Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Pekerja PKWT Mangkir Kerja, Dikualifikasi Mengundurkan Diri Namun Tetap Butuh Putusan Pengadilan Hubungan Industrial

LEGAL OPINION
Question: Katanya kan, untuk PHK pegawai, itu harus gugat ke pengadilan. Akan tetapi gimana kalau kasusnya itu si pegawai secara hukum dikualifikasi sebagai mengundurkan diri karena sudah mangkir kerja selama beberapa minggu tanpa alasan yang sah, juga sudah dipanggil agar kembali masuk kerja tapi masih tetap mangkir, apa pihak perusahaan masih berwajib ajukan gugatan PHK ke pengadilan?
Brief Answer: Tergantung pada konteks jenis hubungan hukum ketenagakerjaan seperti apa yang melandasi hubungan para pihak antara pemberi pekerja dan pekerja. Bila landasannya ialah Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT, alias Pekerja Permanen), maka kualifikasi pengunduran diri akibat mangkir, tidak butuh penetapan / putusan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI), sebab menurut hukum PHK dengan kualifikasi demikian konteks Pekerja Tetap, tidak timbul kompensasi pembayaran pesangon.
Sementara, bila konteksnya ialah Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT, alias Pekerja Kontrak), maka untuk menghindari resiko diwajibkannya membayar sisa masa kerja dalam kontrak PKWT, putusnya hubungan kerja akibat kualifikasi mengundurkan diri, tetap membutuhkan penetapan / putusan PHI. Tidak selamanya, mengikat pekerja dengan PKWT lebih bersifat menguntungkan pihak pengusaha.
PEMBAHASAN:
Cerminan dalam contoh kasus berikut dapat menjadi representasi, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS rujuk putusan Mahkamah Agung RI sengketa hubungan industrial register Nomor 98 K/Pdt.Sus-PHI/2017 tanggal 9 Maret 2017, perkara antara:
- AHMAD AGUNG SAPUTRA, sebagai Pemohon Kasasi, semula selaku Tergugat; melawan
- PT. ANGSA DAYA, selaku Termohon Kasasi dahulu Penggugat.
Pada tanggal 28 Agustus 2015, Dinas Tenaga Kerja Pemerintahan Kabupaten Tangerang selaku Mediator Hubungan Industrial, menerbitkan Anjuran tertulis pasca perundingan tripartit, dengan substansi agar pengusaha membayar sisa kontrak kepada para pekerja sesuai yang diperjanjikan dalam perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).
Pihak Penggugat menolak mengikuti isi anjuran Disnaker, mengingat keberlakuan norma Pasal168 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Ayat (1) tentang Ketenagakerjaan: “Pekerja / buruh yang mangkir selama 5 (lima) hari kerja atau lebih berturut-turut tanpa keterangan secara tertulis yang dilengkapi dengan bukti yang sah dan telah dipanggil oleh pengusaha 2 (dua) kali secara patut dan tertulis dapat diputus hubungan kerjanya karena dikualifikasikan mengundurkan diri.” Sesingkat itu saja dalil dalam surat gugatan Penggugat, yang mungkin menjadi gugatan paling ringkas dan paling singkat dalam sejarah gugatan.
Terhadap gugatan Penggugat maupun gugatan balik Tergugat (rekonpensi), Pengadilan Hubungan Industrial Serang kemudian menjatuhkan putusan Nomor 21/Pdt.Sus-PHI/2016/PN Srg. pada tanggal 4 Oktober 2016, dengan pertimbangan hukum serta amar sebagai berikut:
“Menimbang, ... dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) antara Tergugat Konvensi dan Penggugat Konvensi (bukti P-4) dalam Pasal 3 ayat 2 diatur dan disepakati bahwa Penggugat Konvensi berhak untuk memindahkan dan atau memutasikan Tergugat Konvensi ke bagian lain sesuai dengan kebutuhan Penggugat Konvensi;
MENGADILI :
Dalam Konvensi:
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat Konvensi untuk seluruhnya;
2. Menyatakan hubungan kerja Penggugat Konvensi dan Tergugat Konvensi putus sejak tanggal 23 Mei 2015 karena Tergugat Konvensi dikualifikasikan mengundurkan diri sesuai Pasal 168 Undang Undang Nomor13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
3. Menyatakan Penggugat Konvensi tidak berkewajiban membayar ganti-rugi kepada Tergugat Konvensi sebesar upah pekerja / buruh sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja;
Dalam Rekonvensi:
- Menolak gugatan Penggugat Rekonvensi untuk seluruhnya.”
Pihak Pekerja mengajukan upaya hukum kasasi, dengan pokok keberatan bahwa yang menjadi sepengetahuan Tergugat, maksud dari frasa “mutasi” ialah dipindahkannya pekerjaan dari bagi satu ke bagian yang lainnya yang masih dalam satu lingkungan perusahaan. Mutasi memang hak Pengusaha, tetapi juga harus mempertimbangkan dan melihat kesukaran pihak Pekerja, apakah sesuai dengan kemampuanya, keahliannya, dan jarak lokasinya.
Pada saat Tergugat melamar kerja kepada pihak Penggugat, dan diterima bekerja yang kemudian ditindak-lanjuti dengan penanda-tanganan perjanjian kerja, lokasi kerja di Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten. Pada saat diterima berkerja, PT Angsa Daya belum mempunyai produksi di Cikande, Serang, Banten.
Dengan demikian saat menyatakan bersedia dimutasi kerja, saat pertama kali menanda-tangani kontrak kerja, konteksnya ialah kondisi perusahaan pada saat diterima bekerja, bukan pada saat perusahaan kemudian memiliki berbagai kantor cabang yang dapat didirikan ke seluruh pulau yang tersebar di Tanah Air, lalu memerintahkan pekerjanya untuk berpindah lokasi kerja sebagai kebijakan mutasi.
Tergugat mendalilkan pula, perusahaan yang berkedudukan di Pasar Kemis, Kabuapten Tangerang, memproduksi keramik lantai. Sementara itu, perusahaan yang berkedudukan di Cikande, Serang Banten, memproduksi batu bata ringan (hebel), dengan demikian hasil produksi yang dihasilkan berbeda, sehingga bagian kerja Tergugat apabila menerima mutasi juga berbeda.
Terhadap kebijakan mutasi demikian, pihak perusahaan memberikan 2 opsi kepada Tergugat, yakni: mengikuti mutasi dari Tangerang ke Cikande, dengan bagian mutasi ditentukan kemudian, dan yang kedua ialah apabila menolak mutasi maka akan diberikan uang kompensasi 25 % dari sisa kontrak / Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).
Terhadap pilihan yang ditawarkan, Tergugat tidak memilih kedua alternatif tersebut, dan tetap memilih dipekerjakan pada posisi dan tempat semula sesuai dengan bagian kerja dan lokasi kerja semula seperti biasanya. Namun terhadap pendirian Tergugat, sejak tanggal 5 Juni 2015, pihak perusahaan tetap mengambil sikap tegas melakukan mutasi sepihak kepada Tergugat, dengan cara melarang Tergugat untuk masuk bekerja di posisi dan tempat semula yakni di perusahaan Penggugat yang berada di Pasar Kemis.
Terhadap larangan bekerja tersebut, Tergugat tetap hadir untuk bekerja pada lokasi perusahaan di Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten, namun ditolak untuk bekerja oleh Penggugat, dimana Tergugat disuruh oleh Penggugat untuk menunggu di belakang pos security dengan foto dipajang di pos security sebagai pihak yang dilarang masuk bekerja.
Dimana terhadap dalil-dalil demikian, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Menimbang, bahwa terhadap keberatan-keberatan tersebut, Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi Pemohon Kasasi I yang diterima Kepaniteraan Pengadilan Negeri/Hubungan Industrial Serang pada tanggal 9 November 2016, dan kontra memori kasasi yang diterima Kepaniteraan Pengadilan Negeri / Hubungan Industrial Serang pada tanggal 25 November 2016 dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti, dalam hal ini Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Serang telah tepat dan benar dalam menilai, menimbang dan menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
- Bahwa Tergugat dalam mendanda-tangani perjanjian kerja waktu tertentu salah satu isinya adalah bersedia dimutasikan namun Tergugat menolak mutasi dan selanjutnya tidak masuk kerja 5 (lima) hari kerja berturut-turut dan serta kemudian dipanggil 2 (dua) kali secara patut dan tertulis namun tidak hadir, sehingga berdasarkan Pasal 168 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Tergugat dikualifikasikan mengundurkan diri;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, ternyata bahwa Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Serang dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi AHMAD AGUNG SAPUTRA tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi AHMAD AGUNG SAPUTRA tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan