Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Perampok Berpenutup Wajah, Pembuktian Pelaku yang Sukar

LEGAL OPINION
Question: Kalau ada perampokan bersenjata api, yang perampoknya pakai masker atau topeng, itu cara buktikan pelakunya gimana? Apabila dikemudian hari ada seseorang yang ditangkap karena punya senjata api secara ilegal, otomatis orang itu bisa jadi tersangka perampokan?
Brief Answer: Sangat sukar membuktikan pelaku perampokan berpenutup wajah. Itulah sebabnya, sifat karakter perampokan sangatlah jahat dan wajib diancam hukuman secara tegas dan keras. Itulah sebabnya Jaksa Penuntut Umum selalu membuat dakwaan secara alternatif: perampokan atau pemilikan senjata api tanpa izin—meski tetap saja, ancaman hukumannya terpaut jauh.
Sama sulitnya membuktikan seseorang telah bersalah karena memelihara satwa langka yang dilindungi pemerintah—dimana terdakwa mampu berkilah bahwa tiada saksi mata yang melihat secara langsung bahwa terdakwa menangkap hewan satwa dilindungi, karena burung elang yang dipeliharanya datang sendiri ke kebun terdakwa, sebagai contoh pembenaran diri yang memang terjadi dalam praktik di persidangan.
PEMBAHASAN:
Terdapat sebuah ilustrasi konkret sebagai cerminan betapa sukarnya proses pembuktian pelaku perampokan, sebagaimana putusan Mahkamah Agung RI register Nomor 2001 K/Pid.Sus/2015 tanggal 28 April 2016, atas perampokan dengan menodongkan senjata api pada korban, oleh karenanya Terdakwa didakwakan telah mengambil sesuatu barang kepunyaan orang lain dengan melawan hak, yang didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan terhadap orang, dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pencurian itu atau jika tertangkap tangan supaya ada kesempatan bagi dirinya sendiri atau bagi kawannya yang turut melakukan kejahatan itu akan melarikan diri atau supaya barang yang dicuri itu tetap ada ditangannya, sebagaimana diatur dan diancam pidana sesuai Pasal 365 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Sementara dalam dakwaan alternatif, Terdakwa didakwakan telah tanpa hak membuat, menerima, memperoleh, menyerahkan, menguasai, membawa, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan senjata api dan atau bahan peledak, sebagaimana diatur dan diancam pidana sesuai Pasal 1 ayat (1) UU Darurat No.12 Tahun 1951—atau dengan kata lain, Terdakwa dalam kepemilikan senjata api tidak memiliki izin dari yang Berwenang.
Terhadap tuntutan Jaksa, yang kemudian menjadi putusan Pengadilan Negeri Donggala Nomor 182/PID.B/2014/PN.DGL., tanggal 31 Maret 2015, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
1. Menyatakan Terdakwa ISHAK Alias SAHAKA Alias SAKKA telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘tanpa hak menguasai, menyimpan senjata api’;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 7 (tujuh) bulan;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh Terdakwa, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Menetapkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan.”
Dalam tingkat banding, yang menjadi putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah Nomor 28/PID/2015/PT PAL., tanggal 22 Mei 2015, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
- Menerima Permintaan banding dari Jaksa Penuntut Umum tersebut;
- Memperbaiki putusan Pengadilan Negeri Donggala Nomor 182/Pid.B/2014/PN.DGL tanggal 31 Maret 2015 yang dimintakan banding tersebut, sekedar mengenai pidana yang dijatuhkan kepada Terdakwa sehingga amar selengkapnya berbunyi sebagai berikut:
1. Menyatakan Terdakwa ISHAK Alias SAHAKA Alias SAKKA telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘tanpa hak menguasai, meyimpan senjata api’;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 10 (sepuluh) bulan;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh Terdakwa, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Menetapkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan.”
Jaksa Penuntut mengajukan upaya hukum kasasi, dengan pokok keberatan bahwa Penuntut Umum tidak sependapat dengan Majelis Hakim Pengadilan Negeri maupun Hakim Banding, kaena telah membebaskan Terdakwa dari dakwaan Pertama, padahal Berita Acara Pemeriksaan (BAP) maupun ketika diperiksa sebagai saksi, para saksi menerangkan bahwa Terdakwa yang melakukan tindak pidana pencurian dengan kekerasan, dan dipersidangan juga telah diajukan saksi verbalisan terhadap Penyidik dan ketika Penyidik melakukan penyidikan, tidak melakukan kekerasan terhadap Terdakwa maupun saksi dan hal tersebut diakui Terdakwa.
Dimana terhadapnya, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan kasasi yang diajukan Pemohon Kasasi / Jaksa Penuntut Umum tersebut, Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa alasan kasasi Jaksa/Penuntut Umum tersebut tidak dapat dibenarkan oleh karena Judex Facti telah tepat dan benar serta tidak salah menerapkan hukum atau menerapkan hukum telah sebagaimana mestinya, dengan pertimbangan sebagai berikut:
a. Bahwa berawal dari adanya tindak pidana pencurian dengan kekerasan yang dilakukan oleh 6 (enam) orang terhadap saksi korban Wayan Laba Wiarsa dengan cara menghadang kendaraan yang ditumpangi saksi Wayan dan teman–teman, kemudian memecah kaca jendela mobil, memaksa turun korban dan teman–temannya, pelaku menggunakan pistol dan senjata tajam;
b. Bahwa setelah korban turun dari mobilnya pelaku perampokan tersebut mengambil tas yang berisi uang Rp174.000.000,00 (seratus tujuh puluh empat juta rupiah) yang ada di mobil;
c. Bahwa pelaku perampokan tersebut diduga dilakukan oleh Terdakwa bersama teman–temannya sehingga Polisi mendatangi tempat tinggal Terdakwa dan melakukan penggeledahan yang kemudian ditemukan senjata api dalam lemari pakaian;
d. Bahwa perampokan dan pencurian dengan kekerasan tersebut dalam dakwaan Pertama sulit untuk dibuktikan, karena para korban tidak melihat wajah para pelaku;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, serta didasari pertimbangan bahwa putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang dan tidak pula melampaui kewenangannya, maka permohonan kasasi dari Jaksa/Penuntut Umum dinyatakan ditolak;
M E N G A D I L I :
“Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi / Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Donggala tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan