Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Kemenangan yang Percuma Seorang Pekerja Kontrak

LEGAL OPINION
Telaah Putusan yang “Tidak Salah”, namun “Tidak Adil”
Question: Kontrak kerja belum benar-benar berakhir, tapi perusahaan sudah memecat saya. Masih ada beberapa bulan lagi tersisa sebelum masa kerja dalam kontrak (PKWT) benar-benar akan habis masa berlakunya, tapi kini sudah dipecat tanpa kompensasi. Apa layak, bila perusahaan itu saya gugat saja?
Brief Answer: Sebaiknya jangan, tidak ada artinya sekalipun gugatan akan dikabulkan pengadilan. Rezim hukum ketenagakerjaan di Tanah Air masih bersifat diskriminatif, dimana Pekerja Tetap (PKWTT) diberikan Upah Proses bila terjadi sengketa pemutusan hubungan kerja (PHK) setidaknya selama 6 bulan Upah, sementara untuk Pekerja dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) tidak diberikan Upah Proses.
PEMBAHASAN:
Ilustrasi konkret berikut akan memperlihatkan bagaimana diskriminatifnya hukum ketenagakerjaan di Indonesia, dimana menang dalam gugatan sama sekali tidak membawa manfaat (bagai pepatah “lebih besar pasak daripada tiang”), sebagaimana putusan Mahkamah Agung RI sengketa PHK register Nomor 521 K/Pdt.Sus-PHI/2014 tanggal 28 November 2014, perkara antara:
- EDWARD SOPARIADI SILALAHI, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Penggugat; melawan
- PT. DAYA MITRA SERASI Cabang Medan, selaku Termohon Kasasi dahulu Tergugat.
Penggugat telah bekerja pada Tergugat sejak tahun 2005 hingga Juli 2013, dengan tugas sebagai Driver (Supir) pada Unit Driver Operation Medan. Penempatan pekerjaan yang diberikan Tergugat kepada Penggugat adalah berdasarkan kebutuhan relasi dari Tergugat, sementara hubungan kerja Penggugat dan Tergugat adalah berdasarkan PKWT dan telah diperpanjang beberapa kali, yang mana perjanjian kerja antara Tergugat dan Penggugat yang terakhir kalinya adalah tanggal 01 Oktober 2012.
Tanggal 27 Juili 2013, tanpa ada kesalahan dari Penggugat, Tergugat secara sepihak telah melakukan PHK terhadap Penggugat, meski Penggugat sama sekali tidak mempunyai kesalahan kepada Tergugat. PHK tersebut terjadi secara lisan dan tidak tertulis.
Adapun alasan yang disampaikan Tergugat Penggugat, bahwa Penggugat telah menolak order/tugas dari Perusahaan Gas Negara Cabang Medan. Penggugat menerangkan, bahwa Penggugat sama sekali tidak pernah menolak tugas yang diberikan.
Hingga gugatan diajukan Penggugat, selama ini Tergugat tidak pernah memberikan Surat Peringatan atau Teguran kepada Penggugat, baik secara lisan atau tertulis. Dengan demikian, Tergugat hanya mencari-cari alasan untuk melakukan PHK.
Terhadap gugatan sang Pekerja, Pengadilan Hubungan Industrial Medan kemudian menjatuhkan putusan Nomor 04/G/2014/PHI.Mdn., tanggal 15 April 2014, dengan pertimbangan serta amar sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa oleh karena terbukti Tergugat memutuskan hubungan kerja dengan Penggugat, dengan alasan Penggugat telah melakukan kesalahan dan dikategorikan dapat di-PHK sebagaimana telah ditetapkan dan diatur dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), maka Majelis Hakim mempertimbangkan untuk menghukum Tergugat membayar hak-hak Penggugat sampai dengan berakhirnya sisa masa Kontrak Kerja yaitu upah untuk bulan Agustus dan September 2013 serta disesuaikan dengan upah terakhir yang diterima Penggugat setiap bulannya dari Tergugat yakni sebesar Rp1.650.000,00;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, maka besar dan rincian hak-hak Penggugat akibat pemutusan hubungan kerja sepihak dengan alasan Penggugat telah melakukan kesalahan yang dikategorikan dapat diputuskan hubungan kerja oleh Tergugat sesuai PKWT adalah sisa kontrak kerja yang semestinya masih tersisa selama 2 (dua) bulan, yaitu bulan Agustus dan September 2013, sebagai berikut 2 (dua) bulan sisa kontrak x Rp1.650.000,00 (satu juta enam ratus lima puluh ribu rupiah) upah per-bulan = Rp.3.300.000,00 (tiga juta tiga ratus ribu rupiah). Dengan demikian petitum point 3, 4 dan 5 gugatan Penggugat hanya dapat dikabulkan sepanjang pembayaran uang sebagaimana tertera diatas;
“Menimbang, bahwa oleh karena berakhirnya hubungan kerja antara Penggugat dan Tergugat adalah didasarkan syarat-syarat kerja pada Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dan terbukti pula Penggugat melakukan kesalahan sebagaimana ditetapkan dalam PKWT, maka tuntutan Penggugat pada petitum point 6 yakni supaya Tergugat membayar upah berjalan selama dalam proses, tidak berdasar untuk dikabulkan karenanya haruslah dinyatakan ditolak;
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan hubungan kerja antara Penggugat dengan Tergugat putus sejak tanggal putusan ini diucapkan;
3. Menghukum Tergugat membayar hak-hak Penggugat akibat pemutusan hubungan kerja karena kesalahan yang dilakukan Penggugat sesuai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) berupa uang sisa kontrak kerja bulan Agustus dan September 2013 (2 bulan sisa kontrak) x Rp1.650.000,00 (upah per-bulan) = Rp3.300.000,00 (tiga juta tiga ratus ribu rupiah);
4. Membebankan kepada negara biaya yang timbul dari perkara ini;
5. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya.”
Sang Pekerja mengajukan upaya hukum kasasi. Adapun yang menjadi pokok keberatan sang Pekerja, Penggugat telah bekerja pada PT. Daya Mitra Serasi sejak tahun 2005 hingga tanggal 27 Juli 2013, dengan tugas sebagai Supir pada Unit Driver Operation Medan yang pernah ditugaskan pada Grub Usaha Tergugat lainnya seperti PT. Serasi Autoraya dan PT. Serasi Transportasi Nusantara.
Berdasarkan bukti berupa Laporan Keuangan Konsolidasian PT. Serasi Autoraya dan Anak Perusahaan, tertanggal 30 September 2011, terdapat keterangan bahwa  PT. Daya Mitra Serasi (Tergugat) dan PT. Serasi Transportasi Nusantara adalah anak perusahaan PT. Serasi Autoraya.
Dengan demikian, selama kurun waktu dari tahun 2005 hingga tahun 2013, Penggugat telah bekerja pada Tergugat yang di-rotasi untuk bekerja pada PT. Serasi Autoraya dengan PT. Serasi Transportasi Nusantara berikut PT. Daya Mitra Serasi (Tergugat), yang mana masing-masing perusahaan tersebut merupakan dalam Satu Grup.
Sehingga rotasi yang dilakukan Tergugat terhadap Penggugat dalam lingkup satu grup adalah bukan perpindahan Penggugat dengan perusahaan lain, tetapi adalah perusahaan yang satu grup dengan Tergugat, karena beneficial owner-nya adalah pengusaha yang sama. Dengan demikian, Penggugat telah bekerja pada grub usaha milik sang Pengusaha selama lebih dari 8 tahun lamanya.
Dimana terhadap fakta-fakta empiris yang disampaikan sang Pekerja, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
“Bahwa keberatan-keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi tanggal 5 Juni 2014 dan kontra memori kasasi tanggal 30 Juni 2014, dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti, dalam hal ini Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Medan tidak salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
“Bahwa berkaitan dengan pembuktian yang telah diakukan, pemutusan hubungan kerja yang telah dilakukan oleh tergugat dalam hubungan kerja Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) sebelum berakhirnya perjanjian kerja yang telah diperjanjikan membebani Tergugat untuk membayar kewajibannya terhadap Penggugat sebagaimana ketentuan yang berlaku khususnya ketentuan Pasal 62 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, ternyata bahwa putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Medan dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi: EDWARD SOPARIADI SILALAHI tersebut harus ditolak;    
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi EDWARD SOPARIADI SILALAHI tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan