Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Kerugian Kecil, Bukan Menjadi Alasan Pemaaf Kesalahan Pidana


LEGAL OPINION
Question: Apa benar, jika kena tipu dibawah nominal Rp500.000;00 maka si pelakunya tidak bisa dilaporkan ke polisi?

Brief Answer: Kejahatan dengan nilai kerugian yang sedikit, tetap ditindak pidana dengan kategori ancaman “tindak pidana ringan”, namun bukan dimaknai menjadi alasan pemaaf ketika kerugian yang diakibatkan oleh pelaku hanya bernilai nominal kecil. Dalam delik “penipuan” ataupun “membuat / menggunakan surat palsu”, bahkan tidak harus si korban mengalami kerugian real, cukup “dapat” menimbulkan kerugian, maka unsur-unsur kualifikasi delik seketika terpenuhi.
Sebagai contoh, jangankan penipuan, menjual barang hasil kejahatan dengan keuntungan hanya sekecil Rp50.000;- saja, berdasarkan preseden / yurisprudensi Mahkamah Agung RI yang ada, dapat dipidana dan dijatuhkan hukuman badan (penjara). Maka, nilai benda bukan menjadi faktor sentral dalam penegakan hukum pidana, namun niat serta perbuatan kejahatan itulah yang menjadi pokok sentralnya—bukan faktor kerugiannya.
PEMBAHASAN:
Secara analogi, tepat kiranya SHIETRA & PARTNERS menerminkan lewat perkara pidana “penadahan” sebagaimana putusan Mahkamah Agung RI register Nomor 560 K/Pid/2015 tanggal 19 Mei 2015, dimana Terdakwa didakwakan karena telah membeli, menyewa, menukar, menerima gadai, menerima hadiah atau untuk menarik keuntungan, menjual, menyewakan, menukarkan, mengangkut, menyimpan atau menyembunyikan sesuatu barang yaitu 3 buah laptop yang diantaranya adalah 1 unit laptop yang diketahuinya atau patut dapat disangkanya bahwa barang itu diperoleh karena kejahatan, sebagaimana diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 480 Ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Bermula ketika Dwi Andi Syahputra, Dani (masing-masing dalam berkas terpisah) dan Harisman, Abdi, Sastra, Amin (daftar pencarian orang / DPO) datang ke rumah Terdakwa dengan membawa barang-barang yang diambil dalam Truk Tronton, yaitu 3 buah laptop dan beberapa kotak yang berisi Busi Sepeda Motor, yang mana barang-barang tersebut diperoleh dari hasil kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang tersebut, yang mana barang tersebut milik Jasa Pengangkutan Fajar Baru.
Setelah Terdakwa mengetahui barang-barang tersebut dari hasil kejahatan, lalu Harisman meminta kepada Terdakwa untuk mencari pembelinya, sehingga Terdakwa mencoba untuk menghubungi dan menawarkan laptop tersebut kepada tetangganya, yaitu saksi Iman Suryadi Lubis, dimana saksi Iman Suryadi Lubis berminat untuk melihat laptop tersebut terlebih dahulu.
Terdakwa dan Harisman selanjutnya datang ke rumah saksi Iman Suryadi Lubis dengan membawa 3 unit laptop untuk diperlihatkan kepada saksi Iman Suryadi Lubis, yang kemudian 1 diantaranya dikembalikan oleh saksi Iman Suryadi Lubis dikarenakan laptop tersebut rusak, maka yang berada di tangan saksi Iman Suryadi Lubis adalah sebanyak 2 buah laptop, msski ketika itu belum disepakati harga jual-beli barang tersebut.
Setelahnya, Terdakwa dan Harisman pulang dari rumah saksi Iman Suryadi. Selanjutnya Harisman yang berhubungan dengan Iman Suryadi Lubis, sehingga Terdakwa tidak mengetahui berapa harga pembelian dan beberapa laptop yang dibeli oleh Iman Suryadi Lubis. Keesokan harinya, setelah Harisman menawarkan laptop tersebut dengan Iman Suryadi Lubis, Harisman datang lagi ke rumah Terdakwa untuk memberikan uang kepada Terdakwa sebesar Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) dari hasil penjualan laptop hasil pencurian demikian.
Terhadap tuntutan Jaksa, yang kemudian menjadi putusan Pengadilan Negeri Tanjung Balai No.393/Pid.B/2014/PN.Tjb tanggal 25 Nopember 2014, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
1. Menyatakan Terdakwa IRWANSYAH NASUTION Alias LOMAS, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘Penadahan’ sebagaimana dalam dakwaan tunggal.
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 8 (delapan) bulan.
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.
4. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan.”
Dalam tingkat banding, yang kemudian menjadi putusan Pengadilan Tinggi Medan No.747/PID/2014/PT.MDN tanggal 5 Februari 2015, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
- Menerima permohonan banding Penuntut Umum.
- Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Balai Nomor 393/Pid.B/2014/PN-Tjb tanggal 25 November 2014 yang yang dimohonkan banding tersebut untuk seluruhnya.
- Memerintahkan, masa penahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.
- Memerintahkan Terdakwa tetap ditahan.”
Pihak Jaksa Penuntut mengajukan upaya hukum kasasi, yang terkesan demikian membabi-buta mengakukan kasasi meski Terdakwa telah dikenakan vonis 8 bulan penjara hanya karena hasil penjualan barang tadahan dengan keuntungan Rp50.000; dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa atas alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa alasan Kasasi tidak dapat dibenarkan karena putusan Judex Facti / Pengadilan Tinggi yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri untuk keseluruhannya ternyata merupakan putusan yang tidak salah menerapkan hukum yaitu mempertimbangkan secara tepat dan benar mengenai seluruh fakta hukum yang relevan secara yuridis, sebagaimana yang terungkap di persidangan berdasarkan alat-alat bukti yang diajukan; yaitu Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘Penadahan’, melanggar Pasal 480 KUHPidana sesuai dakwaan Jaksa / Penuntut Umum;
“Bahwa demikian pula Judex Facti mempertimbangkan secara cukup mengenai dasar alasan-alasan penjatuhan pidana, berupa keadaan hal-hal yang memberatkan dan meringankan sehingga Terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 8 (delapan) bulan;
“Bahwa alasan Kasasi Jaksa / Penuntut Umum hanya mengenai pidana yang dijatuhkan Judex Facti dinilai terlalu ringan sehingga tidak mencerminkan keadilan, tidak dapat dibenarkan sebab dalam putusan Judex Facti telah dipertimbangkan dengan tepat dan benar baik hal-hal yang memberatkan maupun hal-hal yang meringankan dalam menjatuhkan pidana kepada Terdakwa. Apalagi Terdakwa hanya mendapat upah/keuntungan Rp.50.000,- (lima puluh ribu rupiah) sebagai hasil menawarkan laptop kepada Imam menjadi tetangga Terdakwa, padahal Terdakwa mengetahui kalau laptop tersebut hasil kejahatan;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, lagi pula ternyata, putusan Judex Facti / Pengadilan Tinggi dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau peraturan perundang-undangan, maka permohonan kasasi dari Jaksa / Penuntut Umum tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : Jaksa / Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Tanjungbalai tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan