Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Ambivalensi Kewenangan Judex Jure

LEGAL OPINION
Question: Saya agak bingung, jadi sebenarnya kapan, Mahkamah Agung dalam putusan kasasinya bisa merubah vonis hukuman pidana berat ringannya?
Brief Answer: Mahkamah Agung RI dalam putusannya pernah membentuk kaedah, bahwa berat atau ringannya pidana yang dijatuhkan pada prinsipnya merupakan wewenang Judex Facti, akan tetapi bila ada fakta relevan yang memberatkan atau meringankan Terdakwa belum dipertimbangkan Judex Facti atau Judex Facti tidak cukup mempertimbangkan mengenai hal tersebut, Mahkamah Agung dapat memperbaiki pidana yang dijatuhkan kepada Terdakwa—meski secara struktural dan teoretis, sejatinya Mahkamah Agung selaku judex juris, tidak berwenang memeriksa fakta-fakta persidangan yang merupakan domain judex factie (Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi).
PEMBAHASAN:
Kaedah yang diangkat lewat putusan Mahkamah Agung RI perkara pidana register Nomor 1710 K/PID.SUS/2014 tanggal 18 Agustus 2015, SHIETRA & PARTNERS harapkan mampu memberikan ilustrasi, dimana dalam Terdakwa didakwa telah melakukan tindak pidana dalam daerah Hukum Pengadilan Negeri Batam, namun karena Terdakwa disidik oleh Penyidik Bea dan Cukai Kepulauan Riau di Tanjung Balai Karimun dan Terdakwa ditahan di Rumah Tahanan Tanjung Balai Karimun, serta sebagian besar saksi-saksi yang dipanggil berada lebih dekat dengan Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun daripada Pengadilan dimana tindak pidana tersebut dilakukan, maka Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun memiliki wewenang untuk memeriksa dan mengadili, Terdakwa yang melakukan atau turut serta melakukan perbuatan telah “mengangkut barang impor yang tidak tercantum dalam manifes”, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 102 huruf (a) Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Berawal pada tanggal 08 September 2012, Terdakwa II selaku Koordinator Lapangan PT. Adja Dian Perkasa memerintahkan Terdakwa I selaku Nakhoda kapal SB. SIGASIGA berbendera Indonesia, bertolak dari Pelabuhan Batu Besar, Kota Batam menuju perairan Pulau Seraya (Sekupang), Kota Batam untuk mengambil muatan Marine Gas Oil (MGO) milik Muhammad (DPO) selaku penyewa kapal SB. SIGA-SIGA.
Terdakwa I selaku nahkoda kapal SB SIGA-SIGA bertolak dari Pelabuhan Batu Besar menuju perairan Pulau Seraya (Sekupang), Batam dengan awak 1 orang, yaitu Samsul bin H. Abdul Karim sebagai Kepala kamar mesin, dan Terdakwa II juga ikut, tetapi turun di Perairan Nongsa, Kota Batam.
Dalam perjalanan menuju perairan Pulau Seraya, Terdakwa I berkomunikasi dengan Muhammad tentang kegiatan pemuatan minyak solar tersebut, dan setibanya di perairan Pulau Seraya, Terdakwa I  menanyakan kepada Muhammad dimana lokasinya, kemudian Sdr. Muhammad memberikan arah haluan lurus ke barat daya 240º dan memberikan tanda dengan menggunakan lampu hidup-mati.
Setelah Terdakwa I tahu dimana lokasinya, kemudian Terdakwa I mengikuti petunjuk dari Muhammad, kemudian Terdakwa I berlayar ± 2 mil laut sampailah Terdakwa di 01° - 07’ - 873” U/103º - 54’ -306” T, dimana sudah menunggu satu unit kapal tanker MT. Admiralty berbendera asing.
Terdakwa I merapatkan kapal SB Siga-siga dan sandar di samping kiri kapal MT. Admiralty GT.498 yang sedang lego jangkar tersebut. Lalu kepala kamar mesin kapal SB. SIGA-SIGA menyerahkan salah satu selang ke awak MT. ADMIRALTY GT.498 kemudian oleh awak kapal MT. ADMIRALTY GT.498 dibawa ke ruang pump room dan ujung selang satunya lagi diletakan di tangki tengah kapal SB. SIGA-SIGA.
Setelah seluruhnya siap, kemudian dilakukan pemindahan atau transfer Marine Gas Oil (MGO) atau High Speed Diesel (HSD) dari kapal MT. ADMIRALTY GT.498 ke kapal SB. SIGA-SIGA dengan menggunakan mesin pompa yang berasal dari kapal SB. SIGA-SIGA dan dilakukan proses pemindahan Marine Gas Oil (MGO) dari kapal MT. ADMIRALTY GT.498 ke kapal SB. SIGA-SIGA.
Lalu Terdakwa II datang menuju kapal SB. SIGA-SIGA, untuk menyerahkan uang sebanyak Rp3.000.000,00 kepada Sdr. Muhammad. Namun pada saat ship to ship transfer atau pemindahan sedang berlangsung, datang kapal patroli Bea Cukai BC.1002, kemudian sandar dan langsung dilakukan pemeriksaan terhadap awak kapal, dokumen, muatan kapal SB. SIGA-SIGA dan muatan kapal MT. ADMIRALTY GT.498, sehingga ditemukan bahwa barang yang diangkut oleh kapal SB.SIGA-SIGA sebanyak ± 11.443 liter atau 9.600 metric ton tersebut berupa Marine Gas Oil (MGO) yang di pindahkan dari pump room kapal MT. ADMIRALTY GT.498 tidak dilengkapi dokumen dan manifes.
Kapal SB. SIGA-SIGA sebagai sarana pengangkut barang berupa Marine Gas Oil (MGO) ± 11,443 kilo liter tersebut tidak memiliki dokumen apapun berkaitan dengan muatan yang dipindahkan dari kapal MT. Admiralty yang berasal dari luar daerah pabean Indonesia yakni East OPL Malaysia, sementara sarana pengangkut berisi muatan yang memasuki daerah pabean Indonesia wajib membawa dokumen/manifes atas barang yang diangkutnya sebagaimana diatur dalam Pasal 7A Ayat (1) dan Ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan.
Berdasarkan keterangan Ahli Nautika dari Kanwil Bea dan Cukai, kapal SB. SIGA-SIGA pada saat menerima pemindahan atau pembongkaran muatan barang impor dan mengangkut barang impor tanpa manifes, ketika dihentikan dan dicegah oleh Kapal Patroli, berada di perairan Pulau Seraya Batam Provinsi Kepulauan Riau, sehingga berada di daerah perairan Kepabeanan Indonesia.
Sementara dalam Dakwaan Alternatif Kedua, Terdakwa didakwakan telah “membongkar barang impor di luar kawasan pabean atau tempat lain tanpa izin kepala kantor pabean”, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 102 huruf (b) UU No. 17 Tahun 2006 tentang tentang Kepabeanan jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.
Dalam Dakwaan Alternatif Ketiga, Terdakwa didakwakan telah “menimbun, menyimpan, memiliki, membeli, menjual, menukar, memperoleh, atau memberikan barang impor yang diketahui atau patut diduga berasal dari tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 102”, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 103 huruf (d) UU No. 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.
Terhadap tuntutan Jaksa, Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun kemudian menjatuhkan putusan Nomor 13/Pid.Sus/2013/PN.TBK. tanggal 05 Juni 2013, dengan amar sebagai berikut:
MENGADILI :
1. Menyatakan Terdakwa 1. Rudi Supiardi Bin Muhammad Tahir Amri dan Terdakwa 2. Suprianto bin juman safei als. Yoga telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Membongkar barang impor di luar kawasan pabean atau tempat lain tanpa izin kepala kantor pabean yang dilakukan secara bersama-sama”;
2. Menjatuhkan pidana kepada para Terdakwa tersebut, oleh karena itu dengan pidana penjara masing-masing selama 1 (satu) tahun dan pidana denda masing-masing sebesar Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila pidana denda tersebut tidak dibayar oleh para Terdakwa tersebut, maka diganti dengan pidana kurungan masing-masing selama 3 (tiga) bulan;
3. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani oleh para Terdakwa tersebut dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Memerintahkan agar para Terdakwa tersebut tetap berada dalam tahanan.”
Dalam tingkat banding, yang menjadi putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru Nomor 144/PID.SUS/2013/PT.R. tanggal 27 Agustus 2013, dengan amar sebagai berikut:
- Menerima permintaan banding dari Penasihat Hukum para Terdakwa ;
- Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun Nomor 13/PID.SUS/2013/PN.TBK tanggal 05 Juni 2013 yang dimintakan banding tersebut.”
Jaksa mengajukan upaya hukum kasasi, dengan dalil bahwa putusan Majelis Hakim tersebut belum mencerminkan rasa keadilan masyarakat khususnya masyarakat Karimun, dan belum pula mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan maupun meringankan Terdakwa.
Berdasarkan fakta-fakta di persidangan, diperoleh fakta bahwa Terdakwa bahwa saat Kapal SB. Siga-Siga dicegah oleh Tim Patroli BC.1002, Kapal SB. Siga-Siga tidak memiliki dokumen kapal dan membeli muatan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar juga tidak dilengkapi dengan dokumen yang sah (illegal). Kegiatan ini merupakan kedua kalinya Terdakwa Rudi Supiardi melakukan kegiatan pemuatan minyak solar dengan cara ship to ship seperti sekarang ini, dimana sekitar 1 minggu sebelumnya, Terdakwa pernah melakukan kegiatan yang sama untuk mengangkut solar sebanyak ± 5 ton, namun tidak ada izin dari Bea dan Cukai.
Terdakwa tidak pernah menanyakan kepada Sdr. Riston Sihaloho selaku pemilik kapal mengenai dokumen Ijin Usaha Pengangkutan (IUP) dan saat Terdakwa Suprianto memberi perintah kepada Terdakwa Rudi Supiardi, Terdakwa Suprianto tidak memberikan dokumen apapun.
Putusan pidana yang dijatuhkan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Balai Karimun lebih rendah 7 bulan dari tuntutan pidana Penuntut Umum yang menuntut agar para Terdakwa divonis pidana selama 1 tahun dan 7 bulan penjara. Dimana terhadapnya, Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan kasasi Pemohon Kasasi/Penuntut Umum tersebut Mahkamah Agung berpendapat sebagai berikut:
- Bahwa alasan kasasi Penuntut Umum tidak dapat dibenarkan, karena Judex Facti/Pengadilan Tinggi yang menguatkan putusan Judex Facti/Pengadilan Negeri telah tepat dan tidak salah menerapkan hukum. Judex Facti dalam putusannya telah mempertimbangkan fakta hukum yang relevan secara yuridis dengan tepat dan benar sesuai fakta hukum yang terungkap di muka sidang, yaitu ternyata para Terdakwa secara bersama-sama tanpa izin Kepala Kantor Pabean setempat telah membongkar muatan barang impor tanpa dilengkapi dokumen yang sah, berupa Marine Gas Oil atau High Speed Diesel dari kapal SB. Siga-Siga ke kapal MT. Admiralty GT 498 di Perairan Pulau Seraya (Sekupang), Kota Batam yang bukan merupakan kawasan pabean;
- Bahwa selain itu alasan kasasi Penuntut Umum berkenaan dengan berat ringannya pidana yang dijatuhkan Judex Facti, hal demikian tidak tunduk pada kasasi. Judex Facti dalam putusannya telah mempertimbangkan dengan cukup tentang keadaan-keadaan yang memberatkan dan meringankan sesuai Pasal 197 Ayat (1) huruf f KUHAP;
- Bahwa meskipun berat ringannya pidana yang dijatuhkan pada prinsipnya merupakan wewenang Judex Facti, akan tetapi bila ada fakta relevan yang memberatkan atau meringankan Terdakwa belum dipertimbangkan Judex Facti atau Judex Facti tidak cukup mempertimbangkan mengenai hal tersebut, Mahkamah Agung dapat memperbaiki pidana yang dijatuhkan kepada Terdakwa. Namun dalam perkara ini Judex Facti sudah cukup mempertimbangkan mengenai hal- hal yang memberatkan dan meringankan serta pidana yang dijatuhkan juga sudah tepat;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, lagi pula ternyata, putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: PENUNTUT UMUM pada KEJAKSAAN NEGERI TANJUNG BALAI KARIMUN tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan