Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Anjuran Mediator Disnaker Bersifat Personal, Orang-Perorangan Pekerja Pelapor

LEGAL OPINION
Question: Mediasi perundingan tripartit di Disnaker (Dinas Tenaga Kerja), bisa memakan waktu berbulan-bulan, sementara kondisi saat ini sudah di-PHK. Untuk hemat waktu, agar bisa segera mengajukan gugatan ke PHI (Pengadilan Hubungan Industrial), apa boleh pakai Surat Anjuran Disnaker yang dipunyai mantan pekerja lain, karena masalah hukumnya sama, antara para pekerja yang sebelumnya telah di-PHK dan kasus yang kini saya alami?
Brief Answer: Perundingan Bipartit masih dimungkinkan untuk seketika dilompati menuju perundingan Tripartit, namun risalah mediasi yang diperantai Mediator Disnaker, menjadi prasyarat mutlak sebelum para pihak dapat bersengketa di Lembaga Penyelesaian Perselisihan Industrial, yakni risalah sengketa antara Penggugat dan Tergugat, bukan risalah yang ditujukan bagi pekerja lainnya—sekalipun isu hukum yang melatar-belakanginya serupa. Anjuran Mediator Disnaker bersifat individual sekaligus personal pihak-pihak yang saling bersengketa.
PEMBAHASAN:
Sebagai ilustrasi konkret, terdapat cerminan kasus yang menjadi rujukan SHIETRA & PARTNERS, sebagaimana tertuang dalam putusan Mahkamah Agung RI sengketa hubungan industrial register Nomor 767 K/Pdt.Sus-PHI/2016 tanggal 29 September 2016, perkara antara:
- PT. TITANI ALAM SEMESTA, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Tergugat; melawan
1. PARTINI; 2. TASRI, selaku Para Termohon Kasasi dahulu Para Penggugat.
Penggugat merupakan Pekerja pada perusahaan Tergugat, namun Penggugat sudah merasa tidak dapat melakukan pekerjaan secara maksimal disebabkan kondisi fisik yang menurun, karena sudah memasuki usia yang wajar untuk pensiun, yang tidak lagi produktif dalam melakukan pekerjaan.
Penggugat mengajukan pensiun secara tertulis kepada Tergugat, dimana Tergugat memberikan tanggapan, bahwa untuk masalah usia pensiun masih menunggu keputusan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang sampai dengan saat ini masih dalam proses penyelesaian.
Dikarenakan PKB di PT. Titani Alam Semesta masih dalam proses dan berdasarkan PKB PT. Titani Alam Semesta periode 2002-2004, terdapat pengaturan dalam Pasal 11 ayat (8) yang mengatur bahwa batas usia pensiun adalah 55 tahun, dan Pasal 40 ayat (3) yang menyatakan:
“Pada saat Perjanjian Kerja Bersama (PKB) ini habis masa berlakunya sementara perjanjian yang baru belum disahkan, Pimpinan Unit Kerja (PUK) dan Pengusaha sepakat untuk tetap menggunakan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) ini sampai tersusunnya Perjanjian Kerja Bersama yang baru.”
Penggugat mendalilkan pula, Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik pernah menerbitkan Surat Anjuran tertanggal 2 Oktober 2014, dengan substansi Ajuran: “Agar perusahaan mem-PHK para pekerja yang telah berusia 58 tahun dan memberikan hak-hak pekerja sesuai dengan Pasal 167 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Ketenagakerjaan.”
Sementara pihak Pengusaha dalam sanggahannya mendalilkan, pengajuan gugatan Penggugat tidak memenuhi syarat dengan alasan-alasan sebagai berikut:
- berdasarkan ketentuan Pasal 83 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, disebutkan bahwa: “Pengajuan gugatan yang tidak dilampiri Risalah penyelesaian melalui Mediasi atau Konsiliasi, maka Hakim Pengadilan Hubungan Industrial wajib mengembalikan gugatan kepada Penggugat.”
- dalam perkara ini, memang Para Penggugat telah melampirkan Risalah penyelesaian melalui Mediasi sebagaimana Surat Anjuran Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik tertanggal 2 Oktober 2014, namun Surat Anjuran Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik tersebut bukan risalah penyelesaian melalui Mediasi terhadap perselisihan hubungan industrial antara Partini dan Tasri (Para Penggugat) dengan PT. Titani Alam Semesta (Tergugat), oleh sebab: ditinjau dari tanggal surat pengajuan pensiun oleh Para Penggugat (tanggal 2 Oktober 2014), maka dapat dipastikan bahwa Anjuran Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik tertanggal 2 Oktober 2014, bukan merupakan risalah penyelesaian melalui Mediasi atas perselisihan hubungan industrial antara Partini dan Tasri (Para Penggugat) dengan PT. Titani Alam Semesta (Tergugat), karena surat Anjuran Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik tertanggal 2 Oktober 2014 ada terlebih dahulu (tanggal 2 Oktober 2014), sedangkan Surat Pengajuan PHK baru diajukan Para Penggugat pada tanggal 18 Agustus 2015.
Karena perselisihan hubungan industrial Partini dan Tasri (Para Penggugat) dengan PT. Titani Alam Semesta (Tergugat) adalah terjadi sejak adanya gugatan PHK Penggugat tertanggal 18 Agustus 2015, maka selanjutnya perselisihan tersebut harus diselesaikan melalui Bipartit dan Tripartit terlebih dahulu sampai terbit Risalah penyelesaian melalui Mediasi dan Konsiliasi.
Dengan demikian, pengajuan gugatan Para Penggugat tidak dilengkapi dengan Risalah penyelesaian melalui Mediasi tentang perselisihan PHK antara Para Penggugat dan Tergugat. Karenanya gugatan Para Penggugat diminta untuk dinyatakan: tidak dapat diterima.
Terhadap gugatan para Pekerja, Pengadilan Hubungan Industrial Gresik kemudian menjatuhkan putusan Nomor 14/Pdt.Sus-PHI.G/2015/PN.Gsk., tanggal 22 Desember 2015, dengan pertimbangan serta amar sebagai berikut:
“Menimbang, ... pengajuan gugatan yang tidak dilampiri Risalah penyelesaian melalui Mediasi atau Konsiliasi, maka Hakim Pengadilan Hubungan Industrial wajib mengembalikan gugatan kepada Penggugat;”
MENGADILI :
Dalam Eksepsi
- Mengabulkan eksepsi Tergugat
Dalam Pokok Perkara
- Menyatakan gugatan Para Penggugat tidak dapat diterima (Niet Ontvantkelijk Verklaard).”
Oleh karena Surat Anjuran Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik tertanggal 2 Oktober 2014 (yang dilampirkan dalam surat gugatan Para Termohon Kasasi) bukan Risalah penyelesaian melalui Mediasi terhadap perselisihan hubungan industrial antara Partini dan Tasri (Para Penggugat) dengan PT. Titani Alam Semesta (Tergugat), melainkan Risalah perselisihan antara PT Titani Alam Semesta (Tergugat) dengan pekerja lain, sehingga Isi Surat Anjuran Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik tertanggal 2 Oktober 2014, tidaklah diperuntukkan bagi Para Penggugat, sehingga Surat Anjuran Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Gresik tertanggal 2 Oktober 2014 tidak dapat dipergunakan oleh Para Penggugat sebagai pemenuhan syarat formil pengajuan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial, sebagaimana ketentuan Pasal 83 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004.
Sekalipun gugatan Pekerja dinyatakan “tidak diterima” oleh hakim, namun pihak Pengusaha tetap mengajukan upaya hukum kasasi, dengan argumentasi bahwa oleh karena pengajuan permohonan PHK karena memasuki usia pensiun tidak mempunyai dasar hukum dan tidak diatur pada Pasal 169 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2003, dan oleh karena Para Termohon Kasasi masih produktif dan tidak ada tanda-tanda menurun, maka permohonan yang diajukan para Pekerjanya tertanggal 18 Agustus 2015, secara hukum dapat dikategorikan sebagai pengunduran diri dari perusahaan Tergugat.
Dimana terhadap gugat-menggugat demikian, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena setelah
meneliti secara saksama memori kasasi tanggal 14 Januari 2016 dan kontra memori kasasi tanggal 1 Februari 2016, dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Gresik telah tepat dan benar serta tidak salah menerapkan hukum, dengan pertimbangan sebagai berikut:
- Bahwa isi Surat Anjuran Disnaker Kabupaten Gresik Nomor ... , tanggal 2 Oktober 2014 tidak diperuntukkan khusus bagi Para Termohon Kasasi sebagai pemenuhan syarat formil pengajuan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial sebagaimana ketentuan Pasal 83 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, oleh karena itu tidak dapat dipergunakan oleh Para Termohon Kasasi pemenuhan syarat formil pada waktu mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial;
- Bahwa karena gugatan Para Penggugat / Termohon Kasasi tidak / belum memenuhi syarat formil, maka eksepsi Pemohon Kasasi / Tergugat diterima dan gugatan dinyatakan tidak dapat diterima, dan sesuai ketentuan hukum acara, pokok perkaranya tidak dapat diperiksa;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, ternyata bahwa putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Gresik dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi PT. TITANI ALAM SEMESTA tersebut, harus ditolak;
M E N G A D I L I :
“Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi PT. TITANI ALAM SEMESTA, tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan