Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Fungsi Nomor Letter C dan Persil dalam Sertifikat Tanah

LEGAL OPINION
Question: Di sertifikat tanah kami, ada tercantum nomor letter C dan persil. Fungsinya apa? Kok di sertifikat tanah BPN ini, ada istilah “Letter c” segala? Bukannya antara girik dan sertifikat. itu beda?
Brief Answer: Sertifikat yang “alas haknya” berangkat dari penguasaan secara fisik selama sekian tahun tertentu terhadap tanah girik, maka para pemegangnya memiliki hak prerogatif dapat meningkatkan statusnya lewat permohonan pencatatan hak atas tanah ke hadapan Kantor Pertanahan setempat, sehingga ketika terbit Sertifikat Hak Atas Tanah, surat girik tanah itulah yang menjadi salah satu bagian dari “warkah tanah” terkait penerbitan sertifikat hak atas tanah yang dimohonkan oleh yang bersangkutan.
Fungsi utama tetap dicatatkannya nomor petok “Letter C” serta persil, tidak lain untuk tata arsip pemetaan tanah yang secara real dipetakan oleh buku tanah dan peta tanah pada masing-masing kantor kelurahan maupun kantor kepala desa setempat. Nomor-nomor itulah yang pada tepatnya akan menunjuk titik-titik batas tertentu suatu bidang tanah, sebagaimana tercatat dan dipetakan pada peta tanah kantor desa, guna mengetahui pemilik serta batas-batas kapling bidang tanah.
Surat ukur Kantor Pertanahan sebagaimana tertuang dalam surat ukur sertifikat hak atas tanah, pada dasarnya merupakan verifikasi lapangan atas peta bidang tanah yang tercatat di Kantor Desa. Dengan demikian, menjadi tidak mengherankan bila surat girik sekalipun, memiliki juga surat ukur, yang dibuat berdasarkan nomor petok Letter C dan nomor persil.
PEMBAHASAN:
Sementara untuk memahami perbedaan antara nomor “Letter C” dan nomor persil, untuk lebih mudahnya SHIETRA & PARTNERS akan merujuk pada putusan Mahkamah Agung RI sengketa tanah register Nomor 1338 K/Pdt/2015 tanggal 22 September 2015, perkara antara:
- SAIMIN, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Penggugat; melawan
1. RIWANI AL. BU LILIK; 2. MARIONO; 3. ZAENAL AL. SENOL, selaku Para Termohon Kasasi dahulu Para Tergugat.
Penggugat mengklaim sebagai pemilik sebidang tanah girik sebgaimana tercatat persil 157, Petok Nomor 1352, Klas D.IV, luas ± 529 M², atas nama G. Saimin. Mulanya pada Tahun 1973, tanah tersebut pernah ditempati oleh Tergugat I bersama suami dan anaknya, yaitu Tergugat II dan III dengan dasar numpang karang untuk sementara, dengan janji sewaktu-waktu diperlukan akan akan dikembalikan kepada Penggugat tanpa syarat apapun.
Karena sekarang ini Penggugat memerlukan tanah tersebut, maka Penggugat pada tahun 2012 meminta kembali bidang tanah kepada Tergugat I, akan tetapi Tergugat I dan atau para Tergugat tidak mau menyerahkan objek tanah, dengan alasan tanah sengketa tersebut telah dibeli. Penggugat menyimpulkan, perbuatan para Tergugat dengan tidak mau menyerahkan dan tetap penguasan tanah sengketa tersebut adalah merupakan perbuatan melawan hukum.
Sementara pihak Tergugat dalam sanggahannya membantah, bahwa perkara yang diajukan oleh Penggugat dalam perkara ini merupakan perkara waris atas harta peninggalan dari almarhum P. Sa’dima dan B. Sa’dima. Dalam perkara ini, yang menjadi obyek sengketa yaitu sebidang tanah seluas ± 529 M² (dari luas 0.305 da) Petok C Nomor 1352, Persil 157, D.IV.
Objek tanah merupkan harta peninggalan dari almarhum P. Sa’dima dan Bu Sa’dima yang sampai saat ini masih belum terbagi waris, dimana obyek sengketa tersebut adalah sebagian dari harta peninggalan almarhum dan almarhumah P. Sa’dima dan B. Sa’dima yang semula tercatat dan terdaftar dalam Buku Desa Letter C, Nomor 890, Persil 157 D.IV/luas ± 3.050 M², atas nama P. Sa’dima Riko.
Terhadap gugatan tersebut Pengadilan Negeri Jember kemudian menjatuhkan Putusan Nomor 128/Pdt.G/2013/PN.Jr., tanggal 8 Mei 2014, dengan pertimbangan serta amar sebagai berikut:
“Menimbang bahwa dalam gugatan yang diajukan oleh kuasa insidentil Penggugat dalam positanya didalilkan bahwa Penggugat memiliki sebidang tanah terletak di Dusun Lamparan, Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember tercatat dalam persil 157, Petok C. Nomor 1352, Kelas D.1, luas kurang lebih 529 M² (dari luas 0,305 da) atas nama G. Saimin (Penggugat) dengan batas-batas: Utara Jalan; Selatan: Rumah B. Julls/B. Arip; Timur: Rumah P. No/P. Roy dan Barat Jalan;
“Menimbang bahwa dari dalil tersebut diperoleh fakta. bahwa Penggugat tidak menjelaskan obyek sengketa tersebut dari siapa dan bagaimana cara perolehannya dan sejak tahun berapa Penggugat memperoleh obyek sengketa;
“Menimbang bahwa dari bukti-bukti surat yang diajukan oleh kuasa Penggugat ketiganya adalah merupakan surat yang dikeluarkan oleh Kantor Pajak baik itu daftar keterangan obyek untuk Ipeda Pedesaan tertanggal 23 September 1983, surat dari Kantor Inspeksi PBB Jember yang menjawab surat dari Penggugat maupun laporan survey yang dilakukan oleh Kantor Pajak dan bukan merupakan bukti sah atas kepemilikan Penggugat atas obyek sengketa. Semuanya hanya bukti untuk pajak Ipedanya saja;
“Menimbang, bahwa dari surat bukti P-I dan P-2 diperoleh fakta yang janggal, dimana dalam satu C Desa terdapat 2 (dua) nomor Persil yaitu Letter C. Nomor 1352 atas nama G. Saimin terdapat Persil 151 dan Persil 157, keduanya berupa tanah darat;
“Menimbang bahwa dalam bidang hukum pertanahan, Letter C adalah bagian dari persil, karena Letter C adalah menunjukkan siapa pemiliknya atau yang menguasai tanah tersebut, sedangkan persil adalah menunjukkan dimana blok tanah tersebut letaknya. Persil terdiri atas banyak Letter C, kebalikannya Letter C hanya ada 1 untuk 1 tanah;
“Menimbang bahwa dengan demikian maka diperoleh fakta hukum bahwa obyek sengketa yang seluas kurang-lebih 529 M² merupakan bagian dari tanah yang masih milik Sa'dima Riko seluas 3.050 M², dan Penggugat telah menutupi tentang peroleh obyek sengketa tersebut;
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara:
- Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya.”
Dalam tingkat banding atas permohonan Penggugat, putusan Pengadilan Negeri diatas kemudian dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Surabaya dengan Putusan Nomor 364/PDT/2014/PT.SBY., tanggal 21 Februari 2014. Penggugat mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa alasan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena setelah memeriksa secara seksama memori kasasi dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti dalam hal ini putusan Pengadilan Tinggi Surabaya tidak salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
“Bahwa Tergugat adalah cucu dari pemilik asal tanah obyek sengketa dan telah pula memberikan ganti-rugi kepada Penggugat, sehingga Tergugat bukan menumpang akan tetapi adalah pemilik atas tanah obyek sengketa;
“Bahwa oleh karena tanah obyek sengketa adalah milik Tergugat maka pertimbangan dan putusan Judex Facti (Pengadilan Negeri / Pengadilan Tinggi) dipandang tepat;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, ternyata putusan Judex Facti / Pengadilan Tinggi Surabaya dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau Undang Undang, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi SAIMIN tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi SAIMIN tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan