Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Pekerja Tidak Mencapai Target, Bukanlah Alasan PHK

LEGAL OPINION
Question: Gimana ini, saat melamar masuk bekerja dan diterima, disuruh tanda-tangan surat baku yang mereka buat, yang isinya bahwa sebagai pekerja dengan ini mengundurkan diri karena tidak mencapai target kerja atau target produksi. Gimana ini, kalau tidak mau tanda-tangan, tidak bisa diterima bekerja katanya? Kalau tanda-tangan, surat itu di waktu kelak, bisa jadi bumerang karena perusahaan bisa pakai itu untuk menyatakan kami selaku pegawai telah mengundurkan diri?
Brief Answer: Ditanda-tangani saja, tidak ada masalah, karena surat pernyataan demikian “batal demi hukum” oleh sebab sifatnya bukanlah kesediaan murni dari Pekerja / Buruh, dimana praktik peradilan telah berpendirian bahwa seorang Pekerja tidak dapat dinyatakan mengundurkan diri oleh surat pernyataan yang “berlaku surut kedepan” (front date), sekalipun dinyatakan tidak memenuhi target penjualan / produksi.
PEMBAHASAN:
Terdapat cerminan konkret, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS rujuk putusan Mahkamah Agung RI sengketa hubungan industrial register Nomor 373 K/Pdt.Sus-PHI/2016 tanggal 31 Mei 2016, perkara antara:
- PT. SUTERA INDAH UTAMA, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Tergugat; melawan
- 6 orang Pekerja, selaku Para Termohon Kasasi dahulu Para Penggugat.
Perselisihan telah diupayakan penyelesaiannya dalam perundingan bipartit, namun tidak ada titik temu, sehingga selanjutnya ditempuh upaya mediasi pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Tangerang secara Tripartit, yang selanjutnya terbit surat anjuran tertanggal 20 Oktober 2014 yang menganjurkan, sebagai berikut:
1. Agar hubungan kerja antara pekerja (Sdri. Narwiatri, Sdri. Dewi Sadawati, Sdri. Juntiah, Sdri. Siti Nurlaelasari, Sdri. Musliha, dan Sdri. Lilis dkk 6 Orang) dengan Perusahaan (PT. Sutera Indah Utama) belum putus dan masih terus berlanjut;
2. Agar perusahaan PT. Sutera Indah Utama) memanggil secara tertulis kepada pekerja (Sdri. Narwiatri, Sdri. Dewi Sadawati, Sdri. Juntiah, Sdri. Siti Nurlaelasari, Sdri. Musliha, dan Sdri. Lilis dkk 6 Orang) untuk masuk bekerja setelah menerima Surat Anjuran ini;
3. Agar pekerja (Sdri. Narwiatri, Sdri. Dewi Sadawati, Sdri. Juntiah, Sdri. Siti Nurlaelasari, Sdri. Musliha, dan Sdri. Lilis dkk 6 Orang) melapor kepada perusahaan (PT. Sutera Indah Utama) dan menyatakan siap bekerja kembali setelah menerima Surat Anjuran ini;
4. Agar Perusahaan (PT. Sutera Indah Utama) membayar upah / gaji kepada pekerja (Sdri. Narwiatri, Sdri. Dewi Sadawati, Sdri. Juntiah, Sdri. Siti Nurlaelasari, Sdri. Musliha, dan Sdri. Lilis dkk 6 Orang) dari bulan April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September 2014.”
Penggugat menyatakan menerima susbtansi anjuran. Permasalahannya, Tergugat menolak untuk menjalankan anjuran mediator Disnaker, maka Para Penggugat mengajukan gugatan ini. Para Penggugat merupakan buruh yang bekerja di perusahaan Tergugat, dengan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (karyawan tetap), dimana masa kerja mencapai belasan hingga puluhan tahun.
Alasan Tergugat melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), adalah karena Para Penggugat tidak berhasil mencapai target produksi, yaitu sebanyak 80 Pcs s/d 95 Pcs per jam. Pada mulanya Para Penggugat berhasil mencapai target produksi yang dibebankan oleh manajemen. Tetapi setelah target itu tercapai, oleh Tergugat targetnya dinaikkan lagi, sehingga akhirnya Tergugat tidak berhasil mencapai target tersebut.
Dengan kata lain, target yang dibebankan oleh Tergugat kepada Para Penggugat, selalu berubah-ubah dan tidak ada standard baku yang tetap—karena ditetapkan secara sepihak oleh Tergugat, sehingga terkesan sebagai alasan yang dicari-cari dan mengada-ngada.
Karena dalam 1 (satu) jam tidak berhasil mencapai target yang ditentukan, Para Penggugat diberikan Surat Peringatan I. Satu jam berikutnya, karena masih tidak mencapai target, Para Penggugat diberikan Surat Peringatan II. Karena pada satu jam berikutnya masih tidak juga memenuhi target, Para Penggugat diberikan Surat Peringatan III, baru kemudian di-PHK.
Dengan kata lain, pemberian Surat Peringatan I, Surat Peringatan II, Surat Peringatan III, maupun pemberitahuan PHK, diberikan pada hari yang sama:
a. Penggugat 3 (Musliha) diberikan Surat Peringatan I, II, III dan di-PHK pada tanggal 11 Maret 2014;
b. Penggugat 1 (Siti Nurlaelasari), Penggugat 2 (Juntiah), Penggugat 4 (Narwiatri), dan Penggugat 5 (Devi Sadati). diberikan Surat Peringatan I, II, III dan di-PHK pada tanggal 24 Maret 2014;
c. Sedangkan Penggugat 6 (lilis) diberikan Surat Peringatan I, II, III dan di-PHK pada tanggal 22 Agustus 2014.
Para Penggugat sudah berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mencapai target yang ditetapkan. Dengan kata lain, tidak tercapainya target bukan atas kesengajaan Para Penggugat. Para Penggugat menolak PHK dengan alasan tidak memenuhi target demikian, karena Peratuan Perusahaan PT. Sutera Indah Utama mengatur, bahwa tidak mencapai target hanyaalh sebuah pelanggaran.
Lagi pula, setelah belasan tahun bekerja, baru pada kali ini Para Penggugat tidak berhasil mencapai target. Selama proses perselisihan berlangsung, Tergugat tidak pernah membayarkan upah dan hak-hak lain yang biasa diterima oleh Para Penggugat.
Sejak Para Penggugat terkana PHK secara sepihak, Tergugat sudah tidak membayarkan upah dan hak-hak lain yang biasa diterima oleh Para Penggugat, maka Dinas Tenaga Kerja menganjurkan agar Tergugat mempekerjakan dan membayar upah Para Penggugat, namun hingga gugatan ini diajukan tidak satu pun dari isi anjuran tersebut yang dijalankan oleh Tergugat.
Mengingat belum ada putusan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial, selama proses perselisihan hubungan industrial ini berlangsung Para Penggugat berkeinginan untuk tetap menjalankan kewajibannya dengan berusaha masuk bekerja seperti biasanya. Akan tetapi keinginan Para Penggugat untuk tetap masuk bekerja ke dalam lingkungan pabrik, ditolak kehadirannya oleh Tergugat.
Selama tidak diijinkan masuk bekerja, Tergugat telah menghentikan pembayaran upah dan hak-hak lainnya yang biasa diterima oleh Para Penggugat. Dimana terhadap gugatan sang Buruh, Pengadilan Hubungan Industrial Serang kemudian menjatuhkan putusan Nomor 76/PHI.G/2014/PN.Srg tanggal 21 April 2015, dengan pertimbangan hukum serta amar sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa agar dapat bersaing di pasar global, produktifitas harus ditingkatkan, sementara biaya produksi juga harus dijaga sedemikian rupa agar harga jual produk yang dihasilkan dapat diterima pasar. Salah satu cara yang dilakukan adalah menetapkan target setiap jenis pekerjaan. Target yang ditetapkan haruslah realistis dan dapat dicapai, serta disepakati bersama antara perusahaan dan pekerja;
“Menimbang, bahwa majelis sependapat dengan apa yang telah dilakukan oleh Tergugat, yaitu menyepakati target dengan Para Penggugat dan memberikan sanksi berupa surat peringatan bila target yang telah disepakati tersebut tidak dapat dicapai, kecuali bila target dapat dibuktikan bahwa tidak dicapainya target tersebut karena kekurangan bahan, kerusakan mesin, jarum patah dan sebab-sebab lainnya;
“Menimbang, ... tidak bekerjanya Para Penggugat bukan karena keinginannya, tetapi karena dilarang oleh Tergugat;
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Para Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan hubungan kerja antara Para Penggugat dengan Tergugat tidak pernah putus;
3. Memerintahkan Tergugat untuk mempekerjakan kembali Para Penggugat, dengan membayar upah selama tidak dipekerjakan (skorsing) dan THR Tahun 2014 sebesar Rp119.658.000,00 (seratus sembilan belas juta enam ratus lima puluh delapan ribu);
4. Memerintahkan Tergugat untuk membayar kekurangan upah minimum Para Penggugat sebesar Rp4.416.000,00 (empat juta empat ratus enam belas ribu rupiah);
5. Menyatakan biaya perkara sebesar Rp611.000,00 (enam ratus sebelas ribu rupiah) dibebankan kepada Negara;
6. Menolak gugatan Para Penggugat untuk selain dan selebihnya.”
Pihak Pengusaha mengajukan upaya hukum kasasi, dengan pokok keberatan bahwa Tergugat merupakan perusahaan garmen yang produksinya 100% berdasarkan pesanan dari pihak luar (buyer), yang mana pesanan tersebut diberikan target penyelesaiannya. Oleh karenanya Tergugat juga menerapkan sistem target yang sudah berjalan sejak lama.
Sistem target ini untuk memenuhi ketepatan waktu dalam pengiriman, oleh karena apabila tidak tepat waktu maka Tergugat akan dikenakan denda / pinalti dari pemesan dan berakibat hilangnya kepercayaan pembeli yang tentunya juga akan berpengaruh sangat besar dengan kelangsungan hidup perusahaan.
Penerapan sistem target selama ini tidak terdapat kendala yang berarti namun entah mengapa Para Penggugat yang sudah lama bekerja dan sudah mahir dibagiannya, tidak tercapai target dan menjadikan alasan target yang diberikan perusahaan terlalu berat. Padahal sejak semula mereka selalu mencapai target dan tidak terdapat masalah. Mekanisme pemberian sanksi dimulai secara sistematis dan sesuai dengan Peraturan Perusahaan. Seandainya perusahaan tidak menerapkan sistem target, dan karyawan semaunya sendiri, maka lebih baik perusahaan dibubarkan saja—demikian urai pihak Pengusaha.
Sistem target kerja kerap bersifat subjektif, dan tolak-ukur atau parameter kinerja / prestasinya sangat elastis, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa alasan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Serang tidak salah menerapkan hukumdengan pertimbangan sebagai berikut:
“Bahwa tidak tercapainya target pekerjaan tidak dapat dinyatakan sebagai pelanggaran, hal ini sesuai dengan doktrin hukum perburuhan modern, yang tidak menjadikan pekerja sebagai faktor produksi namun sebagai subjek, oleh karenanya seharusnya Pemohon Kasasi melakukan pembinaan dan bimbingan dengan mengeluarkan surat peringatan, bukan dengan ancaman membuat surat pernyataan pengunduran diri, dan surat pernyataan pengunduran diri yang telah dibuat dalam hal tidak mencapai target, batal demi hukum;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, ternyata bahwa putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Serang dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi: PT. SUTERA INDAH UTAMA tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: PT. SUTERA INDAH UTAMA tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan