Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Gugatan Perceraian Tidak Mensyaratkan Pembuktian Pertikaian

LEGAL OPINION
Question: Dalam pertikaian dalam rumah tangga yang berujung pada gugatan cerai di pengadilan, apakah pihak yang meminta cerai harus membuktikan bahwa pihak suami/istri yang telah terlebih dahulu menjadi sebab ketidak-harmonisan sehingga terpaksa mengajukan gugatan cerai ini?
Brief Answer: Secara faktual, rata-rata gugatan “perkawinan putus karena perceraian” dikabulkan oleh pengadilan sepanjang pihak penggugat selaku salah satu pasangan bersikukuh untuk tidak lagi melangsungkan pertalian hubungan suami-istri.
Perihal siapa yang menjadi penyebab pertikaian tersebut terjadi, hakim tidak akan ambil hirau, karena dinilai tidak relevan—oleh sebab itu, dalam gugatan perceraian hampir menyerupai “permohonan” (voluntair), dimana hadir atau tidaknya tergugat, benar atau tidaknya pihak tergugat yang telah menyulut putusnya asmara dalam rumah tangga, tidak lagi relevan dalam proses pembuktian di persidangan yang rata-rata memang hanya sekadar formalitas.
Dalam sudut pandang inilah, dapat dikatakan bahwasannya, pertalian hubungan perkawinan menyerupai “kesepakatan” kerjasama membangun rumah tangga, dimana jika salah satu pihak tidak lagi sejalan dalam segi toleransi dan idealisme akan konsep rumah tangga, maka rumah tangga tak lagi dapat berlanjut. Hanya saja, dalam perikatan perkawinan, salah satu pihak memiliki hak prerogatif untuk memutus hubungan tanpa perlu persetujuan pihak pasangan.
Mengapa demikian? Karena melangsungkan mahligai pernikahan, bukan diartikan salah satu pihak melepaskan pilihan hidupnya untuk hidup bebas, untuk selamanya. Jika salah satu pasangan tidak diberikan hak untuk melepas hubungan perkawinan, sama artinya perkawinan menjelma “perbudakan” secara hukum dimana kebebasan dirampas oleh dan atas nama hukum.
PEMBAHASAN:
Sebagai ilustrasi, dapat dicerminkan lewat putusan Pengadilan Negeri Surakarta sengketa perceraian register Nomor 241/PDT/G/2014/PN.Skt. tanggal 22 Desember 2014, dimana terhadap gugatan cerai sang istri, Majelis Hakim membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa Tergugat telah dipanggil dengan patut, namun Tergugat tidak datang menghadap dengan disertai suatu alasan yang sah serta juga tidak mengirimkan wakilnya atau kuasanya yang sah untuk itu.
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka pemeriksaan perkara ini diperiksa dan diadili dengan tanpa hadirnya Tergugat (Verstek).
“Menimbang, bahwa Penggugat dalam dalil gugatannya menyatakan bahwa Penggugat dengan Tergugat telah melangsungkan perkawinan dan perkawinan tersebut telah didaftarkan di Kantor Catatan Sipil Kota Surakarta dengan Akta Perkawinan No. ... yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta tertanggal 09 Juni 2007.
“Menimbang, bahwa Penggugat mendalilkan bahwa perkawinan Penggugat dan Tergugat tersebut sudah tidak harmonis lagi dan hal tersebut disebabkan karena kehidupan rumah tangga Penggugat dengan Tergugat sering diwarnai percekcokan/pertengkaran terus-menerus dan sulit untuk dihindarkan sehingga kehidupan rumah tangga Penggugat dengan Tergugat menjadi tidak bahagia, tidak harmonis, dan bahkan bisa dikatakan tidak tenteram.
“Menimbang, bahwa selanjutnya Majelis Hakim akan mempertimbangkan apkah antara Penggugat dengan Tergugat benar telah melangsungkan perkawinan sebagaimana dimaksud UU No. 1 Tahun 1974 dan apakah benar perkawinan itu tidak dapat lagi dipertahankan sehingga harus diputus dengan perceraian?
“Menimbang, bahwa dari surat bukti yang bertanda P-1 yaitu Foto Copy Kutipan Akta Perkawinan No. ... tanggal 09 Juni 2007 yang dikeluarkan oleh Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta bahwa antara Penggugat dan Tergugat telah dilangsungkan suatu perkawinan dan perkawinan tersebut telah dicatatkan.
“Menimbang, bahwa dari pertimbangan tersebut, maka telah ternyata bahwa Penggugat dengan Tergugat telah dilangsungkan suatu perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.
“Menimbang, bahwa Penggugat menyatakan bahwa semenjak perkawinannya dengan Tergugat, Tergugat tidak mau bekerja mencari nafkah, suka minum-minum keras bersama-sama dengan teman-temannya sementara untuk biaya rumah tangga, Penggugat yang menanggung dan dengan bantuan orang tua.
“Menimbang, bahwa dari keadaan tersebut antara Penggugat dengan Tergugat sering terjadi pertengkaran dan kalau bertengkar Tergugat kadang menganiaya Penggugat dan akhirnya Penggugat dengan Terggat telah pisah rumah.
“Menimbang, bahwa sesuai dengan keterangan saksi-saksi yang menerangkan bahwa antara Penggugat dengan Tergugat sering terjadi pertengkaran-pertengkaran dan sudah tidak mungkin hidup rukun lagi.
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka telah ternyata bahwa antara Penggugat dengan Tergugat sudah tidak hidup rukun lagi dan sudah tidak ada lagi harapan untuk dapat hidup rukun.
“Menimbang, bahwa dari uraian pertimbangan tersebut diatas dihubungkan dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI No. 543 K/Pdt/1996 yang menyatakan bahwa perceraian tidak perlu dilihat dari siapa penyebab percek-cokan atau karena salah satu pihak telah meninggalkan pihak lain, tetapi yang perlu dilihat, apakah perkawinan itu masih dapat dipertahankan atau tidak, karena jika hati kedua pihak telah pecah, maka perkawinan itu sendiri sudah pecah maka tidak mungkin dipersatukan kembali, meskipun salah satu pihak tetap menginginkan perkawinan-perkawinan tetap utuh. Apabila perkawinan itu tetap dipertahankan maka pihak yang menginginkan perkawinan pecah, tetap akan berbuat yang tidak baik agar perkawinan tetap pecah.
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dan dalil gugatan Penggugat yang menyatakan bahwa rumah tangganya sudah tidak harmonis lagi adalah beralasan menurut hukum dan juga gugatan Penggugat tidak bertentangan dengan hukum, maka menurut Pengadilan Negeri tuntutan Penggugat dengan dasar Pasal 19 huruf (f) PP No. 9 Tahun 1975 agar perkawinan Penggugat dengan Tergugat putus karena perceraian dengan segala akibat hukumnya dapat dikabulkan.
“Menimbang, bahwa oleh karena status anak yang dilahirkan dalam perkawinan tersebut tidak dimintakan berada di tangan pengasuhan Penggugat dan sementara saat ini anak tersebut bersama dengan Tergugat, maka status anak tersebut tidak perlu dipertimbangkan.
“Menimbang, bahwa oleh karena perkawinan Penggugat dengan Tergugat telah dinyatakan putus karena perceraian, maka perceraian tersebut harus dicatat dalam Register untuk itu dan oleh karena Pengadilan Negeri memerintahkan keapda Panitera Pengadilan Negeri Surakarta agar segera mengirimkan satu salinan putusan ini kepada kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta untuk mencatat perceraian ini dalam buku Register untuk itu bilamana telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap.
M E N G A D I L I :
1. Menyatakan Tergugat telah dipanggil dengan patut namun tidak hadir di depan persidangan (verstek);
2. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
3. Menyatakan putus karena perceraian dengan segala akibat hukumnya ikatan perkawinan antara Penggugat dengan Tergugat yang dilaksanakan di Kota Surakarta pada tanggal 9 Juni 2007 sebagaimana dalam kutipan Akte Perkawinan Nomor ... tertanggal 9 Juni 2007 yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta;
4. Memerintahkan kepada Panitera Pengadilan Negeri Surakarta atau Pejabat yang ditunjuk untuk mengirimkan salinan putusan ini yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Surakarta dan untuk didaftar dalam register yang diperuntukkan untuk itu dan kemudian segera diterbitkan Akta Perceraian antara Penggugat dan Tergugat.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan