Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Sengaja Melanggar Perjanjian, Sama Artinya Perbuatan Melawan Hukum

LEGAL OPINION
Question: Sebenarnya, kapan disebut sebagai ingkar janji terhadap isi perjanjian, dan kapan seseorang baru dapat disebut sebagai melakukan perbuatan melawan hukum meski hubungan diantara mereka itu semula terjalin karena adanya pembuatan suatu perjanjian?
Brief Answer: Bila wanprestasi (ingkar janji) terajadi karena murni faktor ketidak-sanggupan salah satu pihak untuk melaksanakan hingga tuntas isi perikatan, maka itu disebut sebagai telah ingkar janji. Namun bila salah satu pihak tersebut secara sengaja melanggar isi kesepakatan yang telah diperjanjikan, sehingga menimbulkan kerugian bagi pihak lain dalam perjanjian tersebut, maka perbuatan demikian dapat dikategorikan sebagai “perbuatan melawan hukum”.
PEMBAHASAN:
Terdapat kasus konkret, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS cerminkan dalam putusan Mahkamah Agung RI sengketa pelanggaran kontraktual register Nomor 2169 K/Pdt/2015 tanggal 21 Desember 2015, perkara antara:
- WIWIK FAJARWATI, S.H., sebagai Pemohon Kasasi, semula selaku Tergugat; melawan
- ANITA SARI, S.S., selaku Termohon Kasasi dahulu Penggugat.
Bermula pada tanggal 16 Januari 2011, Tergugat bersepakat untuk mengadakan pengembangan bisnis jual-beli mebel dengan pihak Penggugat. Atas dasar kesepakatan tersebut, Tergugat telah menerima uang modal sebesar Rp33.400.000,00 terhitung sejak tanggal 16 Januari 2011 sampai dengan tanggal 30 April 2011 dari pihak Penggugat, dengan kesepakatan bahwa keuntungan uang bagi hasil sebesar Rp18.750.000,00.
Untuk itu jumlah keseluruhan sebesar Rp52.150.000,00 terhitung sejak dibuatnya kesepakatan surat perjanjian kerjasama pengembangan bisnis jual-beli mebel pada tanggal 16 Oktober 2011 yang sampai batas waktu akhir pada tanggal 31 Oktober 2011, sedangkan pembayaran secara tunai yang harus dilakukan oleh Tergugat selambat-lambatnya sampai tanggal 5 November 2011 kepada Penggugat yang mana sesuai dengan Rekapitulasi Pengembangan bisnis jual-beli, apabila terjadi pelanggaran oleh pihak Tergugat maka harus bisa memberikan jaminan yang selayaknya kepada Penggugat.
Ternyata pihak Tergugat tidak melaksanakan kewajibannya untuk melakukan pembayaran dan atau mengembalikan uang modal berikut dengan uang keuntungan bagi hasil kepada pihak Penggugat, serta tanpa memberikan alasan-alasan yang jelas, meski Penggugat telah berulang-kali untuk meminta pihak Tergugat agar dengan segera melaksanakan kewajibannya untuk melakukan pembayaran dan atau mengembalikan uang modal yang sudah diterima dari Penggugat.
Akan tetapi kenyataannya pihak Tergugat tidak mau melaksanakan sama sekali, bahkan belakangan hari pihak Tergugat sukar untuk dihubungi guna dimintai tanggung-jawab, sehingga perbuatan yang dilakukan oleh Tergugat tidak dapat dibenarkan serta melawan hukum (onrechmatige daad), dan oleh karenanya telah cukup bukti maupun alasan bagi pihak Penggugat sebagai pihak yang dirugikan untuk mengajukan gugatan.
Sementara dalam sanggahannya, pihak Tergugat mendalilkan, gugatan penggugat bersifat mencampur-adukkan antara perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) dan perbuatan ingkar janji (wanprestasi),pada hal antara perbuatan melawan hukum dan perbuatan ingkar janji memiliki pengertian yang saling berbeda.
Karena gugatan Penggugat telah mencampur-adukkan antara perbuatan melawan hukum dan perbuatan ingkar janji, dengan demikian gugatan penggugat bersifat “tidak jelas” (obscuur libel) dan karenanya juga gugatan Penggugat harus dinyatakan “tidak dapat diterima” (niet onvankelijk verklaard).
Terhadap gugatan Penggugat, Pengadilan Negeri Sidoarjo kemudian menjatuhakn putusan Nomor 23/Pdt.G/2012/PN.Sda., tanggal 15 Agustus 2012, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan bahwa kesepakatan yang dibuat oleh pihak Tergugat dengan pihak Penggugat untuk mengadakan kerjasama dalam bidang pengembangan bisnis jual-beli mebel dan arisan, sebagaimana yang diterangkan dan atau yang dimaksud dalam surat perjanjian kerjasama yang dibuat pada tanggal 16 Oktober 2011, adalah sah menurut hukum namun ada perbaikan sedikit mengenai jumlah adalah sebesar Rp45.550.000,00 sebagai kewajiban dari Tergugat pada Penggugat;
3. Menyatakan perbuatan Tergugat menyelewengkan modal dan tidak melaksanakan kewajiban mengembalikan modal dan uang bagi hasil antara Penggugat dan Tergugat sebesar Rp45.550.000,00 adalah perbuatan melawan hukum;
4. Menghukum Tergugat untuk mengembalikan uang modal + bagi hasil pada Penggugat sebesar Rp45.550.000,00 (empat puluh lima juta lima ratus lima puluh ribu rupiah) harus dibayar sekaligus dan seketika setelah putusan mempunyai kekuatan hukum tetap;
5. Menolak gugatan dari penggugat untuk selebihnya.”
Dalam tingkat banding atas permohonan Tergugat, putusan Pengadilan Negeri kemudian dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Surabaya lewat putusan Nomor 574/PDT/2013/PT.SBY, tanggal 10 Februari 2014, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
- Menerima permohonan banding Tergugat / Pembanding tersebut;
- Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Sidoarjo Nomor 23/Pdt.G/2012/PN.Sda, tanggal 15 Agustus 2012 yang dimohonkan banding.”
Pihak Tergugat mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa alasan-alasan kasasi tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena Penggugat telah berhasil membuktikan kebenaran dalil gugatannya bahwa ternyata perbuatan Tergugat yang telah menyelewengkan modal dan tidak melaksanakan kewajibannya sesuai dengan perjanjian kerjasama antara Penggugat dengan Tergugat merupakan perbuatan melawan hukum, sebaliknya Tergugat tidak dapat membuktikan kebenaran dalil bantahannya, sebagaimana pertimbangan Putusan Judex Facti telah tepat dan benar serta tidak bertentangan dengan hukum;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, ternyata putusan Judex Facti / Pengadilan Tinggi Surabaya dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi Wiwik Fajarwati, S.H., tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi WIWIK FAJARWATI, S.H., tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan