Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Konsekuensi Besaran Pesangon Bila Tuduhan Melanggar Peraturan Perusahaan Tidak Terbukti

LEGAL OPINION
Question: Dipecat karena dituduh melanggar peraturan perusahaan. Kalau nantinya sebagai pegawai, bisa membuktikan di persidangan kepada hakim, bahwa saya tidak pernah melanggar peraturan perusahaan, apa yang bisa terjadi?
Brief Answer: Bila pihak Pengusaha sudah memutus hubungan kerja (PHK) secara sepihak, itu sudah menjadi indikasi adanya disharmoni yang tidak mungkin lagi hubungan kerja dapat dilangsungkan, sehingga pemulihan hak seorang Pekerja / buruh, ialah diberikannya oleh Majelis Hakim kompensasi PHK berupa pesangon dua kali ketentuan normal, disertai upah proses.
PEMBAHASAN:
Ilustrasi berikut dapat menjadi cerminan konkret, sebagaimana putusan Mahkamah Agung RI sengketa PHK register Nomor 964 K/Pdt.Sus-PHI/2016 tanggal 5 Desember 2016, perkara antara:
- PIMPINAN ATAU RUMAH SAKIT MITRA MASYARAKAT (RSMM), sebagai Pemohon Kasasi dahulu Tergugat; melawan
- YULI SUSANTO, selaku Termohon Kasasi dahulu Penggugat; dan
- KETUA YAYASAN CARITAS TIMIKA PAPUA (YCTP), sebagai Termohon Kasasi dahulu Turut Tergugat.
Hubungan industrial antara Penggugat dan Tergugat berlabuh di “meja hijau”, dan sang Pekerja dimenangkan oleh Pengadilan Hubungan Industrial. Tergugat mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa keberatan tersebut dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi tanggal 2 Juni 2016 dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti, dalam hal ini Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jayapura telah salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Bahwa perselisihan (Pemutusan Hubungan Kerja) PHK antara Penggugat dengan Tergugat sekarang Termohon kasasi dengan Pemohon kasasi sejak tanggal 14 April 2014 dengan alasan melanggar ketentuan Perjanjian Kerja Bersama (PKB), namun tidak terbukti;
2. Bahwa setelah meneliti dengan seksama pokok perselisihan antara Penggugat dengan Tergugat bukan mengenai alasan PHK yang dilarang sebagaimana secara tegas diatur Pasal 153 UU 13/2003 dengan kewajiban harus mempekerjakan kembali;
3. Bahwa dengan telah terjadinya perselisihan PHK sudah dapat dipastikan apabila hubungan kerja berlanjut tidak lagi harmonis, sehingga dengan mendasarkan pada alinea ke-3 penjelasan umum UU 2/2004 hubungan kerja beralasan hukum menyatakan berakhir/dengan alasan disharmonis;
4. Bahwa hak kompensasi adalah 2 kali Uang Pesangon (UP) dan Uang Penggantian Hak (UPH) sesuai Pasal 156 ayat (2), (4) UU 13/2003, dan upah proses PHK 6 bulan upah sesuai SEMA Nomor 3 Tahun 2015 tentang Rumusan Pleno Kamar MA-RI;
5. Perhitungan hak Penggugat dengan masa kerja < 3 tahun, upah Rp6.000.900.00/bulan, adalah:
- UP 2 x 3 x Rp6.000.900,00 = Rp36.005.400,00
- UPH 15% x Rp36.005.400,00 = Rp 5.400.810,00
- Upah proses phk 6 bulan upah (@) Rp6.000.900,00 = Rp36.005.400.00 +
Jumlah = Rp77.411.610,00 (tujuh puluh tujuh juta empat ratus sebelas ribu enam ratus sepuluh rupiah);
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, Mahkamah Agung berpendapat, terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: PIMPINAN ATAU RUMAH SAKIT MITRA MASYARAKAT (RSMM) tersebut dan membatalkan Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jayapura Nomor 02/G/2016/PHI.Jap. tanggal 10 Mei 2016 selanjutnya Mahkamah Agung akan mengadili sendiri dengan amar sebagaimana yang akan disebutkan dibawah ini;
M E N G A D I L I :
“Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi PIMPINAN ATAU RUMAH SAKIT MITRA MASYARAKAT (RSMM) tersebut;
“Membatalkan Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jayapura Nomor 02/G/2016/PHI.Jap. tanggal 10 Mei 2016;
MENGADILI SENDIRI :
1. Mengabulkan gugatan Penggugat sebagian;
2. Menyatakan Pemutusan Hubungan Kerja antara Penggugat dengan Tergugat sejak putusan ini diucapkan;
3. Menghukum Tergugat membayar uang kompensasi sebagai akibat Pemutusan Hubungan Kerja kepada Penggugat sebesar:
UP 2 x 3 x Rp6.000.900,00 = Rp36.005.400,00
UPH 15% x Rp36.005.400,00= Rp 5.400.810,00
Upah proses phk 6 bulan upah (@) Rp6000.900,00 = Rp36.005.400.00 +
Jumlah =Rp77.411.610,00 (tujuh puluh tujuh juta empat ratus sebelas ribu enam ratus sepuluh rupiah);
4. Menolak gugatan Penggugat selebihnya.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan