26 April, 2018

MENJADI SARJANA HUKUM MODERN & PROGRESIF

ARTIKEL HUKUM
DIFERENSIASI TALENTA PENYEDIA JASA LAYANAN KONSULTASI HUKUM
Dalam terminologi pendidikan, dikenal istilah “pedagogi”, yang bermakna seni atau kemampuan untuk “transfer of knowledge” yang disesuaikan dengan watak karakter para peserta didik. Karena masing-masing siswa sangat beragam dalam tingkat pemahaman serta latar belakang karakternya, ada yang cepat mencerap materi pelajaran juga ada yang membutuhkan banyak waktu dan usaha lebih keras, maka pendekatan pada masing-masing murid tentunya sangat beragam pula.
Jangan pernah membeli buku-buku yang ditulis oleh seorang jenius, karena penulisnya tidak pernah paham kesukaran yang selama ini dihadapi oleh siswa-siswa yang tidak jenius—demikian orang bijak berpesan, kecuali bila Anda seorang siswa jenius. Bacalah karya-karya tulis yang ditulis oleh seseorang yang bertipe pekerja keras untuk mencapai keberhasilan.
Jangan dimaknai bahwa semua guru maupun dosen memahami seni pedagogi meski telah puluhan tahun mengajar. Yang ada ialah siksaan bagi peserta didik karena tidak mampu memahami pelajaran, merasa bodoh, disebut dungu, atau bahkan hampir mati karena rasa bosan dan jemu. Tidak ada siswa yang keliru, yang ada ialah guru yang gagal untuk memahami murid dan membimbing lewat pendekatan tersendiri ataupun lewat teladan yang nyata.
Itulah postulat ilmu pendidikan, yang sayangnya banyak diketahui namun tidak pernah dipraktikkan dalam dunia pendidikan di Tanah Air. Para siswa berotak cemerlang, lebih banyak belajar sendiri secara otodidak, daripada harus mengandalkan guru-guru mereka yang tidak progresif dan bahkan tidak mampu memahami bakat dan talenta sang siswa cemerlang.
Tentu kita juga pernah menyaksikan suatu tutorial, dimana substansi toturial ialah perihal komponen perangkat elektronik tertentu. Meski antar tutorial yang dibawakan oleh tutor yang berbeda adalah seputar cara kerja komponen elektronika yang sama, namun ternyata cara menyajikan dan cara menjelaskan masing-masing tutor adalah khas dengan seni dan pendekatan yang berbeda satu sama lain.
Bagi pembelajar awam dibidang rangkaian sirkuit elektronika, mungkin tutor yang menyampaikan terlampau cepat akan dinilai kurang baik dalam menyajikan dan menguraikan tutorial, sehingga sukar dipahami, namun bagi pembelajar yang telah tingkat advance, akan tampak sebagai cara penyajian tutor yang cukup ideal. Masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan.
Namun demikian, dapat disebutkan bahwasannya sebagian besar pengakses tutorial ialah orang-orang yang memang awam dibidang elektronika, sehingga dapat dipastikan tutor yang paling populer ialah tutor yang menyajikan tutorial yang “user friendly for dummies / newbie”.
Seni yang dimaksud oleh penulis, ialah tidak lain tidak bukan kemampuan untuk menyajikan apa yang rumit dan kompleks, dalam bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti oleh orang paling awam sekalipun. Menjadi pertanyaan introspektif, mengapa karya sastra di Indonesia, cenderung kurang populer ditengah niat baca masyarakat Indonesia yang relatif cukup baik ini, mengingat wajib belajar telah menyentuh pedesaan dan pelosok-pelosok Tanah Air, dimana yang paling laku justru ialah novel kisah melodrama yang ringan dan berbahasa “renyah”?
Patut ditengarai, karya sastrawan dalam karya tulisnya kerap diwarnai “kecentilan” intelektual lewat penggunaan berbagai terminologi Bahasa Indonesia yang jarang dikenal masyarakat umum, mungkin sekedar bermaksud tampak keren atau agar kelihatan mewah dalam penggunaan pembendaharaan kata, atau setidaknya agar terkesan intelek.
Apa yang terjadi kemudian? Berbagai karya sastra demikian tampak memiliki jarak dengan para pembacanya. Alhasil, para pembaca potensialnya hanyalah kalangan internal para sastrawan itu sendiri. Sebuah dunia yang sempit dan ter-cluster. Mengapa karya Karl Marx dan Engels selaku pencetus ideologi Marxisme / Komunisme, dianggap kurang cukup progresif meski dinilai sebagai karya intelektual brilian yang jenius, bahkan hingga di era kontemporer dikala pemodal kian menguasai sendi-sendi ekonomi rakyat lewat aksi kartel harga, monopoli, dan persaingan usaha tidak sehat lainnya?
Tidak lain karena penggunaan berbagai terminologi dan pendekatan telaah bahasan yang sukar dipahami oleh kalangan buruh (proletar). Karya-karya Marx justru lebih banyak dikonsumsi oleh kalangan Borjuis—suatu fakta empirik yang ironis sekaligus bagai komedi putar. Marx menulis karya besarnya perihal ideologi Marxisme untuk kepentingan Proletar, namun disaat bersamaan menggunakan berbagai pendekatan telaah yang tidak akan mampu dipahami para buruh miskin yang kurang dari segi pendidikan ataupun penguasaan konsep abstrak maupun perbendaharaan kata terlebih dibidang dasar ilmu filsafat. Para kapitalis yang selama ini justru membaca karya tulisnya seraya terkekeh.
Tentu kita juga pernah menyaksikan pertunjukkan suara penyanyi yang hanya meniru intonasi maupun suara penyanyi-penyanyi tenar sebelumnya. Meski memiliki suara yang indah dan memukau, namun sang penyanyi tidak dapat bersinar atau mengorbit secara optimal, tidak lain karena “tidak original”, hanya sekadar tiruan belaka dari penyanyi tenar lain—sampai kapan pun nasibnya hanya sekadar replika yang dapat digantikan oleh replika lain. Otentikasi sama pentingnya dengan pendekatan itu sendiri, disamping wadah untuk menuangkan karya dan talenta yang tidak kalah pentingnya.
Kini, kita masuk dalam pokok bahasan sentral dari artikel singkat ini. Secara statistik, mungkin lulusan perguruan tinggi yang paling besar di Tanah Air, ialah dicetaknya ribuan Sarjana Ekonomi disamping Sarjana Hukum. Sementara lapangan pekerjaan bagi kalangan Sarjana Hukum sangat terbatas jumlahnya—bandingkan analogi berikut: Sebuah perusahaan, membutuhkan banyak tenaga marketing dan akuntan, namun belum tentu perusahaan sebesar itu membutuhkan seorang pun Sarjana Hukum—sementara suplai angkatan kerja berlatar belakang Sarjana Hukum terus dicetak setiap tahunnya, dengan bekal kemampuan seadanya yang bahkan tidak siap pakai oleh dunia kerja.
Diantara derasnya pasokan Sarjana Hukum, ditambah sempitnya segmen pasar yang dapat dimasuki oleh penyedia jasa dibidang hukum, mengakibatkan inovasi menjadi kata kunci untuk mampu bertahan (survive) dalam menyikapi timpangnya antara supply dan demmand. Selama ini kalangan profesi pengacara menjual jasanya dengan mengusung brand: “Selalu menang dalam gugatan, dan tidak pernah terkalahkan di pengadilan”—sehingga tidak heran “by all means” alias menggunakan segala cara untuk menang demi meningkatkan reputasi sang advokat di mata publik.
Namun bukanlah itu tantangan paling utama yang akan penulis bahas. Saat kini, di era kemajuan digitalisasi yang demikian derasnya akibat dari era keterbukaan keran informasi publik dan dunia maya, berbagai peraturan perundang-undangan dapat diakses dengan mudahnya oleh seseorang yang bukan berlatar belakang Sarjana Hukum sekalipun. Bayangkan, jika seorang Sarjana Hukum mencoba menjual jasa layanan hukumnya sebagai seorang konsultan, namun hanya bermodal “hafal undang-undang”, maka apa yang akan terjadi selain sekadar menjadi fosil yang membatu?
Sarjana Hukum yang progresif dan inovatif, tidak perlu takut akan segala kemajuan teknologi informasi demikian, karena undang-undang selalu mengandung bahasa tertulis yang tidak sempurna, tidak lengkap, saling tumpang-tindih dengan regulasi lain, disamping tidak mengandung konteks yang spesifik, hingga mengandung berbagai bahasan yang sukar dipahami oleh orang awam.
Dapat dipastikan, sebagian besar pengguna jasa hukum, tidak lain adalah warga negara yang awam dibidang hukum—bila mereka paham hukum, maka mereka sudah menempuh upaya hukum secara swadaya dan mandiri—sehingga “target market” yang disasar, ialah mereka yang bahkan tidak paham akan terminologi hukum apapun, terlebih perihal asas-asas hukum, ataupun konsepsi perihal cara bekerjanya hukum baik sistematika maupun aplikasinya dalam praktik.
Ciri khas dalam pendekatan dalam menelaah, menjadi kunci ditengah kian ketatnya persaingan jasa dibidang layanan hukum, terutama bagi mereka yang berkecimpung dibidang jasa profesi Konsultan Hukum (Legal Consultant). Ada yang menspesialisasi dibidang layanan hukum secara murah-meriah, namun ada juga yang menawarkan jasanya sebagai suatu karya seni bagai karya seorang seniman (menyusun kontrak, gugatan, somasi, perjanjian kerja, dsb, dibutuhkan cita-rasa seni tersendiri). Ada juga yang menjadikan ujung tombak jasanya dibidang layanan riset dan perizinan usaha (yang sejatinya kian mudah diakses publik secara mandiri diera online ini maupun kontrak yang kian menjelma stadard kontrak baku).
Diatas semua itu, terdapat skill unik tertentu yang tidak dapat tergantikan oleh kecanggihan teknologi, tidak juga mampu digantikan oleh penyedia jasa layanan hukum lainnya, yakni kemampuan untuk membuat “yang rumit menjadi tampak simpel dan mudah dicerna serta dipahami oleh klien yang awam hukum sekalipun”.
Berhadapan dengan klien dari latar belakang Buruh, dan ketika berhadapan dengan klien dari latar belakang Pengusaha, tentu membutuhkan pilihan kosakata dan pendekatan yang berlainan. Tidak ada metode yang dapat dipakai secara “pukul rata”. Hal itulah tepatnya yang perlu diadopsi para Sarjana Hukum perihal seni “pedagogi”.
Sampai kapanpun, profesi hukum tidak akan ada habisnya dan tidak akan ada matinya bagi Sarjana Hukum yang memiliki jiwa “seni” bercita-rasa tinggi dan tidak menyerah terhadap segala keterbatasan yang melingkupi praktik hukum. Sebaliknya, era kemajuan teknologi akan menjadi titik mula kematian bagi para Sarjana Hukum yang hanya mampu menawarkan jasa layanan secara ditingkat rata-rata, ditengah ketimpangan antara kebutuhan pasar dan pasokan Sarjana Hukum yang terus dicetak setiap tahunnya.
Yang paling cepat tewas, tentunya ialah Sarjana Hukum yang “palugada”—alias “apa (yang) elu mau, gua ada”. Sarjana Hukum demikian terlampau tamak untuk menguasai setiap disiplin ilmu hukum yang mustahil dikuasai semuanya. Ibarat dokter umum dan dokter spesialis, selalu pasien akan me-refer atau di-refer pengobatan penyakitnya pada dokter spesialis. Bersikukuh menjadi Sarjana Hukum “palugada”, sejatinya mempercepat kematian klien maupun dirinya sendiri.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Kepastian Hukum Bertopang pada Daya Prediktabilitas Paling Minimum dalam Hukum (PREDICTABILITY)

Foto saya

Trainer & Legal Consultant SHIETRA & PARTNERS didirikan tahun 2013, penyedia jasa konsultasi hukum spesialis preseden / yurisprudensi pertama dan satu-satunya di Indonesia, dibidang perdata maupun pidana. Berkomitmen sebagai profesional dalam setiap layanan jasa hukum, dengan tetap memegang teguh idealisme dan etika profesi.

HANYA PEMBELI EBOOK SERTA KLIEN PEMBAYAR TARIF YANG BERHAK ATAS INFORMASI YANG BENAR (Kami juga butuh makan nasi).
Kebenaran ulasan hukum dalam website, TIDAK DIJAMIN (bisa jadi benar, bisa jadi tidak, hanya penulisnya sendiri yang paling mengetahui). Hanya Klien dalam Sesi Konsultasi dan bahasan dalam eBook, yang kami berikan opini dan data yang terjamin kebenarannya. Pahami, bahwa kami sedang mencari nafkah. Bukan sebagai Klien Pembayar Tarif Jasa maupun bukan sebagai pembeli eBook yang kami jual, resiko ditanggung Anda sendiri selaku pengunjung websiteSyarat & Ketentuan Layanan, lihat TARIF KONSULTASI.

PERINGATAN : (Bila Anda bisa mendapat nomor kontak / email kami, berarti Anda pasti telah membaca peringatan tegas berikut)
HANYA KLIEN PEMBAYAR TARIF JASA YANG BERHAK MENCERITAKAN MASALAH / MENGAJUKAN PERTANYAAN HUKUM. Pelanggar akan dikenakan sanksi BLACKLIST. Peringatan tersebut sudah sangat jelas dan tegas. Tidak akan kami tolerir sikap dari pihak-pihak yang mendalilkan tidak membaca atau tidak memahami peringatan yang sudah sedemikian tersurat.

Bagi yang berminat mengakses ribuan konten artikel kami (akses full database), pada website khusus terpisah yang kami jamin kebenaran datanya, disediakan layanan MEMBERSHIP. Tersedia untuk bulanan maupun tahunan. Konsultan Shietra juga menyediakan jasa LEGAL ASSESSMENT bagi korporasi.

Bagi yang membutuhkan layanan jasa penulisan, kami menyediakan jasa CONTENT WRITER. Sementara yang membutuhkan jasa Training atau layanan Tutorial Hukum bagi klien korporasi, kami menyediakan PELATIHAN.

Besar kemungkinan ulasan / materi publikasi dalam website, telah kadaluarsa akibat perubahan regulasi, atau pembiasan fakta penting yang kami sengajakan. Informasi serta opini hukum yang Benar dan Terjamin, hanya menjadi Hak Istimewa klien pembayar tarif ataupun pembeli eBook yang kami jual. Anda sendiri yang menanggung resikonya tanpa diagnosa fakta hukum dan analisa yang memadai oleh konselor untuk berdialog / mereview dokumen terkait masalah hukum.

Hukum sensitif detail, terbuka beragam skenario peluang atau kemungkinan yang dapat terjadi hanya karena faktor perbedaan detail fakta hukum, opsi langkah mitigasi, serta setiap resiko upaya hukum yang mungkin berimplikasi. Tidak ada perkara yang seragam untuk dapat diprediksi hasilnya, kecuali melalui sesi konsultasi secara intens / privat. Menyesal tiada guna, bila Anda gagal mengantipasi bahkan masalah menjelma "benang kusut", akibat salah penanganan oleh yang bukan ahli dibidangnya.

Kecerobohan pembaca memaknai ulasan hukum dalam website, dapat berakibat FATAL. Terhadap materi publikasi dalam website, don't try this at home, kecuali Anda berdialog langsung dengan penulisnya dalam sesi konsultasi secara privat.

Tidak bersedia membayar tarif jasa, mengharap "selamat" dan meminta "dilayani"? Hargai profesi kami, sebagaimana profesi Anda sendiri hendak dihormati. Pihak-pihak yang menyalah-gunakan nomor telepon, email, maupun formulir kontak kami, berlaku sanksi. Sadari, selain klien pembayar tarif, maka masalah Anda bukanlah urusan kami.

Manusia beradab menjunjung sikap Resiprositas, Prinsip TIMBAL-BALIK. Seorang pengemis tidak pernah memiliki masalah hukum, terlebih masalah tanah atau masalah tenagakerja, dan pengemis tidak mencari makan dengan merampok nasi dari piring milik profesi orang lain. Pasal 28D Ayat (2) Undang-Undang Dasar RI 1945: "Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan." Tidak ada kewajiban bagi kami untuk diganggu, dan Anda tidak punya hak untuk mengganggu waktu kami. Ada HAK, maka ada KEWAJIBAN.

Ada Harga, ada Barang. Ada Tarif, ada Jasa. Masalah hukum tidak berbeda dengan "penyakit". Tidak ada satu orang pun yang dengan senang hati bersentuhan dengan "penyakit" milik orang lain, tanpa kompensasi. Karena itu adalah wajar jasa kami dibayar "mahal". Sedia "payung" sebelum "hujan", dan kami menyediakan "payung hukum" untuk Anda berlindung.

Adalah tidak waras, mengambil sesuatu tanpa membayar dari sebuah toko, itu namanya MENCURI. Sama tidak etisnya, mengharap dilayani & menyita sumber waktu kami yang terbatas, meminta data / informasi hukum hasil kerja keras kami, memohon ilmu hasil pengorbanan waktu dan biaya kami, namun tanpa mau membayar sejumlah kompensasi, itu namanya MERAMPOK NASI DARI PIRING KAMI, terlebih sengaja melanggar ketentuan website bahkan menyalahgunakan nomor kontak kami dengan berpura-pura tidak mengetahui bahwa kami sedang mencari nafkah.

Kami pun berhak untuk berdagang jasa dan mencari nafkah! Kantor Virtual kami ini adalah kantor hukum komersiel. Ribuan ID pelanggar telah kami publikasi dalam laman BLACKLIST akibat setiap harinya selalu saja ada pelanggar yang menyalahgunakan nomor kontak / email kami dan melanggar syarat & ketentuan website ini. Kami menyebutnya sebagai "manusia Sampah" yang secara vulgar telah melanggar namun mengharap dilayani?!

-------
Hukum adalah ilmu tentang "prediksi" (diluar itu artinya "spekulasi")Konsultan Hukum SHIETRA & PARTNERS: Jl. HR. Rasuna Said. Kawasan Epicentrum Utama, EPIWALK, Office Suite Lantai 5 Nomor A529, Kuningan, Jakarta Selatan, 12940, Indonesia.

Terdapat ribuan konsultan hukum kompetitor kami, namun hanya ada satu orang Konsultan ShietraMenjual jasa layanan konsultasi secara tatap muka maupun secara virtual via online.
Pendaftaran KLIEN: (Wajib terlebih dahulu memperkenalkan diri dan menyatakan kesediaan membayar tarif layanan yang berlaku. Bila syarat mutlak tersebut tidak diindahkan, maka telepon ataupun pesan Anda akan kami nilai sebagai spam, tidak akan kami respon)
  • Telepon: 021-568 2703.
  • Fax: 021-560 2810.
  • Whatsapp: 08888-9195-18. (Seluruh nomor kontak dan alamat email profesi kerja kami ini, hanya diperuntukkan untuk PENDAFTARAN KLIEN PEMBAYAR TARIF. Menyalahgunakan nomor kontak / email kami untuk tujuan lain, berarti pelanggaran yang akan kami jatuhi sanksi. Pahami betul-betul Etika Komunikasi Anda saat mencoba menghubungi kami)
  • Email: konsultasi@hukum-hukum.comhery.shietra@gmail.com

KONSULTAN HUKUM SHIETRA. Kami LEBIH dari sekadar mengutip bunyi Undang-Undang, Hukum yang REAL.

KONSULTAN HUKUM SHIETRA. Kami LEBIH dari sekadar mengutip bunyi Undang-Undang, Hukum yang REAL.
HR. Rasuna Said. Kawasan Epicentrum Utama, EPIWALK Nomor A529, Kuningan, Jakarta. TEKAN GAMBAR UNTUK MENGHUBUNGI KAMI

eBook PERBUATAN MELAWAN HUKUM

eBook PERBUATAN MELAWAN HUKUM
Mengupas Kaedah-Kaedah Manarik PERBUATAN MELAWAN HUKUM