Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Status Subjek Badan Hukum Hapus Pasca Likuidasi

LEGAL OPINION
Question: Ada beberapa perusahaan (berbentuk perseroan terbatas) yang sudah tidak lagi aktif meski dulu memang pernah berkegiatan selama beberapa tahun lamanya. Tapi sampai saat ini, sudah berselang bertahun-tahun tidak juga saya likuidasi, apa saja resikonya?
Brief Answer: Salah satunya, badan hukum perseroan masih dianggap berdiri dan dipandang sebagai subjek hukum yang masih dapat menggugat ataupun digugat, ketika subjek hukum tersebut masih memiliki tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga.
Resiko kedua, dalam rezim hukum Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas maupun Undang-Undang tentang Kepailitan, pengurus perseroan dapat turut digugat untuk dimintakan pertanggung-jawaban akibat kerugian yang ditimbulkan perseoan, bahkan dipailitkan bersama perseroan.
PEMBAHASAN:
Hidup sebuah adagium yang menyebutkan: harta tidak dibawa mati, namun hutang dibawa mati. Lebih baik menutup usia dengan menyelesaikan segala apa yang telah kita mulai selama hidup, agar dapat menutup usia dengan tenang tanpa hutang beban apapun kepada pihak lainnya. Sekalipun kita meninggal tanpa pernah tahu apa makna dan tujuan hidup ini, namun setidaknya jejak kehidupan kita tidak melahirkan catatan hitam apapun yang merugikan orang lain.
Ilustrasi kasus yang agak sedikit berkebalikan, tetap dapat menjadi cerminan sebagai pembelajaran, sebagaimana putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sengketa register Nomor 574/Pdt.G/2013/PN.JKT.PST. tanggal 18 Juni 2014, perkara antara:
1. Hopaco Properties Limited, perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum British Virgin Islands; 2. Coraledge Resources Limited, perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum British Virigin Islands; 3. Mincorp PLC, perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum United Kingdom, sebagai Para Penggugat; melawan
1. PT. ATPK Resources Tbk.; 2. Sdr. Dr. HM Wasisto Budiharsoyo, selaku Direktur Utama PT. ATPK Resources Tbk.; 3. Sdr. Raymond Bernadus, selaku Direktur PT. ATPK Resources Tbk, sebagai Para Tergugat.
Sengketa perdata tersebut merupakan sengketa korporasi, tanpa perlu meninjau pokok perkara, dimana terhadapnya Majelis Hakim membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa tujuan eksepsi yaitu agar pengadilan mengakhiri proses pemeriksaan tanpa lebih dahulu memeriksa materi pokok perkara, dengan menjatuhkan putusan ‘Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (Niet Ontvankelijke Verklaard)’;
“Menimbang, bahwa mengenai ekspepsi Para Tergugat point II yang menyatakan bahwa Para Penggugat tidak mempunyai kedudukan hukum / legal standing, dan/atau kualifikasi sebagai Penggugat dalam Perkara a quo, Majelis Hakim mempertimbangkan sebagai berikut;
“Menimbang, bahwa berdasarkan Web Site BVI Financial Services Commons (Komisi Jasa Keuangan BVI) telah terbukti hal–hal sebagai berikut;
- Bahwa berdasarkan bukti T1-5A, 5B telah ternyata terbukti bahwa status Hopaco Properties Limited tertanggal 1 Nopember 2012 statusnya adalah Struck off (dikeluarkan dari daftar);
- Bahwa berdasarkan bukti T1-6A, 6B telah ternyata terbukti bahwa status Coraledge Resources LTD tertanggal 1 Mei 2012 statusnya adalah Struck off (dikeluarkan dari daftar);
- Bahwa berdasarkan bukti T1-7A, 7B telah ternyata terbukti bahwa status Minicorp PLC statusnya adalah Dissolved (Dibubarkan);
“Menimbang, bahwa berdasarkan bukti T1-8A, 8B telah terbukti bahwa berdasarkan pendapat hukum dari Conyer Deal dan Pearman, beralamat di Commerce House, Wickhams Cay 1, PO BOX 3140, Road Town, Tortola, British Virgin Island VG 1110, tanggal 12 Maret 2014 tentang status Struck off (dikeluarkan dari daftar), sesuai Undang-Undang British Virgin Islands adalah sesuai Pasal 215 ditentukan bahwa ‘Apabila sebuah Perusahaan telah dikeluarkan dari daftar, Perusahaan itu dan Direktur, Anggota-anggota dan setiap Likuidator atau Kuratornya tidak boleh memulai proses perkara, melakukan kegiatan usaha apapun atau dengan cara apapun mengurus harta perusahaan.’;
“Menimbang, bahwa Pasal 215 itu berlaku pada situasi dimanapun Perusahaan British Virgin Islands terlibat dalam tindakan hukum diluar negeri;
“Menimbang, bahwa berdasarkan surat bukti T1-9A, 9B telah terbukti bahwa berdasarkan pendapat hukum dari Judge Syklus Fixon, Solicitors dinyatakan bahwa tentang status Dissolved dinyatakan bahwa dengan pembubaran, perusahaan akan kehilangan sifat khususnya dan tidak mampu mengajukan proses perkara, karena Perusahaan tidak mempunyai kemampuan dan tuntutan tersebut diserahkan kepada negara. Oleh karena perusahaan yang sudah dibubarkan akan dihalangi memulai proses perkara apapun didalam yurisdiksi manapun termasuk Indonesia;
“Menimbang, bahwa mengenai Perseroan Terbatas di Indonesia berlaku Undang-Undang No. 40 tahun 2007 dan mengenai status perusahaan yang telah melakukan pembubaran, likuidasi, dan berakhirnya status badan hukum perseroan diatur pada Pasal 142;
“Menimbang, bahwa oleh karena perusahaan Hopaco Properties Limited, Coraledge Resources LTD, serta Minicorp PLC, dalam surat gugatan Penggugat tertulis sebagai perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum British Virgin Islands, maka berlaku hukum British Virgin Islands;
“Menimbang, bahwa dalam tanggapannya atas ekspesi yang diajukan oleh Para Tergugat, Para Penggugat yaitu perusahaan Hopaco Properties Limited, Coraledge Resources LTD., Minicorp PLC. menyatakan diri masih berdiri sebagaimana adanya Anggaran Dasar setiap perusahaan. Disamping itu Para Tergugat sendiri telah mengajukan gugatan ke Singapura pada tahun 2009 dan sampai saat ini masih berlangsung, dan dalam Affidavit tanggal 1 Juni 2014, Perseroan PT. ATPK masih mengakui keberadaan ketiga perusahaan diatas, sehingga dalilnya kontradiksi dengan fakta yang sebenarnya sesuai dengan bukti P-1 sampai dengan P-3;
“Menimbang, bahwa oleh karena bukti P-1 sampai dengan bukti P-3 ternyata hanya berupa copy yang tidak dapat ditunjukkan bukti aslinya oleh Para Penggugat sehingga haruslah dikesampingkan;
“Menimbang, bahwa setelah Majelis Hakim mempelajari bukti P-1 dan P-2 mengenai keberadaan perusahaan Coraledge Resources LTD. (bukti P-1), tertanggal 13 Juli 2009 dan Hopaco Properties Limited (bukti P-2) tertanggal 29 April 2009, sedangkan status Struck off (dikeluarkan dari daftar) yang diajukan oleh Para Tergugat untuk Hopaco Properties Limited tertanggal 1 Nopember 2012, untuk Coraledge Resources LTD tertanggal 1 Mei 2012, dan status Dissolved (Dibubarkan) Minicorp PLC tertanggal 29 Maret 2011, seningga bukti P1 sampai dengan P3 yang diajukan oleh Para Penggugat menjadi tidak relevan lagi;
“Menimbang, bahwa oleh karena status dari perusahaan Hopaco Properties Limited dan Coraledge Resources LTD yang berstatus Struck off (dikeluarkan dari daftar), serta Minicorp PLC yang berstatus Dissolved (Dibubarkan) yang didirikan berdasarkan hukum negara British Virgin Island (BVI) dimana sesuai dengan aturan hukum BVI sesuai dengan keterangan Conyers Dill & Pearman (Bukti T1-8A, 8B) dan Judge Stykes Frixou (Bukti T1-9A, 9B) yang menyatakan bahwa perusahaan yang berstatus Struck off (dikeluarkan dari daftar) dan Dissolved (Dibubarkan) tidak memiliki kewenangan untuk memulai proses perkara. Oleh karenanya ekspesi Para Tergugat mengenai Para Penggugat tidak mempunyai kedudukan hukum / legal standing, dan/atau kualifikasi sebagai Penggugat dalam Perkara beralasan untuk dikabulkan;
“Menimbang, bahwa oleh karena Para Penggugat tidak memiliki mempunyai kedudukan hukum / legal standing, dan/atau kualifikasi sebagai Penggugat, maka gugatan Penggugat untuk ini secara hukum beralasan untuk dinyatakan tidak dapat diterima (niet on vanklijke verklaard);
M E N G A D I L I :
1. Menyatakan mengabulkan eksepsi Para Tergugat;
2. Menyatakan Para Penggugat tidak memiliki mempunyai kedudukan hukum / legal standing, dan / atau kualifikasi sebagai Penggugat;
3. Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan