Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Antara Niat dan Inisiator Tindak Pidana

LEGAL OPINION
Question: Apakah antara “niat batin” (sikap mental / mens rea) dengan pelaku yang memiliki “inisiatif” melakukan pelanggaran hukum, adalah kongruen ataukah dua hal yang saling berlainan?
Brief Answer: Ide / gagasan / usul / provokasi / rencana / inisiatif untuk melakukan bentuk-bentuk tindak pidana, merupakan salah satu wujud niat batin yang dapat disalahkan oleh hukum. Namun yang perlu dipahami, antara niat batin pelaku inisiator dengan niat batin pelaku pelaksana ataupun pelaku penyertaan adalah bentuk-bentuk derivatif niatan batin yang meski wujudnya berbeda namun memiliki satu tujuan yang sama: delik pidana.
Dalam konteks pelaku penggagas / perencana / pengusul / penyandang dana suatu aksi tindak pidana, sekalipun dirinya tidak menjadi pelaku yang secara langsung bertindak merealisasi suatu pelanggaran hukum, namun dalam konsepsi penyertaan dalam tindak pidana, keseluruh pelaku baik pelaku utama, inisiator, maupun pelaku perbantuan, keseluruhannya dipidana sesuai derajat kontribusinya.
PEMBAHASAN:
Untuk itu SHIETRA & PARTNERS tepat sekiranya merujuk pada putusan Mahkamah Agung perkara pidana register Nomor 207 K/PID.SUS/2016 tanggal 22 Maret 2016, dimana Terdakwa dan para Terdakwa lain (dalam berkas penuntutan terpisah), didakwakan telah melakukan, atau turut serta melakukan memproduksi, menjual, membeli, mengimpor, mengekspor, menyimpan dan/atau mendistribusikan mesin, peralatan, alat cetak, pelat cetak atau alat lain yang digunakan atau dimaksudkan untuk membuat rupiah palsu, sebagaimana diancam pidana melanggar Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang jo. 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Terdakwa bersama rekan-rekannya memproduksi lembar uang palsu, dimana lembaran-lembaran uang palsu tersebut rencananya akan diedarkan / dijual / ditukarkan dengan uang asli (dengan nilai yang lebih rendah) di Jember, namun pada saat akan mengedarkan / menjual / menukarkan dengan uang rupiah asli, perbuatan Terdakwa diketahui oleh Petugas Kepolisan selanjutnya Terdakwa berikut barang bukti diamankan oleh Petugas.
Terhadap tuntutan Jaksa, yang kemudian menjadi Putusan Pengadilan Negeri Jember Nomor 362/Pid.B/2015/PN.Jmr., tanggal 01 September 2015 dengan amar vonis sebagai berikut :
1. Menyatakan Terdakwa ABDUL KHARIM terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘Turut serta menyimpan mesin, peralatan, alat cetak, pelat cetak yang digunakan dalam pembuatan uang palsu dan sengaja memalsu rupiah dan menyimpan secara fisik dengan cara apapun yang diketahui merupakan rupiah palsu dan mengedarkan rupiah yang diketahuinya merupakan rupiah palsu’;
2. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa ABDUL KHARIM oleh karena itu dengan pidana penjara selama 14 (empat belas) tahun dan pidana denda sejumlah Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dengan ketentuan apabila pidana tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 6 (enam) bulan;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Menetapkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan.”
Dalam tingkat banding, yang menjadi Putusan Pengadilan Tinggi Surabaya Nomor 548/PID/2015/PT.SBY, tanggal 10 November 2015 yang amar lengkapnya sebagai berikut :
- Menerima permintaan banding dari Jaksa/Penuntut Umum dan Terdakwa;
- Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jember tanggal 01 September 2015 Nomor 362/Pid.B/2015/PN.Jmr., yang dimintakan banding tersebut;
- Memerintahkan lamanya Terdakwa ditahan, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
- Memerintahkan Terdakwa tetap ditahan.”
Terpidana mengajukan upaya hukum kasasi, dengan alasan bahwa yang mempunyai inisiatif mencetak uang palsu bukan Terdakwa tetapi tersangka lain, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
- Bahwa alasan kasasi tidak dapat dibenarkan karena Judex Facti tidak salah dalam menerapkan hukum dengan menguatkan putusan Pengadilan Negeri Putusan Pengadilan Negeri telah mempertimbangkan secara cermat, jelas dan lengkap unsur-unsur dakwaan Penuntut Umum yang relevan dengan fakta yang terungkap di persidangan, menggambarkan secara jelas kronologi perbuatan Terdakwa dari menerima tawaran untuk mencetak uang Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah), kemudian menyediakan dana Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) untuk membeli mesin cetak dan peralatan lainnya. Setelah tercetak uang palsu dengan jumlah total Rp12.186.100.000,00 (dua belas miliar seratus delapan puluh enam juta seratus ribu rupiah) sampai mengedarkan ke Jember untuk menukarkan dengan uang rupiah asli, dengan demikian putusan Judex Facti sudah sesuai ketentuan hukum yang berlaku, baik hukum materiilnya maupun hukum formil (Hukum Acara Pidana) yang berlaku;
- Bahwa alasan Terdakwa bukan ia yang mempunyai inisiatif awal melakukan pemalsuan uang, tidak dapat dibenarkan karena walaupun bukan orang yang mempunyai inisiatif awal, akan tetapi setelah Terdakwa menerima order untuk memalsukan uang sampai akhir, sudah cukup memenuhi kualifikasi perbuatan yang didakwakan Penuntut Umum;
- Bahwa perbuatan Terdakwa adalah sebagai penyandang dana untuk membeli mesin dan bahan-bahan yang diperlukan untuk mencetak uang rupiah palsu, sedangkan saksi Agus Sugioto bersama Maman dan Joni yang memproduksi, mencetak uang kertas palsu kemudian saksi Agus Sugioto yang menjual ke pembelinya, sedangkan peran saksi Aman sebagai perantara antara saksi Agus Sugioto dengan Budiman yang merupakan perantara pembeli dari Bali dan peran saksi Kasmari adalah sebagai orang yang mengenalkan saksi Aman dengan saksi Agus Sugioto;
- Bahwa perbuatan Terdakwa membuat dan mengedarkan uang palsu dalam jumlah relatif banyak hingga puluhan miliar rupiah dapat menurunkan nilai mata uang yang beredar dan mengacaukan peredaran moneter yang berujung pada kekacauan perekonomian;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan diatas, lagi pula ternyata, putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi / Terdakwa ABDUL KHARIM tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan