Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Perbedaan antara Calo dan Sarjana Hukum

ARTIKEL HUKUM
Kerap terdapat salah-kaprah ditengah masyarakat, seakan profesi hukum dan profesi “calo” adalah serupa atau dapat saling dipertukarkan. Baru-baru ini seseorang mencoba menghubungi penulis, namun menjadi permasalahan ialah ketika profesi penulis yang merupakan penyedia jasa layanan hukum, disetarakan dengan jasa seorang “calo”—alias, salah alamat.
Pihak tersebut menyatakan kehendaknya untuk memperpanjang sertifikat Hak Guna Bangunan yang saat ini kadaluarsa, namun masih atas nama pengembang, dimana badan hukum pengembang tersebut telah lama jatuh pailit. Ketika penulis menyampaikan, agar yang bersangkutan memulai dengan sesi konsultasi tatap-muka terlebih dahulu, agar penulis dapat melakukan analisa “pemetaan” hak dan kewajiban normatif terhadap dokumen yang ada, namun pihak tersebut menolak, seketika langsung menyatakan bahwa dirinya menolak konsultasi, dan menantang penulis apakah sanggup untuk mengurus sertifikat tanahnya. Bila penulis menyanggupi (tanpa didahului telaah dokumen), barulah dirinya membayar.
Dalam kesempatan ini, penulis hendak mengupas hakiki utama profesi hukum yang tidak boleh dicampur-aduk dengan profesi “calo”. Seorang profesi hukum, sejatinya serupa dengan cara kerja seorang dokter. Seorang dokter, dibayar jasanya untuk melakukan analisa (diagnosa), sebelum membuat kesimpulan dan tindakan medik.
Begitupula jasa hukum, seorang sarjana hukum tidak bisa begitu saja secara serta-merta menyatakan menyanggupi apa yang memang tidak dapat dijalankan. Kerap kali terjadi, masalah utama terletak pada kesalahan yang dikontribusi oleh pihak klien sendiri. Sehingga analisa terhadap kejadian, fakta hukum, dasar hukum, serta kajian normatif terhadap permasalahan hukum, adalah elemen paling sentral dari profesi hukum.
Berbeda dengan “calo”, tidak dibutuhkan analisa pendahuluan apapun, tidak dibutuhkan semacam “biopsi” atau pemeriksaan apapun, namun secara serta-merta mematok tarif dan menjanjikan akan menyanggupi apapun keinginan pengguna sang “calo”.
Banyak “calo” yang menyaru sebagai jasa hukum. Contoh, seorang advokat yang menyadari bahwa kliennya tidak dapat menang di persidangan, mulai melirik cara kerja seorang “calo”, yakni: sogok, suap, dan gratifikasi. “Calo”, lebih ilegal dari “biro jasa”. “Biro jasa” serupa dengan jasa pengacara, sebagai kuasa hukum dalam mengurus suatu keperluan, yang memang sahih dan legal—semisal mengurus pembayaran pajak Surat Tanda Nomor Kendaraan tahunan. Namun, “calo” melangkah lebih jauh, yakni memuluskan segala sesuatu, sekalipun dengan cara yang legal maupun cara yang ilegal (by all means).
Kode etik antara jasa hukum dan jasa “calo” pun saling berlainan, kontras satu sama lain. Seorang pemberi layanan jasa hukum, dilarang untuk menjanjikan suatu hasil, namun secara objektif perlu melihat dan mengakui adanya koridor hukum yang harus dilewati dan dihormati. Penyedia jasa hukum tidak diperkenankan berjalan keluar dari jalur koridor hukum.
Sebaliknya, seorang “calo”, menjanjikan hasil, apapun koridor hukumnya, apapun posisi hukum sang klien, sekalipun harus dengan cara melawan hukum, menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan. Bisa disebutkan, profesi “calo” tidak memiliki kode etik, namun murni berpedoman pada prinsip: “Berani mati bela yang bayar.” Oleh karenanya, jangan pernah bicara perihal etika ketika berhubungan dengan seorang “calo”.
Profesi “calo”, ialah profesi pragmatis—sama sekali tidak memiliki harga diri, terlebih martabat, dengan mudah mampu dibeli dan dijadikan alat bagi pihak-pihak yang memiliki niatan buruk untuk meng-gol-kan segala niat dan tujuannya, sekalipun itu tujuan yang buruk dan merugikan pihak ketiga.
Itulah sebabnya, berurusan dengan “calo” bagai bekerja-sama dengan seorang “buaya” atau seorang “harimau”, bagai mafia kasus yang sangat berbahaya. Sementara itu, mereka yang terikat kode etik profesi hukum, tidak dibenarkan untuk memiliki mental seperti seorang “calo”.
Namun demikian, persepsi di tengah masyarakat kini ambigu, mengingat banyaknya kalangan hukum yang merusak kode etik profesi hukum, mulai dari kode etik advokat, kode etik konsultan hukum, kode etik notaris, kode etik pejabat pembuat akta tanah, kode etik hakim, kode etik panitera, kode etik kepolisian, kode etik kejaksaaan, dsb.
Seorang “calo”, karena tidak dikekang oleh rambu-rambu moral, maka bergerak atas dasar “membela yang bayar”. Dengan demikian, seorang calo, dapat saja berpindah haluan atau menyerang untuk membela pihak lawan dari kliennya semula, semata karena urusan pragmatis: lawan kliennya kini yang mampu membayar lebih besar.
Masyarakat perlu mulai menyadari bahaya dari layanan jasa seorang “calo”. Seorang “calo”, seringkali menggunakan jalur ilegal untuk memperoleh izin bagi kepentingan sang klien, sebagai contoh. Kita tidak pernah tahu, kapan izin itu akan menjadi bermasalah atau dipermasalahkan dikemudian hari.
Sebaliknya, jasa layanan hukum yang baik, tidak lebih dari sekadar kuasa hukum untuk mengurus izin usaha, sebagai contoh, bukan menjadi alat untuk melakukan kegiatan ilegal seperti memotong rantai prosedur sehingga terbitnya perizinan yang sejatinya tidak memiliki kelengkapan dokumentasi sebagaimana yang dipersyaratkan.
Anda tidak dapat menuntut tanggung-jawab moril dari seorang penyedia jasa “calo”, karena antara pengguna jasa dan sang “calo”, dianggap “sama-sama tahu” bahwa apa yang diperoleh ialah dengan cara-cara ilegal. Karena dianggap “sama-sama telah tahu”, maka pengguna jasa tidak dapat menuntut sang “calo” secara hukum.
Memakai jasa “calo” pun dinilai sebagai langkah cara-cara curang guna melangkahi hukum positif yang berlaku. Satu hal yang pasti, tiada loyalitas dalam mindset para penyedia jasa “calo”—namun semata diwarnai semangat pragmatis. Dan, tentu saja, sang pengguna jasa “calo” pun dianggap sudah sama-sama tahu, bahwa sang “calo” tahu bahwa pengguna jasanya hendak berbuat curang, dan sang pengguna jasa pun tahu bahwa sang “calo” akan menggunakan cara-cara curang untuk memeroleh apa yang hendak diperoleh / dicari sang klien.
Singkat kisah, penulis tidak pernah sudi merendahkan harkat-martabat sendiri, dengan dilecehkan seperti seorang “calo”. Banyak kalangan hukum yang melecehkan dirinya sendiri dengan menjadi seorang “calo”, atau sudi ketika diperlakukan sama seperti seorang “calo”, bahkan bahkan menjual secara murah harkatnya. Namun adalah salah alamat bila berpikir bahwa setiap Sarjana Hukum adalah “calo”.
Terhadap pihak tersebut yang meminta penulis untuk menjadi seorang calo, tanpa mau menghormati aturan main maupun kode etik penulis selaku konsultan hukum, penulis berikan respon sebagai berikut: “Bila Anda maunya dilayani konsultasi hukum secara tanpa mau dibebani tarif, maka anggap saja hak atas tanah Anda berupa SHGB tersebut, sudah hangus sama sekali ketika sang developer jatuh pailit.”
Apa yang diinginkan pihak tersebut, tidak akan menyinggung perasaan seorang “calo”, karena seorang “calo” selalu menyanggupi apapun keinginan pengguna jasa sekalipun yang diminta ialah melanggar hukum, sepanjang tarifnya memadai.
Sebaliknya, permintaan serupa dapat menjadi sebuah pelecehan yang tidak dapat ditolerir bagi seorang Sarjana Hukum yang masih memegang kode etik secara ketat dan tegas. Demikianlah untuk dapat menjadi pelajaran kita bersama. Etika komunikasi sangatlah penting sekaligus “sensitif”. Kegagalan untuk memahami hal mendasar demikian, akan sangat mahal “harga” sosialnya.
© SHIETRA & PARTNERS Copyright.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan