Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Penetapan PKPU Menjelma Putusan Pailit, Tidak dapat Kasasi

LEGAL OPINION
Question: Apa betul, putusan pailit tidak bisa diajukan kasasi di Pengadilan Niaga?
Brief Answer: Penetapan Kepailitan, terbagi menjadi dua model asal-musababnya, yakni: 1.) Didahului penetapan PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang), yang berlanjut pada kepailitan akibat gagalnya kourum dan/atau voting untuk mengesahkan perdamaian ataupun akibat dibatalkannya homologasi; 2.) Kepailitan akibat adanya permohonan kepailitan oleh pihak kreditor ataupun oleh pihak debitor. Khusus dalam konteks kepailitan yang didahului adanya penetapan PKPU, tidak terbuka opsi upaya hukum kasasi.
PEMBAHASAN:
Sebagai ilustrasi konkret, untuk itu SHIETRA & PARTNERS menjadikan rujukan lewat putusan Mahkamah Agung RI sengketa kepailitan register Nomor 421 K/Pdt.Sus-Pailit/2013 tanggal 13 November 2013, perkara antara:
- PURDI E. CHANDRA, sebagai Pemohon Kasasi, semula selaku Termohon PKPU / Debitor; melawan
- PT. BANK BNI SYARIAH, sebagai Termohon Kasasi dahulu Pemohon PKPU / Kreditur Separatis; dan
- PARA KREDITOR KONKUREN dari Termohon PKPU, sebagai Turut Termohon Kasasi dahulu Pihak Kedua.
Termohon PKPU yang merupakan Debitor, semula dinyatakan “PKPU sementara”, kemudian mengajukan permohonan Pengesahan Perdamaian berdasarkan Putusan Nomor 10/Pdt.Sus/PKPU/2013/PN.NIAGA.JKT.PST, terhadap Pemohon PKPU selaku Kreditur Separatis dan Pihak Kedua di depan persidangan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, dengan rincian:
- Telah diselenggarakan Rapat Kreditor Pertama tertanggal 23 April 2013, Rapat Verifikasi tanggal 8 Mei 2013, dan Rapat Pemungutan Suara atas usulan perdamaian tanggal 28 Mei 2013, yang diajukan oleh Debitor;
1) Tagihan Kreditor yang telah diakui secara tetap:
a) Tagihan Kreditor Separatis sejumlah satu Kreditor Separatis;
b) Tagihan Kreditor Konkuren sejumlah tiga Kreditor Konkuren;
2) Tagihan Kreditor yang diakui sementara : satu Kreditor Konkuren;
- Rapat Kreditor untuk pemungutan suara terhadap usulan perdamaian yang diajukan oleh Debitor / Termohon PKPU telah dihadiri oleh 4 Kreditor Konkuren dan satu Kreditor Separatis, dan telah disetujui oleh satu Kreditor Separatis dan 3 Kreditor Konkuren, akan tetapi tidak disetujui oleh satu Kreditor Konkuren;
- Setelah dilakukan penghitungan suara ternyata, untuk Kreditor Konkuren yang menyetujui usulan perdamaian a quo jumlah piutangnya tidak mewakili 2/3 dari jumlah keseluruhan tagihan Kreditor Konkuren; [Note SHIETRA & PARTNERS: Permohonan PKPU yang diajukan sang Kreditor Separatis, berbuah “bumerang”, karena pada akhirnya sang debitor justru jatuh dalam keadaan pailit akibat tidak terpenuhinya kuorum voting para Kreditor Konkuren yang notabene bukanlah pihak Pemohon PKPu.]
- Oleh karena itu, Hakim Pengawas berpendapat Debitor Pailit demi hukum harus dinyatakan pailit.
Terhadap permohonan pernyataan pailit demikian, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah menjatuhkan putusan, yaitu Putusan Nomor 10/Pdt.Sus/PKPU/2013/PN.Niaga.Jkt.Pst. jo. Nomor 10/Pdt.Sus/Pailit/2013/PN.Niaga.Jkt.Pst. tanggal 12 Juni 2013, dengan amar sebagai berikut:
MENETAPKAN :
1. Menetapkan usulan perdamaian yang diajukan Termohon PKPU tidak mencapai quorum;
2. Menyatakan Termohon PKPU berada dalam keadaan Pailit dengan segala akibat hukumnya.”
Sesudah putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tersebut dijatuhkan, Termohon PKPU mengajukan permohonan kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
- Bahwa oleh karena Pemohon Kasasi i.c Purdi E. Chandra dinyatakan Pailit setelah adanya putusan PKPU sebagaimana yang diatur Bab III Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang dan berdasarkan Pasal 293 Ayat (1) ditentukan ‘bahwa terhadap Putusan Pengadilan berdasarkan ketentuan dalam Bab III ini tidak terbuka upaya hukum’, maka permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi Purdi E. Chandra tersebut harus dinyatakan tidak dapat diterima;
M E N G A D I L I :
Menyatakan tidak dapat diterima permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi PURDI E. CHANDRA tersebut.”
Catatan Penutup Konsultan Shietra:
Yang menjadi kekeliruan besar dengan sangat demikian fatalistis dari perkara yang SHIETRA & PARTNERS angkat sebagai contoh kasus diatas, bukanlah ditutupnya upaya hukum kasasi terhadap putusan kepailitan yang bermula dari penetapan PKPU, namun Permohonan PKPU diajukan oleh Kreditor Separatis yang sejatinya telah memiliki / menguasai jaminan kebendaan yang telah diikat sebagai agunan berupa Hak Tanggungan yang sewaktu-waktu dapat di-“parate eksekusi” ketika debitornya wanprestasi untuk melunasi hutang-hutangnya.
Sehingga, menjadi pertanyaan besar, mengapa PKPU dan kepaiiltan masih juga diajukan, sementara telah terdapat agunan sebagai jaminan pelunasan piutang, yang pada gilirannya kepailitan dapat mengancam kepentingan pelunasan piutang para Kreditor Konkuren yang tidak terjamin oleh jaminan kebendaan apapun?
Kepailitan demikian, sejatinya hanya “menumbalkan” kepentingan Kreditor Konkuren, dimana kalangan Kreditor Konkuren itu sendiri tidak menyadarinya, dan bahkan mendorong terjadinya kepailitan dengan menolak proposal perdamaian homologasi yang diajukan oleh sang debitor.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan