Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Dalam Pidana, Kelalaian / Ceroboh adalah Kesalahan

LEGAL OPINION
Question: Sering didengar, kalau di pidana itu pada prinsipnya “tiada pidana tanpa kesalahan”. Apa maksudnya, kalau seseorang ceroboh, lalu mengakibatkan orang lain terluka atau bahkan tewas, artinya tidak dihukum pidana?
Brief Answer: Frasa “kesalahan” dalam terminologi hukum, memiliki dua makna yang tersifat alternatif, bisa berupa “kesengajaan” (dolus) ataupun “kelalaian” (culpa). Dalam derajat tertentu, “ceroboh berat” disama-artikan dengan “kesengajaan”.
Itulah sebabnya, dalam lingkungan pergaulan bermasyarakat, tidak dikenal istilah tidak tahu hak dan kewajiban diri sendiri maupun hak dan kewajiban warga negara lain, yang bisa jadi bersinggungan dengan kita yang saling berbagi ruang dan sumber daya yang sifatnya terbatas.
PEMBAHASAN:
Untuk memudahkan pemahaman, untuk itu SHIETRA & PARTNERS merujuk pada putusan Pengadilan Anak pada Pengadilan Negeri Sumedang perkara pidana lalu-lintas register Nomor 102/Pid/B/2013/PN.SMD tanggal 13 Juni 2013, dimana yang menjadi terdakwa ialah “anak dibawah umur”, diajukan ke persidangan oleh Jaksa Penuntut dengan dakwaan tunggal, yakni Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Dimana terhadapnya, Majelis Hakim membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas dan berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap di persidangan, Hakim akan membuktikan dakwaan Tunggal, yaitu Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dengan unsur-unsur sebagai berikut:
1. Unsur ‘Setiap orang’;
2. Unsur ‘Yang mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya mengakibatkan kecelakaan lalu-lintas dengan korban orang lain meninggal dunia’.
“Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan yang mengemudikan kendaraan bermotor, adalah setiap orang yang mengemudikan kendaraan yang digerakkan oleh peralatan mekanik berupa mesin selain kendaraan yang berjalan diatas rel;
“Menimbang, bahwa yang dimaksud dengan kelalaian didalam Pasal ini adalah kurang hati-hati, lupa, atau lalai, atau bisa amat kurang perhatian. Sedangkan yang dimaksud dengan matinya orang disini tidak dikehendaki / dimaksud sama sekali oleh terdakwa, akan tetapi kematian tersebut hanya merupakan akibat dari pada kurang hati-hati atau lalai terdakwa (delik culpa), misalnya seorang supir menjalankan kendaraan mobil terlalu kencang, sehingga menabrak seseorang hingga meningga; atau seseorang berburu melihat sosok hitam dalam tumbuh-tumbuhan atau pohon, yang dikira babi/rusa yang kemudian ditembak mati, tetapi ternyata sosok yang dikira babi itu adalah manusia; atau orang main-main dengan senjata api, karena kurang hati-hati meletus dan mengenai orang lain hingga mati dan sebagainya;
“Menimbang, bahwa berdasarkan fakta tersebut diatas, apabila dikaitkan dengan pengertian mengenai unsur ini, maka diperoleh kesimpulan bahwa benar Terdakwa telah mengemudikan kendaraan bermotor berupa Sepeda Motor yang berboncengan dengan seorang temannya;
“Bahwa Terdakwa mengemudikan kendaraan tersebut dari arah Cirebon menuju bandung, akan tetapi tepat di depan Kantor Pos dan Giro Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang yang kondisi jalannya berlubang dan waktu itu pandangan Terdakwa silau oleh karena lampu jauh dari kendaraan yang berlawanan sehingga Terdakwa menabrak korban yang akan menyeberang jalan;
“Bahwa karena kelalaian tersebut, kendaraan yang Terdakwa kemudikan telah menimbulkan orang lain meninggal dunia sebagaimana hasil Visum Et Refertum dari RS. ... tanggal 24 April 2013 yang ditandatangani oleh dokter ... , dengan hasil pemeriksaan sebagai berikut:
- Pasien dibawa tidak bergerak dan tidak bernafas;
- Pada telinga kanan, terdapat darah yang keluar dari telinga;
- Pilil mata, reflek cahaya negative (kanan-kiri) medriasis maksimal;
- Pasien dinyatakan telah meninggal saat sampai di RS. AMC, yang kemudian disebabkan oleh cidera kepala;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas maka unsur ‘mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaian mengakibatkan kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal dunia’ telah terpenuhi oleh perbuatan terdakwa;
“Menimbang, bahwa dengan terpenuhinya unsur-unsur Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 maka cukup beralasan hukum untuk menyatakan Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan pidana sebagaimana dakwaan jaksa / Penuntut Umum;
“Menimbang, bahwa selanjutnya menurut pengamatan Hakim selama pemeriksaan di persidangan, telah ternyata tidak ditemukan alasan pemaaf yang dapat menghapuskan sifat melawan hukum dari perbuatan Terdakwa tersebut dan tidak pula ditemukan alasan pembenar yang dapat membebaskan Terdakwa dari pertanggungjawaban pidana, maka Terdakwa haruslah dinyatakan bersalah atas perbuatan pidana tersebut dan cukup beralasan hukum untuk dijatuhi pidana yang setimpal dengan tingkat kesalahan pada diri terdakwa;
“Menimbang, bahwa sebelum Hakim menjatuhkan pidana terhadap diri terdakwa, maka perlu dipertimbangkan terlebih dahulu hal-hal yang memberatkan dan yang meringankan, sebagaimana ketentuan dalam Pasal 197 ayat (1) huruf (f) KUHAP, yaitu:
Hal-hal yang memberatkan:
- Perbuatan terdakwa mengakibatkan duka mendalam bagi keluarga korban;
Hal-hal yang meringankan:
- Terdakwa berlaku sopan dan terus terang mengakui perbuatannya;
- Terdakwa merasa menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi;
- Terdakwa belum penah dihukum;
- Terdakwa telah melakukan perdamaian dengan keluarga korban dan keluarga korban telah memaafkan.
“Menimbang, bahwa tujuan pemidanaan yang akan dijatuhkan Majelis, bukanlah semata-mata upaya balas dendam, namun dititik-beratkan pada pendidikan dan pengajaran untuk memperbaiki budi pekerti Terdakwa maupun warga masyarakat lainnya, pada sisi lain diharapkan setelah Terdakwa selesai menjalani pidananya, dan ketika kembali ke masyarakat, tidak akan lagi melakukan perbuatan sejenis maupun perbuatan pidana lainnya;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, penjatuhan pidana atas diri terdakwa sebagaimana tercantum dalam amar putusan menurut Hakim adalah yang memenuhi rasa keadilan masyarakat maupun hukum yang berlaku;
“Menimbang, bahwa di persidangan telah pula mendengar Laporan Hasil Penelitian Balai Pemasyarakatan Bandung yang menyarankan kepada Majelis Hakim agar menjatuhkan pidana bersyarat, dan berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan, Majelis Hakim sependapat dengan saran dari Balai Pemasyarakatan Bandung tersebut;
M E N G A D I L I :
1. Menyatakan terdakwa ... , telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘MENGEMUDIKAN KENDARAAN BERMOTOR YANG KARENA KELALAIANNYA MENGAKIBATKAN KECELAKAAN LALU LINTAS YANG MENGAKIBATKAN ORANG LAIN MENINGGAL DUNIA’;
2. Menjatuhkan pidana penjara kepada Terdakwa selama 3 (tiga) bulan;
3. Menetapkan pidana tersebut tidak perlu dijalani kecuali dikemudian hari ada perintah lain dalam putusan Hakim (bahwa) terdakwa (kembali) bersalah melakukan suatu tindak pidana selama masa percobaan 6 (enam) bulan.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan