03 Mei, 2017

Overdosis Prosedural Hukum

ARTIKEL HUKUM
Bila memang hukum tidak dapat dipisahkan dari semangat prosedural, maka apakah artinya pemerintah bisa sebesasnya dan seenaknya membuat aturan atau prosedur yang tidak rasional? Sebenarnya apa yang menjadi legitimasi bagi pemerintah untuk menetapkan rangkaian prosedur dan aturan dalam hukum yang hanya membuat repot tanpa manfaat apapun dibalik segala ‘tetek-bengek’ prosedur yang kaku demikian?
Pertanyaan tersebut ‘menggelitik’ penulis untuk mengulas dalam satu kesempatan khusus ini terkait prosedur hukum yang menjelma ‘overdosis’. Alih-alih berbicara secara teoretis, penulis akan mengangkat ilustrasi pengalaman pribadi penulis bersentuhan dengan pejabat pemerintahan dalam layanan publik, salah satunya ketika penulis berhadapan dengan aparatur kependudukan dan catatan sipil.
Gambaran sederhana berikut akan mencerminkan, bagaimana prosedur demikian kaku dan ‘memboroskan’ waktu, biaya, tenaga, serta tiada faedah relevan apapun selain prosedur yang disusun demi kepentingan prosedural itu sendiri. Hukum prosedural adalah salah satu sifat primitif dalam hukum yang sukar di-‘obati’ dari pola pikir kalangan birokrat.
Penulis mencoba membantu saudari kandung penulis dalam mengajukan permohonan “Surat Keterangan Belum Menikah”, mengingat saudari penulis hendak melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Untuk itu, penulis telah mengajukan aplikasi permohonan ke hadapan Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil yang berkedudukan di kantor kelurahan, berupa asli surat pernyataan belum pernah nikah yang ditandatangani adik penulis diatas materai, fotokopi KTP, fotokopi Kartu Keluarga, fotokopi Akta Kelahiran, dan berbagai formalitas lainnya.
Atas aplikasi yang penulis ajukan, selanjutnya Suku Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di Kelurahan menerbitkan:
1.) Asli Surat Keterangan yang menyatakan bahwa saudari penulis dengan NIK, nama, alamat, pekerjaan, menerangkan bahwa benar yang bersangkutan merupakan warga kelurahan dimaksud, dan belum pernah menikah, disertai tanda tangan lurah dan cap instansi kelurahan;
2.) Asli Surat Keterangan Untuk Nikah, Asli Surat Keterangan Asal-Usul, Asli Surat Keterangan Tentang Orang Tua, yang dibubuhi tanda tangan lurah dan cap instansi, yang menerangkan bahwa saudari penulis adalah benar Warga Negara Indonesia yang menyatakan status saudari penulis adalah masih lajang dan belum pernah menikah, yang menerangkan bahwa saudari penulis adalah anak kandung dari dua warga negara yang menjadi orang tuanya.
Berbekal kedua dokumen diatas, penulis dirujuk Suku Dinas untuk menghadap Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jakarta Barat, dan setibanya di loket pelayanan, alangkah terkejutnya penulis menjumpai ‘arogansi prosedural’ ala birokrasi yang menyatakan aplikasi permohonan Surat Keterangan Belum Menikah tidak dapat diproses, karena kekurangan berkas persyaratan yang terdiri dari:
1.) Asli surat pernyataan belum pernah menikah diatas materai;
2.) Fotokopi KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran; dan
3.) Asli surat kuasa.
Penulis sempat protes, “lho saya ini kan, Abang kandung pemohon, koq musti pakai surat kuasa segala?” Lagipula ini bukan perihal permohonan peralihan hak kepemilikan, hanya sekadar meminta surat keterangan belum menikah, apakah bukan merupakan sebentuk kelucuan bila tetap diwajibkan surat kuasa? POLRI dalam pelayanan pembayaran pajak STNK, tidak diwajibkan surat kuasa sepanjang masih satu keluarga dan alamat dalam KTP sama domisilinya.
Apa daya, setiap pejabat negara merasa memiliki kekuasaan mutlak untuk membuat aturan hukum prosedurnya sendiri, meski sangat tidak rasional, dan tidak membawa faedah apapun. Penulis pulang dengan kekecewaan (boros waktu dan tenaga). Setibanya di kediaman, ternyata saudari penulis jauh lebih kritis, dengan menyampaikan pada penulis bahwa:
“Buat apa lagi surat pernyataan belum pernah nikah? Kan, itu sudah pernah dibuat dan dikasih ke Suku Dinas, dan Suku Dinas sudah terbitkan surat keterangan belum pernah nikah. Koq surat keterangan asli dari Suku Dinas tak diakui oleh Dukcapil? Buat apa lagi fotokopi KTP, KK, Akta Lahir, kan semua itu sudah diberikan ke Suku Dinas dan Suku Dinas telah terbitkan asli Surat Keterangan Surat Keterangan Untuk Nikah, Surat Keterangan Asas-Usul, Surat Keterangan Orang Tua. Pemborosan ini namanya. Memang untuk apa lagi diminta begituan?”
Sukar dipercaya, penulis yang merupakan sarjana hukum, tidak berdaya menghadapi kemauan ‘arogansi prosedural’ aparatur negara yang memegang monopoli kekuasaan dalam pelayanan publik. Lebih memprihatinkan, Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Dukcapil Jakarta Barat berjumlah ratusan orang, namun petugas loket hanya 3 (tiga) orang, dimana puluhan warga masyarakat yang mengantre menjadi sebentuk pemborosan waktu tunggu, mengingat para ASN yang semestinya diberdayakan di meja loket lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol dan duduk-duduk santai saling bercanda tanpa kerjaan atau sekadar bersembunyi di balik ruang rapat agar terlihat sibuk sendiri. Bahkan meja informasi hanya sekadar menjadi pajangan, tanpa pernah terdapat seorang pun petugas pelayanan di meja informasi.
Tidak terasa, sudah hampir satu abad Republik Indonesia merdeka, namun warga negaranya masih terjajah oleh ‘arogansi prosedural’ yang  irasional, dan tanpa daya setiap warga negara hanya dapat tunduk, atau dengan ancaman tiada pelayanan yang dapat diberikan produk hukum baik itu sekadar hal sepele semacam surat keterangan belum pernah menikah sekalipun bila tidak menurut pada tuntutan prosedural sang pejabat.
Penulis menyimpulkan, janganlah kita berbicara mengenai keadilan di negeri bernama Indonesia ini. Jangankan keadilan, ataupun asas manfaat utilitarianisme, para mindset para aparatur negara masih berkutat dan terus berputar-putar dalam cara dan pola berpikir dangkal yang sangat sempit bernama “arogansi prosedural”.
Selama kita belum mampu terbebas dari kungkungan ‘arogansi prosedural’ demikian, selamanya kita masih menjadi bangsa terjajah, terjajah oleh ‘arogansi prosedural’ anak bangsa sendiri: yakni ketika warga negara hanya dapat tunduk tanpa daya dan tanpa mampu berkutik menghadapi ‘kemauan’ prosedural yang tidak membawa faedah apapun selain demi prosedur itu sendiri yang irasional dan hanya memboroskan yang semestinya dapat dipangkas dan diefesienkan (ini bentuk belum beradabnya para pejabat Republik Indonesia).
Terdengar pula selentingan umpatan dari warga negara, bahwa Indonesia adalah negeri yang unik sekaligus irasional. Betapa tidak, sudah ada Karta Tanda Penduduk (KTP), namun tetap saja dalam setiap pelayanan publik masih dipersyaratkan Surat Keterangan Asal Usul, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran, dan segala dokumen lain. Segala dokumen tersebut sejatinya merupakan dasar penerbitan KTP, dimana keberadaan KTP dengan demikian dapat diasumsikan sebagai keberadaan Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, kebenaran warga / penduduk suatu kelurahan, dsb.
Namun, mengapa KTP yang diterbitkan oleh instansi negara bernama kelurahan itu sendiri ternyata tidak diakui oleh berbagai instansi pemerintahan lainnya? Jangankan KTP, surat keterangan dari Suku Dinas pun tidak diakui oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, sehingga masih merasa perlu untuk meminta berbagai dokumen yang sebenarnya reduplikasi rangkaian prosedur yang sudah dilalui warga negara pada Suku Dinas. Pengulangan demi pengulangan yang sangat memboroskan waktu dan tenaga.
Artinya pula, sudah hampir satu abad lamanya, jutaan warga negara Indonesia direpotkan oleh segala prosedur yang tanpa faedah, hanya menjadi pemborosan waktu, tenaga, dan biaya. Betapa ironisnya melihat praktik demikian.
Artinya pula, telah berapa ton kertas dan pengorbanan pohon yang ditebang untuk mencetak kertas dokumen dan ribuan jam pemborosan waktu perjalanan pulang-pergi, serta miliaran Rupiah pemborosan biaya materai demi menghadapi dan meladeni ‘arogansi prosedural’ demikian.
Sikap demikian hanya  mencerminkan, betapa primitifnya pola berpikir para pejabat di negeri yang mengaku sudah merdeka ini, namun masih terjajah dalam segi ‘kebodohan’ yang menjelma ‘arogansi prosedural’ yang tidak berfaedah selain sekadar ‘kegenitan wewenang’. Dalam falsafah hukum, SOP yang tidak rasional adalah sebentuk kejahatan. Namun siapa perduli, toh para petinggi dan pejabat di Republik Indonesia memang masih jauh dari kata ‘beradab’.
Siapa suruh, terlahir dan menjadi Warga Negara Indonesia. Kebetulan, saudari penulis akan menikah dengan warga negara asing, dan menetap permanen di luar negeri, sehingga untuk itu penulis mendukung sepenuhnya agar beliau melepas kewarga-negeraan Indonesia-nya, agar saudari penulis selamanya tidak lagi berdomisili di negeri yang tidak beradab ini—negeri yang tidak layak untuk dibangun lewat dedikasi ataupun kepedulian, karena para petingginya sendiri tidak pernah perduli ataupun menaruh minat terhadap segala kesulitan hidup para warga masyarakatnya sendiri, dimana justru menambah beban prosedural yang memboroskan energi.
Kita tidak pada tempatnya berbicara mengenai nasionalisme ketika sebuah negeri tidak pernah menaruh minat terhadap warga negaranya sendiri. Tidak heran, banyak individu potensial dalam segi inovasi dan kecerdasan intelektual, memilih untuk mengabdi bagi kepentingan bangsa lain, tidak lain karena betapa primitifnya wajah yang ditampilkan oleh otoritas negeri Republik Indonesia. Penulis menjulukinya, sebagai bangsa yang "terbelakang", dimana untuk membuat prosedur saja tidak "karuan".
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Kepastian Hukum Bertopang pada Daya Prediktabilitas Paling Minimum dalam Hukum (PREDICTABILITY)

Foto saya

Trainer & Legal Consultant SHIETRA & PARTNERS didirikan tahun 2013, penyedia jasa konsultasi hukum spesialis preseden / yurisprudensi pertama dan satu-satunya di Indonesia, dibidang perdata maupun pidana. Berkomitmen sebagai profesional dalam setiap layanan jasa hukum, dengan tetap memegang teguh idealisme dan etika profesi.

Kebenaran ulasan hukum dalam website, TIDAK DIJAMIN. Hanya Klien dalam Sesi Konsultasi dan bahasan dalam eBook, yang kami berikan opini dan data yang terjamin kebenarannya. Pahami, bahwa kami sedang mencari nafkah. Bukan sebagai Klien Pembayar Tarif Jasa maupun bukan sebagai pembeli eBook yang kami jual, resiko ditanggung Anda sendiri selaku pengunjung website.

Syarat & Ketentuan Layanan, lihat TARIF KONSULTASIHANYA KLIEN PEMBAYAR TARIF JASA YANG BERHAK MENCERITAKAN MASALAH / MENGAJUKAN PERTANYAAN HUKUM. Pelanggar akan dikenakan sanksi BLACKLIST. Peringatan tersebut sudah sangat jelas dan tegas. Tidak akan kami tolerir sikap dari pihak-pihak yang mendalilkan tidak membaca atau tidak memahami peringatan yang sudah sedemikian tersurat.

Bagi yang berminat mengakses ribuan konten artikel kami (akses full database), disediakan layanan MEMBERSHIP. Tersedia untuk bulanan maupun tahunan.

Bagi yang membutuhkan layanan jasa penulisan, kami menyediakan jasa CONTENT WRITER. Sementara yang membutuhkan jasa Training atau layanan Tutorial Hukum bagi klien korporasi, kami menyediakan PELATIHAN.

Hukum adalah ilmu tentang "prediksi" (diluar itu artinya "spekulasi"). Konsultan Hukum SHIETRA & PARTNERS: Jl. HR. Rasuna Said. Kawasan Epicentrum Utama, EPIWALK, Office Suite Lantai 5 Nomor A529, Kuningan, Jakarta Selatan, 12940, Indonesia.

Terdapat ribuan konsultan hukum kompetitor kami, namun hanya ada satu orang Konsultan Shietra. Menjual jasa layanan konsultasi secara tatap muka maupun secara virtual via online. Reservasi Jadwal: (Wajib terlebih dahulu memperkenalkan diri dan menyatakan kesediaan membayar tarif layanan yang berlaku)
- Telepon: 021-568 2703.
- Fax: 021-560 2810.
- Whatsapp: 08888-9195-18.
- Email: konsultasi@hukum-hukum.com, hery.shietra@gmail.com

Besar kemungkinan ulasan / materi publikasi dalam website, telah kadaluarsa akibat perubahan regulasi, atau pembiasan fakta penting yang kami sengajakan. Informasi serta opini hukum yang Benar dan Terjamin, hanya menjadi Hak Istimewa klien pembayar tarif ataupun pembeli eBook yang kami jual. Anda sendiri yang menanggung resikonya tanpa diagnosa fakta hukum dan analisa yang memadai oleh konselor untuk berdialog / mereview dokumen terkait masalah hukum.

Hukum sensitif detail, terbuka beragam skenario peluang atau kemungkinan yang dapat terjadi hanya karena faktor perbedaan detail fakta hukum, opsi langkah mitigasi, serta setiap resiko upaya hukum yang mungkin berimplikasi. Tidak ada perkara yang seragam untuk dapat diprediksi hasilnya, kecuali melalui sesi konsultasi secara intens / privat. Menyesal tiada guna, bila Anda gagal mengantipasi bahkan masalah menjelma "benang kusut", akibat salah penanganan oleh yang bukan ahli dibidangnya.

Kecerobohan pembaca memaknai ulasan hukum dalam website, dapat berakibat FATAL. Terhadap materi publikasi dalam website, don't try this at home, kecuali Anda berdialog langsung dengan penulisnya dalam sesi konsultasi secara privat.

Tidak bersedia membayar tarif jasa, mengharap "selamat" dan meminta "dilayani"? Hargai profesi kami, sebagaimana profesi Anda sendiri hendak dihormati. Pihak-pihak yang menyalah-gunakan nomor telepon, email, maupun formulir kontak kami, berlaku sanksi. Sadari, selain klien pembayar tarif, maka masalah Anda bukanlah urusan kami.

KONSULTAN HUKUM SHIETRA. Kami LEBIH dari sekadar mengutip bunyi Undang-Undang, Hukum yang REAL.

KONSULTAN HUKUM SHIETRA. Kami LEBIH dari sekadar mengutip bunyi Undang-Undang, Hukum yang REAL.
HR. Rasuna Said. Kawasan Epicentrum Utama, EPIWALK Nomor A529, Kuningan, Jakarta. TEKAN GAMBAR UNTUK MENGHUBUNGI KAMI

eBook PERBUATAN MELAWAN HUKUM

eBook PERBUATAN MELAWAN HUKUM
Mengupas Kaedah-Kaedah Manarik PERBUATAN MELAWAN HUKUM