Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Usaha Rental Mobil sebagai Bersifat Musiman

LEGAL OPINION
Question: Saya dengar untuk jenis bidang pekerjaan yang musiman, boleh mengikat pegawai dengan kerja kontrak (PKWT). Yang dimaksud dengan musiman itu apa, adakah contoh konketnya untuk memudahkan pemahaman?
Brief Answer: Jika kita mau berbicara secara terbuka apa adanya, semua bidang usaha tiada kepastian akan ‘laku’, bisa meningkat dan bisa menurun dalam hal omzet. Bahkan usaha yang telah berjalan puluhan tahun, kini dapat kolaps, tidak hanya jenis usaha start up. Setiap jenis usaha adalah tanpa kepastian akan menghasilkan laba, dan perilaku konsumen di pasar sukar diprediksi. Terkadang laku, terkadang sepi—sehingga menjadik sukar untuk merumuskan kriteria / parameter usaha yang bersifa musiman.
Terdapat dua cara pandang (paradigma) perihal jenis pekerjaan musiman:
1.) bidang usaha yang dibentuk hanya saat suatu musim tertentu tiba (semisal mengaktifkan pabrik payung dan jas hujan saat memasuki musim hujan—yang kini juga sudah tidak menentu—dan akan kembali membeku ketika memasuki musim pancaroba); atau
2.) berwujud penambahan secara temporer volume / kuantitas produksi (semisal perusahaan konveksi ketika memasuki musim Pemilukada atau tahun mulai masuk sekolah akan kebanjiran order pesanan pakaian seragam dan atribut partai).
Untuk konstruksi hukum yang pertama diatas, SHIETRA & PARTNERS menyebutnya sebagai jenis pekerjaan musiman murni, sementara bila sifatnya ialah ekspansi usaha dalam pengertian mencoba meluaskan pangsa pasar dengan meningkatkan produksi guna produk yang Pengusaha hasilkan dapat lebih luas diserap oleh pangsa pasar, sebagaimana konstruksi hukum yang kedua diatas, maka manuver bisnis tak dapat dikategorikan sebagai pekerjaan musiman murni.
Mengingat masih terbukanya ruang penafsiran, maka solusi terbaik ialah dengan mengambil contoh konkret berbagai putusan pengadilan terkait Perjanjian Kerja Waktu Tertentu sehubungan dengan bidang usaha musiman, guna mengetahui pola pandang kalangan hakim (best practice) dalam memaknai konsep “musiman” ini.
PEMBAHASAN:
Salah satu ilustrasi yang SHIETRA & PARTNERS rujuk, yakni putusan Mahkamah Agung RI sengketa hubungan industrial register Nomor 578 K/Pdt.Sus-PHI/2016 tanggal 11 Agustus 2016, perkara antara:
1. HENDRIADI YAHYA; 2. JASA MANALU; 3. SAHAT SIMARMATA, selaku Pemohon Kasasi I, II, III dahulu Para Penggugat;
melawan
1. PT DAYA MITRA SERASI (PT DAMIRA); 2. PT SERASI AUTORAYA (PT SERA); 3. PT SERASI TRANSPORTASI NUSANTARA (PT STN), selaku Para Termohon Kasasi dahulu Tergugat & Para Turut Tergugat.
Ketiga badan hukum Perseroan yang menjadi Tergugat, tampaknya dimiliki oleh satu orang pribadi pengusaha yang sama dibawah “Serasi Grup”. Adapun modus yang terjadi, Tergugat mengikat Penggugat sebagai Pekerja dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), dimana pada periode berikutnya Penggugat dialihkan sebagai Pekerja PKWT Turut Tergugat I, yang dalam periode berikutnya dialihkan menjadi Pekerja PKWT Turut Tergugat II, dan ketika memasuki berikutnya Penggugat kembali diikat sebagai Pekerja PKWT pada Tergugat.
Note SHIETRA & PARTNERS: Memang disayangkan, rezim hukum ketenagakerjaan di tanah air masih memandang konsep terminologi “Pengusaha” sebagai satu individu atau satu badan hukum tunggal, tanpa melihat fakta realita bahwa satu orang pemilik usaha (owner) bisa memiliki berbagai badan usaha dibawah payung Grub Usaha, sehingga pelaku usaha yang menjadi pemilik dari berbagai perusahaan dibawah grub usahanya, tidak tersentuh oleh hukum ketika terjadi modus-modus seperti demikian—karena sang owner selaku otak intelektual selalu berada “di balik layar”.
Terhadap gugatan para Pekerja, selanjutnya Pengadilan Hubungan Industrial Jakarta Pusat menjatuhkan putusan Nomor 127/Pdt.Sus-PHI/2015/PN.Jkt.Pst., tanggal 23 Desember 2015, dengan pertimbangan hukum serta amar sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa sesuai dengan Pasal 1338 KUHPerdata yang menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat oleh para pihak yang sah menurut hukum berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya, yang artinya bahwa antara Para Penggugat dengan Tergugat telah terikat dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) yang telah dibuat dan ditandatangani oleh para pihak;
“Menimbang, bahwa dari bukti T-7a, bukti T-7b, bukti P-32, bukti P-33=bukti T-8, bukti T-9a dan bukti T--9b tersebut telah terbuki bahwa hubungan kerja antara Para Penggugat dengan Tergugat I telah berakhir sesuai dengan waktu yang telah disepakati dalam perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) tersebut, sehingga menurut Majelis Hakim pengakhiran hubungan kerja tersebut berakhir demi hukum mengikat kedua belah pihak sesuai ketentuan Pasal 1338 KUHPerdata dan telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
“Menimbang, bahwa terhadap pengakhiran hubungan kerja antara Para Penggugat dengan Tergugat I berdasarkan jangka waktu yang telah disepakati dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT), selanjutnya antara Para Penggugat dengan Tergugat I membuat Perjanjian Bersama (PB) sesuai dengan bukti T-10a yang pada pokoknya menyatakan bahwa segala permasalahan pekerja dengan pengusaha telah selesal dan para pihak menyatakan sepakat alas berakhirnya hubungan kerja antara PT Daya Mitra Serasi dengan pekerja per tanggal 31 Juli 2014 dan atas pengakhiran hubungan kerja tersebut pengusaha bersedia memberikan dan pekerja bersedia menerima kompensasi sebesar Rp1.417.786,00 serta pekerja dan pengusaha sepakat untuk tidak melakukan tuntutan dalam bentuk apapun di kemudian hari baik secara perdata, pidana, ketenagakerjaan atau bentuk lainnya dan selanjutnya menyerahkan segala sesuatunya kepada lembaga yang berwenang di bidang ketenagakerjaan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku;
MENGADILI :
Dalam Pokok Perkara:
Menolak gugatan Para Penggugat untuk seluruhnya.”
Pihak Pekerja mengajukan upaya hukum kasasi, meski secara nyata pihak Pekerja melakukan kekeliruan konkret dengan menyepakati menerima kompensasi PHK dalam Perjanjian Bersama, dimana terhadapnya Mahkamah Agung membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
“Bahwa keberatan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena setelah meneliti secara saksama memori kasasi I, II, III masing-masing tanggal 20 Januari 2016 dan kontra memori kasasi tanggal 4 Februari 2016 dihubungkan dengan pertimbangan judex facti Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut:
- Bahwa hubungan kerja antara Pemohon Kasasi dan Termohon Kasasi berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, dan sesuai dengan ketentuan Pasal 59 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 dan sifat pekerjaanya adalah tidak bersifat tetap tetapi bersifat musiman. Karena pekerjaan yang dilakukan Pemohon Kasasi tidak terus menerus dan Termohon Kasasi bergerak dibidang penyediaan mobil yang disewakan konsumen yang sifatnya jangka pendek dan dibatasi oleh waktu, dan tidak ada jaminan kalau konsumen memperpanjang kontrak penyewaan mobil, karena itu Termohon Kasasi mempekerjakan Pemohon Kasasi berdasarkan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu;
- Bahwa karena hubungan kerja antara Pemohon Kasasi dan Termohon Kasasi sudah berakhir dan telah dituangkan dalam Perjanjian Bersama dan telah didaftarkan pada Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan bukti Akta Pendaftaran Nomor 1121/BIP/PHI/2015.PN.Jkt.Pst., tanggal 2 April 2015, maka hubungan kerja antara Pemohon Kasasi dan Termohon Kasasi putus demi hukum sebagaimana ketentuan Pasal 7 ayat (2) dan ayat (5) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004, maka Perjanjian Bersama sudah berkekuatan hukum tetap;
“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, ternyata bahwa putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan oleh Para Pemohon Kasasi HENDRIADI YAHYA dan kawan-kawan tersebut harus ditolak;
M E N G A D I L I :
Menolak permohonan kasasi dari Para Pemohon Kasasi: 1. HENDRIADI YAHYA, 2. JASA MANALU, 3. SAHAT SIMARMATA, tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan