Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Kelemahan Utama Menjadi Pemegang Saham Minoritas

LEGAL OPINION
Direksi Tidak Proaktif, Pemegang Saham Meradang
Pemegang Saham Minoritas Selalu Tersandera Kuorum dan Keputusan RUPS
Question: Ini direktur tidak mau juga gugat orang yang telah rugikan keuangan perusahaan. Sudah bertahun-tahun tapi tetap saja dibiarkan kerugian itu terus berlarut-larut. Jadi musti gimana saya selaku pemegang saham perseroan terbatas?
Brief Answer: Dapat SHIETRA & PARTNERS pastikan, Anda pastilah Pemegang Saham Minoritas, sehingga tidak sanggup memenuhi kuorum untuk membuat voting yang menghasilkan resolusi berupa keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang mengikat Perseroan beserta para pengurusnya.
Pemegang saham mayoritas akan mudah saja menyelenggarakan RUPS, sekalipun tanpa kehadiran pemegang saham minoritas, untuk mengganti / mencopot dan mengangkat kepengurusan baru Perseroan, membuat agenda kegiatan prioritas Perseroan, dsb.
Sebaliknya, ketika Pemegang Saham Minoritas mendapati Direksi maupun Pemegang Saham Mayoritas tidak memiliki itikad baik bagi kepentingan modal yang telah ditanam para Pemegang Saham Minoritas, maka Pemegang Saham Minoritas hanya mampu mengharap pada “kebaikan hati” dan itikad baik pihak Pemegang Saham Mayoritas—pemaparan tersebut bukanlah teori atau wacana semata, namun sudah banyak penulis jumpai dalam praktik, terutama modus “transfer pricing” yang terjadi secara masif.
Salah satu modus transfer pricing yang sangat sederhana, Pemegang Saham Mayoritas memerintahkan Direksi untuk menunjuk pribadi para Pemegang Saham Mayoritas untuk mengerjakan proyek konstruksi pembangunan gedung kantor Perseroan. Ketika bangunan kantor telah berdiri, terdapat indikasi mark up. Jika sudah demikian, meski modal perseorang telah terkuras, tidak mungkin Direksi akan menggugat pribadi pelaksana proyek jasa konstruksi, karena sama artinya melawan pribadi para Pemegang Saham Mayoritas yang sewaktu-waktu dapat menyelenggarakan RUPS Luar Biasa untuk mencopot sang Direksi yang mengancam posisi mereka.
Sebagai kesimpulan, SHIETRA & PARTNERS tidak pernah merekomendasikan klien untuk memasukkan modal sebagai pemegang saham minoritas, kecuali pihak Pemegang Saham Mayoritas benar-benar rekan yang klien kenal secara baik dan sangat dekat hubungan personalnya.
PEMBAHASAN:
Ilustrasi berikut merupakan salah satu kasus konkret yang dapat menjadi cerminan, sebagaimana putusan sengketa korporasi register Nomor 680 K/Pdt/2006 tanggal 9 Nopember 2006 yang diperiksa serta diputus oleh Hakim Agung HARIFIN A. TUMPA, I MADE TARA, dan REHNGENA PURBA, perkara antara:
- HARRYANTO DJUNARTO, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Tergugat; melawan
1. TIO ANG KHIANG/AKHIANG; 2. TJHAI TJAW HA/CAU HA; 3. DJUI TJIANG/AMENG; 4. ANG HIONG/AHIONG; 5. DJOEI TONG/ATHONG; 6. SPEI LONG/AONG; selaku Para Termohon Kasasi, semula para Penggugat.
Meski Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas saat Legal Opinion ini disusun telah diubah dengan UU No. 40 Tahun 2007, namun secara norma masih relevan dengan kasus yang SHIETRA & PARTNERS angkat berikut ini.
Para Penggugat dan Tergugat adalah sebagai Komisaris dan Pemegang Saham PT. Cita Jaya Raya. Untuk merealisasikan operasional PT. Cita Jaya Raya, PT. Cita Jaya Raya memberikan dana sebesar Rp.1.828.900.000,- kepada Tergugat  untuk membeli peralatanan/perlengkapan PT. Cita Jaya Raya.
Berdasarkan perhitungan PT. Cita Jaya Raya atas materiel yang dibeli oleh Tergugat, dana/uang yang masih tersisa pada Tergugat adalah sebesar Rp.485.800.860,-. Salah satu fakta hukum yang penting: Tergugat masih mempunyai saham di PT. Cita Jaya Raya nilai nominal sebesar Rp.272.500.000,-.
Penggugat berasumsi, kerugian Perseroan dapat dikompensasikan dengan nominal saham milik Tergugat, dimana setelah dikurangkan dengan uang milik PT. Cita Jaya Raya yang ada pada Tergugat sebesar Rp.485.800.860,- maka piutang PT. Cita Jaya Raya yang masih menjadi kewajiban pengembalian oleh Tergugat adalah senilai Rp.213.300.860,-. [Note SHIETRA & PARTNERS: Idealnya, bila sekalipun suatu pihak hendak masuk sebagai Pemegang Saham Minoritas, perlu dicantumkan “aturan main” dalam Anggaran Dasar / Pendirian Perseroan, bahwasannya kerugian yang diakibatkan oleh Pemegang Saham Mayoritas, maka Pemegang Saham Minoritas berhak merekapitulasi kepemilikan saham Pemegang Saham Mayoritas pada Perseroan sebagai kompensasi kerugian.]
Dalam rangka menyelesaikan perselisian antara para Penggugat dengan Tergugat, para pemegang saham PT. Cita Jaya Raya mengadakan rapat pemegang saham yaitu pada tanggal 12 Agustus 2003, 15 September 2003, dan 28 Nopember 2003.
Oleh karena setiap rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan para pemegang saham, pihak Tergugat tidak pernah hadir walaupun panggilan telah dikirimkan melalui surat tercatat, maka para pemegang saham (para Penggugat) memutuskan untuk membawa penyelesaian perselisian melalui jalur hukum, sesuai jawaban dari Tergugat yang menyatakan bahwa Tergugat tidak sanggup lagi untuk melakukan penambahan modal.
Sementara itu Tergugat dalam bantahannya mendalilkan, bahwa gugatan Penggugat bersifat tidak jelas, kabur alias absurb, oleh karena:
a. Status Penggugat I s/d VI, dalam perkara ini adalah dalam kedudukannya selaku pribadi (subjek hukum individu), bukan mewakili perusahaan subjek hukum badan hukum PT. Cita Jaya Raya;
b. Sedangkan Posita dan Petitum dalam gugatan perkara ini mengenai hubungan hukum antara Tergugat dengan PT. Cita Jaya Raya.
Terhadap gugatan Penggugat, Pengadilan Negeri Tanjungpinang telah mengambil putusan, yaitu putusannya No.10/Pdt.G/2004/PN.TPI. tanggal 16 Maret 2005, dengan amar sebagai berikut :
MENGADILI :
DALAM POKOK PERKARA :
- Mengabulkan gugatan Penggugat-Penggugat untuk sebagian;
- Menyatakan bahwa Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum;
- Menghukum Tergugat untuk membayar kepada para Penggugat uang sebesar Rp.485.800.860,- (empat ratus delapan puluh lima juta delapan ratus ribu delapan ratus enam puluh rupiah) secara tunai dan sekaligus;
- Menolak gugatan Penggugat-Penggugat untuk selebihnya.”
Dalam tingkat banding atas permohonan Tergugat, putusan Pengadilan Negeri diatas kemudian dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Riau dengan putusannya No.63/PDT/2005/PTR. tanggal 08 Agustus 2005. Selanjutnya pihak Tergugat mengajukan upaya hukum kasasi, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
“Bahwa keberatan-keberatan tersebut dapat dibenarkan karena judex facti telah salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut :
“Bahwa uang yang digugat Penggugat dari Tergugat adalah uang PT. Cita Jaya Raya yang diberikan kepada Tergugat untuk dikelola, oleh karena itu yang berhak menggugat adalah Direksi PT. Cita Jaya Raya, bukan sebagai pribadi pemegang saham; [Note SHIETRA & PARTNERS: Oleh sebab saat inbreng (pemasukan modal) terjadi, maka kekayaan pendiri / pemegang saham beralih menjadi kekayaan milik badan hukum Perseroan.]
“Bahwa dengan demikian Penggugat sebagai pemegang saham tidak berkwalitas sebagai Penggugat (persona standi in judicio);
“Bahwa atas dasar hal tersebut ada alasan mengabulkan kasasi dan membatalkan putusan judex facti;
“Menimbang, bahwa berdasarkan apa yang dipertimbangkan diatas tanpa perlu mempertimbangkan keberatan kasasi lainnya, putusan Pengadilan Tinggi Riau No.63/Pdt/2005/PT.R. tanggal 08 Agustus 2005 dan putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang No.10/Pdt.G/2004/PN.TPI tanggal 16 maret 2005 tidak dapat dipertahankan lagi dan harus dibatalkan serta Mahkamah Agung akan mengadili sendiri perkara ini dengan amar seperti di bawah ini;
M E N G A D I L I :
“Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : HARRYANTO DJUNARTO tersebut;
“Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Riau No.63/Pdt/2005/PT.R. tanggal 08 Agustus 2005 yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang No.10/Pdt.G/2004/PN.TPI. tanggal 16 Maret 2005;
MENGADILI SENDIRI :
“Menyatakan tidak dapat diterima gugatan para Penggugat tersebut.”
...
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan