mengapa, setelah peraturan perundang-undangan dibuat dengan sedemikian masif dan produktif, namun realita yang terjadi justru berbanding terbalik, jumlah narapidana penghuni penjara meningkat, kasus-kasus kriminalisasi yang tidak tersentuh hukum justru menukik naik setiap tahunnya, kerancuan putusan perkara-perkara perdata yang ganjil dan mencederai nurani keadilan justru kian menggurita secara meluas dan seakan kita hanya mampu menjadi penonton tanpa daya yang bisu dan dibisukan?
Tentulah pertanyaan-pertanyaan semacam itu, kerap dan jamak kita jumpai di tengah masyarakat, di dalam komunitas profesi kita, bahkan di tengah keluarga besar kita sendiri. Tidak ada teks-teks literatur disiplin ilmu hukum maupun sosiologi yang mampu memberikan jawaban secara memuaskan atas pertanyaan klasik demikian—sehingga dapat disebut juga sebagai suatu momok realita kehidupan sosial.
Namun dalam kesempatan ini, penulis tidak bermaksud untuk menjawabnya secara frontal, dan memilih untuk menjadikan objek renungan perihal ketidak-adilan hidup secara global, yang kemudian dikaitkan dengan ketidak-adilan praktik hukum negara secara makro, sejatinya menunjukkan gejala serupa.
Mungkin ilustrasi kisah berikut, dapat cukup menginspirasi. Kisah pertama penulis kutipkan analogi dari seorang Bhikkhu bernama Ajahn Brahm, dalam bukunya Opening the Door of Your Heart (Judul versi Bahasa Indonesia: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya), Penerjemah : Chuang, Awareness Publication, 2009, Jakarta, sebagai berikut:
APA SAKIT ITU SALAH?
“Dalam beberapa ceramah, saya sering meminta hadirin mengangkat tangan jika mereka pernah jatuh sakit. Hampir semua orang mengangkat tangannya (mereka yang tidak mengangkat tangan bisa jadi sedang tertidur atau sedang tersesat dalam fantasinya). Menurut saya, ini membuktikan bahwa fatuh sakit itu adalah lumrah.
Pada kenyataannya, adalah aneh jika Anda tidak pernah jatuh sakit dalam hidup Anda. Jadi mengapa, tanya saya, saat ke dokter, Anda bilang, ‘Ada sesuatu yang tidak beres dengan saya, Dok?’? Padahal, akan ada yang tidak beres jika Anda tidak pernah sakit sama sekali. Jadi, orang yang waras seharusnya bilang, ‘Saya beres-beres saja, Dok, saya sakit lagi, nih!’
Kapan pun Anda menganggap penyakit sebagai sesuatu yang salah, Anda menambahkan ketegangan yang tak perlu, bahkan juga rasa bersalah, ke puncak kesengsaraan. Dalam novel abad ke-19 yang berjudul Erehwon, Samuel Butler membayangkan suatu masyarakat dimana penyakit dianggap sebagai suatu kejahatan dan orang yang sakit akan dipenjarakan.
“Pada sebuah bagian yang tak terlupakan dari buku tersebut, si terdakwa, yang tengah tersedu-sedu dan bersin-bersin di atas mimbar, dicaci-maki sebagai pembunuh berantai oleh sang hakim, ini bukan kali pertama dia terpergok menderita flu oleh sang hakim. Lebih lanjut, itu semua adalah salahnya sendiri karena memakan makanan yang tidak sehat, kurang berolahraga, dan mengikuti gaya hidup yang tidak sehat. Dia dihukum penjara selama beberapa tahun.
“Berapa banyak dari kita yang menjadi merasa bersalah manakala kita sakit?
“Seorang rekan biksu telah menderita suatu penyakit tak dikenal selama beberapa tahun. Dia menghabiskan hari demi hari, minggu demi minggu, berbaring di ranjang sepanjang hari, terlalu lemah bahkan hanya untuk berjalan keluar kamar.
“Pihak wihara itu telah membiayai berbagai jenis pengobatan, baik medis maupun alternatif, dalam upaya menyembuhkannya, tetapi tampaknya tak ada yang berhasil. Ketika dia merasa sedikit baikan, dia berjalan terhuyung-huyung beberapa langkah, lalu tumbang lagi berminggu-minggu. Para anggota wihara sering berpikir bahwa dia akan segera meninggal.
“Suatu hari, kepala wihara yang bijaksana mendapatkan ilham mengenai masalah ini. Jadi, dia pergi ke kamar biksu yang sakit itu. Biksu yang terbaring itu menatap kepala wihara dengan tatapan nanar pasrah.
“’Saya datang ke sini,’ kata kepala wihara, ‘atas nama seluruh biarawan dan biarawati di wihara ini, juga seluruh umat penyantun kita. atas nama seluruh orang yang peduli dan mengasihimu, saya datang untuk memberimu izin untuk mati. Kamu tidak harus sembuh.’
“Mendengar kata-kata itu, si biksu sakit terisak. Dia telah berupaya keras untuk sembuh. Teman-temannya telah banyak membantu demi kesembuhannya, sehingga dia tidak mau mengecewakan mereka. Dia merasa begitu gagal, begitu bersalah, karena tak kunjung sembuh. Saat mendengar kata-kata sang kepala wihara, seketika dia merasa bebas untuk menjadi orang sakit, bahkan bebas untuk mati. Dia tak perlu lagi berjuang demikian keras untuk menyenangkan teman-temannya. Kelegaan itu membuatnya menangis.
“Menurut Anda, apa yang terjadi kemudian? Semenjak hari itu, kesehatannya mulai membaik.”
Untuk melengkapi, penulis akan mengutip pembabaran Dhamma oleh Ajahn Chah, guru dari Ajahn Brahm, yang penulis kutip dari buku berjudul Ini Pun Akan Berlalu (Judul asal: Everything Arises, Everything Falls Away), Penghimpun dan Penerjemah Thai—Inggris oleh Paul Breiter, Penerjemah Inggris—Indonesia oleh Nafta S. Meika, Penerbit Ehipassiko Foundation, Cetakan 3, Januari 2011, Jakarta, secara senada membabarkan sebagai berikut:
YA BEGINILAH...
“Di mana Dhamma? Segenap Dhamma sedang duduk di sini bersama kita. Apa pun yang Anda alami adalah benar, seperti apa adanya. Ketika Anda menjadi tua, jangan pikir bahwa itu adalah sesuatu yang salah. ketika punggung Anda sakit, jangan pikir itu semacam kekeliruan. Jika Anda menderita, jangan pikir itu salah. jika Anda bahagia, jangan pikir itu salah.
“Semuanya ini adalah Dhamma. Penderitaan hanyalah penderitaan. Kebahagiaan hanyalah kebahagiaan. Panas hanyalah panas. Dingin hanyalah dingin. Dhamma bukanlah ‘Aku bahagia, aku menderita, aku baik, aku buruk, aku mendapat sesuatu, aku kehilangan sesuatu.’
“Apakah ada yang bisa dihilangkan seseorang? Tidak ada sama sekali. Mendapatkan sesuatu adalah Dhamma. Kehilangan sesuatu adalah Dhamma. Bahagia dan nyaman adalah Dhamma. Sakit adalah Dhamma. Dhamma berarti tidak melekat pada kondisi-kondisi ini, namun mengenali mereka apa adanya.
“Jika Anda memiliki kebahagiaan, Anda sadari, ‘Oh? Kebahagiaan tidaklah tetap,’ Jika Anda menderita, Anda sadari, ‘Oh? Derita tidaklah tetap.’ ‘Oh, ini benar-benar baik!’—tidak tetap. ‘Ini benar-benar buruk!’—tidak tetap. Mereka punya keterbatasan, jadi jangan berpegang begitu erat pada mereka.
Buddha mengajarkan mengenai ketidaktetapan. Beginilah segala sesuatu sebagaimana adanya—mereka tidak mengikuti kehendak siapa pun. Itulah kebenaran mulia. Ketidaktetapan menguasai dunia, dan itu adalah sesuatu yang tetap. Inilah titik tempat kita terkelabui, jadi inilah tempat di mana seharusnya Anda lihat.
“Apa pun yang terjadi, kenalilah itu sebagai benar. Segala sesuatu benar dalam sifat alaminya sendiri, yaitu pergerakan tiada henti dan perubahan. Tubuh kita demikian. Semua fenomena badan dan batin pun demikian. Kita tidak bisa menghentikan mereka; mereka tidak bisa dibuat diam. Tidak diam berarti sifat mereka adalah tidak tetap.
“Jika kita tidak bergulat dengan kenyataan ini, maka di mana pun kita berada, kita akan bahagia. Di mana pun kita duduk, kita bahagia. Di mana pun kita tidur, kita bahagia. Bahkan ketika kita menjadi tua, kita tak akan terlalu menggubrisnya. Anda berdiri dan punggung Anda sakit, lalu Anda pikir, ‘Ya, ini kira-kira benar seperti ini.’ Itu benar, jadi jangan melawannya. Ketika rasa sakit berhenti, Anda mungkin berpikir, ‘Ah! Lebih baik!’ Tapi itu bukannya lebih baik. Anda masih hidup, jadi punggung Anda akan sakit lagi. Inilah jalan sebagaimana adanya, sehingga Anda harus mengarahkan batin pada perenungan ini, dan jangan membiarkan batin berpaling dari praktik.
“Tetaplah gigih di dalamnya, dan jangan memercayai segala sesuatu terlalu banyak; alih-alih, percayailah Dhamma, bahwa kehidupan itu ya seperti ini: jangan memercayai kebahagiaan. Jangan memercayai duka. Jangan terpaku mengejar apa pun.
Dengan landasan seperti ini, maka apa pun yang terjadi, janganlah dipikirkan—itu bukanlah sesuatu yang tetap, itu bukanlah sesuatu yang pasti. Dunia adalah seperti ini. Maka di sana ada jalan bagi kita, jalan untuk menata hidup kita dan melindungi kita. Dengan penyadaran murni dan pemahaman jernih terhadap kita sendiri, dengan kebijaksanaan yang melingkupi-segalanya, itulah jalan dalam keselarasan. Tak ada yang bisa mengelabui kita, karena kita telah memasuki jalan. Tetaplah melihat ke sini, kita bertemu dengan Dhamma sepanjang masa.”
Buddhisme tidak memungkiri adanya dukkha, dan menjadikan dukkha sebagai sesuatu hal yang wajar dalam kehidupan—bahkan mulai berdamai dengan keadaan itu demi ketenangan hidup. Bhikkhu Ajahn Brahm juga menyebutkan, sesuatu disebut sebagai masalah, bila hal tersebut terdapat solusi pemecahannya. Namun, ketika suatu hal tidak terdapat solusi untuk dipilih sebagai penyelesaiannya, maka itu bukanlah masalah—maka, kita tidak perlu lagi memikirkannya, dan teruslah untuk berjalan dan melanjutkan hidup. Bila sesuatu “itu” tidak patut disebut sebagai “masalah”, maka untuk apa lagi dipikirkan? Hanya “masalah” yang patut mendapat perhatian kita.
Ketika kita terobsesi untuk menunggu “waktu yang betul-betul tepat”, maka kita tidak akan pernah berjalan maju, dan akan terus berputar-putar di tempat, karena tidak akan pernah ada “waktu yang betul-betul tepat”. Ketika kita terobsesi untuk memiliki kehidupan dan dunia (realita) yang sempurna dan ideal, maka kita sejatinya tengah menyia-nyiakan kebahagiaan hidup kita sendiri. ketika kita terobsesi untuk “yang benar harus selalu menang”, maka Anda hidup di alam dunia yang keliru.
Tidaklah, menukar kesempatan hidup bahagia kita dengan sebuah obsesi yang tidak akan mampu digenggam erat—tiada yang pasti selain perubahan itu sendiri. Keadilan, adalah fatamorgana. Impian yang tidak mungkin terwujud, itulah utopia. Terobsesi pada utopia, hanya membuang energi dan waktu.
Memperjuangkan hidup dan kehidupan yang lebih humanis dan lebih ideal, patut diperjuangkan. Namun yang dapat diperjuangkan, ialah hanya sebatas proses menuju idealisme itu, bukan pada hasil dari sebuah perjuangan. Semoga tulisan singkat ini tidak justru menambah ambigu persepsi yang ada di benak para pembaca. Sesuatu yang tidak layak disebut sebagai “masalah”, tidak patut untuk diperjuangkan—lebih baik kita gunakan waktu yang ada untuk tidur siang.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Kepastian Hukum Bertopang pada Daya Prediktabilitas Paling Minimum dalam Hukum (PREDICTABILITY)

Foto saya

Trainer & Legal Consultant SHIETRA & PARTNERS didirikan tahun 2013, penyedia jasa konsultasi hukum spesialis preseden / yurisprudensi pertama dan satu-satunya di Indonesia, dibidang perdata maupun pidana. Berkomitmen sebagai profesional dalam setiap layanan jasa hukum, dengan tetap memegang teguh idealisme dan etika profesi.

HANYA PEMBELI EBOOK SERTA KLIEN PEMBAYAR TARIF YANG BERHAK ATAS INFORMASI YANG BENAR.
Kebenaran ulasan hukum dalam website, TIDAK DIJAMIN (bisa jadi benar, bisa jadi tidak, hanya penulisnya sendiri yang paling mengetahui).
Hanya Klien dalam Sesi Konsultasi dan bahasan dalam eBook, yang kami berikan opini dan data yang terjamin kebenarannya. Kami sedang mencari nafkah. Bukan sebagai Klien Pembayar Tarif Jasa maupun bukan sebagai pembeli eBook yang kami jual, resiko ditanggung Anda sendiri selaku pengunjung websiteSyarat & Ketentuan Layanan, lihat TARIF KONSULTASI.

PERINGATAN : (Bila Anda bisa mendapat nomor kontak / email kami, berarti Anda pasti telah membaca peringatan tegas berikut)
HANYA KLIEN PEMBAYAR TARIF JASA YANG BERHAK MENCERITAKAN MASALAH / MENGAJUKAN PERTANYAAN HUKUM. Pelanggar akan dikenakan sanksi BLACKLIST.

Disediakan beragam pilihan paket layanan MEMBERSHIP, bulanan maupun tahunan bagi pengguna jasa perorangan maupun korporasi. Konsultan Shietra juga menyediakan jasa LEGAL ASSESSMENT bagi perusahaan.

Bagi yang membutuhkan layanan jasa penulisan, kami menyediakan jasa CONTENT WRITER. Sementara yang membutuhkan jasa Training atau layanan Tutorial Hukum bagi klien korporasi, kami menyediakan PELATIHAN.

Informasi serta opini hukum yang Benar dan Terjamin, hanya menjadi Hak Istimewa klien pembayar tarif ataupun pembeli eBook yang kami jual. Anda sendiri yang menanggung resikonya tanpa diagnosa fakta hukum dan analisa yang memadai oleh konselor untuk berdialog / mereview dokumen terkait masalah hukum.

Hukum sensitif detail, terbuka beragam skenario peluang atau kemungkinan yang dapat terjadi hanya karena faktor perbedaan detail fakta hukum, opsi langkah mitigasi, serta setiap resiko upaya hukum yang mungkin berimplikasi. Tidak ada perkara yang seragam untuk dapat diprediksi hasilnya, kecuali melalui sesi konsultasi secara intens / privat. Menyesal tiada guna, bila Anda gagal mengantipasi bahkan masalah menjelma "benang kusut", akibat salah penanganan oleh yang bukan ahli dibidangnya.

Kecerobohan pembaca memaknai ulasan hukum dalam website, dapat berakibat FATAL. Terhadap materi publikasi dalam website, don't try this at home, kecuali Anda berdialog langsung dengan penulisnya dalam sesi konsultasi secara privat.

Tidak bersedia membayar tarif jasa, mengharap "selamat" dan meminta "dilayani"? Hargai profesi kami, sebagaimana profesi Anda sendiri hendak dihormati. Pihak-pihak yang menyalah-gunakan nomor telepon, email, maupun formulir kontak kami, berlaku sanksi. Pasal 28D Ayat (2) Undang-Undang Dasar RI 1945: "Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan."

Ada Harga, ada Barang. Ada Tarif, ada Jasa
Meminta dilayani & menyita sumber waktu kami yang terbatas, meminta data / informasi hukum hasil kerja keras kami, memohon ilmu hasil pengorbanan waktu dan biaya kami, namun tanpa mau membayar sejumlah kompensasi, itu namanya MERAMPOK NASI DARI PIRING KAMI, terlebih sengaja melanggar ketentuan website bahkan menyalahgunakan nomor kontak kami dengan berpura-pura tidak mengetahui bahwa kami sedang mencari nafkah.

Kami berhak untuk berdagang jasa dan mencari nafkah secara komersiel. Ribuan ID pelanggar telah kami publikasi dalam laman BLACKLIST akibat menyalahgunakan nomor kontak / email kami dan melanggar syarat & ketentuan website ini.

-------
Hukum adalah ilmu tentang "prediksi" (diluar itu artinya "spekulasi")Konsultan Hukum SHIETRA & PARTNERS: Jl. HR. Rasuna Said. Kawasan Epicentrum Utama, EPIWALK, Office Suite Lantai 5 Nomor A529, Kuningan, Jakarta Selatan, 12940, Indonesia.

Menjual jasa layanan konsultasi secara tatap muka maupun secara virtual via online. Menceritakan masalah hukum ataupun mengajukan pertanyaan hukum sebelum resmi menjadi klien, diberlakukan tarif konsultasi 2 kali ketentuan tarif normal. Tidak memperkenalkan diri saat menghubungi kami, diberlakukan 1,5 kali ketentuan tarif normal. Tidak memperkenalkan diri dan juga menceritakan masalah hukum sebelum resmi terdaftar sebagai klien, diberlakukan 3 kali ketentuan tarif normal. Mengaku-ngaku miskin atau berpura-pura tidak mampu, berlaku tarif 5 kali ketentuan tarif normal.
Pendaftaran KLIEN: (Wajib terlebih dahulu memperkenalkan diri dan menyatakan kesediaan membayar tarif layanan yang berlaku. Bila syarat mutlak tersebut tidak diindahkan, maka telepon ataupun pesan Anda akan kami nilai sebagai spam, tidak akan kami respon)
- Telepon: 021-568 2703.
- Fax: 021-560 2810.
- Whatsapp: 08888-9195-18. (Seluruh nomor kontak dan alamat email profesi kerja kami ini, hanya diperuntukkan untuk PENDAFTARAN KLIEN PEMBAYAR TARIF. Menyalahgunakan nomor kontak / email kami untuk tujuan lain, berarti pelanggaran yang akan kami jatuhi sanksi. Pahami betul-betul Etika Komunikasi Anda saat mencoba menghubungi kami)
- Email: konsultasi@hukum-hukum.comhery.shietra@gmail.com

KONSULTAN HUKUM SHIETRA. Kami LEBIH dari sekadar mengutip bunyi Undang-Undang, Hukum yang REAL.

KONSULTAN HUKUM SHIETRA. Kami LEBIH dari sekadar mengutip bunyi Undang-Undang, Hukum yang REAL.
HR. Rasuna Said. Kawasan Epicentrum Utama, EPIWALK Nomor A529, Kuningan, Jakarta. TEKAN GAMBAR UNTUK MENGHUBUNGI KAMI

eBook PERBUATAN MELAWAN HUKUM

eBook PERBUATAN MELAWAN HUKUM
Mengupas Kaedah-Kaedah Manarik PERBUATAN MELAWAN HUKUM