Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Akta Otentik Namun Substansi Asli Tapi Palsu

LEGAL OPINION
Question: Apa mungkin, akta notarisnya betul asli, tapi isinya palsu? Soalnya ada dua akta, yang satu surat dari pemerintah, yang satu lagi akta notaris, tapi keterangan di dalamnya saling bertolak-belakang satu sama lain.
Brief Answer: Pernah terjadi dan selalu terbuka kemungkinan kejadian demikian, sepanjang mampu dibuktikan dalam proses pembuktian di persidangan. Untuk membuktikannya dalam perkara perdata, tampaknya agak menyukarkan, sebab hakim perkara perdata menurut hukum acara yang ada, cukup berlandaskan pembuktian formil—dimana akta otentik diasumsikan benar isinya. Sebaliknya, dalam perkara pidana, pembuktian bersifat materiill—dalam arti pembuktian hingga menelaah substansi.
PEMBAHASAN:
Terdapat sebuah ilustrasi yang dapat menjadi cerminan, sebagaimana putusan Mahkamah Agung RI perkara pidana register Nomor 1068 K/PID/2015 tanggal 18 November 2015, dimana tiga orang Terdakwa di sebuah kantor notaris, menyuruh memasukan keterangan palsu kedalam suatu Akta otentik mengenai sesuatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh Akta itu, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai Akta itu seolah-olah keterangannya sesuai dengan kebenaran dan apabila dipakai dapat menimbulkan kerugian, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 266 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Bermula pada tanggal 3 Maret 2011, Drs. Bakhtiar Buyung yang merupakan pengurus Yayasan Lembaga Pembangunan Nasional (YLPN) meninggal dunia. Drs. Bakhtiar Buyung bersama-sama dengan Drs. Muchtar Isa (meninggal dunia pada tahun 1994) mendirikan Yayasan Lembaga Pembangunan Nasional (YLPN) pada tanggal 7 Februari 1972, dengan Akta Notaris Hasan Qalbi No. 6 tanggal 7 Februari 1972.
Yayasan Lembaga Pembangunan Nasional (YLPN) merupakan yayasan yang menaungi dan mengelola Perguruan Tinggi Akademi Keuangan dan Perbankan Pembangunan, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan, Perbankan dan Pembangunan (AKBP- STIE KBP) di Kota Padang.
Dengan meninggalnya Drs. Bakhtiar Buyung, maka terjadi kekosongan pengurus Yayasan Lembaga Pendidikan Nasional (YLPN). Pada tanggal 29 Juli 2011, H. Lismanidar (adik dari Drs. Mukhtar Isa alm) bersama-sama dengan saksi Sumiati, Ahmad Johari, dan Supriatin mendirikan Yayasan “Yayasan Lembaga Pembangunan Nasional Sumatera Barat” (YLPNSB) di hadapan Notaris Mira Oktaria No. 22 tanggal 29 Juli 2011. Sebagai pengurus Yayasan Lembaga Pembangunan Nasional Sumatera Barat ditunjuk Terdakwa I Daswir Siddik sebagai Ketua, Terdakwa II Pitri Puspawati sebagai Bendahara, dan Terdakwa III Santi sebagai Sekretaris.
Berdasarkan Akta Notaris No. 22 tanggal 29 Juli 2011 tersebut, ketiga Terdakwa membuat surat pernyataan Pengurus Yayasan Lembaga Pembangunan Nasional Sumatera Barat (YLPNSB) di hadapan Notaris Yuliarni dan dituangkan dalam Akta No. 9 tanggal 18 Oktober 2011, yang didalam akta tersebut para Terdakwa menerangkan:
“Bahwa Akademi Keuangan dan Perbankan Pembangunan, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan, Perbankan dan Pembangunan (AKBP- STIE KBP) berada dibawah naungan Yayasan Lembaga Pendidikan Nasional Sumatera Barat.”
Keterangan ketiga Terdakwa yang menerangkan bahwa AKBP- STIE KBP berada di bawah naungan Yayasan Lembaga Pendidikan Nasional Sumatera Barat yang dituangkan dalam Akta No. 9 tanggal 18 Oktober 2011, merupakan keterangan palsu karena AKBP- STIE KBP berada dalam naungan Yayasan Lembaga Pembangunan Nasional (YLPN), meski Akta No. 9 tanggal 18 Oktober 2011 tersebut merupakan Akta otentik.
Catatan Penulis: Dengan demikian terdapat dua buah badan hukum yayasan, hanya saja satu yayasan yang didirikan paling belakang, terdapat tambahan nama “Sumatera Barat”—yang kemudian menyerobot kepengurusan unit usaha kampus milik yayasan yang lebih dahulu berdiri.
Setelah dibentuknya Akta No. 9 tanggal 18 Oktober 2011, para Terdakwa membawanya dan memperlihatkannya kepada Ketua STIE KBP, Direktur Magister Manajemen, dan Direktur AKBP di kampus AKBP-STIE KBP. Terdakwa meminta agar mereka menyerahkan pengelolaan AKBP- STIE KBP kepada para Terdakwa dibawah naungan Yayasan Lembaga Pendidikan Nasional Sumatera Barat.
Oleh karena takut akan terjadinya keributan yang mengakibatkan terhentinya proses belajar-mengajar, lalu para pejabat kampus tersebut menyerahkan pengelolaan AKBP- STIE KBP kepada para Terdakwa dalam naungan Yayasan Lembaga Pendidikan Nasional Sumatera Barat, sampai dengan saat ini.
Sementara dalam dakwaan alternatif kedua, Terdakwa didakwa karena membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak atau yang diperuntukan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak palsu, pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 263 Ayat (1) KUHP.
Terhadap  tuntutan Jaksa, yang kemudian menjadi putusan Pengadilan Negeri Padang Nomor 363/Pid.B/2014/PN.Pdg. tanggal 19 Januari 2015, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
1. Menyatakan Terdakwa Terdakwa Drs. Daswir, S.H., M.H., Terdakwa Pitri Puspawati, S.H., Terdakwa Santi, S.E., telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana MENYURUH MEMASUKAN KETERANGAN PALSU KEDALAM AKTE AUTENTIK;
2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Drs. Daswir, S.H., M.H., Terdakwa Pitri Puspawati, S.H., Terdakwa Santi, S.E., tersebut dengan masing-masing pidana penjara selama 3 (tiga) bulan;
3. Menetapkan pidana penjara tersebut tidak perlu dijalani oleh Terdakwa Drs. Daswir, S.H., M.H., Terdakwa Pitri Puspawati, S.H., Terdakwa Santi, S.E., terkecuali dikemudian hari ada perintah lain dari Hakim karena para Terdakwa telah melakukan perbuatan yang dapat dipidana sebelum lewat masa percobaan selama 6 (enam) bulan.”
Dalam tingkat banding, yang menjadi amar putusan Pengadilan Tinggi Padang Nomor 18/PID/2015/PT.PDG tanggal 6 Maret 2015, sebagai berikut:
MENGADILI :
1. Menerima permintaan banding dari Jaksa Penuntut Umum tersebut;
2. Memperbaiki putusan Pengadilan Negeri Padang tanggal 19 Januari 2015, Nomor 363/PID.B/2014/PN.Pdg. sekedar mengenai lamanya pidana yang dijatuhkan kepada para Terdakwa sehingga amarnya berbunyi sebagai berikut:
3. Menjatuhkan pidana kepada para Terdakwa dengan pidana penjara selama 7 (tujuh) bulan;
4. Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Padang untuk selebihnya.”
Terdakwa mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa atas alasan-alasan kasasi dari pemohon Kasasi/para Terdakwa tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
Bahwa alasan-alasan kasasi Para Terdakwa bahwa putusan Judex Facti salah menerapkan hukum tidak dapat dibenarkan dengan pertimbangan sebagai berikut:
- Dalam putusan Judex Facti telah dipertimbangkan dengan tepat dan benar seluruh fakta-fakta yang relevan sebagai pertimbangan dalam menentukan dasar kesalahan Terdakwa;
- Bahwa perbuatan para Terdakwa yang menyuruh Yulianis S.H. Notaris di kota Padang untuk menempatkan suatu pernyataan tentang Kepengurusan Yayasan Lembaga Pembangunan Nasional Sumatera Barat (YLPN-SB) dengan Akta Nomor 9 tanggal 18 Oktober 2011 yang isinya menyatakan bahwa Akademi Keuangan dan Perbankan Pembangunan, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan Perbankan dan Pembangunan (AKBP-STIE KBP) yang ada sekarang ini berada dibawah naungan Yayasan Lembaga Pendidikan Nasional Sumatera Barat tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, padahal sesungguhnya Yayasan Lembaga Pembangunan Nasional yang didirikan pada tahun 1972 itu belum pernah dibubarkan;
- Bahwa para Terdakwa telah mendirikan Yayasan Lembaga Pembangunan Nasional Sumatera Barat (YLPN SB) pada tanggal 18 Oktober 2011 dengan Akta Notaris Yulianis, SH Nomor 9 dengan menaungi STIE KBP, sedangkan sebelumnya sudah berdiri YLPN Tahun 1972 dan STIE KBP dibawah pengelolaan YLPN 1972. YLPN 1972 masih tetap berdiri bukan dibubarkan sekalipun pendirinya Mukhtar Isa dan Bachtiar Buyung sudah meninggal dunia, sehingga perbuatan Para Terdakwa memasukkan STIE KBP dibawah naungan YLPN SB menguasai dan mengelolanya, tanpa izin dan merugikan ahli waris Pendiri YLPN tahun 1972;
- Bahwa perbuatan para Terdakwa tersebut telah memenuhi seluruh unsur yang terkandung dalam Pasal 266 KUHP dengan kualifikasi ‘menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam akte autentik’;
- Bahwa alasan kasasi para Terdakwa hanya mengulang fAkta yang telah diajukan dan dipertimbangkan dengan tepat dan benar dalam putusan Judex Facti;
“Bahwa oleh karena itu putusan Judex Facti/Pengadilan Tinggi yang memperbaiki putusan Judex Facti/Pengadilan Negeri dari semula pidana penjara masing-masing 3 bulan masa percobaan 6 bulan, menjadi pidana penjara masing-masing selama 7 bulan, melanggar Pasal 266 KUHP, merupakan putusan yang benar menurut hukum dan cara mengadili telah sesuai ketentuan undang-undang serta tidak melampaui batas-batas kewenangannya, maka beralasan kasasi Para Terdakwa untuk ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/Para Terdakwa : I. Drs. DASWIR SH.MH Pgl DATUK, II. PITRI PUSPAWATI, SH. dan III. SANTI, SE. tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan