Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Pengalihan Piutang Cessie yang Tidak Jujur, Telaah Kepailitan

LEGAL OPINION
Question: Pak Hery (SHIETRA & PARTNERS) pernah bilang, pailit atau PKPU-nya debitor, bisa jadi ajang “aji mumpung” para pihak yang mengaku-ngaku sebagai kreditor. Maksudnya gimana?
Brief Answer: Banyak diantara masyarakat, baik benar sebagai kreditor maupun yang hanya mengaku-ngaku sebagai kreditor, mengklaim memiliki sejumlah piutang terhadap debitor yang jatuh pailit, dengan alat bukti ‘seadanya’.
Klaim-klaim demikian belum tentu benar adanya—dan wajib diasumsikan belum benar adanya (presumption of incorrect)—sehingga bisa jadi masih dapat dipersengketakan penafsiran kewajiban dan hak para pihak dalam kontrak perikatan, jumlah sanksi, jumlah bunga, denda, nominal hutang-piutang, dan berbagai pembuktian lain yang sama sekali tidak dapat disebut sebagai sederhana.
Salah satu modus yang juga dapat terjadi, pelaku subrogasi yang melakukan aksi jual-beli piutang, muncul mencatatkan dirinya sebagai kreditor dengan sejumlah nominal piutang, yang mana bisa jadi nilai nominal cessie masih debateable, sehingga kecermatan Kurator menjadi “benteng pertahanan” terakhir menyelamatkan / mengoptimalkan pemberesan dan pembagian boedel pailit terhadap kreditor-kreditor yang benar-benar berhak.
PEMBAHASAN:
Ilustrasi dengan rona serupa dapat dijumpai dalam putusan Mahkamah Agung RI sengketa kepailitan register Nomor 555 K/Pdt.Sus-Pailit/2016 tanggal 10 Agustus 2016, perkara antara:
- BUDI RAHMAD, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Pemohon Keberatan; melawan
- Kurator PT. Karya Cipta Putra Persada (dalam Pailit), selaku Termohon Kasasi dahulu Termohon Keberatan.
Berdasarkan Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat Nomor 34/Pdt.Sus-PKPU/2015/PN.Niaga.Jkt.Pst. tanggal 11 Juni 2015, PT. Karya Cipta Putera Persada telah dinyatakan pailit dengan segala akibat hukumnya dan harta pailit PT. Karya Cipta Putera Persada telah dinyatakan berada dalam keadaan insolvensi sebagaimana Berita Acara Rapat Pencocokan Piutang PT. Karya Cipta Putera Persada (dalam Pailit) tanggal 29 Juli 2015.
Dalam proses kepailitan PT. Karya Cipta Putera Persada, PT. Insting Enam Dua kemudian mengajukan tagihan kepada Tim Kurator PT. Karya Cipta Putera Persada dan telah tercatat sebagai Kreditor Konkuren PT. Karya Cipta Putera Persada dengan jumlah klaim tagihan sebesar Rp50.576.852 sebagaimana Daftar Kreditor PT. Karya Cipta Putera Persada.
Selanjutnya PT. Insting Enam Dua telah mengalihkan Piutangnya tersebut kepada Pemohon Keberatan, sebagaimana Perjanjian Pengalihan Piutang (Cessie) tertanggal 28 Januari 2016, dimana pengalihan Piutang tersebut telah diberitahukan oleh PT Insting Enam Dua kepada Tim Kurator PT. Karya Cipta Putera Persada pada tanggal 29 Januari 2016. Dengan demikian Pemohon Keberatan menilai, dirinya berposisi sebagai Kreditor Konkuren.
Dalam proses kepailitan PT. Karya Cipta Putera Persada, Tim Kurator belum menuntaskan pemberesan terhadap seluruh harta pailit PT. Karya Cipta Putera Persada, dimana Tim Kurator baru melakukan pemberesan terhadap harta pailit berupa peralatan dan mesin, house keeping dan room equipment, restaurant equipment, peralatan banquet, kitchen equipment, peralatan kantor, peralatan engineering, dan harta pailit yang dilelang berupa peralatan kantor dan hotel serta 2 unit mobil dan 2 unit motor pada tanggal 10 Februari 2016 melalui Kantor Lelang Negara.
Sedangkan terhadap tanah dan bangunan hotel telah dilakukan pemberesan oleh Kreditor Separatis sebagaimana Risalah Lelang tanggal 29 September 2015. Selanjutnya Tim Kurator telah menyusun Daftar Pembagian Kedua sekaligus Penutup tertanggal 24 Februari 2016 yang telah diumumkan di surat kabar harian pada tanggal 29 Februari 2016.
Adapun sebelumnya Tim Kurator juga telah menyusun Daftar Pembagian Kepada Kreditor Kepailitan PT. Karya Cipta Putera Persada tertanggal 23 Desember 2015.  Kutipan dari Pengumuman Daftar Pembagian Kedua sekaligus Penutup, berbunyi:
“Sehubungan dengan rencana pembagian dalam kepailitan PT. Karya Cipta Putera Persada (Dalam Pailit) Perkara Nomor 34/Pdt.Sus-PKPU/2015/PN.Niaga.Jkt.Pst. di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, maka dengan ini diberitahukan bahwa Daftar Pembagian Kedua sekaligus Penutup yang telah disetujui Hakim Pengawas tertanggal 26 Februari 2016 telah tersedia di Kepaniteraan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat untuk dapat dilihat oleh Para Kreditor selama jangka waktu 5 (lima) hari terhitung sejak tanggal pengumuman ini. Bagi kreditor yang berkeberatan dapat mengajukan perlawanan dalam jangka waktu 5 (lima) hari sejak tanggal pengumuman ini.”
Oleh karena Tim Kurator telah menyusun Daftar Pembagian Kedua sekaligus Penutup, maka berdasarkan Undang-Undang Kepailitan, akibat / konsekuensi hukum yang akan timbul setelah Daftar Pembagian Kedua sekaligus Penutup tersebut menjadi mengikat adalah berakhirnya proses kepailitan. Bunyi selengkapnya Pasal 202 Ayat (1) Undang-Undang Kepailitan dan PKPU:
“Segera setelah kepada Kreditor yang telah dicocokkan, dibayarkan jumlah penuh piutang mereka, atau segera setelah daftar pembagian penutup menjadi mengikat maka berakhirlah kepailitan, dengan tidak mengurangi berlakunya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 203.”
Namun Pemohon keberatan merasa berkeberatan terhadap Daftar Pembagian Kedua sekaligus Penutup, dengan alasan: Tim Kurator masih mencatatkan PT. Insting Enam Dua sebagai kreditor yang menerima pembagian. Seharusnya Tim Kurator mencatatkan nama Budi Rahmad sebagai Kreditor Konkuren, karena tagihan piutang PT. Insting Enam Dua telah dialihkan kepada Budi Rahmad sebagaimana Perjanjian Pengalihan Piutang (Cessie) tanggal 28 Januari 2016 dan telah diberitahukan kepada Tim Kurator pada tanggal 29 Januari 2016 (Note SHIETRA & PARTNERS: perhatikan dan bandingkan kedua tanggal diatas).
Pemohon Keberatan juga mendalilkan, Daftar Pembagian Kedua belum dapat disebut sebagai daftar pembagian penutup, karena masih terdapat harta kekayaan PT. Karya Cipta Putera Persada yang belum dibereskan oleh Tim Kurator, berupa hak sewa atas tanah sewa bangunan diatas tanah sewa serta aset-aset boedel pailit lainnya. Juga masih terdapat boedel pailit berupa hasil pembayaran atas barang persediaan makanan dan minuman milik PT. Karya Cipta Putera Persada yang belum diterima oleh Tim Kurator.
Adapun boedel pailit yang tersisa tersebut harus segera dibereskan terlebih dahulu oleh Tim Kurator sebelum dikeluarkannya daftar pembagian penutup. Pemohon Keberatan juga memaparkan, Daftar Pembagian Kedua sekaligus Penutup masih mencatatkan Herman Sudaria dan Hendra Sutanto sebagai Kreditor yang akan menerima pembagian. Padahal tagihan Herman Sudaria dan Hendra Sutanto dinilai tidak didukung dengan bukti-bukti yang jelas dan valid, dimana keduanya merupakan pihak yang terafiliasi dengan PT. Karya Cipta Putera Persada.
Oleh karena itu Tim Kurator seharusnya tidak melakukan pembagian terhadap Hermán Sudaría dan Hendra Sutanto sampai dengan lunasnya seluruh tagihan kreditor-kreditor lainnya, karena apabila pembagian tersebut dilakukan maka dapat merugikan / mengurangi porsi pembagian kepada kreditor lainnya, maka pembagian yang sudah dilakukan kepada Hermán Sudaría & Hendra Sutanto harus dikembalikan ke boedel pailit PT. Karya Cipta Putera Persada agar dapat dibagikan kepada para kreditor yang berhak.
Terhadap permohonan keberatan daftar pembagian kedua sekaligus daftar pembagian penutup PT. Karya Cipta Putra Persada, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat kemudian menjatuhkan putusan Nomor 34/Pdt.Sus-PKPU/2015/PN.Niaga.JKT.PST. tanggal 21 April 2016, dengan amar sebagai berikut:
1. Menolak permohonan keberatan yang diajukan oleh Pemohon seluruhnya;
2. Menyatakan Daftar Pembagian Kedua sekaligus Daftar Pembagian Penutup telah mengikat dan memiliki kekuatan hukum tetap terhadap seluruh kreditor dan debitor pailit.”
Sang kreditor pelaku cessie mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
“Bahwa keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi tanggal 28 April 2016 dan kontra memori tanggal 10 Mei 2016 dihubungkan dengan pertimbangan Judex Facti dalam hal ini Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
“Bahwa pertimbangan hukum putusan Judex Facti yang menolak permohonan keberatan Pemohon dapat dibenarkan, karena perjanjian pengalihan piutang (cessie) antara Penjual (Kreditor) PT. Insting Enam Dua dengan Pembeli Budi Rahmad (Pemohon Keberatan) dalam perkara a quo tidak jelas atau kabur khususnya tentang jumlah piutang yang diperjual-belikan, dimana pertanggal 23 Desember 2015 sisa jumlah tagihan yang belum terbayarkan kepada PT. Insting Enam Dua sejumlah Rp42.910.775,00 (empat puluh dua juta sembilan ratus sepuluh ribu tujuh ratus tujuh puluh lima rupiah) karena berdasarkan bukti TK-8 telah dilakukan pembayaran tahap pertama sejumlah Rp7.666.077,00 (tujuh juta enam ratus enam puluh enam ribu tujuh puluh tujuh rupiah) dari total jumlah tagihan keseluruhan sebelumnya Rp50.576.852,00 (lima puluh juta lima ratus tujuh puluh enam ribu delapan ratus lima puluh dua rupiah);
“Ternyata dalam perjanjian pengalihan piutang (cessie) antara Pemohon dengan PT. Insting Enam Dua yang dilunasi pada tanggal 28 Januari 2016 tagihan tersebut masih sejumlah Rp50.576.852,00 (lima puluh juta lima ratus tujuh puluh enam ribu delapan ratus lima puluh dua rupiah) sehingga Pemohon tidak mempunyai hak atau tidak berwenang untuk bertindak sebagai pihak dalam perkara a quo sebagaimana pertimbangan putusan Judex Facti;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, ternyata Putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Nomor 34/Pdt.Sus-PKPU/2015/PN.Niaga.Jkt.Pst tanggal 21 April 2016 dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi : BUDI RAHMAD tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi BUDI RAHMAD Tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan