Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Kartu Keluarga Bukan Bukti Ikatan Perkawinan

LEGAL OPINION
Question: Apakah Kartu Keluarga dapat dijadikan bukti sebagai adanya hubungan perkawinan?
Brief Answer: Mahkamah Agung RI tampaknya masih memandang Kartu Keluarga bukanlah sebuah bukti adanya ikatan pernikahan.
PEMBAHASAN:
Ilustrasi berikut SHIETRA & PARTNERS jadikan sebagai cerminan, sebagaimana putusan Mahkamah Agung RI sengketa harta “gono-gini” register No. 1442 K/Pdt/2016 tanggal 23 Agustus 2016, perkara antara:
- Ny. LISA, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Tergugat II; melawan
- Ny. LINA, sebagai Termohon Kasasi dahulu Penggugat; dan
1. AMIN; 2. DJONI, S.H.; 3. BADAN PERTANAHAN NASIONAL KOTA BANDAR LAMPUNG; sebagai Para Turut Termohon Kasasi dahulu Tergugat I, III, IV.
Pada 1 Januari 1999 telah terjadi perkawinan antara Penggugat dan Tergugat I. Selama berlangsungnya perkawinan antara Penggugat dan Tergugat I, diperoleh harta kekayaan bersama yang berupa sebidang tanah Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor 11975/kdm, terdaftar atas nama Amin selaku Tergugat I pada tanggal 31 Januari 2007.
Tahun 2009, terjadi perceraian antara Penggugat dan Tergugat I. Harta bersama yang dimiliki oleh Penggugat dan Tergugat I belum dilakukan pembagian antara kedua belah pihak, dimana objek ini masih ditempati oleh Penggugat.
Tanggal 6 Agustus 2010, Tergugat I dan Tergugat II mendatangi Tergugat III selaku Notaris, berencana untuk membuat Kuasa Menjual, tanpa izin ataupun sepengetahuan Penggugat. Tergugat I memberikan kuasa menjual kepada Tergugat II untuk mewakili Tergugat I menjual SHM No. 11975/kdm kepada Tergugat II.
Penggugat berkeberatan, karena objek tanah merupakan harta bersama antara Penggugat dan Tergugat I. Perbuatan Tergugat II dinilai melawan hukum karena menjual objek tanah kepada dirinya sendiri, sementara objek sengketa adalah milik Penggugat dan Tergugat I yang belum dilakukan pembagian harta bersama.
Perbuatan Tergugat III mengeluarkan Akta Jual Beli dimana Tergugat II selaku “kuasa penjual” sekaligus berkedudukan sebagai “pembeli” adalah perbuatan melawan hukum, karena hal tersebut melanggar Pasal 39 ayat (1) huruf (d) PP Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah mengatur bahwa PPAT menolak pembuatan akta, jika salah satu pihak bertindak atas dasar suatu Surat Kuasa Mutlak yang pada hakikatnya berisikan perbuatan hukum pemindahan hak. Pemindahan hak atas objek dinilai tidak sah, karena hanya berdasarkan pada kuasa menjual saja.
Terhadap gugatan Penggugat, Pengadilan Negeri Tanjung Karang kemudian menjatuhkan putusan Nomor 35/Pdt.G/2015/PN.Tjk., tanggal 2 September 2015, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian;
2. Menyatakan Para Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum;
3. Menyatakan Surat Kuasa Menjual antara Tergugat I dengan Tergugat II cacat hukum dan tidak mengikat;
4. Menyatakan Akta Jual Beli yang dibuat oleh Tergugat III adalah batal demi hukum;
5. Menghukum Para Tergugat untuk mengembalikan kepada keadaan semula terhadap kepemilikan Sertifikat Hak Milik Nomor 11975/Kdm, berukuran luas 119 m², dalam Surat Ukur tertanggal 28 September 2000, Nomor 170/Kdm/2000;
6. Menghukum Para Tergugat untuk membayar biaya perkara;
7. Menolak gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya.”
Dalam tingkat banding atas permohonan Tergugat II, putusan Pengadilan Negeri diatas kemudian dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Tanjung Karang dengan Putusan Nomor 61/PDT/2015/PT.TJK., tanggal 14 Januari 2016.
Tergugat II selaku pembeli tanah, mengajukan upaya hukum kasasi, dengan argumentasi bahwa Penggugat tidak memiliki Kutipan Buku Nikah yang dapat membuktikan bahwa Penggugat telah menikah dengan Tergugat I, sehingga pernikahan yang ada adalah tidak memiliki kekuatan hukum.
Artinya pula, tidak ada hubungan hukum antara Penggugat dengan Tergugat I—alias perkawinan tidak sah menurut hukum, karena menikah hanya secara sirri atau agama saja, tidak dicatat secara resmi kepada Kantor Catatan Sipil, namun hanya berkumpul layaknya sebagai seorang suami dan isteri adalah tidak diikat dengan adanya ikatan perkawinan yang sah, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Pekawinan, yang menyebutkan:
“Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.”
Pihak pembeli tanah juga mengutip kaedah Yurisprudensi putusan Mahkamah Agung R.I. Nomor 992 K/Sip/1979, yang berisi kaedah:
“Semenjak Akta Jual Beli ditandatangani di depan PPAT, hak milik atas tanah yang dijual beralih kepada pembeli.”
Dimana terhadap keberatan-keberatan yang diajukan, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
“Bahwa alasan-alasan kasasi tersebut dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti dengan seksama memori kasasi tanggal 15 Februari 2016 dan kontra memori kasasi tanggal 26 Februari 2016 dan 29 Februari 2016 dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti Pengadilan Tinggi Tanjung Karang yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang, ternyata telah salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
“Bahwa untuk membuktikan adanya suatu ikatan perkawinan atau adanya suatu perceraian diperlukan Akta Perkawinan atau Akta Perceraian, dan oleh karena Penggugat tidak pernah mengajukan Akta Perkawinan ataupun Akta Perceraiannya dengan Tergugat I di persidangan, dan hanya mengajukan bukti Kartu Keluarga yang menerangkan bahwa Penggugat adalah istri dari Tergugat I, maka Penggugat tidak memiliki legal standing untuk menggugat pembatalan penjualan atas harta atas nama Tergugat I (Amin) yang diklaimnya sebagai harta bersama dan Kartu Keluarga bukanlah bukti adanya suatu perkawinan;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas Mahkamah Agung berpendapat bahwa terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi NY. LISA, serta membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Tanjung Karang Nomor 61/PDT/2015/PT.TJK., tanggal 14 Januari 2016 yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor 35/Pdt.G/2015/PN.Tjk., tanggal 2 September 2015 serta Mahkamah Agung mengadili sendiri perkara ini dengan amar putusan sebagaimana yang akan disebutkan di bawah ini;
M E N G A D I L I :
1. Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi Ny. LISA tersebut;
2. Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Tanjung Karang Nomor 61/PDT/2015/PT.TJK., tanggal 14 Januari 2016 yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor 35/Pdt.G/2015/PN.Tjk., tanggal 2 September 2015;
MENGADILI SENDIRI:
Dalam Pokok Perkara
- Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan