Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Cara Kerja Hukum Karma

ARTIKEL HUKUM
Bangsa yang bermental sakit, produk hukum dan penegakan hukumnya akan sama sakitnya. Menguasai ilmu hukum sekeras apapun, adalah percuma di tengah bangsa yang sakit—karena ilmu hukum yang dipelajari ialah produk hukum bangsa yang sakit dan penegakkannya pun sama sakitnya oleh bangsa yang sakit ini.
Ironis, sekaligus satir. Namun bukanlah suatu kejahatan untuk mengungkap fakta demikian. Itulah refleksi yang kerap penulis jumpai di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, yang konon menyebut diri mereka sebagai bangsa Timur yang spirituil, toleran, baik hati, berbudi pekerti, dan agamais.
Setiap hari, dan selalu demikian berulang, terjadi aksi “putar-balik fakta”, bukan hanya para birokrat di parlemen, para pemegang kekuasaan di Lembaga Eksekutif maupun penyalahgunaan kewenangan pada Lembaga Yudikatif, namun hingga masyarakat kelas bawah hingga tukang dan preman pengatur lalu-lintas, sangat terampil memainkan praktik “putar-balik fakta” demikian. Tidak hanya kalangan tidak berpendidikan, kalangan bergelar Doktor dan profesor di Indonesia sekalipun, sama sakitnya.
Ketika penulis diserobot pengendara lain sehingga penulis melakukan seruan protes, sang penyerobot dan preman pengatur jalan justru menyatakan penulis yang keliru. Ketika penulis menghardik orang-orang yang seenaknya “memperkosa” profesi penulis, penulis dikatakan sebagai berkata kasar dan “mata duitan” (semua ini fakta). Ketika kawanan pencopet hendak mencuri dari penulis, sang pencopet justru lebih galak dari penulis. Ketika penulis melaporkan tindak pidana, polisi yang kemudian justru menyatakan bahwa penulis kurang bersosialisasi (meski sesaat kemudian kantor polisi yang diledakkan oleh teroris, menjadi bukti bahwa polisi yang lebih kurang bersosialisasi dengan masyarakatnya).
Terlampau banyak kejadian aneh untuk diceritakan, yang tidak akan muat dalam satu uraian ini. Singkat kata, yang benar diperlakukan sebagai bersalah, dan yang bersalah diperlakukan sebagai pihak yang benar. Yang salah tidak dikatakan sebagai bersalah, dan yang benar tidak dikatakan sebagai pihak yang benar. Korban dipersalahkan, sementara pelaku kejahatan dibiarkan atau bila perlu dibenarkan. Pelanggaran dicarikan pembenaran dan justifikasi, sementara sikap jujur diberi stigma sebagai orang bodoh. Seseorang warga dengan sikap lugu, menjadi mangsa empuk para “predator” pemutar-balik fakta demikian.
Singkat kata, para pembaca pun pastinya pernah memiliki pengalaman serupa, sedikit atau banyak, senada dan dalam nuansa yang serupa dengan apa yang pernah penulis rasakan dan alami dengan mata-kepala sendiri. Rasa terkejut, heran, sekaligus tidak percaya dan amarah seakan bercampur-aduk tiada habisnya. Seakan, prinsip rasional berpikir logis tidak berlaku ditengah kehidupan bangsa ini. Semua bersikap dalam tataran arogansi dan semudah bersilat lidah untuk memutar-balik fakta, tanpa takut akan konsekuensi dan akibat hukumnya.
Anda tidak perlu bersusah-payah untuk menggurui perasaan penulis, seolah penulis tidak mampu merasa, atau sudah buta dan tuli. Semua ini ialah pengalaman dan perasaan pribadi penulis. Penulis tidak butuh komentar atau pendapat siapapun terhadap apa yang penulis pribadi rasakan dan alami dengan mata-kepala sendiri.
Namun ya sudahlah, penegakkan hukum di Indonesia memang masih “tebang pilih”—itu fakta yang adalah buruk bila terus ditutup-tutupi. Tidak ada praktik hukum yang seideal itu, terutama di Indonesia yang kental akan nuansa penyalah-gunaan kekuasaan & kewenangan. Berangkat dari fakta demikian, para kriminil yang kemudian menjadi berkuasa dan meraja-lela, seakan tanpa gentar terhadap sanksi ancaman hukuman, menjadi raja jalanan-raja jalanan.
Toh, faktanya para penjahat justru seakan diliarkan begitu saja alias dilestarikan oleh para aparatur penegak hukum—dan pengabaian demikian pun bukan mitos, namun fakta realita yang penulis rasakan dan alami sendiri sebagai korban pelaku kejahatan penganiayaan (secara berkeroyok), pengrusakan properti, hingga ancaman pembunuhan—hanya karena penulis berasal dari latar belakang etnis dan berkeyakinan minoritas di Indonesia. Para pelakunya, hingga saat ini berkeliaran bebas, tidak tersentuh hukum.
Namun siapa bilang penulis dalam posisi “terkalahkan”? Hanya orang dungu, yang tidak takut dan tidak malu berbuat kejahatan. Ketika penulis merasa letih dengan hukum buatan manusia dan penegakan hukumnya yang diliputi kekotoran batin pembentuk dan aparatur penegak hukum, penulis senantiasa merujuk kembali kepada Dhamma, yakni prinsip kejujuran mental dan kebenaran sebagaimana diajarkan oleh Sang Buddha, guru agung para dewa dan manusia.
Dalam Buddhisme, dua panduan utama sebagai “jaring pengaman” (safety nett), yakni dua kata dalam bahasa Pali: “Hiri” dan “Ottapa”. “Hiri”, dimaknai sebagai rasa malu untuk berbuat jahat, yaitu ada suatu dorongan perasaan malu ketika kita berniat atau karena melakukan suatu kejahatan, sekecil apapun kejahatan tersebut, baik secara ucapan, perbuatan, maupun pikiran. Sementara yang dimaksud dengan “Ottapa”, maknanya ialah takut akan akibat dari perbuatan buruk tersebut, karena hukum karma mengikat dan berlaku, baik terhadap seorang yang percaya hukum karma ataupun yang sama sekali tidak percaya.
Paling ideal, ialah berbicara perihal hukum karma. Begini cara kerja hukum karma: Tidak perduli adil atau tidak adil perbuatan tersebut, tidak perduli benar atau tidak benar perbuatan demikian, tidak perduli ia mengakui atau tidaknya perbuatan tersebut, tidak juga perduli apakah ia mengakui atau tidaknya hukum karma, perbuatan itulah yang kelak akan ia terima dan alami (warisi) sendiri.
Melakukan kejahatan dengan senang hati, sebelum dan sesudah perbuatan, bahkan tanpa disesali, mengakibatkan karma buruk berbuah secara lebih lebat, ibarat menanam sebutir biji mangga, bertumbuh dan berbuah seribu buah mangga. Menanam cabai, tiga bulan akan panen. Menanam pohon jati, satu abad baru akan matang untuk berbuah hasilnya.
Sesederhana itu saja, prinsip dan cara kerja hukum karma. Tidak perlu meminta eksekutor untuk mengeksekusi, tidak perlu mengotori tangan sendiri untuk mengeksekusi sang pelaku, semua dikerjakan oleh hukum karma, tanpa diminta, tanpa digugat, tanpa dituntut, dan tanpa diperintah, dengan demikian efisien.
Sebagai penutup, tepat kiranya penulis kutipkan khotbah Sang Buddha berikut ini, untuk senantiasa kita renungkan bersama:
“Janganlah berbuat kejahatan,
Perbanyak perbuatan bajik yang baik dan benar,
Sucikan hati dan pikiran,
Itulah ajaran para Buddha.

“Semua makhluk,
Memiliki perbuatannya sendiri,
Mewarisi perbuatannya sendiri,
Lahir dari perbuatannya sendiri,
Berhubungan dengan perbuatannya sendiri,
Terlindung oleh perbuatannya sendiri.
Apapun perbuatan yang diperbuatnya,
Baik ataupun buruk,
Itulah yang akan diwarisi oleh si pelaku.

“Aku adalah pemilik perbuatanku sendiri,
Pewaris perbuatanku sendiri,
Lahir dari perbuatanku sendiri,
Berhubung dengan perbuatanku sendiri,
Terlindung oleh perbuatanku sendiri.

“Apapun perbuatan yang kuperbuat,
Baik atau buruk,
Itulah yang akan kuwarisi,
Demikianlah kerap kali patut kita renungkan.”
Sang Buddha mengajarkan para muridnya untuk bersikap ksatria terhadap berbagai perbuatannya sendiri, baik perbuatan besar maupun perbuatan kecil, untuk berani menanggung buah akibat perbuatannya—bukan mengandalkan dan memohon penghapusan dosa, sebuah iming-iming janji surgawi yang melenakan sekaligus merupakan pembodohan massal, mengakibatkan korban-korban tidak bersalah terus berjatuhan oleh mereka yang meyakini akan masuk surga sekalipun menyakiti makhluk hidup lainnya.
Karma adalah perbuatan, dalam Bahasa Pali sebagai “kamma” da dalam Bahasa Sanskrit / Sansekerta sebagai “Karma”. Sementara buahnya disebut sebagai “Vipaka”. Buah dari karma buruk, dengan demikian diistilahkan sebagai “akusala kamma vipaka”, dan buah dari perbuatan baik, disebut sebagai “kusala kamma vipaka”.
Sang Buddha, ketika difitnah dan disakiti, tidak pernah banyak bicara, apakah si pelaku ataukah Sang Buddha yang telah salah, meski jelas Sang Buddha sebagai korban orang-orang tidak bertanggung-jawab. Mengapa? Karena yang paling patut untuk merasa takut, ialah si pelaku kejahatan, yang sejatinya tengah menggali lubang kubur sendiri. Sama seperti nasib Devadatta yang ditelan oleh Bumi (dalam arti yang sesungguhnya) akibat perbuatannya yang menyakiti seorang Buddha.
Mereka yang benar-benar memahami prinsip kerja hukum karma, tidak pernah mau pusing atas sikap orang lain yang telah bersikap jahat terhadap kita, tidak juga gentar terhadap aksi “putar-balik fakta” demikian. Semua bekerja sebagaimana mestinya, itulah hukum karma. Tidak mau disakiti, jangan menyakiti. Ingin dihormati, maka hormatilah orang lain, sekalipun itu seekor makhluk kecil seperti seekor semut yang ringkih—karena mereka juga dapat merasakan sakit dan ingin berjuang hidup.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan