Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Pidana sebagai Sarana Sempurna untuk Cuci Dosa

LEGAL OPINION
Question: Maksudnya apa, dibilang kalau pidana itu bisa jadi alat bagi pelaku untuk “cuci dosa”?
Brief Answer: Sebagaimana terminologi Tindak Pidana Pencucian Uang, dikenal istilah “cuci uang” (money laundring). Latar belakang tindak pidana Pencucian Uang, ialah untuk membuat dana hasil kejahatan menjadi tampak legal untuk digunakan. Tidak banyak yang memahami sisi buruk penal pidana, dimana lumrah kita jumpai komentar agar kita mempidana saja pelaku yang telah melakukan tindak pidana yang merugikan warga. Namun, fakta mengatakan sebaliknya, pidana menjadi antiklimaks yang justru dapat dimanfaatkan pihak pelaku—setidaknya untuk merasa bebas dari “dosa”.
Begitupula untuk membuat seorang pelaku tindak pidana, agar dirinya dapat hidup dengan merasa bebas dari tekanan sosial, maka hukuman sanksi pidana akan dihadapi olehnya, namun dengan hukuman yang sangat ringan, tidak sebanding dengan bobot kesalahan / pelanggaran yang dilakukan olehnya.
Ketika pelaku telah dihukum pidana, maka secara moril keluarga korban tidak lagi dapat menuntut rasa bersalah ataupun tanggung jawab moril dari pelaku—yang dapat berkilah bahwa dirinya telah menjalani masa hukuman dan telah mendapat sanksi secara hukum oleh hakim di pengadilan.
PEMBAHASAN:
Secara sempurna dapat SHIETRA & PARTNERS cerminkan dalam kasus konkret, sebagaimana putusan Mahkamah Agung RI perkara “kelalaian yang mengakibatkan korban jiwa” register Nomor 268 K/PID/2016 tanggal 21 Juni 2016, dimana pihak Terdakwa dihadapkan ke persidangan karena telah mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan Lalu Lintas, dengan disertai jatuhnya korban meninggal dunia, sebagaimana diatur dan diancam pidana menurut norma Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Berawal saat Terdakwa mengendarai mobil arah Barat ke Timur, dan sesampainya di tempat kejadian, tiba-tiba datang sepeda motor dari arah berlawanan sehingga Terdakwa membanting kemudi mobil ke arah kanan dan mengambil lajur jalan lawan.
Pada saat mobil yang dikemudikan Terdakwa mengambil lajur jalan lawan, datang dari arah berlawanan sepeda motor Yamaha Mio tanpa nomor Polisi yang dikemudikan korban IRVAN berboncengan dengan saksi ULIL AMRI sehingga mengakibatkan sepeda motor menabrak bagian depan mobil sebelah kanan.
Berdasarkan surat Visum Et Reveretum yang diterbitkan oleh Puskesmas Banyorang tanggal 04 Agustus 2015, berkesimpulan korban IRVAN diperiksa dalam keadaan mayat dan mengalami:
- Kepala : terdapat satu luka memar pada pelipis kanan berbentuk bulat tidak beraturan, ukuran diameter 2,5 cm;
- Bahu : terdapat satu buah luka memar berbentuk bulat tidak beraturan, pada bahu kanan ukuran diameter 4 cm;
- Anggota gerak bawah : pada pangkal paha kanan sebelah luar terdapat dua buah luka gores;
- Pada lutut kanan sebelah luar terdapat dua buah luka lecet;
- Tulang-tulang : terdapat patah tulang tertutup pada paha kanan.
Sementara dalam Dakwaan Alternatif Kedua, Terdakwa didakwa karena mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan Lalu Lintas dengan korban luka ringan dan kerusakan kendaraan dan/atau barang, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 310 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Terhadap tuntutan pihak Jaksa, yang kemudian menjadi putusan Pengadilan Negeri Bantaeng Nomor 80/Pid.Sus/2015/PN.Ban tanggal 07 Oktober 2015, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
1) Menyatakan Terdakwa ... telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘karena kelalaiannya mengemudikan kendaraan bermotor mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal dunia dan luka ringan dan kerusakan kendaraan atau barang’;
2) Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara selama 3 (tiga) bulan dan 15 (lima belas) hari;
3) Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani oleh Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4) Menetapkan agar Terdakwa tetap ditahan.
5) Memerintahkan agar barang bukti berupa:
a. 1 unit mobil ... No. Pol ...;
b. 1 lembar STNK mobil ... No. Pol ...;
Dikembalikan kepada Terdakwa.
Dalam tingkat banding, yang kemudian menjadi putusan Pengadilan Tinggi Makassar Nomor 342/PID.SUS/2015/PT.MKS tanggal 18 November 2015, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
- Menerima permintaan banding dari Jaksa Penuntut Umum tersebut;
- Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Bantaeng, tanggal 07 Oktober 2015 Nomor 80/Pid.Sus/2015/PN.Ban., yang dimintakan banding tersebut.”
Pihak Jaksa Penuntut mengajukan upaya hukum kasasi, dengan pokok keberatan Penuntut Umum tidak sependapat dengan Putusan tersebut yang menghukum Terdakwa dengan pidana penjara selama 3 bulan dan 15 hari, Penuntut Umum merasa hukuman tersebut masih terlampau ringan dan tidak sesuai dengan akibat yang ditimbulkan yaitu mengakibatkan korban IRFAN meninggal dunia dan saksi ULIL AMRI mengalami luka ringan.
Putusan Pengadilan Tinggi Makassar yang menghukum Terdakwa dengan pidana penjara selama 3 bulan dan 15 hari, juga dinilai tidak menimbulkan rasa keadilan bagi keluarga korban IRFAN serta saksi ULIL MARI, maupun keadilan di tengah masyarakat.
Dimana terhadap keberatan yang diajukan pihak Kejaksaan, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan secara sumir saja, sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi / Penuntut Umum tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
a. Bahwa alasan kasasi Penuntut Umum tidak dapat dibenarkan karena Judex Facti tidak dalah menerapkan hukum dalam mengadili Terdakwa. Putusan Judex Facti / Pengadilan Tinggi Makassar Nomor 342/Pid/2015/PT.Mks tanggal 18 Nopember 2015 yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Bantaeng Nomor 80/Pid.Sus/2015/PN.Ban. (Laka Lantas) tanggal 7 Oktober 2015 yang menyatakan Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana karena kelalaiannya mengemudi kendaraan bermotor mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal dunia dan luka ringan dan kerusakan kendaraan atau barang dibuat berdasarkan pertimbangan hukum yang benar;
b. Bahwa berdasarkan fakta-fakta persidangan Terdakwa terbukti lalai mengemudikan mobil Daihatsu yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan dengan motor Yamaha Mio yang dikendarai korban yang mengakibatkan korban meninggal dunia dan korban yang dibonceng luka-luka ringan dan kendaraan rusak;
c. Bahwa perbuatan terdakwa tersebut telah memenuhi seluruh unsur yang terkandung dalam Pasal 310 Ayat (4) dan Pasal 310 Ayat 2 Undang undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
d. Bahwa alasan kasasi Penuntut Umum yang berkenaan dengan penjatuhan berat ringan pidana tidak dapat dibenarkan karena hal itu merupakan kewenangan Judex Facti, bukan alasan formal dan objek pemeriksaan kasasi, bukan wewenang Judex Juris kecuali bila Judex Facti kurang memiliki pertimbangan hukum dalam pemidanaan dan/atau melanggar prinsip-prinsip dan aturan pemidanaan. Judex Facti telah mempertimbangkan pemidanaan Terdakwa secara tepat dan benar dengan mempertimbangkan hal-hal memberatkan dan meringankan secara proporsional;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, lagi pula ternyata, putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi Jaksa / Penuntut Umum tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi / PENUNTUT UMUM pada KEJAKSAAN NEGERI BANTAENG tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan