Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Militer Tidak Otomatis Berhak Miliki Senjata Api

LEGAL OPINION
Question: Apa semua aparat tentara berhak pegang atau bawa pistol di tempat umum? Maksudnya, apakah orang sipil maupun tentara, harus ada izin khusus untuk punya senjata api?
Brief Answer: Setiap warga negara maupun aparatur negara, sekalipun itu adalah anggota militer, wajib memiliki izin penggunaan senjata api. Pelanggaran terhadap kaedah normatif demikian, diancam sanksi pidana.
PEMBAHASAN:
Terdapat ilustrasi konkret, sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS rujuk pada putusan Pengadilan Militer I-04 Palembang perkara pidana penguasaan senjata api secara ilegal, register Nomor 75-K/PMI-04/AD/IV/2014 tanggal 11 Juni 2014, dimana Terdakwa sebagai Prajurit TNI-AD didakwakan telah bersalah melakukan tindak pidana ‘tanpa hak membawa dan menyimpan senjata api dan amunisi’, sebagaimana diatur dan diancam dengan Pasal 1 UU No. 12 Drt Tahun 1951 tentang senjata api, sehingga dituntut 1 tahun penjara oleh Oditur Militer.
Semula, terdakwa menyita senpi ilegal dari warga yang digeledah, lalu menguasainya tanpa melaporkan keberadaan senpi tersebut kepada atasan / instansinya, dengan tujuan untuk berjaga-jaga dimana senpi tersebut digunakan sebagai senjata untuk melindungi diri saat bertugas. Terhadap tuntutan Oditur, Pengadilan Militer membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa tindak pidana yang dakwakan Oditur Militer dalam dakwaan tunggal mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
- Unsur kesatu : Barang siapa.
- Unsur kedua : Tanpa hak memasukkan ke Indonesia, membuat, menerima mencoba, memperoleh, atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai, persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan atau mengeluarkan / memasukkan ke Indonesia sesuatu senjata api, amunisi, atau bahan peledak.
“Bahwa oleh karena dalam unsur ini mengandung beberapa alternatif perbuatan, untuk itu Majelis Hakim akan membuktikan unsur yang sesuai dengan fakta yang terungkap di persidangan yaitu: ‘Tanpa hak mempunyai dan menyimpan sesuatu senjata api dan amunisi’.
“Bahwa, ‘tanpa hak’ dalam delik ini berarti tindakan atau perbuatan terdakwa adalah bersifat melawan hukum. Bahwa tanpa hak dalam perumusan delik ini, sudah dipastikan bahwa seorang (baik Militer maupun non Militer) sepanjang menyangkut senjata api, munisi atau bahan peledak, harus ada ijin dari yang berwenang untuk itu.
“Yang dimaksud hak adalah kekuasaan untuk berbuat sesuatu, kewenangan, milik atau kepunyaan atas sesuatu. Jadi yang dimaksud ‘Tanpa hak’ berarti pada diri Terdakwa / pelaku tidak ada kekuasaan, kewenangan, pemilikan, kepunyaan atas sesuatu oleh senjata api, munisi atau bahan peledak, dengan demikian bahwa kekuasaan, kewenangan, pemilikan, kepunyaan atau bahan ada pada diri seseorang/si pelaku (Terdakwa) setelah ada ijin sesuai ketentuan untuk itu.
“Yang dimaksud dengan Mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya adalah mempunyai cadangan sesuatu (dalam hal ini : senjata api, munisi, atau bahan peledak) yang berada dibawah kekuasaannya / miliknya, dengan tidak mempersoalkan penempatan sesuatu itu berada dimana sepanjang masih dibawah kekuasaannya.
“Yang dimaksud dengan menyimpan adalah menempatkan sesuatu (dalam hal ini senjata api, amunisi atau bahan peledak) sedemikian rupa pada suatu tempat tertentu, dimana sesuai maksud si pelaku / Terdakwa agar sesuatu itu dikuasai oleh orang lain, namun hal ini relatif sebab masih bisa didekati dan bisa dilihat oleh orang lain.
“Bahwa benar Terdakwa mengetahui senjata api yang dimilikinya belum pernah digunakan hanya Terdakwa bersihkan dan dibawa saat berdinas untuk jaga diri karena daerah tempat Terdakwa bertugas rawan kejahatan perampokan, sedangkan senjata api yang Terdakwa sita dari seorang pemuda tidak dilaporkan kepada pimpinan.
“Bahwa benar Terdakwa tidak mempunyai ijin dari pejabat yang berwenang untuk membawa, menguasai dan menyimpan senjata api rakitan beserta amunisinya.
“Dengan demikian maka Majelis Hakim berpendapat bahwa, unsur kedua Tanpa hak mempunyai dan menyimpan, sesuatu senjata api, dan munisi telah terpenuhi.
“Menimbang, bahwa oleh karena seluruh unsur tindak pidana dalam dakwaan telah terpenuhi maka Majelis Hakim berpendapat dakwaan kesatu Oditur Militer telah terbukti.
“Menimbang, berdasarkan hal-hal yang diuraikan diatas merupakan fakta-fakta yang diperoleh dalam persidangan, Majelis Hakim berpendapat terdapat cukup bukti secara sah dan meyakinkan Terdakwa bersalah melakukan tindak pidana : Barang siapa yang tanpa hak mempunyai dan menyimpan, sesuatu senjata api dan munisi. sebagaimana diatur dan diancam dengan Pasal 1 UU No. 12 Drt Tahun 1951 tentang senjata api.
“Menimbang, bahwa pada diri Terdakwa tidak terdapat alasan pemaaf maupun alasan pembenar atas perbuatannya untuk dapat melepaskan Terdakwa dari tuntutan Oditur Miiter oleh karena itu Terdakwa harus dinyatakan bersalah.
“Menimbang, bahwa sebelum sampai pada pertimbangan terakhir dalam mengadili perkara ini Majelis Hakim ingin melihat sifat hakekat dan akibat dari perbuatan Terdakwa serta hal-hal lain yang mempengaruhi sebagai berikut:
1. Bahwa perbuatan Terdakwa kurangnya memahami aturan-aturan yang berlaku sehingga Terdakwa menyepelekan aturan-aturan yang ada dengan tanpa hak mempunyai dalam miliknya menyimpan suatu senjata api dan munisi.
2. Bahwa hakikat perbuatan Terdakwa melakukan perbuatan ini karena Terdakwa bertugas di daerah rawan perampokan dan banyak beredar senjata api, sehingga Terdakwa membeli senjata dan menyimpan senjata api hasil rampasan untuk menjaga diri karena dari kesatuan tidak ada inventaris senjata api, padahal Terdakwa mengetahui aturan yang berlaku di lingkungan TNI.
3. Bahwa akibat perbuatan Terdakwa akan semakin banyak senjata api yang beredar di masyarakat dan membahayakan orang lain dari diri sendiri karena penggunaannya tidak terkontrol oleh instansi yang berwenang maupun Kesatuan Terdakwa.
4. Hal-hal yang mempengaruhi perbuatan Terdakwa karena tempat dirinya bertugas di daerah rawan perampokan; [Note SHIETRA & PARTNERS: Bila senpi dibawa dan dimiliki secara ilegal di lokasi tidak rawan kejahatan, akan menjadi pertimbangan yang memberatkan kesalahan pelaku.]
“Menimbang, bahwa setelah meneliti dan mempertimbangkan sifat hakekat serta hal-hal yang meringankan dan memberatkan tersebut di atas, Majelis Hakim berpendapat senjata api yang dimiliki dan disimpan oleh Terdakwa tidak digunakan untuk melakukan tindak pidana Majelis Hakim sependapat dengan tuntutan Oditur Militer.
“Mengingat : Pasal 1 UU No.12 Drt Tahun 1951 tentang Senjata Api, serta ketentuan perundang-undangan lain yang bersangkutan.
M E N G A D I L I :
1. Menyatakan Terdakwa tersebut diatas yaitu : Tarmizi, Serka, NRP. 39000062780573, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana : ‘Tanpa hak mempunyai dalam miliknya dan menyimpan, sesuatu senjata api, dan munisi’.
2. Memidana Terdakwa oleh karena itu dengan : Pidana Penjara selama 1 (satu) tahun;
3. Menetapkan selama waktu Terdakwa berada dalam penahanan sementara dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan