Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Ketika Pemegang Saham “by-pass” Kewenangan Direksi

LEGAL OPINION
Question: Perusahaan yang saya dirikan (berbentuk Perseroan Terbatas) sebelumnya telah meminjamkan aset kepada seorang penyewa, namun hingga berakhir masa sewa, aset perusahaan tidak kunjung dikembalikan. Saya kebetulan hanya seorang pemegang saham minoritas. Direktur perusahaan tidak mau bersikap tegas terhadap pihak penyewa, karena pihak penyewa adalah afiliasi dari pemegang saham mayoritas. Apa boleh, bila saya mengajukan gugatan terhadap si peminjam aset perusahaan saya? Aset tanah itu dulu saya inbreng-kan pada perusahaan saat pertama kali kami dirikan.
Brief Answer: Bila aset yang disewa/dipinjamkan adalah aset atas nama perseroan terbatas, maka aset tersebut masuk dalam kategori harta kekayaan badan hukum perseroan, sebagai suatu subjek hukum yang mandiri yang tidak tercampur baur dengan kekayaan pengurus maupun para pemegang saham. Oleh karenanya setiap badan hukum perseroan terbatas memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP) tersendiri.
Karena menjadi harta kekayaan milik perseroan saat inbreng dilakukan, maka aset tersebut bukan lagi menjadi harta milik pribadi pendiri / pemegang saham, namun telah tercatat sebagai harta kekayaan badan hukum. Karena itulah yang memiliki legal standing untuk mengajukan gugatan terkait aset milik perseroan ialah perseroan itu sendiri yang diwakili oleh para Direksinya.
Itulah salah satu kelemahan berposisi sebagai pemegang saham minoritas, sebagaimana yang telah banyak SHIETRA & PARTNERS temukan fakta aksi korporasi demikian dalam praktiknya, terutama perseroan berbentuk Penanaman Modal Asing (PMA).
Terlagi pula, pribadi pemegang saham bukanlah masuk dalam kategori Organ Perseroan. Yang menjadi Organ Perseroan, secara limitatif ialah: Rapat Umum Pemegang Saham (kolektif para pemegang saham), Direksi, dan Dewan Komisaris. Namun untuk lebih lanjut dapat disimak pada artikel perihal konsepsi baru mengenai derivative suit / action.
PEMBAHASAN:
Ilustrasi berikut SHIETRA & PARTNERS angkat sebagaimana putusan Mahkamah Agung RI sengketa gugatan perdata register Nomor 680 K/Pdt/2006 tanggal 9 Nopember 2006 yang diperiksa dan diputus oleh Hakim Agung Harifin A. Tumpa, I Made Tara, dan Rehngena Purba, perkara antara:
- HARRYANTO DJUNARTO, sebagai Pemohon Kasasi dahulu Tergugat; melawan
1. TIO ANG KHIANG/AKHIANG; 2. TJHAI TJAW HA/CAU H; 3. DJUI TJIANG/AMENG; 4. ANG HIONG/AHIONG; 5. DJOEI TONG/ATHONG; dan 6. SPEI LONG/AONG; sebagai Para Termohon Kasasi, dahulu para Penggugat.
Para Penggugat dan Tergugat adalah sebagai Komisaris dan Pemegang Saham PT. Cita Jaya Raya. Guna merealisasikan operasional perseroan yang didirikan, kepada Tergugat PT. Cita Jaya Raya telah diberikan dana sebesar Rp.1.828.900.000,- untuk membeli peralatanan/perlengkapan (inbreng).
Pihak Tergugat merupakan pendiri perseroan sekaligus disaat bersamaan juga sebagai pihak yang memiliki hutang kepada perseroan. Sementara itu pihak Terggugat dalam bantahannya mendalilkan, gugatan tidak jelas dan ‘kabur’, karena:
a. Status Penggugat, dalam perkara ini adalah dalam kwalitas pribadi justru bukan mewakili perusahaan PT. Cita Jaya Raya;
b. sedangkan Posita dan Petitum dalam gugatan ialah perihal hubungan hukum hutang-piutang antara Tergugat dengan PT. Cita Jaya Raya.
Terhadap gugatan Penggugat, Pengadilan Negeri Tanjungpinang telah mengambil putusan, yaitu putusannya No.10/Pdt.G/2004/PN.TPI. tanggal 16 Maret 2005 dengan amar sebagai berikut :
DALAM EKSEPSI :
- Menolak eksepsi dari Tergugat;
DALAM POKOK PERKARA :
- Mengabulkan gugatan Penggugat-Penggugat untuk sebagian;
- Menyatakan bahwa Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum;
- Menghukum Tergugat untuk membayar kepada para Penggugat uang sebesar Rp.485.800.860,- (empat ratus delapan puluh lima juta delapan ratus ribu delapan ratus enam puluh rupiah) secara tunai dan sekaligus;
- Menolak gugatan Penggugat-Penggugat untuk selebihnya.”
Dalam tingkat banding atas permohonan Tergugat, putusan Pengadilan Negeri diatas telah dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Riau dengan putusannya No.63/PDT/2005/PTR. tanggal 08 Agustus 2005. Selanjutnya Tergugat mengajukan upaya hukum kasasi, dengan argumentasi, para Penggugat bertindak untuk dan atas nama PT. Cita Jaya Raya, sebuah Perseroan Terbatas yang telah berbadan hukum sesuai dengan Surat Keputusan pengesahan oleh Pemerintah RI.
 Sehingga PT. Cita Jaya Raya adalah suatu perseroan yang mendapat pengakuan yuridis (legal entity), sebagai perseroan yang berbadan hukum. Dan sebagaimana perseroan-perseroan yang telah berbadan hukum, maka setiap organ perseroan PT. Cita Jaya Raya tunduk kepada UU Perseroan Terbatas.
Hanya direksi yang memiliki penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan baik di dalam maupun di luar Pengadilan, sehingga baik pemegang saham, komisaris maupun atas nama pribadi tidak dapat mewakli perusahaan di dalam maupun di luar Pengadilan.
Yang boleh mewakili perusahaan baik dalam/luar Pengadilan adalah Direktur dan tentang ihwal ini dipertegas dalam akta Pendirian Perseroan Terbatas PT. Cita Jaya Raya tentang tugas dan wewenang direksi. Namun dalams gugatan, para Pengguat telah memposisikan diri selaku pribadi.
Oleh karena gugatan yang diajukan oleh Penggugat dengan subjek hukum sebagai pribadi pemegang saham, maka gugatan telah diajukan oleh subyek yang tidak berwenang. Dengan tidak berwenangnya pribadi pemegang saham dan/atau Komisaris dalam mewakili kepentingan perseroan baik di dalam maupun di luar Pengadilan, maka putusan judex factie sudah seyogianya dikoreksi.
Dimana terhadapnya, Mahkamah Agung kemudian membuat pertimbangan yang memiliki penegasan penting, serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :
“Bahwa keberatan-keberatan tersebut dapat dibenarkan karena judex facti telah salah menerapkan hukum dengan pertimbangan sebagai berikut :
“Bahwa uang yang digugat Penggugat dari Tergugat adalah uang PT. Cita Jaya Raya yang diberikan kepada Tergugat untuk dikelola, oleh karena itu yang berhak menggugat adalah Direksi PT. Cita Jaya Raya, bukan sebagai pribadi pemegang saham;
“Bahwa dengan demikian Penggugat sebagai pemegang saham tidak berkwalitas sebagai Penggugat (persona standi in judicio);
“Bahwa atas dasar hal tersebut ada alasan mengabulkan kasasi dan membatalkan putusan judex facti;
“Menimbang, bahwa berdasarkan apa yang dipertimbangkan diatas tanpa perlu mempertimbangkan keberatan kasasi lainnya, putusan Pengadilan Tinggi Riau No.63/Pdt/2005/PT.R. tanggal 08 Agustus 2005 dan putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang No.10/Pdt.G/2004/PN.TPI tanggal 16 maret 2005 tidak dapat dipertahankan lagi dan harus dibatalkan serta Mahkamah Agung akan mengadili sendiri perkara ini dengan amar seperti dibawah ini;
M E N G A D I L I :
“Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: HARRYANTO DJUNARTO tersebut;
Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Riau No.63/Pdt/2005/PT.R. tanggal 08 Agustus 2005 yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang No.10/Pdt.G/2004/PN.TPI. tanggal 16 Maret 2005;
MENGADILI SENDIRI :
“Menyatakan tidak dapat diterima gugatan para Penggugat tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan