Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Perbedaan antara Pidana Pencurian & Penggelapan oleh Pekerja / Pegawai

LEGAL OPINION
Mengambil Barang Tanpa izin Pemiliknya, Pidana Pencurian
Question: Yang namanya, ngambil barang milik kita tanpa pernah kita berikan izin ataupun perintah untuk itu, artinya mencuri, bukan?
Brief Answer: Jika ada hubungan pekerjaan atau hubungan hukum perdata seperti sewa-menyewa, maka kategorinya ialah delik “penggelapan”. Jika tiada hubungan pekerjaan ataupun hubungan perdata seperti pinjam-meminjam, mengambil benda milik orang lain tanpa izin, maka barulah dapat dikategorikan sebagai tindak pidana “pencurian”, yang masuk dalam jenis “delik aduan”.
Namun kemudian isu hukum berkembang, apakah karyawan selalu identik melakukan tindak pidana “penggelapan” terhadap suatu kehilangan barang milik pemberi kerja? Sebagai contoh, karyawan bagian pembukuan / keuangan mengambil inventaris kantor dari dalam gudang tanpa sepengetahuan pihak perusahaan, apakah artinya karyawan bersangkutan hanya dapat dipidana dengan tuntutan delik “penggelapan”, alih-alih “pencurian?
Karenanya, karyawan penerima upah tidak selalu identik dengan kualifikasi delik “penggelapan”—sehingga dengan demikian sangat terkait erat dengan kewenangan jabatan sang pegawai / pelaku, apakah diberi kewenangan untuk memegang objek benda ataukah tidak. Tindak pidana “penggelapan”, sangat identik dengan menyalah-gunakan kewenangan yang dipercayakan oleh pemberi kerja.
PEMBAHASAN:
Salah satu ilustrasi konkret yang sangat representatif dapat SHIETRA & PARTNERS cerminkan lewat putusan Pengadilan Negeri Muara Teweh perkara pidana register Nomor 21/Pid.B/2016/PN.Mtw tanggal 16 Februari 2016, dimana Terdakwa merupakan Karyawan PT. BBR (Bangun Batara Raya).
Terdakwa didakwa karena telah melakukan “pencurian” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 362 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Sementara dalam Dakwaan Alternatif Kedua, Terdakwa didakwa karena telah melakukan “penggelapan” yang dilakukan oleh orang yang penguasaannya terhadap barang disebabkan karena ada hubungan kerja atau karena pencarian atau karena mendapat upah untuk itu, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 374 KUHP.
Terhadap tuntutan Jaksa, terhadapnya Majelis Hakim membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa Terdakwa telah didakwa oleh Penuntut Umum dengan dakwaan yang berbentuk alternatif, sehingga Majelis Hakim dengan memperhatikan fakta-fakta hukum tersebut diatas memilih langsung dakwaan alternatif ke satu sebagaimana diatur dalam Pasal 362 KUHP, yang unsur-unsurnya adalah sebagai berikut:
1. Unsur Barang siapa;
2. Unsur Mengambil;
3. Unsur Barang;
4. Unsur seluruhnya atau sebagian milik orang lain;
5. Unsur Dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum;
“Menimbang, bahwa terhadap unsur-unsur tersebut Majelis Hakim mempertimbangkan sebagai berikut:
Ad.2. Unsur Mengambil;
“Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan mengambil adalah memindahkan sesuatu yang diambil dari tempatnya semula ke tempat lain sehingga yang diambil tersebut berpindah tempat dan lepas dari penguasaan pemiliknya;
“Menimbang, bahwa dalam persidangan terungkap fakta bahwa pada awalnya 90 bibit sawit tersebut berada di lokasi pembibitan PT. BBR kemudian diketahui bibit sawit tersebut sudah tidak berada di tempat semula akhirnya diketahui bahwa 90 (sembian puluh) bibit sawit tersebut telah Terdakwa jual kepada HHAMRIADI. Dari fakta tersebut jelaslah terlihat bahwa 90 bibit sawit sudah tidak lagi berada ditempat semula akan tetapi telah terdakwa jual kepada H. HAMRIADI, dan hal tersebut bukan dilakukan oleh pemiliknya melainkan dilakukan oleh terdakwa.
“Sehingga 90 bibit sawit tersebut telah berpindah tempat dan lepas dari kekuasaan pemiliknya. Dengan demikian unsur mengambil telah terpenuhi oleh perbuatan terdakwa.
Ad.3 Unsur Barang;
“Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan barang adalah suatu benda baik berwujud atau tidak berwujud termasuk pula binatang, baik bergerak maupun tidak bergerak, yang mempunyai nilai ekonomis dalam masyarakat;
“Menimbang, bahwa dalam persidangan terungkap fakta bahwa objek dari perkara ini adalah 90 bibit sawit. Sebagaimana diketahui sawit merupakan tanaman produksi yang menghasilkan minyak sawit yang dapat diolah menjadi beberapa produk yang bernilai ekonomis. Dengan demikian dapatlah dikatakan bibit sawit tersebut merupakan tanaman produksi yang menghasilkan minyak sawit yang dapat diolah menjadi beberapa produk yang bernilai ekonomis sehingga memiliki nilai ekonomis, dengan demikian bibit sawit tersebut masuk dalam kategori pengertian barang sehingga cukup beralasan bagi Majelis Hakim untuk menyatakan unsur ini telah terpenuhi oleh perbuatan Terdakwa;
Ad.4 Seluruh atau sebagian milik orang lain;
“Menimbang, bahwa berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dipersidangan, bahwa 90 bibit sawit adalah milik PT. BBR (Bangun Batara Raya) jadi dapatlah diketahui bibit sawit tersebut bukanlah milik Terdakwa melainkan milik orang lain, yaitu PT. BBR (Bangun Batara Raya). Dengan demikian cukup beralasan bagi Majelis Hakim untuk menyatakan unsur ini telah terpenuhi oleh perbuatan terdakwa;
Ad.5 Dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum;
“Menimbang, bahwa yang dikehendaki oleh unsur ini adalah si pelaku atau Terdakwa mempunyai niat atau kehendak untuk mempunyai dalam dirinya atau memiliki suatu benda yang bukan miliknya, dimana Terdakwa bukanlah orang yang berwenang untuk itu, sehingga apa yang ia lakukan bertentangan dengan hukum atau bertentangan dengan kehendak orang lain. Kehendak untuk memiliki tersebut selain dari kenyataan kehendak Terdakwa untuk benar-benar ingin memiliki;
“Menimbang, bahwa dalam persidangan terungkap fakta bahwa maksud Terdakwa mengambil 90 bibit sawit tersebut adalah untuk membayar utang perusahaan. Lebih lanjut berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan bahwa PT. BBR sebagai pemilik 90 bibit sawit tersebut tidak pernah memberikan ijin kepada Terdakwa untuk mengambil dan kemudian menjual 90 bibit sawit tersebut, sehingga perbuatan Terdakwa diatas dapat dikategorikan sebagai kehendak untuk memiliki tanpa seizin dari pemilik bibit sawit tersebut, disamping itu Terdakwa bukan pula orang yang berwenang untuk mengambil atau memindahkan bibit sawit tersebut, maka sudah barang tentu maksud atau kehendak Terdakwa mengambil 90 bibit sawit tersebut bertentangan dengan hukum dan kehendak orang lain. Dengan demikian cukup beralasan bagi Majelis Hakim untuk menyatakan unsur ini telah terpenuhi oleh perbuatan terdakwa;
“Menimbang, bahwa oleh karena semua unsur dari Pasal 362 KUHP telah terpenuhi, maka Terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan alternatif ke satu yaitu ‘Pencurian’;
“Menimbang, bahwa dalam persidangan, Majelis Hakim tidak menemukan hal-hal yang dapat menghapuskan pertanggung-jawaban pidana, baik sebagai alasan pembenar dan atau alasan pemaaf, maka Terdakwa harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya;
“Menimbang, bahwa oleh karena Terdakwa mampu bertanggung jawab, maka harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana;
“Menimbang, bahwa barang bukti berupa 90 bibit sawit karena sudah tidak dipergunakan lagi dalam perkara ini dan perkara lain maka berdasarkan pasal 46 KUHAP barang bukti tersebut haruslah dinyatakan dikembalikan kepada yang berhak yang akan disebutkan dalam amar putusan;
“Menimbang, bahwa untuk menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa, maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang memberatkan dan yang meringankan Terdakwa;
Keadaan yang memberatkan:
- Perbuatan Terdakwa meresahkan masyarakat;
- Perbuatan Terdakwa telah merugikan PT. BBR (Bangun Batara Raya);
Keadaan yang meringankan:
- Terdakwa mengakui perbuatannya sehingga memperlancar jalannya persidangan;
- Terdakwa bersikap sopan;
- Terdakwa menyesali perbuatannya;
- Terdakwa belum pernah dihukum;
M E N G A D I L I :
1. Menyatakan Terdakwa JUMAIYADI Alias JUMAI Alias ADI Alias PAK IWAN Alias PAK JUM Bin ABDUL AZIZ tersebut di atas, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘Pencurian’;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 5 (lima) bulan;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan