(Advertisement) KWANG EARRING, Tampil Cantik dengan Harga Terjangkau.

(Advertisement) KWANG EARRING, Tampil Cantik dengan Harga Terjangkau.
Jadikan sebagai Hadiah Terindah bagi Buah Hati Terkasih Anda. KLIK gambar untuk menemukan & memesan ratusan koleksi Anting Imitasi Impor KWANG EARRING. hukum-hukum.com menjamin legalitas toko online asesoris KWANG Earring, produk dikirim via kurir dari Jakarta ke alamat pemesan, dari Sabang hingga Merauke. Tampil muda, stylis, energetik dengan harga sangat terjangkau

26 Oktober, 2018

Lulusan Universitas Negeri Bukanlah Selalu Sarjana yang Terbaik

ARTIKEL HUKUM
Bagai tidak dapat lepas dari “kutukan” dikotomi, antara lulusan Universitas Negeri dan Universitas Swasta, bagaimana menentukan “prestis” sang lulusan yang menjadikan almamaternya sebagai bagian dari citra dirinya sendiri. Dengan demikian apakah artinya, sebagai lulusan Perguruan Tinggi Swasta, kita menjadi lulusan “kelas 2”?
Kebetulan, penulis merupakan lulusan Perguruan Tinggi Swasta, apakah artinya penulis harus merasa lebih rendah “kasta”-nya terhadap mereka yang merupakan lulusan Perguruan Tinggi Negeri? Jika memang demikian, mengapa juga Anda sekalian masih saja membaca berbagai karya tulis penulis, yang notabene merupakan Sarjana Hukum lulusan Perguruan Tinggi Swasta?
Namun banyak orang yang tidak mengetahui, bahwa disaat bersamaan penulis merupakan mahasiswa “abadi” pada Universitas Kehidupan, yang, tentu saja, baru akan lulus saat di liang kubur. Title “S.H.”, hanyalah formalitas belaka.
Sekalipun ada diantara penbaca yang bergelar “Doktor Hukum” atau “Profesor Hukum”, tetap saja, keadilan dan kebenaran bukanlah monopoli Profesor Hukum, bukan juga monopoli Sarjana Hukum, terlebih monopoli profesi hukum yang berkantor di Jakarta. Apakah Anda pikir, pendiri Google adalah orang-orang yang bergelar sarjana dari perguruan tinggi formil?
Sama ketika warga dikotak-kotakkan menjadi warga Kota Besar dan warga Dusun Kecil. “Penjara” stigma demikian sangatlah fatalistis, dan kontraproduktif. Stigma terdiri dari dua ragam: stigma dari luar (faktor eksternal), dan stigma dari dalam diri kita sendiri (faktor internal). Stigma sangat erat dengan pencitraan (metafisika), baik citra yang dikukuhkan dalam suatu komunitas sosial maupun citra diri kita terhadap persepsi diri kita sendiri. Bila kita tidak mampu mengubah faktor eksternal, setidaknya kita memiliki kuasa penuh untuk menentukan faktor internal diri kita sendiri.
Sebagai contoh, penulis lulus dari Perguruan Tinggi di Jakarta, dan memiliki kantor di Jakarta, bukan karena suatu keistimewaan tertentu. Penulis lahir serta tumbuh besar di Jakarta, itu saja latar belakangnya. Jika saja kemudian penulis memilih untuk berpindah domisili ke Papua, maka mungkin stigma di mata masyarakat akan berubah drastis: “Oh, Konsultan Hukum yang analisisnya tajam itu, pusatnya bukan lagi di Jakarta, tetapi di Papua!”
Bahaya dibalik stigma, tepat kiranya penulis mengutip kisah dari seorang Bhikkhu bernama Ajahn Brahm, dalam bukunya Opening the Door of Your Heart (Judul versi Bahasa Indonesia: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya), Penerjemah : Chuang, Awareness Publication, 2009, Jakarta. Mari kita simak bersama:
Anak-Anak Kelas B
“Beberapa tahun yang lalu, sebuah penelitian dibidang pendidikan diadakan secara rahasia di sebuah sekolah di Inggris. Sekolah itu memiliki dua kelas untuk setiap kelompok anak-anak yang berusia sepantaran. Pada akhir tahun ajaran diadakanlah sebuah ujian dalam rangka memilih anak-anak untuk pembagian kelas pada tahun berikutnya. Akan tetapi, hasil ujian itu tak pernah diumumkan. Dalam kerahasiaan, hanya kepala sekolah dan para pakar psikologi saja yang mengetahui kenyataannya, anak-anak yang mendapat peringkat satu ditempatkan di kelas yang sama dengan anak-anak yang mendapat peringkat empat dan lima, delapan dan sembilan, dua belas dan tiga belas, dan seterusnya. (hlm. 20)
Sementara anak-anak yang mendapat peringkat dua dan tiga pada ujian tersebut, ditempatkan pada kelas yang sama dengan anak-anak yang mendapat peringat enam dan tujuh, sepuluh dan sebelas, dan selanjutnya. Dengan kata lain, berdasarkan kinerja selama ujian, anak-anak dibagi rata menjadi dua kelas. Para guru pun diseleksi berdasarkan kesetaraan kemampuan. Bahkan setiap ruang kelas diberi fasilitas yang sama. Segala sesuatunya dibuat sesetara mungkin, kecuali untuk satu hal : satu disebut ‘Kelas A’ dan yang lain disebut ‘Kelas B’.” (hlm. 20)
Pada kenyataannya, setiap kelas memiliki anak-anak yang setara kemampuannya. Tetapi di benak setiap orang, anak-anak dari kelas A dianggap sebagai anak-anak yang cerdas, sedangkan anak-anak dari kelas B dianggap tak begitu pandai. Beberapa orang tua dari anak-anak kelas A mendapat kejutan yang menyenangkan karena anak-anaknya telah lulus dengan baik dan menghadiahi mereka dengan bingkisan dan pujian. Sementara beberapa orang tua dari Kelas B mengomeli dan menghukum anak-anaknya karena mereka dianggap tak berusaha cukup keras selama ujian. Bahkan para guru pun mengajar anak-anak Kelas B dengan sikap yang berbeda; dengan tidak berharap banyak dari mereka. Sepanjang tahun ajaran, ilusi tersebut terus dipertahankan. Lalu tibalah ujian akhir tahun berikutnya. (hlm. 20—21)
Hasilnya membuat merinding, tetapi tidak mengagetkan. Anak-anak Kelas A menunjukkan prestasi yang lebih baik daripada anak-anak Kelas B. pada kenyataannya, hasilnya juga akan seperti itu jika dulunya mereka terpilih sebagai setengah dari yang teratas pada ujian tahun lalu. Mereka benar-benar menjadi anak-anak kelas A (nomor 1). Dan di kelompok lain, walaupun setara pada tahun lalu, mereka menjadi anak-anak kelas B (nomor 2) sungguhan. Seperti apa mereka diajar sepanjang tahun, seperti apa mereka diperlakukan, seperti apa mereka dipercaya, demikianlah jadinya mereka.” (hlm. 22)
Bocah di Pasar Swalayan
Saya bilang kepada murid-murid saya sewaktu saya mengajar di penjara, agar jangan pernah berpikir bahwa diri mereka adalah penjahat, melainkan berpikirlah sebagai seseorang yang telah melakukan suatu tindakan kejahatan. Sebab jika mereka bilang bahwa mereka adalah penjahat, jika mereka diperlakukan sebagai penjahat, dan jika mereka percaya bahwa diri mereka adalah penjahat, mereka akan menjadi penjahat betulan. Begitulah cara kerjanya.” (hlm. 22)
Seorang bocah menjatuhkan sekotak susu di bagian kasir sebuah pasar swalayan, kotaknya terbuka dan susunya tumpah menggenangi lantai. ‘Anak bodoh,’ kata ibunya.” (hlm. 22)
Di lorong sebelahnya, seorang bocah yang lain menjatuhkan sekotak madu, kotak itu juga pecah dan madunya menjalar ke lantai. ‘Itu perbuatan bodoh, Nak,’ kata ibunya.” (hlm. 22)
Bocah pertama telah di-cap sebagai anak bodoh, sedangkan bocah yang satunya cuma ditegur karena suatu kesalahan. Bocah yang pertama mungkin benar-benar akan menjadi bodoh; sedangkan bocah yang satunya akan belajar untuk tidak lagi mengulangi perbuatan bodohnya.” (hlm. 22)
Saya bertanya kepada murid-murid saya di penjara, apa saja yang telah mereka perbuat pada hari mereka berbuat kejahatan? Apa saja yang telah mereka perbuat pada hari-hari lainnya pada tahun itu? Apa saja yang telah mereka perbuat pada tahun-tahun kehidupan mereka? “ (hlm. 22)
“Kemudian saya menceritakan kembali kisah tembok bata saya. Ada batu bata lain di tembok yang mewakili kehidupan kita, terlepas dari kejahatan yang pernah kita perbuat. Pada kenyataannya, selalu ada banyak batu bata yang bagus, jauh lebih banyak daripada yang jelek. Nah, apakah Anda adalah sebuah tembok jelek yang pantas dihancurkan? Atau sebuah tembok yang bagus dengan sepasang batu bata jelek, seperti kebanyakan dari kita? (hlm. 22—23)
Beberapa bulan setelah saya menjadi kepala Vihara dan tidak lagi mengunjungi penjara, saya menerima sebuah telepon pribadi dari salah seorang petugas penjara. Dia meminta saya untuk kembali mengunjungi penjara. Dia memberikan ucapan selamat yang akan selalu saya hargai. Dia bilang bahwa murid-murid saya di penjara, sejak mereka menyelesaikan masa hukumannya, tak pernah balik lagi ke penjara.” (hlm. 23)
Bila Anda berpikir bahwa Anda adalah warga “kelas II”, maka Anda benar. bila Anda berpikir bahwa Anda hanyalah lulusan kampus “kelas B”, maka Anda juga benar. Bila Anda berkeyakinan bahwa Anda adalah “manusia gagal”, atau bahkan sebagai “manusia sampah”, maka Anda lebih benar lagi. Kita semua adalah sama-sama merupakan mahasiswa dari Kampus Kehidupan. Bagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri, itulah yang akan menjadi diri kita.
Seperti yang telah dikatakan oleh Ajahn Brahm, “Seperti apa mereka diajar sepanjang tahun, seperti apa mereka diperlakukan, seperti apa mereka dipercaya, demikianlah jadinya mereka.” Kita semua pernah berbuat keliru, kita semua pun pernah mengalami kekalahan dan kegagalan. Namun, sekali lagi, bukanlah berarti itu menjadi bukti bahwa kita adalah manusia “yang tidak berguna” ataupun “tidak mampu untuk berhasil”.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Kepastian Hukum Bertopang pada Daya Prediktabilitas Paling Minimum dalam Hukum (PREDICTABILITY)

Foto saya

Trainer & Legal Consultant SHIETRA & PARTNERS didirikan tahun 2013, penyedia jasa konsultasi hukum spesialis preseden / yurisprudensi pertama dan satu-satunya di Indonesia, dibidang perdata maupun pidana. Berkomitmen sebagai profesional dalam setiap layanan jasa hukum, dengan tetap memegang teguh idealisme dan etika profesi.

HANYA PEMBELI EBOOK SERTA KLIEN PEMBAYAR TARIF YANG BERHAK ATAS INFORMASI YANG BENAR.
Kebenaran ulasan hukum dalam website, TIDAK DIJAMIN (bisa jadi benar, bisa jadi tidak, hanya penulisnya sendiri yang paling mengetahui).
Hanya Klien dalam Sesi Konsultasi dan bahasan dalam eBook, yang kami berikan opini dan data yang terjamin kebenarannya. Kami sedang mencari nafkah. Bukan sebagai Klien Pembayar Tarif Jasa maupun bukan sebagai pembeli eBook yang kami jual, resiko ditanggung Anda sendiri selaku pengunjung websiteSyarat & Ketentuan Layanan, lihat TARIF KONSULTASI.

PERINGATAN : (Bila Anda bisa mendapat nomor kontak / email kami, berarti Anda pasti telah membaca peringatan tegas berikut)
HANYA KLIEN PEMBAYAR TARIF JASA YANG BERHAK MENCERITAKAN MASALAH / MENGAJUKAN PERTANYAAN HUKUM. Pelanggar akan dikenakan sanksi BLACKLIST.

Disediakan beragam pilihan paket layanan MEMBERSHIP, bulanan maupun tahunan bagi pengguna jasa perorangan maupun korporasi. Konsultan Shietra juga menyediakan jasa LEGAL ASSESSMENT bagi perusahaan.

Bagi yang membutuhkan layanan jasa penulisan, kami menyediakan jasa CONTENT WRITER. Sementara yang membutuhkan jasa Training atau layanan Tutorial Hukum bagi klien korporasi, kami menyediakan PELATIHAN.

Informasi serta opini hukum yang Benar dan Terjamin, hanya menjadi Hak Istimewa klien pembayar tarif ataupun pembeli eBook yang kami jual. Anda sendiri yang menanggung resikonya tanpa diagnosa fakta hukum dan analisa yang memadai oleh konselor untuk berdialog / mereview dokumen terkait masalah hukum.

Hukum sensitif detail, terbuka beragam skenario peluang atau kemungkinan yang dapat terjadi hanya karena faktor perbedaan detail fakta hukum, opsi langkah mitigasi, serta setiap resiko upaya hukum yang mungkin berimplikasi. Tidak ada perkara yang seragam untuk dapat diprediksi hasilnya, kecuali melalui sesi konsultasi secara intens / privat. Menyesal tiada guna, bila Anda gagal mengantipasi bahkan masalah menjelma "benang kusut", akibat salah penanganan oleh yang bukan ahli dibidangnya.

Kecerobohan pembaca memaknai ulasan hukum dalam website, dapat berakibat FATAL. Terhadap materi publikasi dalam website, don't try this at home, kecuali Anda berdialog langsung dengan penulisnya dalam sesi konsultasi secara privat.

Tidak bersedia membayar tarif jasa, mengharap "selamat" dan meminta "dilayani"? Hargai profesi kami, sebagaimana profesi Anda sendiri hendak dihormati. Pihak-pihak yang menyalah-gunakan nomor telepon, email, maupun formulir kontak kami, berlaku sanksi. Pasal 28D Ayat (2) Undang-Undang Dasar RI 1945: "Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan."

Ada Harga, ada Barang. Ada Tarif, ada Jasa
Meminta dilayani & menyita sumber waktu kami yang terbatas, meminta data / informasi hukum hasil kerja keras kami, memohon ilmu hasil pengorbanan waktu dan biaya kami, namun tanpa mau membayar sejumlah kompensasi, itu namanya MERAMPOK NASI DARI PIRING KAMI, terlebih sengaja melanggar ketentuan website bahkan menyalahgunakan nomor kontak kami dengan berpura-pura tidak mengetahui bahwa kami sedang mencari nafkah.

Kami berhak untuk berdagang jasa dan mencari nafkah secara komersiel. Ribuan ID pelanggar telah kami publikasi dalam laman BLACKLIST akibat menyalahgunakan nomor kontak / email kami dan melanggar syarat & ketentuan website ini.

-------
Hukum adalah ilmu tentang "prediksi" (diluar itu artinya "spekulasi")Konsultan Hukum SHIETRA & PARTNERS: Jl. HR. Rasuna Said. Kawasan Epicentrum Utama, EPIWALK, Office Suite Lantai 5 Nomor A529, Kuningan, Jakarta Selatan, 12940, Indonesia.

Menjual jasa layanan konsultasi secara tatap muka maupun secara virtual via online. Menceritakan masalah hukum ataupun mengajukan pertanyaan hukum sebelum resmi menjadi klien, diberlakukan tarif konsultasi 2 kali ketentuan tarif normal. Tidak memperkenalkan diri saat menghubungi kami, diberlakukan 1,5 kali ketentuan tarif normal. Tidak memperkenalkan diri dan juga menceritakan masalah hukum sebelum resmi terdaftar sebagai klien, diberlakukan 3 kali ketentuan tarif normal. Mengaku-ngaku miskin atau berpura-pura tidak mampu, berlaku tarif 5 kali ketentuan tarif normal.
Pendaftaran KLIEN: (Wajib terlebih dahulu memperkenalkan diri dan menyatakan kesediaan membayar tarif layanan yang berlaku. Bila syarat mutlak tersebut tidak diindahkan, maka telepon ataupun pesan Anda akan kami nilai sebagai spam, tidak akan kami respon)
- Telepon: 021-568 2703.
- Fax: 021-560 2810.
- Whatsapp: 08888-9195-18. (Seluruh nomor kontak dan alamat email profesi kerja kami ini, hanya diperuntukkan untuk PENDAFTARAN KLIEN PEMBAYAR TARIF. Menyalahgunakan nomor kontak / email kami untuk tujuan lain, berarti pelanggaran yang akan kami jatuhi sanksi. Pahami betul-betul Etika Komunikasi Anda saat mencoba menghubungi kami)
- Email: konsultasi@hukum-hukum.comhery.shietra@gmail.com

KONSULTAN HUKUM SHIETRA. Kami LEBIH dari sekadar mengutip bunyi Undang-Undang, Hukum yang REAL.

KONSULTAN HUKUM SHIETRA. Kami LEBIH dari sekadar mengutip bunyi Undang-Undang, Hukum yang REAL.
HR. Rasuna Said. Kawasan Epicentrum Utama, EPIWALK Nomor A529, Kuningan, Jakarta. TEKAN GAMBAR UNTUK MENGHUBUNGI KAMI

eBook PERBUATAN MELAWAN HUKUM

eBook PERBUATAN MELAWAN HUKUM
Mengupas Kaedah-Kaedah Manarik PERBUATAN MELAWAN HUKUM