Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Hukum Adat dalam Gugatan di Pengadilan Negeri

LEGAL OPINION
Question: Di kampung kami masih dipakai hukum adat. Lalu, apa hukum adat ini hanya dapat dipakai untuk sidang komunitas adat kami, atau boleh juga kami mengajukan gugatan ke pengadilan negeri dengan dasar hukum yakni hukum adat kami ini? Maksudnya, apa di pengadilan negeri yang dapat menjadi dasar gugatan hanyalah hukum milik negara semata, tidak bisa mendasarkan gugatan dengan hukum adat?
Brief Answer: Hukum adat diakui dan diterapkan oleh Pengadilan Negeri setempat, sepanjang masyarakat hukum adat masih hidup dan diakui oleh otoritas negara (lihat Undang-Undang tentang Desa dan masyarakat hukum adat). Syarat kedua, para pihak dalam sengketa perdata tunduk pada hukum adat bersangkutan.
Namun SHIETRA & PARTNERS menilai, selama hukum adat eksis sekalipun belum resmi diakui pemerintah lewat penetapan, namun selama dalam praktiknya masih dijiwai oleh komunitas setempat, disamping berdasarkan pengetahuan hakim ataupun berdasarkan pemeriksaan setempat, maka hukum adat setelah melewati proses saneering oleh Majelis Hakim dapat dijadikan sumber formil hukum pada kasus spesifik khusus bagi para pihak anggota masyarakat hukum adat yang bersengketa pada Pengadilan Negeri.
PEMBAHASAN:
Sebagai ilustrasi, SHIETRA & PARTNERS akan merujuk pada putusan Pengadilan Negeri Makale sengketa gugatan tanah register Nomor 65/Pdt.G/2012/PN.Mkl tanggal 29 Januari 2013, perkara antara:
1. Ismail Singkali Pong Omar; Arifin Pong Nomi’; 3. Yohanis Kanuna’ Ne’Eksel; 4. Yohanis Ronta’ Ne’ Nova, sebagai Para Penggugat; melawan
- 7 (tujuh) orang Tergugat.
Terhadap gugatan Penggugat, Majelis Hakim membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa oleh karena baik saksi-saksi dan surat-surat bukti tidak ada satupun yang mempunyai nilai pembuktian mengenai asal-usul tanah sengketa yang berasal dari pembukaan lahan oleh Ne’ Bode dan Indo Bode, maka alat-alat bukti para Tergugat tersebut haruslah dikesampingkan;
“Menimbang, bahwa oleh karena dalil gugatan pokok gugatan Penggugat telah terbukti bahwa benar tanah sengketa adalah tanah milik Tongkonan Posi yang dibuka oleh Indo’ Tangke’ Nangka’ dan Motta, maka petitum gugatan Penggugat point 2 beralasan hukum sehingga dapatlah dikabulkan;
“Menimbang, bahwa selanjutnya dari hasil pendalaman Majelis Hakim mengenai adat kebudayaan Toraja dari berbagai literature antara lain : Aluk, Adat dan Adat Istiadat Toraja, penulis Frans B. Palebangan, cetakan pertama, Penerbit PT. SULO Rantepao dan Kebudayaan Toraja, Penulis Dr. Frans Bararuallo, MM penerbit Universitas Atma Jaya Jakarta 2010, dapatlah diperoleh gambaran umum bahwa keberadaan Tongkonan pada masyarakat suku Toraja merupakan suatu bentuk tatanan hidup dalam masyarakat yang telah berakar dan sampai sekarang tetap dipelihara serta hidup dalam setiap kegiatan masyarakat, utamanya pada saat pesta-pesat adat : Rambu Solo (pesta kedukaan), Rambu Tuka’ (pesta kegembiraan) serta pesta pernikahan;
“Menimbang, bahwa keberadaan Tongkonan di Tana Toraja mempunyai karakteristik yang khusus dalam hal penguasaan tanah adat. Bahwa kekhususan Penguasaan suatu Tongkonan atas tanah adat dalam pergaulan hidup masyarakat Toraja telah hidup dan berkembang sejak dari dulu sebelum Belanda masuk ke Tana Toraja pada sekitar tahun 1906 dan tetap hidup dan dilestarikan hingga sekarang ini;
“Bahwa Tongkonan yang merupakan personifikasi dari suatu Perekutuan masyarakat adat yang mendiami wilayah (lembang) tertentu berdasarkan persamaan garis keturunan yang dipimpin oleh pemangku adat, merupakan pusaka tertinggi bagi masyarakat Toraja yang menjadi warisan seluruh rumpun keluarga berdasarkan ikatan dara (rara’), sehingga dengan telah terbuktinya tanah objek sengketa sebagai bagian kesatuan tanah Tongkonan Posi, dengan sendirinya memberikan hak kepada seluruh rumpun keluarga dari pendiri Tongkonan Posi sebagaimana termuat dalam Silsilah Keluarga Tongkonan Posi’ (Vide surat bukti P-1), termasuk para Penggugat selaku salah satu keturunan Indo Tangke Nangka dan Motta (pendiri Tongkonan Posi) untuk tetap mempertahankan kepemilikan atas tanah Tongkonan Posi termasuk didalamnya Tanah sengketa, sehingga petitum point 3 yang menuntut agar para Penggugat ditetapkan sebagai ahli waris dari alm Indo’ Tangke’ Nangka’ dan alm. Motta yang berhak mewarisi tanah sengketa, dapatlah dikabulkan;
“Menimbang, bahwa selanjutnya oleh karena telah terbukti bahwa tanah objek sengketa adalah milik dari Indo’Tangke Nangka’ dari Tongkonan Posi dan oleh karena terbukti bahwa tanah sengketa pada sebelah Utara yaitu tanah yang tidak termasuk dalam objek sengketa gugatan Rekonpensi terdapat tanaman-tanaman yang diakui oleh Para Penggugat ditanam oleh Paluta, sedangkan tanah sengketa lainnya sekarang sudah di Dozer oleh Para Penggugat dan dalam penguasaan para Penggugat, maka petitum gugatan point 5 yang menuntut agar para Tergugat atau siapa saja dihukum untuk mengeluarkan tanamannya yang ada diatas tanah sengketa dan menyerahkan tanah sengketa kepada para Penggugat selaku ahli waris dari Indo’ Tangke’ Nangka’ dalam keadaan kosong dan sempurna, menurut Majelis Hakim dapatlah dikabulkan sepanjang atas tanah sengketa pada sebelah Utara;
“Menimbang, bahwa berdasarkan segala pertimbangan diatas, Majelis Hakim berpendapat bahwa gugatan Penggugat beralasan hukum sehingga sepatutnya dikabulkan sebagian;
M E N G A D I L I :
“DALAM POKOK PERKARA
1. Mengabulkan Gugatan Para Penggugat untuk sebagian.
2. Menyatakan tanah objek sengketa bernama Tanah Tongkonan Posi’ yang terletak di Dusun Tambuntana Lembang Sapan Kua-Kua Kec. Buntao’ Kabupaten Toraja Utara dengan batas-batas tanah sebagai berikut:
Utara : Tanah Tongkonan Posi’;
Timur : Tanah Tongkonan Posi’;
Selatan : Tanah Tongkonan Posi’;
Barat : jalan kampung menuju Tambuntana;
Adalah tanah Tongkonan Posi’ yang dilili’ / dibuka pertama kalinya oleh Indo Tangke Nangka’ (Almh) dan Motta’ (alm);
3. Menyatakan Para Penggugat adalah ahli waris dari Indo’ Tangke Nangka’ (almh) dan Motta’ (alm) yang berhak mewarisi tanah objek sengketa;
4. Menghukum Para Tergugat atau siapa saja yang menguasai / mendapat hak dari tanah objek sengketa untuk mengeluarkan tanamannya yang ada dalam tanah objek sengketa dan menyerahkan tanah objek sengketa kepada Para Penggugat selaku ahli waris Indo’ Tangke Nangka’ (almh) dan Motta (alm) dalam keadaan kosong, sempurna, tanpa beban dan seketika;
5. Menolak Gugatan Penggugat untuk selain dan selebihnya.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan