Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Salah Kaprah Hibah Murni Vs. Hibah Wasiat

LEGAL OPINION
Question: Yang ingin kami tanyakan adalah soal hibah, namun bukan hibah wasiat, karena sang penghibah masih hidup saat menghibahkan, jadi hibahnya seketika itu juga bukan dalam surat wasiat. Pertanyaannya, yang namanya hibah kan, sudah jelas mengurangi aset harta si penghibah.
Lalu, apa bisa begitu saja ketika sang pemberi hibah meninggal dunia, para ahli warisnya menggugat penerima hibah, meminta agar tanah hibah dikembalikan pada mereka? Memang apa ada larangan, atau aturan bahwa yang boleh menerima hibah hanyalah sanak saudara atau anak, diluar keluarga saudara tidak boleh menerima hibah?
Brief Answer: Menggugat pembatalan hibah, secara etika moral ke-Timur-an sejatinya tabu. Mengapa? Karena bagaikan mencoba menggugat “kehendak almarhum” semasa hidupnya. Harta milik penghibah, adalah hak mutlak dirinya memutuskan untuk memberikannya secara bebas kepada pihak manapun lewat pemberian bernama “hibah”, memiliki hubungan darah ataupun tidak.
Bila yang dimaksud adalah hibah murni (alias bukan hibah wasiat), maka tidak pada konteksnya berbicara perihal “boedel waris”, karena “boedel waris” hanya relevan dalam konteks hibah wasiat yang pastilah melanggar legitieme portie. Sementara dalam hibah murni, belum ada hak para ahli waris, karena pemberi hibah masih hidup.
Yang semata dihitung sebagai “boedel waris”, hanyalah keadaan harta atau aset pewaris saat almarhum pewaris meninggal dunia, bukan saat jauh sebelum pewaris meninggal dunia. Contoh, pada umur 40 tahun, seseorang memberi hibah kepada kawan baiknya berupa sebidang hak atas tanah. Pada umur 90 tahun, orang yang memberi hibah tersebut meninggal dunia. Secara logika sederhana, apakah mungkin para ahli warisnya hendak mengklaim bahwa hak atas tanah objek hibah tersebut adalah boedel waris milik para ahli waris si penghibah?
Justru yang menjadi pertanyaan sosiologis yang paling relevan untuk diajukan ialah: mengapa sang penghibah lebih memilih untuk meberikan tanahnya kepada orang lain, ketimbang pada anak kandung darah-dagingnya sendiri? Mungkinkah sang penghibah telah merasa kecewa terhadap anak kandungnya sendiri? Hubungan darah tidak pernah menjamin adanya ikatan batin.
PEMBAHASAN:
Dalam hal ini SHIETRA & PARTNERS memiliki ilustrasi konkret salah-kaprah lembaga peradilan terhadap konsepsi “hibah murni”, sebagaimana putusan Mahkamah Agung RI sengketa waris yang dicampur-aduk (dibiaskan) dengan isu perihal hibah, register Nomor 2414 K/Pdt/2015 tanggal 19 Januari 2016, perkara antara:
1. RIA SITI MUNA RUFAIDAH;
2. EVA YUNITA;
3. SANDRA SUGIANI. S, sebagai Para Pemohon Kasasi dahulu Para Tergugat; melawan
1. H. MAHMUDIN BIN H. MAKKA; 2. NURDIN BIN H. MAKKA, selaku Para Termohon Kasasi dahulu Para Penggugat.
Para Penggugat merupakan anak kandung dan sekaligus sebagai ahli waris dari almarhum H. Makka, dimana dan H. Makka meninggal pada tanggal 30 Mei 2003. Selain dari Para Penggugat, almarhum H. Makka masih memiliki anak kandung, yaitu Hj. Nurjannah binti H. Makka, Hj. Hasnah binti H. Makka, Herman bin H. Makka, Taufiq bin H. Makka, Achmad bin H. Makka, Siti Aisyah binti H. Makka dan Jumiati Binti H. Makka.
Almarhum H. Makka semasa hidupnya mempunyai bidang tanah berikut bangunan rumah yang ada di atasnya yang terletak di Jalan Letjend Soeprapto RT 43 Nomor 42, Kelurahan Baru Ulu, Kecamatan Balikpapan Barat, seluas + 230 m2.
Almarhum H. Makka memperoleh bidang tanah tersebut, mulanya berasal dari garapan / penguasaan tanah Negara. Bidang tanah berikut bangunan rumah yang ada diatasnya sejak almarhum H. Makka memiliki sampai meninggal, ditempati anaknya bernama Taufiq bin H. Makka beserta isteri (Ria Siti Muna Rufaidah) dan anak-anaknya (Eva Yunita dan Sandra Sugiani S) alias Para Tergugat.
Seiring waktu berjalan keadaan rumah tangga Taufiq bin H. Makka dan isterinya (Tergugat) tidak harmonis sehingga mereka berpisah. Taufiq bin H. Makka tidak tinggal di rumah, sedangkan Para Tergugat tetap tinggal di rumah. Selanjutnya tanpa sepengetahuan semua ahli waris almarhum H. Makka, Para Tergugat mengakui dan menguasai objek sengketa, dengan dasar mendapat hibah dari almarhum H. Makka (yang juga ayah mertuanya), dimana tidak seorang pun anak / ahli waris almarhum H. Makka mengetahui adanya hibah tersebut.
Dalam bantahannya, Tergugat menyebutkan, sebelumnya terhadap objek sengketa telah pernah diputus dalam register gugatan lain dan telah mempunyai putusan yang tetap. Persoalan yang sama telah pernah diputus sebagaimana terdaftar dalam perkara 410/Pdt.G/2010/PA.Bpp, dan gugatan tersebut telah mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian, namun untuk objek perkara sekarang ini telah dikeluarkan bundel warisan H. Makka.
Menurut hukum, saat beralihnya hak milik atas objek tanah, yakni saat ditandatanganinya akta hibah yang disaksikan oleh beberapa saksi termasuk Ketua RT (Rukun Tetangga) setempat, maka apa yang sebelumnya dimiliki  H. Makka telah beralih kepada Tergugat, sehingga menjadi wajar bila objek sengketa tidak tercatat sebagai aset boedel waris peninggalan H. Makka.
Berdasarkan Hibah tertanggal 17 Nopember 1983 dan Surat Pernyataan H. Makka tanggal 10 Mei 2002, H. Makka telah menyerahkan sepenuhnya objek tanah tersebut kepada menantu (Ria Siti Muna Rufaida) dan cucu (Eva Yunita dan Sandra Sugiani S.).
Hibah yang diberikan H. Makka, terjadi pada tanggal 17 Nopember 1983 dan tanggal 10 Mei 2002 ini, artinya terjadi semasa H. Makka dan istrinya yang bernama Hj. Sawaiyah Maysyarah masih hidup, sehingga ahli waris dari H. Makka tersebut hanya berhak atas boedel waris peninggalan berupa aset-aset milik H. Makka sesaat sebelum meninggal dunia.
Adapun alasan / latar belakang dihibahkannya oleh H. MAKKA kepada menantu dan cucunya (Para Tergugat), dikarenakan menantunya (Tergugat I) yang merenovasi / membangunkan rumah diatas obyek tanah. Note Penulis: sebagai tambahan, hibah bukanlah perikatan “bersyarat batal”, sehingga tetap sah sekalipun sang menantu bercerai dengan sang anak, mengingat pula kepentingan para cucu sang penghibah yang masih berusia belia kini menempati objek tanah.
Terhadap gugatan para Penggugat, Pengadilan Negeri Balikpapan kemudian menjatuhkan Putusan Nomor 15/Pdt.G/2013/PN.Bpp, tanggal 18 Juli 2013, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
1. Mengabulkan gugatan Para Penggugat untuk sebahagian;
2. Menyatakan bahwa Para Penggugat/anak-anak almarhum H. Makka (sebagaimana angka 1 (satu) dan angka 2 (dua) posita di atas) adalah ahli waris almarhum H. Makka yang sah;
3. Menyatakan menurut hukum sah dan mempunyai kekuatan hukum Surat Keterangan dan Pernyataan tanggal 17-11-1983 dan Gambar Situasi yang dikeluarkan oleh Kantor Pendaftaran Tanah Kotamadya Balikpapan Nomor 17/1971 tanggal 4 Pebruari 1971 serta Izin Mendirikan Bangunan dari pengawasan pembangunan dan perumahan di Balikpapan Nomor 9/XII/ S/1965, tanggal 13 Desember 1965;
4. Menyatakan bidang tanah berikut bangunan rumah yang ada diatasnya yang berasal dari Penguasaan Tanah Negara milik almarhum H. Makka yang terletak di Jalan Letjend Soeprapto RT 43 Nomor 42, Kelurahan Baru Ulu, Kecamatan Balikpapan Barat, seluas + 230 meter persegi dengan batas batas: ... adalah benar dan sah milik almarhum H. Makka sebagai harta warisan yang belum pernah dibagi;
5. Menyatakan menurut hukum Para Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan segala akibat sebagai hukumnya;
6. Menyatakan menurut hukum bahwa Para Penggugat dan anak-anak almarhum H. Makka (sebagaimana angka 2/dua posita diatas) berhak atas bidang tanah perwatasan berikut bangunan rumah yang ada di atasnya/ objek sengketa sebagai harta warisan dari almarhum H. Makka/ayah kandung Para Penggugat dan anak anak/ahli waris almarhum H. Makka (sebagaimana angka 2/dua posita di atas);
7. Menyatakan menurut hukum Para Tergugat tidak berhak atas tanah objek sengketa;
8. Menghukum Para Tergugat menyerahkan bidang tanah berikut bangunan rumah yang ada di atasnya/objek sengketa dalam keadaan kosong/semula secara sukarela kepada Para Penggugat atau anak-anak/ahli waris almarhum H. Makka (sebagaimana angka 2/dua posita di atas) sebagai yang berhak atas objek sengketa;
9. Menolak gugatan Para Penggugat untuk selain dan selebihnya.”
Dalam tingkat banding, putusan Pengadilan Negeri Balikpapan diatas kemudian dikuatkan dengan sedikit koreksi oleh Pengadilan Tinggi Samarinda dengan putusan Nomor 108/Pdt/2014/PT.Smr, tanggal 29 Januari 2015, dengan amar:
MENGADILI :
- Menerima permohonan banding dari Para Pembanding semula Para Tergugat;
- Memperbaiki Putusan Pengadilan Negeri Balikpapan Nomor 15/Pdt.G/2013/PN Bpp., tanggal 18 Juli 2013, dengan penambahan dalam eksepsi dan perbaikan redaksi kalimat dalam pokok perkara pada amar angka 2 (dua), angka 6 (enam) dan angka 9 (sembilan), selengkapnya berbunyi sebagai berikut:
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Para Penggugat untuk sebahagian;
2. Menyatakan bahwa Para Penggugat yaitu 1. H. Mahmudin bin H. Makka, 2. Nurdin bin H. Makka dan 3. Hj. Nurjannah binti H. Makka, 4. Hj. Hasniah binti H. Makka, 5. Herman bin H. Makka, 6. Taufiq bin H. Makka, 7. Achmad bin H. Makka, 8. Siti Aisiah binti H. Makka, 9. Jumiati binti H. Makka adalah ahli waris almarhum H. Makka yang sah;
3. Menyatakan menurut hukum sah dan mempunyai kekuatan hukum Surat Keterangan dan Pernyataan tanggal 17-11-1983 dan Gambar Situasi yang dikeluarkan oleh Kantor Pendaftaran Tanah Kotamadya Balikpapan Nomor 17/1971 tanggal 4 Februari 1971 serta izin mendirikan bangunan dari pengawasan pembangunan dan perumahan di Balikpapan Nomor 9/XII/S/1965 tanggal 13 Desember 1965;
4. Menyatakan bidang tanah berikut bangunan rumah yang ada diatasnya yang berasal dari penguasaan tanah Negara milik almarhum H. Makka yang terletak di Jalan Letjend Soeprapto RT 43 Nomor 42 Kelurahan Baru Ulu, kecamatan Balikpapan Barat, seluas + 230 meter persegi dengan batas-batas: ... adalah benar dan sah milik almarhum H. Makka sebagai harta warisan yang belum pernah dibagi;
5. Menyatakan menurut hukum Para Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum dengan segala akibat sebagai hukumnya;
6. Menyatakan menurut hukum bahwa Para Penggugat yaitu 1. H. Mahmudin bin H. Makka, 2. Nurdin bin H. Makka dan 3. Hj. Nurjannah binti H. Makka, 4. Hj. Hasniah binti H. Makka, 5. Herman bin H. Makka, 6. Taufiq bin H. Makka, 7. Achmad bin H. Makka, 8. Siti Aisiah binti H. Makka, 9. Jumiati binti H. Makka berhak atas sebidang tanah perwatasan berikut bangunan rumah yang ada di atasnya yang berasal dari penguasaan tanah negara milik almarhum H. Makka yang terletak di Jalan Letjend Soeprapto RT 43 Nomor 42, Kelurahan Baru Ulu, kecamatan Balikpapan Barat, seluas + 230 meter persegi dengan batas batas: ... adalah benar dan sah milik almarhum H. Makka sebagai harta warisan yang belum pernah dibagi;
7. Menyatakan menurut hukum Para Tergugat tidak berhak atas tanah objek sengketa;
8. Menghukum Para Tergugat menyerahkan bidang tanah berikut bangunan rumah yang ada di atasnya/objek sengketa dalam keadaan kosong/semula secara sukarela kepada Para penggugat atau anak anak/ahli waris almarhum H. Makka (1. H. Mahmudin bin H. Makka, 2. Nurdin bin H. Makka dan 3. Hj. Nurjannah binti H. Makka, 4. Hj. Hasniah binti H. Makka, 5. Herman bin H. Makka, 6. Taufiq bin H. Makka, 7. Achmad bin H. Makka, 8. Siti Aisiah binti H. Makka, 9. Jumiati binti H. Makka adalah ahli waris almarhum H. Makka yang sah) sebagai yang berhak atas objek sengketa;
9. Menolak gugatan Para Penggugat untuk selain dan selebihnya.”
Tergugat mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan yang patut kita sayangkan karena mencampur-adukkan konsep “hibah murni” terhadap “hibah wasiat”, sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
“Bahwa alasan-alasan kasasi tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena putusan Pengadilan Tinggi Samarinda yang memperbaiki putusan Pengadilan Negeri Balikpapan tidak salah dalam menerapkan hukum, sebab putusan dan pertimbangannya telah tepat dan benar yaitu mengabulkan gugatan untuk sebagian, putusan mana telah sesuai dengan hasil pemeriksaan dalam persidangan yang menunjukkan bahwa tanah beserta bangunan (objek sengketa) adalah peninggalan almarhum H. Makka yang belum dibagi waris, sehingga telah benar bahwa perbuatan Para Tergugat/Pemohon Kasasi menguasai objek sengketa tanpa persetujuan ahli waris yaitu Para Penggugat beserta anak almarhum H. Makka lainnya adalah perbuatan melawan hukum, bahwa dalil Para Tergugat/Pemohon Kasasi bahwa objek sengketa adalah peninggalan almarhum H. Makka yang dihibahkan untuk Para Tergugat/Pemohon Kasasi tidak didukung oleh bukti yang cukup dan kuat;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas lagi pula ternyata bahwa putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi: RIA SITI MUNA RUFAIDAH dan kawan-kawan tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: 1. RIA SITI MUNA RUFAIDAH, 2. EVA YUNITA, SANDRA SUGIANI S tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan