Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Ancaman Hukuman Pidana Penghinaan terhadap Wanita

LEGAL OPINION
PIDANA PENGHINAAN TERHADAP PEREMPUAN, FAKTOR PEMBERAT VONIS HUKUMAN TERDAKWA PRIA
Question: Memang apa ada bedanya, kalau korban pencemaran nama baiknya itu seorang wanita?
Brief Answer: Undang-Undang tentang Hukum Pidana (KUHP) sendiri sebetulnya tidak mengatur pembedaan gender demikian, antara pelaku ataupun korban laki-laki maupun kaum perempuan. Namun terdapat yurisprudensi putusan yang bersumber dari praktik peradilan (judge made law), bahwa penghinaan oleh seorang palaku bergender pria terhadap kaum dengan gender perempuan, menjadi faktor pemberat hukuman pidana, atau setidaknya membuat vonis hukuman tidak bersifat pidana hukuman dengan masa percobaan.
PEMBAHASAN:
Sebagai ilustrasi konkret, untuk itu SHIETRA & PARTNERS merujuk putusan Pengadilan Tinggi Jakarta perkara pidana register Nomor 253/PID/2014/PT.DKI tanggal 10 Oktober 2014, dimana kejadian atau tempat kejadian perkara (locus delicti) terjadi di Surakarta, Jawa Tengah, namun Pengadilan Negeri Jakarta Barat dalam putusan sela menyatakan berhak memeriksa dan mengadili perkara ini, sesuai kewenangan Pasal 84 Ayat (2) KUHAP, bahwa Pengadian Negeri yang didalam daerah hukumnya terdakwa bertempat tinggal, berdiam terakhir ditempat ia diketemukan atau ditahan, hanya berwenang mengadili perkara terdakwa tersebut apabila tempat kediaman sebagian besar saksi yang dipanggil lebih dekat pada tempat Pengadilan Negeri itu dari pada tempat tempat kedudukan Pengadilan Negeri yang didalam daerahnya Tindak Pidana itu dilakukan.
Terdakwa didakwa karena telah secara sengaja merusak kehormatan atau nama baik seseorang dengan jalan menuduh dia melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud nyata akan tersiarnya tuduhan itu, sebagaimana diatur dan diancam Pasal 310 Ayat (1) KUHP.
Sementara dalam Dakwaan Alternatif Kedua, didakwa karena dengan sengaja yang tidak bersifat menista dengan tulisan, yang dilakukan kepada seseorang baik di tempat umum dengan lisan atau dengan tulisan, maupun di hadapan orang itu sendiri dengan lisan atau dengan perbuatan, begitupun dengan tulisan yang dikirimkan atau diterimakan kepadanya, sebagaimana diatur dan diancam Pasal 315 KUHP.
Adapun kejadiannya, beberapa orang melihat secara langsung Terdakwa (seorang laki-laki) berteriak–teriak ditujukan kepada korban yang bergender wanita, dengan kata-kata: “Perempuan sundal, pelacur, kemana lo melantik gua akan ikuti, lo sama bapak lo kerja gak bener, merusak Tenis Meja, gua akan bunuh lo.”
Mendengar perkataan dari Terdakwa, korban merasa gemetar, lemas, menangis dan nama baiknya dicemarkan dan didengar oleh banyak orang. Tidak lama berselang, Terdakwa kembali berteriak-teriak ditujukan kepada korban dengan kata-kata “Perempuan sundal, perempun pelacur, gua bunuh lo, gua ikutin kemana lu melantik.”
Terhadap tuntutan Jaksa Penuntut, Pengadilan Negeri Jakarta Barat, pada tanggal 24 April 2014 menjatuhkan amar putusan Nomor 1046/Pid.B./2014PN.JKT.BAR, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
- Menyatakan bahwa Terdakwa Ir. PETER LAYARDI LAY tersebut diatas, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘penghinaan’”;
- Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 5 (lima) bulan.”
Terdakwa mengajukan upaya hukum banding, dimana terhadapnya Majelis Hakim Pengadilan Tinggi membuat pertimbangan serta amar putusan yang justru memberatkan hukuman, sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa setelah membaca dan meneliti secara seksama berkas perkara a quo salinan putusan Sela Pengadilan Negeri Jakarta Barat tanggal 13 Nopember 2013 No.1046/Pid.B/2013/PN.JKT.BAR, dan salinan resmi putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat Nomor1046/Pid.B/2013/PN.Jkt.Bar, tanggal 24 April 2014, Memori banding dari Penasihat Hukum Terdakwa, dan kontra memori banding dari Penuntut Umum, maka alasan dan pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Pertama dalam putusan sela dan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat tanggal 24 April 2014, No.1046/Pid.B/2013/PN.Jkt.Bar, tersebut yang menyimpulkan Dakwaan kesatu terbukti adalah tepat dan benar serta disetujui oleh Majelis Hakim Tingkat banding, oleh karena itu alasan dan pertimbangan tersebut, diambil-alih dan dijadikan dasar oleh Majelis Hakim Tingkat Banding dalam memutus perkara ini kecuali mengenai pidana yang dijatuhkan kepada Terdakwa menurut pendapat Pengadilan Tinggi, terlalu ringan;
“Menimbang, bahwa disamping hal-hal yang memberatkan yang disebutkan dalam putusan Hakim tingkat pertama, menurut Pengadilan Tinggi masih ada hal yang memberatkan lainnya bagi terdakwa, yaitu bahwa yang menjadi korban adalah seorang wanita, sehingga adalah adil dan tepat apabila terdakwa dihukum sebagaimana disebutkan dalam amar putusan dibawah ini;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas maka putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat Nomor 1046/Pid.B/2013/PN,Jkt.Bar tanggal 24 April 2014, yang dimintakan banding tersebut, perlu diubah sekedar mengenai pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa, sedangkan putusan selebihnya dapat dikuatkan, yang amarnya seperti tersebut dibawah ini;
M E N G A D I L I :
- Menerima permintaan banding dari Penasihat Hukum terdakwa tersebut;
- Mengubah putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat, tangggal 24 April 2014, No.1046/Pid.B/2013/PN.JKT.BAR, yang dimintakan banding tersebut sekedar mengenai pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa, sehingga amar selengkapnya berbunyi sebagai berikut;
- Menyatakan bahwa Terdakwa Ir. PETER LAYARDI LAY tersebut diatas, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘penghinaan’;
- Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan