Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Pemilik / Penjual yang Sah, Menguasai Fisik Objek Tanah secara Terus-Menerus

LEGAL OPINION
Question: Sebenarnya bagaimana atau apa unsur paling esensial dari seseorang atau suatu pihak yang paling betul-betul dapat dipercaya pengakuannya sebagai pemilik tanah? Sebelum membeli tanah, untuk antisipasi masalah dikemudian hari, tentunya perlu diambil langkah-langkah pencegahan dan penelitian atau kehati-hatian, agar tidak terjebak dalam sengketa yang rumit dikemudian hari yang bisa jadi merugikan kepentingan pihak pembeli yang notabene pihak ketiga yang beritikad baik.
Brief Answer: Sederhananya, siapa yang mengklaim sebagai pemilik yang hendak menawarkan / menjual bidang tanahnya kepada suatu pihak, pihak calon pembeli perlu mencermati terlebih dahulu, apakah benar pihak yang menawarkan suatu bidang tanah, adalah pihak yang selama ini secara efektif menguasai / menggarap / mengolah bidang tanah.
Hal kedua yang tidak dapat tidak dihiraukan, perbuatan hukum seperti jual-beli hak atas tanah bersifat WAJIB di hadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah maupun Kepala Desa (bila tanah hukum adat)—yang mana bila syarat “asas terang” yang diadopsi dari hukum adat ini tidak terpenuhi, maka jual-beli tidak sah dan tidak mendapat perlindungan hukum.
PEMBAHASAN:
Ilustrasi konkret berikut dapat menjadi cerminan yang cukup representatif, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS merujuk kaedah yuridis putusan Mahkamah Agung RI sengketa tanah register Nomor 264/Pdt.G/2015/PN.Jkt.Pst tanggal 8 Desember 2016, perkara antara:
- HAJI DAENG AJI M YUNUS HK, sebagai Pemohon Kasasi, semula selaku Penggugat; melawan
1. PT PERTAMINA (Persero); 2. KANTOR PERTANAHAN KOTA BALIKPAPAN, selaku Termohon Kasasi I, II dahulu Tergugat I, Tergugat II.
Penggugat mengklaim sebagai pemilik atas bidang tanah perwatasan adat (Hak Adat) seluas 27.953 m2, berasal dari hibah orang tua Penggugat bernama H. Zubaedah, berdasarkan Surat Pernyataan Hibah tanggal 1 Desember 1994, yang semula berasal dari harta peninggalan orang tua H. Zubaedah, yakni Punggawa Loetoeng. Sementara itu, Punggawa Lotong memiliki tanah perwatasan adat tersebut berasal dari jual-beli dengan Poeana Batjoe Sindrin pada tanggal 20 Januari 1926 berdasarkan Jual Beli tanggal 20 Januari 1926.
Kemudian pihak Penggugat mengklaim, tanah perwatasan adat milik Penggugat seluas 27.953 m2 tersebut kini dikuasai oleh Tergugat I secara melawan hukum, dengan menggunakan bukti hak berupa Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 04/Kelurahan Manggar tertanggal 25 Oktober 1988 atas nama Tergugat I, yang diperoleh dengan membebaskan lahan milik warga setempat.
Penggugat kembali mengklaim bahwa dirinya sama sekali tidak pernah menjual, mengalihkan atau menyewakan bidang-bidang tanah milik adat milik Penggugat kepada Tergugat I atau siapapun juga.
Tanah seluas 27.953 m2 yang dibebaskan oleh Tergugat II (selaku panitia pembebasan lahan) untuk kepentingan Tergugat I yang kemudian diterbitkan Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 04/Kelurahan Manggar, adalah tanah perwatasan adat milik Penggugat, demikian klaim Penggugat yang mengajukan gugatan dengan demikian penuh kepercayaan diri.
Namun demikian Tergugat I dalam tanggapannya, menyampaikan jawaban kepada Penggugat, untuk menyelesaikan sendiri dengan pihak-pihak yang telah menerima ganti-rugi saat proses pembebasan lahan dimasa lampau. Meski yang cukup rancu, kemana sajakah pihak Penggugat selama ini, sehingga mau muncul selama ini? itulah bukti persangkaan / petunjuk, bahwa Penggugat “menguasai” bidang tanah secara “guntai” yang tidak dibenarkan oleh hukum agraria nasional—mengingat hak atas tanah mengandung “fungsi sosial”.
Terhadap gugatan yang secara terang-benderang penuh kerancuan empirik (sifat de facto) demikian, Pengadilan Negeri Balikpapan justru menjatuhkan putusan Nomor 13/Pdt.G/2015/PN Bpp., tanggal 12 November 2015, yang sarat keganjilan yuridis dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan Penggugat sebagai pemilik yang sah atas tanah perwatasan adat seluas 27.953 m2 yang terletak di Jalan ...;
3. Menyatakan perbuatan Tergugat I yang menguasai tanah perwatasan adat milik Penggugat seluas 27.953 m2 dengan mempergunakan Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 04/Kelurahan Manggar tanggal 25 Oktober 1988 yang sudah diperpanjang dengan Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 4273 tanggal 14 Maret 2013, adalah perbuatan melawan hukum;
4. Menyatakan perbuatan Tergugat II yang menggunakan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor ... sebagai dasar untuk menerbitkan Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 04/Kelurahan Manggar tanggal 25 Oktober 1988 yang sudah diperpanjang dengan Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 4273 tanggal 14 Maret 2013 atas nama Tergugat I, adalah perbuatan melawan hukum;
5. Menyatakan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor ... tanggal 1 Juli 1988 yang digunakan sebagai dasar untuk menerbitkan Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 04/Kelurahan Manggar tanggal 25 Oktober 1988 yang sudah diperpanjang dengan Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 4273 tanggal 14 Maret 2013, adalah cacat hukum, dan karenanya tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat;
6. Menyatakan Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 04/Kelurahan Manggar tanggal 25 Oktober 1988 atas nama Tergugat I yang sudah diperpanjang dengan Sertifikat Hak Guna Bangunan Nomor 4273 tanggal 14 Maret 2013, adalah cacat hukum dan karenanya tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat;
7. Menghukum Tergugat I untuk membayar ganti rugi materiil kepada Penggugat sebesar Rp62.400.000,00 sejak gugatan ini memperoleh putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap;
8. Menghukum Tergugat I untuk menyerahkan tanah perwatasan adat milik Penggugat seluas 27.953 m2 kepada Penggugat dalam keadaan secara kosong bila perlu dengan bantuan aparat kepolisian;
9. Menghukum Tergugat I dan Tergugat II untuk membayar biaya perkara ini secara tanggung renteng sebesar Rp3.186.000,00;
10. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya.”
Dalam tingkat banding atas permohonan Para Tergugat, putusan Pengadilan Negeri di atas kemudian dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi Samarinda dengan Putusan Nomor 26/PDT/2016/PT SMR., tanggal 18 Maret 2016, melakukan koreksi dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
- Menerima permohonan banding dari Pembanding tersebut;
- Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Balikpapan Nomor 13/Pdt.G/2015/PN Bpp., tanggal 12 November 2015 yang dimohonkan banding tersebut;
“MENGADILI SENDIRI
Dalam Pokok Perkara:
- Menolak gugatan Penggugat seluruhnya.”
Pihak Penggugat mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
− Bahwa alasan kasasi ke- 1 sampai dengan ke- 33 tidak dapat dibenarkan, karena alasan-alasan tersebut berisi mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan, hal mana tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan pada tingkat kasasi; 2009;
− Bahwa lagipula, putusan Judex Facti tidak salah menerapkan hukum, karena benar jual beli atas sebidang tanah adat secara tidak ‘terang’ adalah jual beli tidak sah, hal mana telah dibuktikan oleh Para Tergugat dalam perkara a quo yaitu bahwa jual-beli atas objek sengketa antara kakek Penggugat dengan Tn. Poena Batjoe Sidrin yang didalilkan oleh Penggugat terjadi pada tahun 1926 tidak diketahui oleh saksi-saksi serta Kepala Adat setempat, sehingga telah benar jual tersebut adalah tidak sah;
− Bahwa sebaliknya, Tergugat I telah berhasil membuktikan dalilnya yaitu bahwa tanah objek sengketa telah dikuasainya secara terus menerus sejak tahun 1988 dan di atas tanah objek sengketa telah terbit bukti hak yang kuat berupa Sertifikat Hak Guna Bangunan atas nama Tergugat I, sertifikat mana telah diperpanjang masa berlakunya oleh Tergugat II, sehingga telah benar objek sengketa adalah milik sah Tergugat I;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, ternyata putusan Judex Facti / Pengadilan Tinggi Samarinda dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi HAJI DAENG AJI M YUNUS HK tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi HAJI DAENG AJI M YUNUS HK tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan