Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Aanmaning Pengadilan Negeri Merupakan Tindak Lanjut Putusan yang telah Berkekuatan Hukum Tetap, Tidak dapat Digugat

LEGAL OPINION
Question: Dapat surat aanmaning dari pengadilan. Surat aanmaning dari Ketua PN itu, masih bisa digugat tidak?
Brief Answer: Aanmaning pengadilan yang terbit dalam konteks “fiat eksekusi” Sertifikat Hak Tanggungan, masih dapat diajukan gugat-perlawanan. Namun, bila konteksnya ialah aanmaning yang terbit sebagai tindak-lanjut putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht), maka tidak dapat digugat ataupun diajukan gugat-perlawanan (verzet), karena akan melanggar asas “nebis in idem” (terhadap sebuah perkara yang telah diletakkan status hukum, tidak dapat diadili ulang agar tidak overlaping antar putusan)—oleh sebab aanmaning demikian tidaklah berdiri sendiri, akan tetapi semata “konsekuensi logis” dari putusan yang telah diputus memiliki kekuatan hukum tetap.
Seringkali kalangan masyarakat awam hukum kerap tergiur oleh iming-iming “angin surga” kalangan pengacara untuk mengajukan upaya hukum gugat-perlawanan (verzet) yang sebelumnya telah kalah dalam suatu gugatan perdata. Untuk itu, perlu mulai untuk dipahami, bahwa tiada gugat-perlawanan yang mampu menganulir putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, agar tidak “termakan” oleh harapan semu yang justru pada gilirannya menguras lebih banyak sumber daya. Menunda eksekusi tidak mengatasi masalah.
PEMBAHASAN:
Terdapat ilustrasi konkret sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS cerminkan lewat putusan Mahkamah Agung RI sengketa perlawanan terhadap eksekusi putusan perdata, register Nomor 3177 K/Pdt/2016 tanggal 16 Februari 2017, perkara antara:
1. ENDANG WIJIASTUTI; 2. DWI KUNANDIATI; 3. CATUR SRI RAHAYU; 4. LIZ ZUBARKAH HIDATI; 5. DYAH KUSUMAWATI, sebagai Para Pemohon Kasasi semula selaku Para Pelawan; melawan
1. KALSUMI; 2. SOEWANDJI, selaku Para Termohon Kasasi dahulu Para Terlawan.
Singkatnya, Para Pelawan mendapat surat teguran (aanmaning) dari pengadilan, dimana gugat-perlawanan ini diajukan dengan maksud untuk menganulir keberadaan aanmaning tersebut. Sementara aanmaning diterbitkan oleh Ketua Pengadilan Negeri dalam rangka mengeksekusi isi amar putusan tingkat kasasi Mahkamah Agung RI perkara Nomor 1804 K/PDT/2010 Tanggal 3 Nopember 2010.
Sementara dalam sanggahannya pihak Terlawan menerangkan, karena perkara tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan Termohon Eksekusi (orang tua Para Pelawan) tidak bersedia melaksanakan putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap tersebut secara sukarela, maka Para Terlawan, yang kemudian ditindak-lanjuti dengan terbitnya surat aanmaning (tegoran).
Akan tetapi anak-anak Termohon Eksekusi (Para Pelawan) keberatan dengan jalan mengajukan gugat-perlawanan ini. Terhadap gugat-perlawanan demikian, Pengadilan Negeri Kediri kemudian menjatuhkan putusan Nomor 41/Pdt.Plw/2015/PN.Kdr tanggal 27 Agustus 2015, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara:
- Menyatakan Perlawanan Para Terlawan tidak dapat diterima.”
Dalam tingkat banding atas permohonan Para Pelawan, putusan Pengadilan Negeri tersebut di atas kemudian dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Surabaya lewat putusannya Nomor 694/Pdt/2015/PT.Sby., tertanggal 22 Februari 2016.
Pihak Pelawan mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa alasan-alasan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi, dan kontra memori Tanggal 19 Juli 2016 dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti / Pengadilan Tinggi Surabaya yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Kediri tidak salah menerapkan hukum, dengan pertimbangan sebagai berikut:
- Bahwa Teguran / aanmaning oleh pengadilan Negeri supaya pihak yang kalah melaksanakan suatu putusan yang telah berkekuatan hukum tetap secara sukarela sesuai dengan amar putusan tersebut, bukanlah merupakan obyek dari gugatan Perlawanan, karena aanmaning tersebut adalah merupakan tugas yang diberikan undang-undang kepada Ketua Pengadilan yang akan mengeksekusi suatu putusan;
- Bahwa dalam perkara sebelumnya Nomor 14/Pdt.G/2009/PN.Kdri, sebagai pihak yang kalah adalah Koesnadir dan Tatik, Putusan telah berkekuatan hukum tetap yang sekarang sedang dalam tahap aanmaning,
- Bahwa atas adanya aanmaning tersebut Para Pelawan selaku anak dari Koesnadir dan Tatik pihak yang kalah dalam perkara terdahulu, mengajukan gugatan keberatan telah keberatan dalam perkara a quo;
- Berdasarkan fakta hukum tersebut maka Para Pelawan tidak mempunyai legal standing / alasan untuk mengajukan keberatan atas pelaksanaan eksekusi perkara yang sudah berkekuatan hukum tersebut;
- Bahwa lagi pula alasan-alasan tersebut mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan, hal tersebut tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan pada tingkat kasasi;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, ternyata putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Para Pemohon Kasasi: ENDANG WIJIASTUTI, dan kawan-kawan tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi: 1. ENDANG WIJIASTUTI, 2. DWI KUNANDIATI, 3. CATUR SRI RAHAYU, 4. LIZ ZUBARKAH HIDATI, 5. DYAH KUSUMAWATI tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan