Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Debitor yang Lebih Patut Menggugat Kelalaian Dirinya Sendiri

LEGAL OPINION
Question: Bisa tidak, untuk (maksudnya) membatalkan lelang eksekusi Hak Tanggungan di Kantor Lelang Negara, alasan dalilnya di gugatan nanti berupa keberatan atas nilai harga lelang terhadap agunan kami yang dilelang oleh pihak bank (kreditor pemegang Hak Tanggungan)?
Brief Answer: Terdapat dua logika mendasar keberatan atas nilai limit lelang eksekusi Hak Tanggungan atas tanah, tidak akan dapat menjadi pertimbangan hukum oleh Majelis Hakim pemeriksa dan pemutus perkara gugatan perdata. Pertama, jika memang harga pasar objek agunan jaminan senilai klaim sang pemilik objek jaminan, maka mengapa tidak dijual secara “dibawah tangan” dengan seizin kreditor?
Kedua, kebiasaan yang berlaku di kalangan perbankan, biasanya lelang perdata dibuka dengan nilai limit yang setara dengan harga pasar, yang bila berulang-kali tidak laku terjual lelang, barulah nilai limit diturunkan mendekati nilai likuidasi, sebagai harga terbentuk lelang. Kian menurunnya harga limit lelang, merupakan konsekuensi logis tidak laku terjual lelang dalam lelang-lelang sebelumnya.
Ketiga, faktor sosiologi dimana pembeli lelang (dapat dipastikan) akan menghadapi itikad tidak baik pihak debitor yang dapat diprediksi tidak akan mengosongkan diri secara sukarela dari objek agunan, bahkan akan mempersukar pemenang lelang lewat berbagai gugatan, sehingga nilai real objek lelang eksekusi menjadi wajar ditetapkan dibawah nilai harga pasar. Masyarakat tidak akan berminat membeli via lelang eksekusi bila objek lelang setara harga pasar—dimana margin antara harga limit dan harga pasar menjadi intensif bagi peserta lelang untuk menghadapi ketidakpastian demikian, pasca ditetapkan sebagai pemenang lelang.
Keempat, lelang eksekusi Hak Tanggungan dalam Akta Pemberian Hak Tanggungan, secara yuridis merupakan perikatan berjenis “bersyarat batal”—dalam artian, sewaktu-waktu dan secara serta-merta dapat dibatalkan oleh pihak debitor, cukup dengan melunasi seluruh hutang-piutang, maka keberlakuan Sertifikat Hak Tanggungan akan gugur secara seketika itu juga. Maka, “kuncinya” terletak pada itikad baik pihak debitor itu sendiri.
Dengan kata lain, ketika sampai terjadi opsi upaya hukum pemulihan piutang bernama eksekusi Hak Tanggungan oleh pihak kreditor, maka sejatinya pihak debitor / pemberi jaminan hanya paling berhak untuk menggugat “kelalaian pihak debitor itu sendiri untuk melunasi segala hutang-hutangnya” (unsur kesalahan ada / terletak pada pundak sang debitor).
Untuk itu, adalah bijaksana untuk tidak membuang energi demi sebuah “harapan semu” lewat gugatan, seolah gugatan dapat menghapus hutang-piutang—apapun iming-iming yang dijanjikan ataupun “harapan semu” yang diberikan oleh kalangan pengacara. Jadilah debitor yang cerdas serta arif, agar tidak kian menimbulkan kerugian bagi masing-masing pihak—terlebih biaya untuk menyewa advokat bersumber dari dana kredit yang tidak dikembalikan oleh sang debitor.
PEMBAHASAN:
Terdapat sebuah cerminan yang cukup representatif, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS ilustrasikan lewat putusan Pengadilan Negeri Situbondo sengketa agunan kredit register Nomor 19/Pdt.G/2014/PN.Sit tanggal 14 Oktober 2014, perkara antara:
1. TEJO SUPENO; 2. LILIS MISNAWATI, sebagai Penggugat; melawan
1. PT. BANK PERKREDITAN RAKYAT (BPR) DELTA ARTHA PANGGUNG SITUBONDO, selaku Tergugat I;
2. KANTOR PELAYANAN KEKAYAAN NEGARA dan LELANG JEMBER, sebagai Tergguat II;
3. M. HAIDI SUGANDHI, selaku Tergugat III; dan
4. KANTOR PERTANAHAN KABUPATEN SITUBONDO, sebagai Turut Tergugat.
Penggugat merupakan debitor dan selaku pemberi jaminan atas fasilitas kredit, yang menikmati dana pinjaman tanpa dikembalikan, dimana terhadap gugatan yang bermaksud untuk mengamputasi hasil lelang eksekusi Hak Tanggungan, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, ... Para Penggugat dengan tergugat I telah terjadi pengikatan dalam perjanjian kredit dan Para Penggugat sebagai debitur atau pihak berhutang dan tergugat I sebagai kreditur atau pihak pemberi hutang.
“Bahwa pengikatan tersebut telah direalisasikan dengan dicairkan kredit sebesar Rp. 100.000.000,-. bahwa untuk mendukung pengikatan ini Para Penggugat telah menyerahkan agunan berupa sebidang tanah hak milik dengan sertifikat hak milik N0. 3506/Mimbaan atas nama penggugat II (Lilis Misnawati), bahwa melihat uraian tersebut pengikatan ini telah terjadi dan sudah sesuai ketentuan yang berlaku;
“Menimbang, bahwa berdasar bukti T.I-22 yang berupa sertifikat hak tanggungan nomor 210/2010 yang diterbitkan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Situbondo dimana bukti ini menerangkan bahwa terhadap sebidang tanah yaitu SHM No. 3506//kel. Mimbaan yang menjadi objek sengketa tersebut sudah dipasang hak tanggungan dengan peringkat pertama, sehingga apabila terjadi sesuatu dikemudian hari terhadap pengikatan kredit tersebut, pihak tergugat I dapat melakukan tindakan hukum yang sepatutnya sebagaimana dalam perjanjian kredit yang dilakukan oleh tergugat I dengan penggugat, serta bukti T.I-5 yang berupa Akta pemberian hak tanggungan nomor 59/HT/PJ/2009 yang menunjukan bahwa tergugat I selaku kreditur adalah pemegang hak tanggungan yang mempunyai wewenang untuk menjual objek hak tanggungan melalui pelelangan dan dapat dilakukan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari debitur;
“Menimbang, bahwa seiring berjalannya waktu perjanjian kredit yang dilakukan oleh Para Penggugat dengan tergugat I, Para Penggugat tidak memenuhi kewajiban dalam membayar pokok dan bunga dan lain-lain secara tepat waktu sesuai dengan apa yang telah di perjanjikan sebelumnya, atau Para Penggugat telah cidera janji dalam hal pemenuhan kewajiban kredit kepada tergugat I (PT. BPR Delta Artha Panggung Situbondo);.
“Bahwa walaupun Para Penggugat telah secara nyata-nyata wanprestasi yang mana dibuktikan dengan adanya tunggakan dan atau tidak dipenuhinya kewajiban angsuran, namun Tergugat I tetap dan telah melakukan upaya penagihan secara layak melalui surat tertulis antara lain Surat panggilan I tanggal 2 Desember 2010, surat panggilan II tanggal tangal 6 Januari 2011 yang berisi permintaan dari tergugat I agar para penggugat memenuhi kewajibannya dalam menyelesaikan kreditnya. Bahwa oleh karena panggilan tersebut tidak diindahkan maka tergugat I mengirim surat peringatan kepada para penggugat, sebagaimana tertuang dalam Surat peringatan tertanggal 21 Maret 2011, surat peringatan tertanggal 10 Juni 2011 dan surat peringatan tertanggal 2 Agusutus 2011 yang membuktikan bahwa tergugat I telah memberikan peringatan kepada para penggugat untuk melunasi kreditnya namum para penggugat tidak mengindahkannya. Bahwa berdasar hal tersebut para penggugat telah cidera janji / wanprestasi dalam memenuhi kewajibannya kepada Tergugat I sebagai Kreditur;
“Menimbang, bahwa oleh karena tidak ada tanggapan dari pihak penggugat, maka tergugat I mengirimkan surat tertanggal 3 Desember 2012, surat tertanggal 29 Juli 2013, dan surat 21 Januari 2014 yaitu berupa pemberitahuan pelaksanaan lelang oleh tergugat I kepada para penggugat yang menyataan bahwa agunan dari fasilitas kredit para penggugat berupa tanah dengan SHM 3506/Mimbaan atas nama Lilis Misnawati akan dijual melalui pelelangan umum yang dilaksanakan oleh tergugat II, tetapi sampai dengan pengumuman kedua melalui media massa yaitu ... tanggal 06 Pebruari 2014 yang maksudnya bahwa untuk memberi kesempatan kepada penggugat yang keberatan atas rencana lelang tersebut agar mengajukan bantahan atau melunasi kreditnya tetapi pada kenyataannya tidak dilakukan oleh para penggugat;
“Menimbang, bahwa dikarenakan dokumen yang diserahkan oleh tergugat I telah dipenuhi secara formal dan admnistratif termasuk di dalam menentukan nilai limit terhadap objek sengketa dengan mekanisme yang ada pada kewenangan Tergugat I, maka lelang tersebut dapat dilaksanakan oleh tergugat II dengan mengeluarkan Surat Penetapan Lelang tanggal 20 Januari 2014 dan sekaligus menugaskan Pejabat Lelang pada Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jember untuk melaksanakan lelang eksekusi hak tanggungan terhadap objek dalam perkara a quo.
“Menimbang, ... bahwa terhadap bukti P-2 dan P-3 yang berupa surat keterangan harga tanah dan bangunan serta analisa standar harga pekerjaan konstruksi kabupaten Situbondo, bukti surat ini tidak didukung dengan keterangan saksi dipersidangan dan sifatnya hanya taksiran pasaran yang bersifat subyektik, seandainya bisa terjual seperti harga tersebut kenapa sampai tiga kali pelelangan tidak juga laku terhadap objek sengketa tersebut. Bahwa harga ini hanyalah perkiraan saja dan terhadap bukti P-3 dibuat oleh cv Kalbu persada bukan pejabat resmi penaksir harga, sehingga keterangannya dalam bukti tersebut bersifat subyektif dan tidak ada saksi yang berkompenten atau pejabat penaksir harga tanah yang diajukan dalam persidangan untuk menaksir harga objek tersebut;
“Menimbang, bahwa proses pelelangan ini juga sudah selesai hal ini dibuktikan dengan adanya bukti T.III-1 yang berupa kutipan risalah lelang serta bukti T.II-12 yang berupa risalah lelang terungkap bahwa peserta lelang yang mengajukan penawaran yang memenuhi syarat dan sah berjumlah satu orang yaitu tergugat III dengan harga penawaran sebesar Rp. 100.000.000,- dan harga ini telah melampaui harga limit yang ditetapkan penjual, maka oleh pejabat lelang disahkan sebagai pembeli, dan dalam pelaksanaan lelang terhadap pembayaran hasil lelang tidak ada yang mengajukan sanggahan / verset;
“Menimbang, bahwa berdasarkan ketentuan bunyi Pasal 6 Undang-Undang Hak Tanggungan Nomor 4 Tahun 1996: ‘Apabila debitor cidera janji, pemegang Hak Tanggungan pertama mempunyai hak untuk menjual objek Hak Tanggungan atas kekuasaan sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan piutangnya dari hasil penjualan tersebut.’ [Note SHIETRA & PARTNERS: Lelang eksekusi Hak Tanggungan, dengan demikian, menjadi konsekuensi logis ingkar janjinya pihak debitor itu sendiri.]
“Menimbang, bahwa berdasar pertimbangan tersebut, maka terjawab sudah permasalahan pokok gugatan ini, bahwa pelaksanaan lelang yang dilakukan oleh tergugat II atas permintaan tergugat I dan telah dimenangkan oleh tergugat III, telah mengikuti aturan yang berlaku atau telah sesuai dengan prosedur yang berlaku;
“Menimbang, meskipun terbukti bahwa objek sengketa adalah awalnya milik dari penggugat II tetapi karena sudah dijaminkan kepada tergugat I dan dibebani hak tanggungan No. 210/2010 peringkat pertama yang dibuat dihadapan pejabat pembuat akta tanah tanggal 19 Pebruari 2010, serta sudah dilelang berdasar risalah lelang tanggal 20-02-2014 dan dimenangkan oleh tergugat III;;
“Menimbang, bahwa berdasar pertimbangan tersebut diatas, surat pimpinan PT. BPR Delta Agung Panggung cabang Situbondo tertanggal 17 Januari 2014 kepada tergugat II perihal permohonan lelang terhadap objek sengketa, dilakukan oleh karena para penggugat sudah tidak mengindahkan segala itikad baik dari tergugat I yang berupa panggilan-panggilan untuk menyelesaikan permasalahan kredit dari para penggugat, serta pemberian peringatan untuk segera menyelesaikan tunggakan kredit para penggugat sebagaimana sudah diuraikan dan dipertimbangkan tersebut diatas, bahwa berdasar hal tersebut Majelis berpendapat bahwa surat pimpinan PT. BPRD Delta Artha Panggung cabang Situbondo tidak cacat hukum, oleh karena itu petitum gugatan para penggugat poin 3 sudah sepatutnya ditolak;
“Menimbang, bahwa oleh karena permasalahn pokok dalam perkara ini berkaitan dengan lelang dan terhadap permasalahan tersebut sudah terjawab sebagaimana pertimbangan tersebut diatas dan Majelis berpendapat lelang sudah sesuai dengan prosedur, maka risalah lelang yang menyangkut objek sengketa tidak mengandung cacat yuridis, dan sebagai konsekwensinya pembelian lelang yang dilakukan oleh tergugat III terhadap objek sengketa tidak melanggar hukum;
“Menimbang, bahwa oleh karena terbukti dipersidangan bahwa tergugat I, II, dan III sudah melakukan proses lelang sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan Majelis berpendapat bahwa proses lelang tersebut tidak bertentangan dengan hukum sebagaimana yang sudah dipertimbangakan tersebut diatas, maka sudah tentu tidak ada yang dirugikan dalam hal ini termasuk kerugian yang dialami oleh para penggugat baik kerugian materill maupun kerugian inmateriil;
“Menimbang, bahwa oleh karena terungkap dipersidangan agunan yang berupa tanah dengan Sertifikat hak milik nomor 3506/ Mimbaan telah dilelang karena Para Penggugat wanprestasi dalam memenuhi kewajibannya dan lelang ini dimenangkan oleh tergugat III yang ditindak-lanjuti oleh tergugat III dengan mengajukan proses balik nama kepada tergugat turut tergugat, sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan sudah sah menjadi milik tergugat III, maka permohonan Para Penggugat kepada tergugat III untuk mengembalikan sertifikat hak milik nomor 3506/mimbaan, tidak berdasar dan sudah sepatutnya ditolak.
M E N G A D I L I :
Dalam pokok Perkara:
- Menolak gugatan Para Penggugat untuk seluruhnya.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan