Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Kurator Keliru Menjual Aset yang Bukan Boedel Pailit

LEGAL OPINION
Question: Kalau kurator benar-benar sudah menjual (lelang) aset yang bukan harta boedel pailit karena inventaris yang dijual kurator ternyata bukan milik debitor pailit, namun milik pihak ketiga, maka seperti apa kemungkinan yang dapat terjadi kemudian, menurut hukum?
Brief Answer: Bila terdapat pihak-pihak yang berkeberatan dan melakukan perlawanan terhadap upaya pemberesan yang dilakukan oleh kurator, dimana ternyata objek pemberesan ternyata bukan harta milik debitor yang jatuh pailit, maka baik “hak dan kewajiban” yang timbul dari objek benda tersebut, harus diserahkan kepada pihak yang paling berhak.
“Hak” berupa dana hasil pemberesan terhadap aset yang ternyata bukan milik debitor pailit, serta “kewajiban” berupa segala sesuatu beban seperti pajak terhadap penjualan tersebut. Karena hak dan kewajiban tersebut bukanlah milik debitor, maka hak dan kewajiban tersebut tidak dapat dimasukkan / dibebankan pada boedel pailit, dimana likuidasi terhadap boedel pailit sepenuhnya menjadi hak pelunasan bagi para kreditor dari debitor pailit.
PEMBAHASAN:
Untuk memudahkan pemahaman, tedapat ilustrasi konkret sebagaimana dapat SHIETRA & PARTNERS rujuk pada putusan Mahkamah Agung RI sengketa pemberesan dan pembagian harta pailit register Nomor 390 K/Pdt.Sus-Pailit/2014 tanggal 27 Oktober 2014, perkara antara:
1. INTELIPAC LIMITED; 2. ADVANCE ALLIANCE INVESTMENTS, LTD., sebagai Para Pemohon Kasasi dahulu Terlawan I & II; melawan
- 13 orang pekerja dari Debitor Pailit, sebagai Termohon Kasasi dahulu Pelawan; dan
- RUDY INDRAJAYA, S.H., M.H., selaku Kurator PT. Sidobangun Plastic Factory, sebagai Turut Termohon Kasasi dahulu Terlawan III.
Upah terhutang Para Pelawan yang merupakan para pegawai, berkedudukan sebagai Kreditor dari PT. Sidobangun Plastic Factory yang dalam keadaan jatuh pailit. Awal mula permasalahan kepailitan ini, ialah bahan baku perusahaan sebagaimana terurai dalam penetapan harta pailit Nomor 31/Pailit/2011/PN.Niaga.Sby. tertanggal 11 Juli 2012, yang kemudian oleh Terlawan III telah dijual-lelang, dan terjual senilai Rp7.000.000.000,- pada tanggal 30 April 2013.
Ternyata, dikemudian hari baru diketahui bahwa bahan baku yang telah dijual oleh Terlawan III, terdapat beban pajak bea masuk sebesar Rp3.500.000.000,-. Terhadapnya, Terlawan I dan Terlawan II telah mengajukan perlawanan terhadap Terlawan III, mempermasalahkan bahan baku yang ditetapkan sebagai boedel pailit dan dijual oleh kurator, sebagaimana perkara Nomor 11/Plw.Pailit/PN.Niaga.Sby. jo. Nomor 31/Pailit/2011/PN.Niaga.Sby. yang ternyata Majelis Hakim pemeriksa perkara menyatakan bahan baku tersebut bukan merupakan harta pailit, akan tetapi milik Terlawan I dan Terlawan II, serta memerintahkan Terlawan III untuk menyerahkan hasil pelelangan atas barang-barang tersebut kepada Terlawan I dan Terlawan II.
Terhadap putusan Nomor 11/Plw.Pailit/PN.Niaga.Sby. jo. Nomor 31/Pailit/2011/PN.Niaga.Sby., Terlawan III telah mengajukan upaya hukum kasasi, yang berdasar Putusan Nomor 426 K/Pdt.Sus-Pailit/2013 Mahkamah Agung kemudian menguatkan putusan Pengadilan Niaga.
Dengan demikian telah terjadi pertentangan didalam badan pengadilan itu sendiri, yaitu antara Putusan Pengadilan Niaga dan Penetapan Hakim Pengawas, dimana Hakim Pengawas menetapkan bahan baku tersebut termasuk boedel pailit dan telah dilelang oleh kurator, namun hakim pemutus menyatakan barang tersebut bukan bagian dari boedel pailit, dan menyatakan sebagai milik dari Terlawan I dan Terlawan II.
Selanjutnya, Terlawan III selaku Kurator PT. Sidobangun Plastic Factory (debitor pailit), membuat daftar pembagian, dimana dalam daftar pembagian tersebut Terlawan III tidak membagikan hasil pelelangan bahan baku kepada Para Kreditor, akan tetapi Terlawan III justru membebankan beban pajak bea masuk (bea dan cukai) dari bahan baku yang telah secara keliru dijualnya, terhadap boedel pailit.
Para Pelawan menegaskan, bahwa para kreditor tidak mempermasalahkan daftar pembagian yang dibuat oleh Terlawan III, akan tetapi dalam hal ini Pelawan hanya mempermasalahkan pembayaran pajak yang dilakukan oleh Terlawan III, seharusnya pajak tersebut tidak dibebankan kepada boedel pailit.
Secara yuridis, bahan baku tersebut adalah milik PT. Sidobangun Plastic Factory, terbukti sebagai berikut:
- bahan baku diatas sempat disegel oleh Bea dan Cukai Madya Malang;
- selain itu, secara nyata PT. Sidobangun Plastic Factory (debitor pailit) merupakan kawasan berikat, yang berarti bahwa kawasan berikat tidak mungkin ada barang pihak lain di dalam kawasan tersebut, karena seluruh barang-barang harus terdaftar di bea dan cukai serta milik dari PT. Sidobangun Plastic Factory (debitor pailit).
- dalam rapat-rapat di Pengadilan yang dihadiri oleh Kurator dan Hakim Pengawas, pihak bea dan cukai dengan tegas telah menyatakan bahan baku, bahan pendukung dan barang jadi berada di lokasi debitor pailit yang notabene wilayah kepabeanan, sehingga barang tersebut adalah milik debitor pailit;
- karenanya seharusnya secara hukum hasil penjualan boedel pailit sepenuhnya merupakan hak para kreditor dari PT. Sidobangun Plastic Factory (debitor pailit) dan dibagikan kepada hak Upah dari para Pekerja selaku Kreditor Preferen.
Maka dirasakan sangat tidak adil bagi Pelawan yang notabene adalah buruh, apabila kewajiban pajak bea masuk sebesar Rp3.500.000.000,- yang timbul akibat bahan baku yang dijual ke luar daerah kawasan berikat oleh sang kurator, dibebankan terhadap boedel pailit.
Sesuai kepatutan, seharusnya beban pajak diatas harus ditanggung oleh pihak mana yang ditetapkan sebagai pemilik barang yang notabene mengurangi hak Pelawan dan para kreditor lainnya. Bila kurator tetap membebani boedel pailit dengan pajak penjualan demikian, maka Majelis Hakim seyogianya menyatakan putusan Nomor 426 K/PDT.SUS-PAILIT/2013, tidak memiliki kekuatan hukum mengikat dalam perkara kepailitan yang tersangkut-paut.
Dengan demikian, bahan baku yang terjual melalui lelang oleh kurator pada tanggal 30 April 2013, logisnya dinyatakan sebagai bagian dari boedel pailit PT. Sidobangun Plastic Factory. Namun, apabila ternyata pengadilan berpendapat lain, maka adalah adil dan wajib beban pajak bea dan cukai yang muncul karena barang-barang termaksud sebesar Rp3.500.000.000,- dibebankan kepada pihak yang dinyatakan sebagai pemilik.
Sebelumnya, berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 11/Plw.Pailit/PN.Niaga.Sby., diputuskan bahwa bahan baku tersebut bukan termasuk dalam boedel pailit, namun merupakan kepemilikan Terlawan I dan Terlawan II selaku supplier bahan baku, dengan amar putusannya sebagai berikut:
DALAM POKOK PERKARA:
3. Memerintahkan agar Daftar Harta Pailit pada butir C pada halaman 23 Penetapan Nomor 31/Pailit/2011/PN.Niaga.Sby. tanggal 11 Juli 2012 dicoret;
4 Memerintahkan Terlawan / Kurator untuk menyerahkan hasil pelelangan atas barang-barang milik Para Pelawan sebagaimana tersebut dalam Daftar Harta Pailit pada butir C pada halaman 23 Penetapan Nomor 31/Pailit/2011/PN.Niaga.Sby., tanggal 11 Juli 2012 kepada Para Pelawan.” (Note: dalam perkara sekarang ini merupakan selaku Terlawan I dan Terlawan II.)
Sementara itu Terlawan I dan II dalam sanggahannya mendalilkan, Pasal 72 Undang-Undang tentang Kepailitan, mengatur sebagai berikut:
“Kurator bertanggung jawab terhadap kesalahan atau kelalaiannya dalam melaksanakan tugas kepengurusan dan/atau pemberesan yang menyebabkan kerugian terhadap harta pailit.”
Bila Pelawan keberatan terhadap tindakan Terlawan III (Kurator) yang membayar bea masuk (bea dan cukai) dari uang hasil pelelangan barang-barang sebesar Rp3.500.000.000,-; hal mana membuktikan secara hukum mestinya bukanlah Terlawan I maupun Terlawan II yang didudukkan sebagai Tergugat. Tindakan untuk membayar bea cukai adalah tindakan dan keputusan sepihak Kurator dalam hal ini Terlawan III, padahal kurator bersangkutan paham bahwa barang-barang bukanlah milik PT. SBI.
Terhadap perlawanan atas putusan pailit yang diajukan pihak Pekerja, Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya kemudian menjatuhkan putusan Nomor 03/Plw.Pailit/2014/PN.Niaga.Sby. jo. Nomor 31/Pailit/2011/PN.Niaga.Sby. tanggal 8 Mei 2014, dengan pertimbangan hukum serta amar sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa kemudian pihak Terlawan I dan Terlawan II juga telah menyampaikan teguran kepada Kurator PT. Sidobangun Plastic Factory (dalam Pailit) agar barang-barang berupa: raw material, WIP, finish goods, scrap, inks, solvent, tape & dispenser serta clinder yang berada di gudang pabrik milik PT. Sidobangun Plastic Factory adalah milik Terlawan I dan Terlawan II yang dikirimkan kepada PT. Sidobangun Plastic Factory dalam rangka memenuhi perjanjian maklon (tolling agreement) dimana PT. Sidobangun Plastic Factory mempekerjakan bahan baku tersebut menjadi barang jadi dengan sistim pembayaran upah kerja, karenanya diingatkan agar tidak melakukan tindakan hukum terhadap barang-barang tersebut (Bukti PT-6 (1), Bukti PT-6 (2), Bukti PT-6 (3), Bukti PT-7 (1), Bukti PT-7 (2) dan Bukti PT-8 (3)) serta mengajukan keberatan terhadap Hakim Pengawas (Bukti PT-8 (1));
“Menimbang, bahwa dengan ditetapkannya barang-barang tersebut sebagai milik Terlawan I dan Terlawan II, maka menurut hukum ikut melekat pula segala hak dan kewajiban Terlawan I dan Terlawan II terhadap barang-barang tersebut yang saat ini telah dilelang oleh Terlawan III (Bukti T.III-3) dengan hasil lelang sejumlah Rp6.574.087.433,- dan dengan demikian menurut pendapat Majelis Hakim mengenai hak dan kewajiban tersebut bukan lagi menjadi beban boedel pailit PT. Sidobangun Plastic Factory (dalam pailit);
MENGADILI :
DALAM POKOK PERKARA:
1. Mengabulkan gugatan perlawanan Pelawan untuk sebagian;
2. Menyatakan Pelawan sebagai Pelawan yang baik dan benar;
3. Menetapkan Terlawan I dan Terlawan II untuk menanggung dan membayar beban pajak bea dan cukai yang muncul karena masuknya barang-barang termaksud sebesar Rp3.500.000.000,- (tiga milyar lima ratus juta rupiah) dan memperhitungkannya dengan uang hasil lelang barang-barang dimaksud sebelum diserahkan Terlawan III kepada Terlawan I dan Terlawan II;
4. Memerintahkan Terlawan III selaku Kurator PT. Sidobangun Plastic Factory (dalam pailit) untuk membagikan hasil penjualan lelang barang-barang PT. Sidobangun Plastic Factory (dalam pailit) kepada Para Kreditor yang berhak termasuk kepada Pelawan dan Terlawan I serta Terlawan II;
5. Menolak gugatan perlawanan Pelawan untuk yang selain dan selebihnya.”
Terlawan I dan II mengajukan upaya hukum kasasi, meski telah disadari tiada faedahnya, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, Judex Facti dalam hal ini Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya tidak salah dalam menerapkan hukum, karena telah benar bahwa atas barang yang telah keluar dari kawasan berikat maka penangguhan pembayaran bea masuk telah berakhir dan sejak itu pula kewajiban untuk membayar bea masuk timbul, kewajiban mana adalah berada pada pemilik barang, in casu Terlawan I dan II sesuai dengan putusan Pengadilan Niaga Surabaya Nomor 11/Plw.Pailit/PN.Niaga.Sby. jo. Nomor 31/Pailit/2011/PN.Niaga.Sby., oleh karena itu putusan dan pertimbangan Judex Facti dalam perkara a quo telah tepat dan benar sehingga layak untuk dipertahankan;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, ternyata putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 03/Plw.Pailit/2014/PN.Niaga.Sby. jo. Nomor 31/Pailit/2011/PN.Niaga.Sby. tanggal 8 Mei 2014 dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan oleh para Pemohon Kasasi: INTELIPAC LIMITED dan kawan tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari para Pemohon Kasasi: 1. INTELIPAC LIMITED dan 2. ADVANCE ALLIANCE INVESTMENTS, LTD. tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan