Mari kita bersama-sama membuat keajaiban dengan menabur benih karma baik. Ada akibat, karena didahului oleh adanya suatu sebab (Hukum Sebab-Akibat). Sudahkah kita menanam benih-benih kebajikan pada hari ini?

Keajaiban bersumber dari Perbuatan Bajik, dan Perbuatan Bajik adalah sumber keajaiban. [SANG BUDDHA]

Tanggung Jawab Perdata antara Pejabat dan Jabatan Komisaris Perseroan

LEGAL OPINION
Question: Selaku seorang komisaris pada suatu perusahaan, dalam menjalankan fungsi saya tersebut kemudian membekukan seorang direksi yang dibawah pengawasan saya, apakah nantinya saya bisa digugat oleh direksi yang saya non-aktifkan tersebut?
Brief Answer: Selama dengan itikad baik demi kepentingan perseroan terbatas, Dewan Komisaris (kolegial para Anggota Komisaris) dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan menemukan suatu keperluan mendesak untuk menetapkan kebijakan membekukan sementara seorang anggota Direksi hingga digelarnya Rapat Umum Pemegang Saham, maka resolusi / keputusan tersebut diambil berdasarkan kedudukan selaku Organ Perseroan, sehingga sebuah resolusi Dewan Komisaris mengatasnamakan perseroan.
Karena keputusan diambil untuk dan atas nama Dewan Komisaris selaku Organ Perseroan, dimana Perseroan Terbatas merupakan suatu badan hukum yang menjadi subjek / entitas hukum mandiri yang berdiri sendiri, maka yang dapat digugat hanyalah badan hukum perseroan terbatas, bukan orang pribadi yang menjabat selaku anggota Dewan Komisaris.
Yang juga perlu dipahami, ketika menggugat suatu badan hukum seperti Perseroan Terbatas, tidaklah penting siapa individu yang menjabat, karena Perseroan Tersebut akan tampil secara sendirinya dengan diwakili oleh Direksi atau wakilnya yang sah—siapapun yang menjabat selaku Direksi pada saat kini.
Dalam konsepsi badan hukum perseroan, adalah tidak penting siapa yang menjabat, namun yang penting ialah jabatannya—oleh sebab pejabat yang menjabat dapat saja silih berganti sesuai arah kebijakan dan keputusan RUPS.
PEMBAHASAN:
Ilustrasi kasus berikut dapat memberi gambaran konkret, yakni putusan Pengadilan Tinggi Palembang sengketa perdata register Nomor 81 /PDT/2012/PT.PLG. tanggal 27 Juli 2012, perkara antara:
- Ir. AZMEN HAMIR, dengan mengatasnamakan dirinya sebagai Direktur PT. Citra Aspalindo Sriwijaya, sebagai sebagai PEMBANDING, semula PENGGUGAT; melawan
- AZWAN HAMIR, yang didudukkan sebagai Komisaris PT. MEDAN ASPALINDO UTAMA, selaku sebagai PEMBANDING, semula PENGGUGAT.
Penggugat keberatan karena telah diberhentikan dari pekerjannya sebagi direktr PT. CAS. Dalam pencantuman surat gugatan pada identitas Tergugat, Penggugat memposisikan pihak Tergugat selaku Komisaris PT. Medan Aspalindo Utama.
Tergugat dalam bantahannya menguraikan, bahwa Komisaris dari suatu perseroan terbatas bukanlah subjek hukum yang dapat dijadikan sebagai Tergugat secara mandiri—Komisaris merupakan organ atau bagian yang tidak dapat dipisahkan dari suatu perseroan (dependen), sehingga komisaris tidak dapat digugat tanpa menjadikan perseroan tersebut sebagai pihak dalam perkara. Note SHIETRA & PARTNERS: dengan bahasa lain, seorang Pejabat adalah independen, namun jabatannya ialah dependen terhadap perseroan.
Apabila Penggugat hendak menggugat Tergugat selaku komisaris PT. MAU atau PT. CAS, maka PT. MAU dan PT. CAS yang merupakan badan hukumnya haruslah ikut digugat, sebab Tergugat sebagai komisaris didalam menjalankan fungsinya memberhentikan Penggugat sebagai direktur, bukanlah untuk kepentingan atas diri pribadi, tetapi bertindak untuk atas nama PT. CAS. Dengan tidak diikutsertakannya PT. MAU ataupun PT. CAS sebagai pihak Tergugat, maka gugatan Penggugat menjadi kurang pihak.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT. CAS, para pemegang saham dengan suara bulat telah memberhentikan Penggugat dari jabatannya sebagai direktur PT. CAS dan juga telah memberhentikan Azwan Hamir dari jabatan Komisaris serta kemudian telah mengangkat Azwan Hamir sebagai direktur dan Boy Iwansyah menjabat sebagai Komisaris yang baru.
Dengan telah diangkatnya Azwan Hamir sebagai direktur pada PT. CAS, maka pangajuan gugatan terhadap Azwan Hamir sebagai komisaris PT. MAU adalah keliru tentang subjek hukum, karena berdasarkan RUPS tersebut faktanya posisi Komisaris PT. CAS kini dijabat oleh Boy Iwansyah.
Terhadap gugatan Penggugat maupun sanggahan Tergugat, Pengadilan Negeri Palembang dalam putusannya Nomor 116/PDT.G/2010/PN.PLG, tanggal 27 Oktober 2011 telah menjatuhkan amar sebagai berikut :
MENGADILI :
1. Mengabulkan eksepsi Tergugat untuk sebagian;
2. Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima.”
Penggugat mengajukan upaya hukum banding, dimana terhadapnya Majelis Hakim Pengadilan Tinggi membuat pertimbangan serta amar putusan sebagai berikut:
“Menimbang, bahwa setelah pengadilan Tinggi mencermati dengan seksama keseluruhan berkas perkara yang terdiri dari surat gugatan, berita acara persidangan, surat-surat bukti dan salinan resmi putusan Pengadilan Negeri Palembang Nomor 116/PDT.G/2010/PN.PLG, tanggal 27 Oktober 2011 yang dimohonkan banding tersebut, maka Pengadilan Tinggi dapat menyetujui dan membenarkan Putusan Hakim Tingkat Pertama, oleh karena dalam pertimbangan-pertimbangan hukumnya telah memuat dan menguraikan dengan tepat dan benar semua keadaan serta alasan-alasan yang menjadi dasar dalam putusan dan dianggap telah tercantum pula dalam putusan tingkat banding;
M E N G A D I L I
1. Menerima permohonan banding dari Pembanding semula Penggugat;
2. Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Palembang Nomor 116/PDT.G/2010/PN.PLG, tanggal 27 Oktober 2011 yang dimohonkan banding tersebut.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.

Apa jadinya bila tenaga medis akhirnya “angkat tangan menyerah”, kehabisan tenaga, “lempar handuk” sembari berkata : “Silahkan Anda ‘cuci piring’ Anda sendiri! Anda enak-enakan hidup arogan, bersikap ‘masak bodoh’, lalu kami yang harus mencuri piring kotor Anda? Silahkan Anda bersihkan diri Anda sendiri, dokter bukan babysitter Anda. Dunia ini sudah cukup banyak penyakit dan pasien, Anda pikir selama ini kami kurang kerjaan? Anda sendiri yang kurang kerjaan, merasa hebat sehingga menantang penyakit dan bermain dengan maut.

Pertanyaan Introspektif BAGI YANG MEREMEHKAN ANCAMAN WABAH COVID-19:

Redaksi dengan simpatik mewakili para almarhum korban jiwa COVID-19, yang tidak lagi dapat bersuara memberikan testimoni, izinkan kami untuk mewakili pendapat para korban jiwa COVID-19, apakah para warga yang meremehkan ancaman wabah menular COVID-19, seakan hendak berkata seolah para korban jiwa COVID-19 selama ini KURANG CUKUP BERIMAN, KURANG CUKUP BERIBADAH, dan KURANG CUKUP MENDEKATKAN DIRI PADA TUHAN? Apakah dengan dekat pada Tuhan, maka tiada lagi gunung meletus atau gempa bumi di dunia ini? Sekalipun Anda 100% yakin pada Tuhan, cobalah untuk menyentuh api, mengapa tetap sakit dan melukai?

Bagi masyarakat yang menyombongkan kesehatan mereka dikala wabah merebak, tanyakan ini : “Anda masih bekerja dan keluar rumah saat wabah?”

“Tentu, kerja untuk mencari nafkah. Saya tetap sehat meski berjumpa banyak orang, serta tanpa mengenakan masker. Tidak pernah saya jatuh sakit.”

“Untuk apa nafkah itu?”

“Untuk membeli makanan.”

“Jika tidak makan, apa yang akan terjadi?”

“Perut saya bisa sakit karena lapar dan hidup bisa mati karena kelaparan, atau menderita karena rasa bosan dan mati bosan bila hanya di dalam rumah.”

“Berarti Anda BELUM PUNYA IMAN dan TIDAK BENAR-BENAR KEBAL SAKIT, karena Anda masih bisa menderita karena sakit lapar dan bahkan tewas kelaparan, atau bahkan menderita karena merasa bosan dan mati bosan. Lantas, apa yang membuat Anda berasumsi kebal terhadap virus mematikan?”

Sic utere tuo ut alienum non laedas. “Gunakan tubuh dan mulut kita, tetapi jangan sampai merugikan orang lain.” (“Use our own body in such a manner as not to injure that of another”)

Sebelum melontarkan komentar yang SPEKULATIF, hendaknya memperhatikan perasaan para korban jiwa yang bertumbangan akibat rantai penularan yang tidak terputus berkat “jasa-jasa” para warga masyarakat yang meremehkan wabah menular (menjadi carrier). Apakah data belum menunjukkan cukup banyak korban jiwa akibat COVID-19?

Anda mungkin “kebal” (atau “bebal”), namun bagaimana dengan keluarga Anda? Kesadaran dan mawas diri, adalah bentuk kepedulian bagi sesama. Semua orang memang pasti akan “mati”, namun itu sama artinya tidak menghargai nyawa sendiri dan tidak menghormati hak atas hidup orang lain. Bila Anda tidak sayang nyawa Anda, maka silahkan menantang COVID-19, namun jangan menularkan wabah kepada orang lain yang masih ingin hidup dan berhak untuk hidup.

Berdamai dengan Virus MEMATIKAN (mesin pembunuh pencabut nyawa)? Seolah COVID-19 belum cukup berbahaya. Berdamai, hanya mungkin terjadi ketika kedua belah pihak saling sepakat berdamai. Sejak kapan, sang Virus MEMATIKAN hendak berdamai dengan manusia? Sang virus TIDAK PERNAH KENAL KOMPROMI bahkan terhadap anak-anak dan lansia. Pemimpin yang baik, tidak MEMBODOHI rakyatnya sendiri. Jika kita mampu berdamai dengan Virus, sudah sejak lama rumah sakit kita sepi pasien. Mencari-cari penyakit, dengan taruhan nyawa sendiri dan nyawa orang lain yang tertular oleh yang merasa “kebal”. COVID-19 adalah real, nyata, mematikan, bukan sebuah mitos.

1 orang meninggal, adalah tragedi. Jangan katakan 1.000 orang tewas, adalah statistik. Berkat para “peremeh” demikian, rantai penularan wabah tidak kunjung usai di Republik ini, mungkin tidak lama lagi anak Anda atau keluarga Anda menjadi sasaran korban selanjutnya. Menunggu itu untuk benar-benar terjadi, sekalipun “menyesal selalu datang terlambat”? Satu orang kepala keluarga pencari nafkah menjadi korban jiwa COVID-19, artinya satu keluarga almarhum turut menjadi korban.

Pesan sosial “tidak populis” ini dipersembahkan oleh SHETRA & PARTNERS, sebagai bentuk belasungkawa sedalam-dalamnya bagi para korban jiwa wabah COVID-19, serta apresiasi atas kerja keras para tenaga medis, dimana kontribusi penularannya sedikit-banyak diakibatkan warga masyarakat yang meremehkan pandemik menular mematikan serta merasa “kebal” berkat pelindung “iman” (asumsi spekulatif).

FAKTA SELALU PAHIT, tidaklah perlu kita membohongi diri ataupun warga masyarakat dengan iming-iming “aman dengan cara meremehkan”, “perisai iman”, “menutup mata artinya tiada ancaman di depan mata”, “virus yang tidak berbahaya karena banyak yang sembuh”, ataupun “kesombongan diri yang masih sehat dikala wabah”. Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menua, sakit, dan mati. Kesombongan atas kesehatan Anda yang “masih sehat” dikala wabah merebak, pasti akan “jatuh sakit dan meninggal” pada akhirnya, dimana kesombongan Anda tidak akan kekal. Namun tidak dapat dibenarkan ketika diri Anda menjadi “agen penular” bagi orang-orang lain yang terancam tertular Virus Mematikan. Orang bijaksana tidak mencari-cari / menantang maut serta membawa resiko bagi orang lain akibat penyakit menular dari “orang (terinfeksi) tanpa gejala” (silent transmission).

Kesombongan dengan meremehkan ancaman wabah penyakit, merupakan bentuk KETIDAKPEDULIAN terhadap sesama, dengan membawa ancaman bagi sesama (carrier). Bila dari air yang kita minum dapat terinfeksi bakteri sehingga menderita diare, terlebih serangan virus menular yang telah terbukti MEMATIKAN.

Berbuat baik artinya, tidak menyakiti diri sendiri dan juga tidak merugikan orang lain.” [Sang Buddha]

[Iklan Resmi Terverifikasi] Butuh Jasa Pencarian Produk MADE IN THAILAND dan Impor ke Indonesia?

Disediakan jasa pencarian serta pengiriman produk dari Thailand & Impor ke Indonesia

[VIDEO] Uang adalah Sumber Kejahatan? Kekurangan Uang Justru Rentan menjadi Korban Kejahatan