Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Pimpinan dan Anak Buah dalam Tindak Pidana Penyalahagunaan Korporasi

LEGAL OPINION
Question: Kalau dalam tindak pidana korporasi, itu yang bisa kena ancaman penjara, pimpinan perusahaan, atau anak buah juga?
Brief Answer: Sebenarnya terminologi yang lebih tepat ialah “tindak pidana penyalahgunaan korporasi”, karena korporasi adalah benda mati, sehingga tidak mungkin melakukan kejahatan—yang ada ialah faktor intellectual actor dibalik setiap aksi korporasi yang menyalahi hukum. Korporasi hanyalah wadah semata dalam aksi kejahatan sang “aktor intelektual”.
Dalam “tindak pidana penyalahgunaan korporasi”, baik pengurus top management maupun pegawai pelaksana, diancam dengan pidana “perbarengan”, baik sebagai penyuruh, penyandang dana, penganjur, maupun pembantu pelaksana. Hanya saja, meski sifat perbuatan jahat tetap saja jahat, namun derajat pelanggaran oleh pengurus atau pimpinan korporasi tetap lebih berat daripada bobot tanggung jawab pidana seorang pekerja / pegawai.
PEMBAHASAN:
Untuk menjadi cerminan konkret, SHIETRA & PARTNERS merujuk putusan Pengadilan Tinggi Kupang perkara pidana keuangan, register Nomor 42/PID/2015/PT.KPG tanggal 29 April 2015, dimana Terdakwa PETRUS TALU HURINT merupakan karyawan dari LSK Mitra Tiara, didakwakan secara alternatif, berupa penipuan maupun penggelapan, atau bersama dengan FRANSISKA SOMI BIRI dan MIKAEL HEGONG (Keduanya dilakukan penuntutan secaar terpisah) beserta NIKOLAUS LADI, SH, MM. (Daftar Pencarian Orang), antara tahun 2010 sampai dengan Tahun 2013 bertempat di Lembaga Kredit Finansial Mitra Tiara, telah ‘menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia, jika antara beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut sebagai orang yang melakukan,atau turut melakukan perbuatan itu’, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 46 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Salah satu produk yang ditawarkan oleh Lembaga Kredit Finansial (LKF) Mitra Tiara kepada masyarakat adalah Tabungan Simpanan Masa Depan (Simapan) dengan bunga sebesar 10 % per bulan. Dalam usahanya menghimpun dana dari masyarakat sampai dengan bulan Oktober 2013, LKF Mitra Tiara dengan NIKOLAUS LADI bersama dengan Terdakwa, berhasil menjaring nasabah sebanyak 16.171 orang dan berhasil mengumpulkan uang nasabah sebesar Rp. 411.809.554.278,-.
Terdakwa bekerja di LKF Mitra Tiara sejak bulan April 2010 dan bertugas sebagai koordinator pembayaran bunga nasabah LKF Mitra Tiara untuk wilayah diluar Flores Timur, pembayaran bunga nasabah LKF Mitra Tiara tersebut Terdakwa lakukan dengan cara mengirim atau mentransfer bunga nasabah ke nomor rekening masing-masing nasabah untuk setiap wilayah setiap bulan atau setiap jatuh tempo pembayaran bunga.
Disamping bertugas sebagai koordinator pembayaran bunga nasabah, Terdakwa juga seringkali menerima titipan uang dari nasabah lama yang ingin menambah uang tabungannya di LKF Mitra Tiara yang salah satunya terdakwa menerima titipan dari saksi DOROTHEA CEME pada tanggal 12 September 2013. Terkahir terdakwa menjabat sebagai Plh. Direktur LKF Mitra Tiara pada sekitar bulan Oktober 2013.
Usaha penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan yang dilakukan oleh NIKOLAUS LADI, FRANSISKA SOMI BIRI, MIKAEL HEGONG dan Terdakwa melalui LKF Mitra Tiara tersebut, dilakukan tanpa ijin dari Pimpinan Bank Indonesia.
Berdasarkan surat dari Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur tertanggal 20 Januari 2014, diterangkan bahwa Bank Indonesia dan/atau Otoritas Jasa Keuangan cq. Departemen Perizinan dan Informasi Perbankan, tidak pernah menerima pengajuan dan/atau memberikan izin kepada lembaga tersebut untuk menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan sebagai Bank Umum ataupun BPR.
Terhadap tuntutan Jaksa, Pengadilan Negeri Larantuka pada tanggal 18 Pebruari 2015 kemudian menjatuhkan putusan terhadap Terdakwa, dengan amar sebagai berikut:
1. Menyatakan Terdakwa PETRUS TALU HURINT tersebut diatas, terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘Turut Serta Menghimpun Dana Dari Masyarakat Tanpa Ijin Dari Pihak Yang Berwenang dan Penggelapan Dilakukan Oleh Orang Yang Menguasai Barang Itu Karena Ada Hubungan Kerja’;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 13 (tiga belas) tahun dan denda sejumlah Rp.10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 6 (enam) bulan;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan.”
Baik Jaksa Penuntut maupun Terdakwa, sama-sama mengajukan upaya hukum banding, dimana terhadapnya Majelis Hakim membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terdakwa dalam memori bandingnya pada pokoknya merasa keberatan atas putusan pidana 13 tahun 6 bulan yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Larantuka terhadap Terdakwa, dengan alasan yang pada pokoknya karena yang bertanggung jawab terhadap seluruh keuangan LKF Mitra sebesar kurang lebih Rp.411.000.000.000,- (empat ratus sebelas miliar rupiah) adalah sdr. Nikolaus Ladi, SH. MM. selaku Direktur dan pemilik lembaga LKF Mitra, Johakim Regi Hera sebagai wakil direktur, dan AkoysiusSina sebagai pembuat laporan keuangan, sedang terdakwa hanya sebagai karyawan biasa (pelaksana) yang semata-mata melaksanakan administrasi keuangan kantor sesuai mekanisme dan system keuangan yang telah dibuat dan diatur oleh sdr. Nikolaus Ladi, SH. MH. ; Karenanya terdakwa mohon diberikan keringanan hukuman;
“Menimbang, bahwa setelah Pengadilan Tinggi membaca mempelajari dengan seksama berkas perkara dan turunan resmi putusan Pengadilan Negeri Larantuka Nomor 92/PID.B/2014./PN.Lrt, Pengadilan Tinggi sependapat dengan pertimbangan hukum Hakim tingkat pertama dalam putusannya tersebut bahwa perbuatan terdakwa telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang diatur didalam Pasal 46 ayat (1) UU No. 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan jo. Pasdal 64 ayat(1) KUHP jo. Pasal 55 ayat(1) ke-1 KUHP yang didakwakan dalam dakwaan ke-Satu dan pasal 374 KUHP yang didakwakan dalam dakwaan ke-Tiga Primair, sehingga oleh karena itu kepada para Terdakwa harus dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana: Turut serta menghimpun dana dari Masyarakat tanpa ijin dari pihak pihak yang berwenang dan Penggelapan yang dilakukan oleh orang yang menguasai barang itu karena ada hubungan kerja sebagaimana dimaksud dalam dakwakan tersebut dan karena itu pula pertimbangan hukum hakim tingkat pertama tersebut diambil-alih dan dijadikan sebagai pertimbangan hukum bagi Pengadilan Tinggi sendiri dalam memutus perkara ini dalam tingkat banding;
“Menimbang bahwa adapun mengenai alasan keberatan dari Jaksa Penuntut Umum dalam memori bandingnya, oleh karena bukan merupakan hal-hal yang baru dan ternyata semuanya telah dipertimbangkan oleh Hakim tingkat pertama, maka alasan keberatan dari jaksa Penuntut tersebut harus dikesampingkan;
“Menimbang, bahwa karena para terdakwa berada dalam tahanan maka tidak ada alasan bagi terdakwa untuk dikeluarkan dari tahanan, karenanya terdakwa harus tetap berada dalam tahanan;
“Menimbang, bahwa dengan mengambil-alih pertimbangan hukum Hakim tingkat pertama, maka Pengadilan Tinggi memutuskan untuk menguatkan putusan Pengadilan Negeri Larantuka Nomor 92/PID.B/2014/PN.Lrt yang dimintakan banding tanggal 18 Pebruari 2015;
M E N G A D I L I :
1. Menerima permintaan banding dari Terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum;
2. Mengubah putusan Pengadilan Negeri Larantuka No. 92/Pid.B/2014/PN.Lrt tanggal 18 Pebruari 2015 yang dimintakan banding tersebut sekedar mengenai pidana yang dijatuhkan sehingga amarnya sebagai berikut: Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama 7 (tujuh) Tahun dan denda sejumlah Rp.10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 6 (enam) bulan;
3. Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Larantuka tersebut untuk yang selebihnya;
4. Memerintahkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan