Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Sengketa Tanah Tanpa Sertifikat

LEGAL OPINION
Question: Yang sering terdengar selama ini kan, orang bisa sengketa gugat-menggugat tanah di pengadilan, kalau ada sertifikat tanahnya. Namun gimana jika kepunyaan tanah itu tidak ada sertifikat tanahnya? Jika ada orang yang serobot tanah, tapi tanah itu tidak ada sertifikatnya, apa bisa orang yang menyerobot itu digugat ke pengadilan? Bagaimana nanti cara membuktikan, bahwa memang kami yang berhak atas tanah itu?
Brief Answer: Tidak ada relevansi hukum antara apakah bidang tanah telah bersertifikat atau belum, karena stelsel pemilikan dalam hukum agraria nasional tidak bertumpu semata pada sertifikat hak atas tanah sebagai bukti kepemilikan. Sebaliknya, kerap dijumpai praktik tanah absentee / guntai, dimana pemegang hak atas tanah justru tidak menggarap juga tidak menempati bidang tanah secara de facto.
PEMBAHASAN:
Terdapat sebuah ilustrasi konkret, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS rujuk pada putusan Mahkamah Agung RI sengketa tanah register Nomor 3271 K/Pdt/2015 tanggal 25 Mei 2016, perkara antara:
- ULLU Bin PAKKITA, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Tergugat; melawan
- IBRAHIM, selaku Termohon Kasasi dahulu Penggugat.
Bidang tanah yang menjadi objek sengketa adalah milik dari pada almarhum Keleng Bin Beddu (masih budel warisan). Penggugat merupakan salah satu ahli waris dari pada almarhum Keleng Bin Beddu. Pada mulanya objek sengketa dikerjakan dan dikuasai oleh almarhum Keleng Bin Beddu sebelum meninggal dunia dengan cara membuka lahan objek sengketa.
Setelah meninggalnya almarhum Keleng Bin Beddu sekitar tahun 1976 maka, objek tanah dilanjutkan dikerjakan oleh anaknya (Penggugat) sampai dengan tahun 1996, karena pada tahun itu Tergugat memasuki dan menggarap objek tanah dengan cara menyerobot masuk.
Karena Tergugat memasuki dan menguasai objek sengketa tanpa memperdulikan Penggugat dan ahli waris almarhum Keleng Bin Beddu lainnya, sehingga dinilai merupakan Perbuatan Melawan Hukum. Penggugat telah berupaya untuk menempuh jalan damai dengan cara kekeluargaan dengan Tergugat, akan tetapi tidak berhasil, maka gugatan ini diajukan ke Pengadilan, dengan salah satu pokok permohonan yang penting, yakni permintaan agar: apabila ada surat-surat seperti sertifikat tanah yang terbit atas objek sengketa atas nama Tergugat atau pihak lain, dinyatakan tidak berlaku atau tidak mengikat.
Oleh karena Tergugat tidak berhak atas tanah objek tanah, agar pengadilan memerintahkan kepada Tergugat dan siapa saja untuk menyerahkan objek sengketa kepada Penggugat salah satu ahli waris dari almarhum Keleng Bin Beddu dalam keadaan kosong. Singkatnya agar Tergugat menyerahkan tanah objek sengketa kepada Penggugat dalam keadaan kosong.
Terhadap gugatan Penggugat, Pengadilan Negeri Sidenreng Rappang kemudian menjatuhkan putusan sebagaimana tertuang dalam register Nomor 12/Pdt.G/2014/PN.SIDRAP tanggal 12 November 2014, dengan pertimbangan serta amar sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa Kelle Beddu in casu Penggugat telah menguasai objek sengketa selama 20 tahun berturut turut sejak 1975 sampai tahun 1996 tanpa ada keberatan ...;
MENGADILI :
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan Penggugat adalah ahli waris daripada almarhum Kelleng Bin Beddu;
3. Menyatakan tanah objek sengketa: 1 (satu) petak tanah persawahan dengan luas 3100 m² dikenal dengan nama Lompo Laupe yang terletak di Jalan ... dengan batas-batas sebagai berikut: ... Adalah milik daripada almarhum Keleng Bin Beddu (budel waris);
4. Menyatakan bahwa perbuatan Tergugat menguasai tanah objek sengketa adalah tidak sah dan merupakan perbuatan melawan hukum;
5. Menyatakan segala bentuk surat-surat yang terbit atas objek sengketa yang terbit atas nama Tergugat maupun pihak siapa saja tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat terhadap objek sengketa;
6. Menghukum kepada Tergugat atau siapa saja yang memperoleh hak dari padanya untuk menyerahkan tanah objek sengketa kepada Penggugat sebagai ahli waris dalam keadaan kosong, serta bebas dari perikatan hukum diatasnya, kalau perlu dengan alat kekuatan Negara, kemudian menyerahkan kepada Penggugat;
7. Menghukum Tergugat untuk membayar segala biaya yang timbul sehubungan dengan adanya gugatan ini dan hingga kini ditaksir sebesar Rp1.294.000,00;
8. Menolak gugatan Penggugat untuk selebihnya.”
Dalam tingkat banding atas permohonan Tergugat, putusan Pengadilan Negeri diatas kemudian dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Makassar dengan Putusan Nomor 72/PDT/2015/PT.MKS tanggal 27 Mei 2015, dengan pertimbangan hukum sebagai berikut:
“Menimbang bahwa alat bukti Penggugat yaitu alat bukti surat diberi tanda P.1 Foto copy surat tanda terima setoran (STTS), an. Kile Beddu, P.2 Foto copy Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi Dan Bangunan tahun 2013, an. Kile Beddu, P.3 Foto copy Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi Dan Bangunan tahun 2013, an. Kile Beddu, P.1 Foto copy Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi Dan Bangunan tahun 2009, an. Kile Beddu menerangkan bahwa pajak tanah terdaftar atas nama Kile Beddu dan telah dibayarkan pajaknya, oleh karenanya Majelis Hakim hanya memperoleh fakta hukum tentang pembayaran pajak atas objek sengketa yang terdaftar atas nama Kille Beddu;
“Menimbang bahwa saksi Darwis menerangkan bahwa pada tahun 1975 ayah Penggugat yang bernama Kelleng Beddu, pernah menyerahkan sawah objek sengketa kepada ayah saksi yang bernama lapa untuk digarap dengan syarat bagi hasil dan saksi ikut membantu ayah saksi menggarap sawah tersebut dan pada tahun 1976, karena ayah saksi tidak sanggup lagi bekerja sawah objek sengketa tersebut dikembalikan kepada Kelle Beddu dan pada tahun 1996 Tergugat masuk dan menggarap sawah tersebut.”
Tergugat mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, ternyata putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi ULLU Bin PAKKITA tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi ULLU Bin PAKKITA tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan