Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Eksekusi Putusan Pengadilan, Bukan Monopoli Jurusita Pengadilan

LEGAL OPINION
Question: Sudah ada putusan perceraian dari pengadilan, bahwa saya selaku ibu yang berhak mengasuh anak-anak saya, dan itu ada di amar putusan hakim. Namun untuk memindahkan database anak-anak saya dari Kartu Keluarga mantan suami saya, ke dalam Kartu Keluarga saya, apa hanya jurusita pengadilan yang berwenang, tidak dapat langsung menunjukkan asli putusan pengadilan agar suku dinas catatan sipil dapat segera memproses dengan memindahkan data anak-anak saya ke dalam Kartu Keluarga saya, dimana saya sudah tinggal di daerah lain dari kediaman mantan yang hingga kini masih menahan anak-anak saya di rumahnya?
Brief Answer: Ada salah kaprah persepsi di tengah masyarakat, seolah Jurusita pengadilan adalah bagian dari fungsi yudisial. Lembaga Yudisial, ialah lembaga pemutus perkara, bukan lembaga eksekusi. Contoh paling sederhana, eksekutor seperti algojo hukuman mati, ialah seseorang menjadi bagian dari Lembaga Eksekutif, bukan Lembaga Yudikatif meski dirinya menjalankan amar putusan hukuman mati bagi seorang terdakwa / terhukum.
Lembaga Eksekutif, artinya lembaga yang menjalankan amanat peraturan perundang-undangan maupun mengeksekusi amar putusan yang menjadi produk hukum Lembaga Yudikatif. Asas Trias Politica penting untuk dipahami, sehingga kita mulai paham bahwa jabatan Jurusita, sejatinya ialah aparat dari Lembaga Eksekutif, meski seorang jurusita pengadilan berkantor di Pengadilan.
Contoh lain, para staf di gedung DPR / MPR, juga termasuk sebagai bagian dari Lembaga Eksekutif, meski para staf tersebut berdinas atau menjadi pegawai dari DPR / MPR yang merupakan Lembaga Legislatif. Hanya para wakil rakyat (anggota parlemen), yang murni menjabat sebagai bagian dari Lembaga Legislatif.
Dengan demikian, antara pegawai instansi pemerintahan manapun, entah Pegawai Negeri Sipil ataupun Aparatur Sipil Negara, tidak terkecuali institusi kepolisian, sejatinya adalah sederajat dalam satu payung secara kelembagaan, yakni dikualifikasi sebagai Lembaga Eksekutif bersama-sama dengan mereka yang tercatat sebagai pegawai jurusita pengadilan.
setiap jurusita pengadilan menjadi satu kategorisasi lembaga dengan aparatur sipil negara, maka setiap petugas Suku Dinas Catatan Sipil berhak dan berwenang untuk menjalankan isi amar putusan, tanpa harus dimonopoli oleh kewenangan seorang jurusita pengadilan untuk mengeksekusi isi amar putusan. Namanya juga “juru-sita”, terdiri dari gabungan dua elemen frasa: “juru” dan “sita”, yang bermakna utuh sebagai “utusan untuk menyita (belaka)”. Disamping itu, asas hukum menyebutkan, menjalankan apa yang menjadi perintah pengadilan, tidak dapat dikriminalisasi.
PEMBAHASAN:
Salah satu contoh konkret yang dapat SHIETRA & PARTNERS jadikan sebagai cerminan, yakni putusan Mahkamah Agung RI sengketa perceraian register Nomor 620 K/AG/2012 tanggal 13 Mei 2013, perkara antara:
- SONNY, S.T. bin MAWARDI Z, sebagai Pemohon Kasasi, semula selaku Tergugat; melawan
- WINDA binti H. GUSNAIDI, selaku Termohon Kasasi dahulu sebagai Penggugat.
Konflik antar pasangan suami-istri (pasutri) bermula ketika Terggugat selaku suami, tidak memberikan nafkah secara mencukupi, sehingga membuat sang istri bekerja dari pagi hingga larut malam untuk mencari nafkah demi membina dan menunjang kebutuhan rumah tangga.
Namun sang suami justru menilai bahwa sang istri telah menelantarkan kewajibannya sebagai seorang istri maupun sebagai seorang ibu bagi kedua putera dan puteri mereka, yang dengan demikian tidak dapat diasuh selama ditinggal bekerja oleh sang ibu.
Sang suami dalam sanggahannya mendalilkan, sang istri sejak bekerja mulai pulang terlambat sampai larut malam, sehingga sang istri sudah sering menolak permintaan Tergugat untuk melakukan hubungan suami-istri, dengan alasan letih, dan sejak saat itu sang istri sudah tidak lagi mau meladeni hasrat sang suami. Sang suami bahkan menuduh sang istri memiliki PIL (Pria Idaman Lain).
Terhadap gugatan cerai sang istri, Pengadilan Agama Jakarta Selatan telah menjatuhkan putusan sebagaimana register perkara No. 1238 /Pdt.G/2011/PA.JS tanggal 30 November 2011, yang mengabulan gugatan cerai sang istri, namun kedua anak hasil dari perkawinan mereka, ditetapkan dibawah pengasuhan sang ayah oleh Majelis Hakim Pengadilan Agama.
Dalam tingkat banding atas permohonan sang mantan istri, putusan Pengadilan Agama kemudian dikoreksi oleh Pengadilan Tinggi Agama Jakarta, lewat putusan No. 18/Pdt.G/2012/PTA.JK tanggal 26 April 2012, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
I. Menyatakan permohonan banding Pembanding untuk pemeriksaan ualng pada tingkat banding dapat diterima;
II. Membatalkan putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan Nomor 1238/Pdt.G/2011/PA.JS tanggal 30 November 2011;
MENGADILI SENDIRI:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat sebagian;
2. Menjatuhkan talak satu bain Sughra Tergugat (SONNY, S.T. bin MAWARDI Z.) terhadap Penggugat;
3. Menetapkan anak Penggugat dan Tergugat yang bernama:
- Adzano Barraz, laki-laki yang lahir di Padang tanggal 22 Agustus 2001;
- Marvela Rafidah, perempuan lahir di Jakarta tanggal 1 Desember 2005;
berada dalam pengasuhan dan pemeliharaan Penggugat selaku Ibu kandungnya dengan tidak mengurangi hak Tergugat selaku ayah kandungnya untuk mencurahkan kasih sayangnya dan mengajak jalan bersama dan lain-lain, dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan anak;
4. Menghukum Tergugat untuk  memberi nafkah / biaya hidup untuk kedua anak Penggugat dan Tergugat melalui Penggugat setiap bulan minimal sejumlah Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah) sampai anak tersebut dewasa;
5. Memerintahkan kepada Panitera Pengadilan Agama Jakarta Selatan untuk mengirimkan salinan putusan perkara ini kepada Kantor Urusan Agama yang mewilayahi tempat tinggal Penggugat dan Tergugat dan Kantor Urusan Agama tempat pernikahan Penggugat dan Tergugat dilangsungkan untuk dicatat dalam register yang tersedia untuk itu;
6. Menolak gugatan Penggugat untuk selebihnya.”
Tergugat mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa alasan-alasan tersebut tidak dapat dibenarkan, karena Pengadilan Tinggi Agama Jakarta tidak salah dalam menerapkan hukum;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, lagi pula ternyata bahwa putusan Pengadilan Tinggi Agama Jakarta dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi: SONNY, S.T. bin MAWARDI Z. tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: SONNY, S.T. bin MAWARDI Z. tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan